
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
Biasanya aku senang berada di sini, itu karena anti-sosial yang kumiliki. Tapi sekarang, tidak, aku harus segera menemui Viana. Dia pasti sudah menungguku lama.
Hal yang menjadi ciri khasnya adalah sebuah boneka perempuan dengan mengenakan rok, baju dan topi berwarna pink di tempat tidur ini. Kasurnya nyaman, hanya saja tidak ada cahaya matahari yang masuk ke dalam sini. Jadi hawanya sedikit horor dan lembab, televisi, AC masih berfungsi, bahkan perlengkapan di kamar mandi masih lengkap.
Aku keluar dari kamar, tidak ada siapapun di luar kamar, untunglah, aku segera turun ke lantai dasar untuk keluar dari villa ini. Seingatku dulu, jika aku menyentuh pintunya, maka aku akan tersetrum listrik yang mengalir di pintu itu. Dan sayangnya sampai sekarang aku tidak tahu dimana letak pemrograman yang menyangkut tentang aliran listrik itu. Di lantai dasar tidak ada jendela untuk keluar, hanya ada ventilasi udara yang sangat kecil, tubuhku saja tidak muat.
Biasanya aku nyaman di sini, karena semua perlengkapan akan disediakan oleh Kakak atau Forten, ini tempat aku diisolasi dari bahaya yang mengancamku. Semuanya disediakan oleh mereka berdua, makanan, minuman dan lain-lain. Sekarang? Tidak ada apa-apa, dan juga ini bukan waktu yang tepat untuk aku diisolasi lagi dari apapun itu.
Hanya satu harapan lagi, yaitu memutus aliran listrik utama di villa ini. Dengan begitu, pintunya pun akan bisa terbuka, tapi keadaan di luar sedang gelap. Tebakan dariku adalah, ini masih belum pergantian tanggal, mungkin sekitar pukul 10 atau 11.
"Jika aku mencari sumber listriknya lalu mencabutnya, maka tidak akan ada penerangan lagi untukku keluar. Ya beruntung kalau tidak tersandung nantinya," gumamku.
"kWh meter ada di gudang," ujar seseorang ketika aku berbalik.
Di luar dugaanku, yang ada di sini malah Han, bukannya Kakak atau Forten. Tapi tidak apa-apa, setidaknya ia lebih mudah disuap.
"Bagaimana kau bisa masuk?" Tanyaku sambil berjalan menuju gudang.
"Ya tinggal masuk saja," jawab Han sambil mengikutiku. "Biar kutebak, kau akan pergi menemui Viana?"
"Tentu, karena kau sudah tahu. Aku meminta bantuanmu." Shut up, manfaatkan apapun sebaik mungkin.
"Aku menunggumu mengatakan itu. Sekarang jangan pergi ke gudang," ujar Han sambil menarikku ke kembali ke pintu. Han menapakkan tangan kanannya di dinding, lalu dinding tersebut bergeser, tak lama kemudian muncul tombol-tombol keyboard. Sepertinya itu yang tidak aku ketahui, lagipula sidik jari setiap orang berbeda.
Han tersenyum bangga menatapku yang hanya terdiam. "Sekarang kau bisa menyimpulkan bahwa Kakakmu lebih percaya padaku daripada darimu." Tidak berselang lama, pintu terbuka dengan sendirinya.
Aku tidak memberi respon apapun terhadap perkataan Han tadi. "Kau yang menyetir atau aku?" Tanyaku.
"Aku saja." Kami berdua segera masuk ke dalam mobil, di luar villa ada sekitar 4norang yang berjaga-jaga. Mungkin memang hanya 4 orang atau mungkin sedang berada di sisi lain.
Kami berdua pergi meninggalkan villa itu, kepalaku kembali berat, aku ingin menanyakan banyak hal kepada Han, tapi aku malah merasakan ingin muntah. Sudahlah, mungkin lain waktu saja aku bertanya padanya. Ini bahkan lebih cepat dari yang kuduga.
.........
Aku menatap ke arah Han saat mobil ini berhenti di area parkir sebuah rumah sakit. "Derry bilang, dia menaikkan dosis biusnya, jadi tidak ada salahnya untuk memeriksakan keadaanmu dulu," ucap Han lalu keluar dari mobil.
