LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
Yang-Su & Viana



Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄


Aku ingin menyiapkan perlengkapan untuk besok, karena rencananya besok Bank ini sudah harus bisa beroperasi sebagaimana mestinya.


.........


07:34 AM


Aku sedang duduk di ruangan pribadiku, aku baru ingat kalau Viana bilang ingin bicara padaku jika aku sudah ada di waktu senggang. Aku menghubunginya, panggilan video adalah pilihanku, kebetulan hari ini tidak begitu sibuk. Aku ada meeting nanti sore, ditambah lagi itu dilakukan secara online, klienku yang ini sedang ada urusan lain yang membuatnya tidak bisa terbang ke Seoul.


"Hai Vi," sapaku ketika sudah tersambung. Dari background-nya dia seperti sedang berada di laboratorium tempat penelitian finger printing seperti waktu lalu.


"Hai Blyss," sahutnya lalu duduk. Sepertinya dia sedang memakai komputernya.


"Kau sibuk ya?"


"Tidak Blyss, aku hanya sedang mengunjungi tempat ini. Sudah lama aku tidak ke sini, untungnya mereka semua tidak kekurangan pekerja untuk meneliti semua sidik jari ini." Viana terdengar begitu bersyukur atas apa yang sedang terjadi.


"Begitu ya, syukurlah. Oh ya, kemarin aku baru saja sampai di Seoul. Di sini sudah berbeda dari sebelumnya, aku jadi sedikit gagap teknologi di sini," jelasku sambil tersenyum menatap Viana di seberang sana.


"Perjalananmu bagaimana?"


"Tidak begitu menyenangkan," jawabku. "Oh ya, kapan aku harus kembali ke sana? Empat hari lagi?" Aku segera mengalihkan pembicaraan.


"Tidak, tiga hari lagi kau harus sudah di depan pintu rumahku," jawab Viana.


"Ah baiklah. Tidak masalah soal waktunya bukan?"


"Iya, intinya tiga hari lagi kau sudah harus ada di rumahku. Karena besoknya kau harus menemaniku untuk mengecek hal-hal yang kurang," jelas Viana.


"Baiklah. Tapi bagaimana jika aku terlambat?"


"Kita biacarakan nanti, itu semua tergantung pada siapa yang akan membujukku nantinya," jawab Viana. Dia sudah tahu kalau aku biasanya akan berurusan dengan Kakakku, Han, atau Forten saat aku akan pergi ke suatu tempat.


"Apa akan lebih cepat kalau aku membawa Forten?" Tanyaku sambil tersenyum menatap Viana.


"Ah sudahlah." Baiklah, Viana tidak ingin membahas itu, pipinya kini sudah memerah. "Kau dengan Han bagaimana?" Tanya Viana mengalihkan topik pembicaraan. Tidak biasanya Viana ingin tahu soal hubunganku dan Han.


"Suddenly?


"Hehe." Viana menampakkan giginya yang tersusun rapi.


"Kami berdua belum merencanakan apapun," jawabku. Aku bingung harus menjawab apa, tapi setidaknya tidak perlu mengarang jawaban lain kepada Viana.


"Aku kira kalian berdua akan menyusul kami." Viana terlihat begitu kecewa dengan jawabanku.


"Belum, tapi sudahlah. Itu juga bukan masalah yang penting." Aku segera berusaha untuk menghibur Viana. "Oh ya, Forten bagaimana?" Aku segera me mengalihkan topik pembicaraan.


"Oh benar juga, ceritaku terpotong waktu itu," ujar Viana yang sudah ingat kalau dia masih berhutang cerita padaku. Beruntunglah, Viana cepat teralihkan. "Jadi, beberapa hari yang lalu Forten datang ke rumah untuk melamarku, dia datang dengan orang tuanya. Aku tidak tahu kalau orang tua Forten begitu baik," sambung Viana.


"Hah? Apa sebelumnya dia tidak baik padamu Vi?"


"Ya, mereka berdua terlihat sedikit tidak suka padaku saat aku pertama kali bertemu dengan mereka."


"Itu kapan?" Aku sedikit antusias dengan ini.


"Waktu aku disandera oleh kelompok keluarga Wildson," jawab Viana.


"Bagaimana dengan sekarang?" Sebentar, apa aku mengulas terlalu dalam? F*ck off. Aku tidak peduli, dia sudah kuanggap sebagai sahabatku sekarang.


"Sekarang mereka sangat menghargai dan menyayangiku," jawab Viana dengan wajah berseri bahagia.


"Aku ikut bersuka cita Vi. Oh ya, aku ada seseorang yang akan aku kenalkan denganmu." Aku teringat, kalau tadi Yang-Su masuk ke dalam ruanganku, tentunya setelah mendapat izin dariku.


