LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
Pulang dari Rumah Sakit



Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄


Han, dia berhasil menemukan ku. Entah bagaimana caranya, tapi aku benar-benar tidak bisa menahan diri agar tidak kehilangan kesadaran. Pusing sekali, dan terasa sangat dingin. Lalu berakhir dengan kehilangan kesadaran.


.....


Aku mulai membuka mataku perlahan dan mendengar suara percakapan dari beberapa orang. Ruangan dengan aroma obat, fix ini adalah ruangan rumah sakit, tapi tidakkah ini terlalu bagus untuk ruangan rumah sakit? Oke lewati soal ruangan aku harus makan dan minum.


"Ma," panggilku pada wanita yang duduk di sebelah tempatku berbaring dan menatap ke arah lain karena sedang berbicara dengan wanita lainnya.


"Blyss? Akhirnya siuman. Sekarang kau mau apa?" Tanyanya dengan antusias.


"Aku lapar," jawabku sambil tersenyum tipis karena keluargaku benar-benar menyayangi ku. Ya begitulah. Kadang setelah suatu insiden aku akan merasa keluarga ku tidak menyayangi ku. "Baperan"


Mama segera menyuapi diriku, tak lama kemudian Mama Hana mendekat dan tersenyum hangat menatapku.


Makanan khas rumah sakit? Bukan, ini bukanlah makanan rumah sakit. Aku masih bingung, tapi entahlah, aku juga enggan untuk bertanya.


.....


Seminggu, seminggu aku berada di tempat tidur dengan 1 infus di tangan kiri dan kanan. Aku melihat semua orang terdekat ku, termasuk Yura, dan Yang-Su, mereka berdua datang ke Washington DC hanya untuk menjenguk diriku? Tidak juga, ada urusan lainnya.


Tapi hanya satu orang yang benar-benar tidak terlihat, Han. Entah kemana dia dan sesibuk apa dia, selama seminggu ini aku tidak melihatnya. Bahkan keempat orang tuaku tidak membicarakan Han sedikitpun. Rasanya sedikit aneh kalau aku tidak bertanya, tapi ya begitulah, Blyss sleep mode on.


Setelah bangun dari tidur aku tak terbiasa langsung mengobrol banyak dengan orang lain termasuk keluarga ku sendiri.


Syukurlah sekarang aku sudah diperbolehkan untuk melepas infusnya, ya ini memang benar di rumah sakit namun di ruangan khusus milik keluarga Han.


"Kau akan kemana Blyss?" Tanya Mama setelah dokter dan suster yang memeriksa keluar.


"Belum tahu, Ma," jawabku lalu duduk di tepi ranjang.


"Hm... Oh ya, Kakakmu bilang akan ke sini. Nanti saat Kakak ke sini Mama akan pulang," ujar Mama.


"Baiklah. Mama Hana bagaimana?"


"Dia bilang datang besok bersama Han, hari ini biar Kakakmu yang menemanimu," jawab Mama dengan konsisten.


"Ah oke."


Kami berdua menghabiskan waktu bersama dengan menonton televisi yang ada di ruangan itu. Lalu datanglah Kakakku, setelah selesai berbincang sedikit, Mama pergi meninggalkan aku dan Kakakku.


"Bagaimana? Kau senang berbaring selama seminggu?" Tanyanya dengan sinis.


"Biasa saja," jawabku acuh. "Pertanyaan mu aneh, hal apa yang terjadi?" Tanyaku sembari berbaring pada sofa.


"Tidak ada yang terjadi," jawab Kakakku lalu menggendongku.


"What the hell?! Hello dude!"


"Lebih baik di ranjang dari pada di sofa." Aku terdiam, setelah selesai denganku, Kakakku duduk di sebelah ranjang. Aku menatapnya, "Kenapa?" Tanyanya yang menyadari tatapanku.


"Berapa lama aku hilang?"


"Dua hari, pada hari ketiga tepat pada malam harinya Han menemukanmu. Setelah itu kau koma sekitar dua puluh jam," jelas Kak Bryan.


"Keluargamu bagaimana?"


"Mereka di rumah, Sidney sedang sakit," jawab Kak Bryan.


"Jadi itu sebabnya Mama pergi."


"Ya mungkin. Lagipula kau sudah membaik. Oh ya, apa tidak rindu pada Han? Pengantin baru, malah terkena musibah," ejeknya.


"Sedikit, tapi ngomong-ngomong soal Han, dia kemana ya?" Tanyaku.


"Dia sibuk, bahkan sekarang ini dia ada di tempat lain," jawab Kak Bryan.