Derry sialan. Menambah beban hidupku saja.
"Han? Apa tidak terlalu jauh?"
"Tenang dan ikuti aku saja," jawabnya sambil menggenggam tanganku, aku bisa merasakan hangatnya tangan Han. Han hanya tersenyum menatapku.
.......
.......
"Bagaimana?"
"Syarafnya masih ada yang belum berfungsi sebagai mana mestinya. Tenang saja. Besok juga akan baik-baik saja. Kau apakan dia? Sampai begitu?" Tanya si dokter.
"Boleh." Itulah percakapan antara Han dan dokter yang memeriksaku tadi, yang dapat aku dengar.
"Baguslah. Ayo Blyss," ajak Han sambil merangkul pundakku. Aku hanya tersenyum tipis ke arah dokter itu lalu pergi dari ruangan itu.
.......
.......
"Kepalamu masih sakit?" Tanya Han ketika kami berdua sudah berada di dalam mobil. Aku hanya mengangguk untuk jawaban iya. "Tidurlah dulu," ujar Han setelah menurunkan senderan tempat duduk. Aku menatap tempat duduk itu sebentar, lalu menatap Han. Han hanya tersenyum lalu mengecup bibirku sekilas. "Nanti biar aku yang bicara pada Viana. Lagi pula melihat keadaanmu, dia pasti juga akan khawatir," ucap Han.
Pada akhirnya, aku menuruti tawarin Han tadi.
.........
11:45 PM
Aku terbangun dan kami berdua sudah mulai memasuki area rumah Viana, tapi...
"Han?"
"Viana baru saja mengirimkan alamat villanya yang baru. Bukan baru dalam artian baru dibuat, hanya saja dia baru menempati tempat ini," jawab Han. "Kau bisa berdiri? Atau mau aku gendong saja?"
"Aku sendiri saja," jawabku sambil keluar dari dalam mobil.
Ini sudah hampir pergantian tanggal, jika menjelaskan semua alasannya pasti Viana tidak akan memarahiku, tapi aku sebelumnya tidak pernah menjelaskan alasan mengapa aku terlambat dan membuat khawatir. Selama berjalan menuju pintu utama villa, aku menelan ludah beberapa kali, gugup, tapi aku juga khawatir dengan Viana yang mungkin begadang karena menungguku datang.
Aku menekan tombol, Han juga sudah berdiri di sebelahku, dan tak lama kemudian pintu terbuka. Viana dengan senyuman lebarnya langsung memeluk tubuhku.
"Tch." Terdengar Han berdecih mengejek lalu berkata, "Ya sudah, sepertinya aku tidak diperlukan lagi. Aku pergi dulu ya," ujarnya.
"Hati-hati di jalan," ucap Viana sembari melepas pelukannya. Aku hanya memandang ke arah Han yang sedang mengangguk ke arah Viana. Aku enggan mengucapkan apapun untuk Han, karena aku kembali teringat akan ekspresi Han yang terburu-buru memutuskan panggilan video beberapa hari yang lalu.
Cup
Satu kecupan mendarat di keningku, aku tidak memberi respon apapun lagi, aku lelah, aku kesal, dan aku menyimpan banyak pertanyaan. Aku hanya memandangnya, dari raut wajahnya, Han menaikkan kedua alisnya lalu pergi dari hadapan kami berdua.
"Ayo masuk," ajak Viana menarik tanganku. "Kau pasti lelah ya? Istirahatlah, Derry sudah menceritakan semuanya padaku," ujar Viana ketika kami berdua sampai di depan pintu sebuah kamar.
"Tidur denganku ya?"
"Kenapa tiba-tiba sekali?"
"Ini tempat baru, jadi apa salahnya tidur bersama-sama," jawabku.
"Ah baiklah. Ayo." Malam itu aku dan Viana tidur di satu kasur yang sama. Aku ingin berbincang dengan Viana mengenai Han, tapi di sisi lain, aku juga sangat lelah. Sudahlah besok saja.
...***...
TBC. Mohon dukungannya Readers 😁