"Siapa?" Terlihat wajah berbinar-binar dari Viana di seberang sana.


"Yang-Su?? Yang ikut olimpiade di Washington??" Viana terdengar tidak percaya.


"Betul sekali," ujar Yang-Su yang sebenarnya memang sudah kenal lama dengan Viana.


"Apa kabar Yang-Su??" Tanya Viana sambil menutup mulutnya dengan tangannya karena saking tidak percayanya dengan apa yang dia lihat sekarang.


"Aku baik, bagaimana denganmu?" Yang-Su kembali bertanya, wajah Yang-Su juga sama senangnya karena disambut begitu baik oleh Viana.


"Aku baik. Kau sudah lama ya menungguku dan Blyss mengobrol?" Tanya Viana yang sekarang terlihat khawatir, mungkin dia khawatir kalau-kalau ceritanya tadi didengar oleh Yang-Su.


"Tidak, aku baru saja masuk ke sini. Santai saja, privasimu dan Blyss tidak akan sampai di telingaku." Yang-Su tidak berkecil hati tentang hal itu, itu memang seharusnya terjadi, lagi pula kita sudah sama-sama dewasa.


"Baguslah. Aku belum siap menceritakannya padamu," ujar Viana sambil berusaha tenang, padahal terlihat kalau dia sedang sedikit malu. "Ngomong-ngomong, kalian berdua ada acara apa bersama-sama?" Tanya Viana.


"Kami ada meeting nanti siang untuk membicarakan tentang kerja sama antar Bank milik Blyss dan restoran milik Pamanku. Aku sebagai penyalur mereka," jawab Yang-Su dengan senang hati.


"Yap. Bank ini masih perlu iklan agar khalayak ramai mengetahui kalau Bank ini sudah dibuka dan mulai beroperasi," sambungku.


"Begitu ya, baguslah . Kalian berdua yang rukun yah, aku sudah mau pergi. Ada urusan lain yang harus aku lakukan," ujar Viana sambil mendekat ke arah komputernya.


"Ah baiklah. Kapan-kapan kita mengobrol lagi ya," balas Yang-Su.


"Bye Vi."


Viana segera memutuskan panggilan video tersebut. Aku dan Yang-Su akan berjalan-jalan sebentar di sekitar restoran tempat kami akan meeting nanti siang, ya sekalian mencari tempat untuk makan siang.


...


07:05 PM


Aku baru saja menyelesaikan meeting dengan orang yang ingin bekerja sama dengan Bank ini, dan sekarang aku sudah di jalan untuk pulang ke apartemen. Paman dari Yang-Su juga tadi menerima permintaan kerja sama dari pihak perusahaanku, ini baru permulaan jadi semuanya berjalan lancar.


Drrrttt drrrtt


Han?


"Hai," sapaku setelah aku mengangkat panggilan suara dari Han.


"Hai Blyss. Kau sedang mau kemana?" Bisa-bisanya Han langsung bertanya seperti itu, memang telinganya setajam apa ya?


"Aku dalam perjalanan pulang, kau sendiri sedang apa?"


"Aku masih di kantor, fokuslah mengemudi dulu. Nanti kalau kau sudah sampai di tempat tujuanmu, hubungi aku lagi," ujar Han di seberang sana lalu menutup panggilannya bahkan sebelum aku menjawab apapun.


Aku tidak apa-apa soal itu, setidaknya dia perhatian terhadap keselamatan diriku saat sedang mengemudi.


Jarak Bank dengan apartemen tidak terlalu jauh, 5 menit kemudian aku sudah sampai di apartemen dengan disambut oleh Mama dan Papa. Mereka baru saja selesai makan malam, jadi aku makan malam sendiri. Selesai makan malam, aku segera kembali ke kamarku, sedangkan Mama dan Papa masih di ruang tengah menonton acara televisi.


Sampai di kamar aku segera mengaktifkan laptopku lalu menghubungi Han, Han memang menjawabnya, lalu mengalihkannya menjadi panggilan video. Aku menolaknya? Untuk apa juga, aku,'kan sudah di rumah.


"Biar kutebak, kau belum mandi?"


"Ya aku belum mandi, kau mau menungguku mandi dulu baru bercerita?" Tanyaku kembali kepada Han yang sudah benar menebak.


"Mandilah."


Seperti mengusir, tapi tidak apa. Aku segera masuk ke dalam kamar mandi, lalu bergegas mandi. Aku tidak ingin Han menunggu terlalu lama.


...***...


TBC. Mohon dukungannya Readers 😁