"Dia tidak lelah ya? Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana dia bisa begitu."


"Sudahlah, kalau dia tidak baik-baik saja dia pasti akan berhenti dari langkahnya," ujar Kak Bryan. "Besok sepertinya kalian bertemu," sambungnya.


"Ada alasan tertentu?"


"Ya dia lebih berhak dan berkewajiban untuk itu. Dia suamimu, keluarganya adalah keluarga barumu," jawabnya. Aku hanya mengerjitkan kedua alisku. "Satu-satunya beban keluarga Gryss sudah sold out."


Ini sudah sore, biasanya Kak Bryan makannya banyak. Kalau makanan yang datang adalah porsi untuk satu orang lalu aku bagi dua, kedua orang tersebut akan merasa tetap lapar.


...


Semalam bersama Kak Bryan bukanlah hal yang buruk, dia menyenangkan, terlebih lagi dia mengenalku lebih baik dari pada Mama dan Papaku.


"Baiklah Blyss, sebentar lagi keluarga barumu akan datang dan kau akan pergi dari ruangan ini," ujarnya sambil merangkul pundak ku. Kami berdua sedang duduk di sofa.


"Itu lebih terdengar seperti ada orang yang akan mengadopsi ku," sahutku.


"Ya kurang lebih."


.


.


Mama Hana datang, diikuti oleh Papa, dan satu-satunya anaknya, Han. Dia tidak bicara apapun, bahkan seperti menghindar dariku. Sepertinya memang ada hal yang seharusnya tidak diketahui olehnya, dan sekarang dia tahu dengan sendirinya.


"I think you in trouble, Blyss," bisik Kak Bryan lalu berdiri.


"Ma, Pa, apa kabar?" Ya jujur saja aku rindu dengan dua orang tua ini.


"Baik, Blyss. Kau sendiri bagaimana?" Tanya Papa kembali.


"Sudah mendingan, Pa," jawabku.


"Ya sudah sekarang ayo kita pulang," ucap Mama Hana yang periang. Aku tidak tahu kenapa Han bisa se-mendung ini sedangkan Mamanya seperti matahari terbit yang begitu cerah.


"Ayo," jawab Papa.


Terlihat Han dan Kak Bryan berjalan bersama di belakang Papa yang berjalan sendiri. Sedangkan aku bersama Mama.


"Ma? Pa? Kalian bawa mobil lain?" Tanyaku tidak percaya melihat Papa dan Mama masuk ke dalam mobil yang berbeda dengan Han. Han tidak bicara apapun dan langsung masuk begitu saja, sepertinya canggung tidak bisa dihindarkan.


"Iya, Blyss. Kami berdua akan pergi ke tempat temannya Papa karena ada acara. Han akan menemanimu," jawab Mama lalu masuk ke dalam mobilnya.


"Masuklah Blyss, jangan membuat orang lain menunggu." Kak Bryan pergi dari halaman rumah sakit. Lalu aku segera masuk.


"Kenapa lama?" Tanya Han setelah aku masuk.


"Itu... Aku menunggu Kakak, Mama dan Papa duluan," jawabku, sial aku malah terkena culture shock.


Dia tidak memberi respon apapun terhadap jawabanku barusan dan langsung melajukan mobilnya.


"Oke baru saja keluar dari rumah sakit dan segera uji adrenalin, benar-benar mengesankan," batinku sembari memasang sabuk pengaman. Tangan berkeringat saat sedang menghadapi hal menakutkan.


....


10:23 AM


Sampailah kami berdua di rumah, kurasa ini rumah Han yang lainnya lagi.


"Han? Tempat lain lagi? Pakaianku bagaimana? Pikirkanlah aku, setidaknya kita harus menetap di satu tempat. Oke lupakan aku, kau sendiri, kau terbiasa seperti ini? Kau ini."


"Vania dan rumah sakit mengubah mu begitu banyak dari yang aku kira," sahutnya lalu berjalan mendahului aku.


"Perempuan itu? Namanya Vania ya?" Tanyaku sambil mengikuti langkah kaki Han.


"Kau benar. Hal lain yang harus kau ketahui adalah pakaianmu sudah ada di sini karena setelah pernikahan tertutup waktu itu, semua perlengkapan mu sudah dipindahkan," jelasnya.


"Ah begitu yah...."


"Aku pergi dulu, urus dirimu sendiri hari ini," ujarnya lalu keluar.


Sangat-sangat tidak bertanggung jawab, Mama bilang dia akan menemaniku, yang terjadi? Dia pergi, seperti biasa.


...****************...


TBC😅


Mohon dukungannya Readers 😋