
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
"Ah baiklah. Ayo." Malam itu aku dan Viana tidur di satu kasur yang sama. Aku ingin berbincang dengan Viana mengenai Han, tapi di sisi lain, aku juga sangat lelah. Sudahlah besok saja.
..........
07:55 AM
Aku dan Viana baru saja selesai sarapan, rencananya kami berdua akan pergi menemui desainer yang mengurus pakaian pengantin Viana dan Forten. Aku juga sudah baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, dan mengenai Han, sepertinya aku tidak akan menceritakannya pada Viana. Biarlah jadi urusanku dan Han.
"Berangkat sekarang Vi?" Tanyaku pada Viana ketika dia menuruni tangga sambil menggendong tas di lengan kirinya.
"Iya, apa masih ada yang tertinggal?" Tanyanya.
"Tidak, ya sudah ayo." Aku berdiri dengan semangat, tadi selesai sarapan, Viana pergi ke kamarnya sedangkan aku duduk di sofa ruang tengah.
Kami berdua pergi ke tempat yang disarankan oleh desainer tersebut, kali ini aku yang menyetir, karena tadi Viana sedang menjawab panggilan dari Mamanya.
.........
Pukul 8 lewat 12 menit kami berdua sampai di sebuah butik yang mewah, Viana terlihat begitu kagum dengan tempat itu. Tidak kusangka itu akan terjadi.
"Kenapa kau sampai sangat kagum?" Tanyaku sembari menggandeng tangannya.
"Aku tidak tahu kalau orang itu punya butik seperti ini. Benar-benar di luar ekspektasiku," jawab Viana.
.........
Baiklah, masalah pakaian pengantin sudah selesai. Sekarang katanya Viana ingin menemui Forten untuk sebuah pembicaraan penting. Tapi terlihat seperti "membosankan" daripada "penting".
Tentu hari ini dan besok aku yang menyetir jika kami bersama, biarlah dia bebas dari yang namanya menyetir untuk yang tidak lama.
Pukul 9 lebih beberapa menit, aku dan Viana sampai di markas keluarga Wildson. Ini tempat dimana aku dikurung beberapa hari yang lalu.
"Vi," sapa Forten lalu mengecup keningnya. Dia belum sadar akan keberadaanku di sini, dan aku jadi terlihat seperti nyamuk. Sudahlah.
"Morning baby..." Suara Viana begitu lembut, ini sungguh terbalik dengan apa yang aku ketahui, biasanya kalau bersamaku dia lebih seperti laki-laki, tidak seperti sekarang, wanita pada umumnya.
"Kau ke sini sendiri?" Tanya Forten sambil memeluk pinggang Viana. Aku sedang menahan tawa, aku ingin tertawa karena kelambatan Forten menyadari keberadaanku.
"Tidak, Blyss ikut denganku," jawabnya sembari menunjukku yang yang berada di sebelah mereka berdua.
Forten menoleh ke arahku lalu tersenyum mengejek, "Bagaimana penerbangannya Blyss?" Tanyanya.
"Buruk," jawabku singkat.
"Hem..." Belum ada kata-kata yang penting dari Forten.
"Kenapa Han bisa tahu akses villa lebih baik daripada aku?" Tanyaku pada Forten.
"Dia bercerita sesuatu pada aku dan Kakakmu, dan setelah itu semua akses villa itu kami berikan padanya," jawabnya dengan singkat, padat dan jelas.
Aku hanya memutar bola mataku, sedikit merasa kesal, namun juga pertanyaan di kepalaku semakin bertambah. "Blyss, Viana biar aku yang urus, kalau kau mau kembali. Kembalilah, tidak enak kalau kau selalu jadi nyamuk," ujar Forten sambil merangkul pundak Viana.
"Ya tidak masalah. Aku akan tinggal di villa itu. Cari aku di sana kalau kau perlu," jawabku. "Oh ya Forten, dimana koperku?"
"Derry yang bawa, mungkin di markas Kakakmu," jawab Forten.
"Ah baiklah."
"Pakai pakaianku dengan baik Blyss, jangan disobek," ucap Viana.
"Percayakan padaku. Aku pergi dulu..." Aku segera pergi dari lobi lalu kembali ke mobil.
.........
Meski aku tidak membawa arloji atau handphone, aku masih bisa tahu waktu, karena ada di mobil. Pukul 9.45 menit aku sampai di markas keluargaku. Masih seperti semula, belum ada yang berubah, atau bahkan tidak akan ada yang berubah lagi.
"Blyss?" Sapa seseorang saat aku baru saja membuka pintu.
"Hai Polo," sapaku sembari berjalan masuk.
"Ada apa tiba-tiba ke sini?" Tanyanya. Terakhir aku ke sini sudah lama, mungkin sekitar 2 bulan yang lalu, dan setiap aku ke sini aku akan bilang pada Polo terlebih dahulu.
"Aku mencari Derry, dia ada?" Aku duduk di sebelah Polo yang sedang duduk di sofa.
"Dia sedang di kamar mandi, tunggulah, aku mau pergi. Ada urusan. Selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin," jawab Polo lalu pergi dari ruangan itu.
"Hati-hati di jalan!" Aku sedikit berteriak karena Polo sudah keluar dari ruangan ini.
.......
Ceklek
"Blyss?" Derry terlihat begitu kaget karena aku ada di ruangan ini.
"Hai lagi... Aku ke sini untuk mencari koperku," ujarku.
"Ah itu. Kukira isinya hanya pakaian. Kakakmu yang membawanya," jawab Derry duduk di sebelahku.
"Dude? Are you kidding me?" Akan sedikit sulit untukku mengambil sesuatu dari tangan Kakakku.
"For what?" Wajah tanpa dosa dari Derry terlihat begitu jelas.
"Ck." Aku berdiri, dan hendak pergi dari sana.
"Blyss aku minta maaf yah soal dosis biusnya." Namun langkahku terhenti karena perkataan Derry.
"Aku senang kau sadar, aku sudah terbiasa dengan itu, tapi dosis yang dinaikkan aku belum terbiasa. Kau harus tahu satu hal lagi, Han belum menjelaskan apapun tentang kejadian kemarin. Jadi, kau bisa aku pecat lusa atau tiga hari lagi dengan tuduhan penghianatan," jelasku.
"Terserah padamu saja, aku hanya yakin kau akan menarik perkataanmu itu tidak lama lagi." Aku tidak tahu kenapa Derry bisa seyakin itu padahal kurasa Han dan Derry benar-benar bukan orang yang punya latar belakang pertemanan.
"I have to go. Bye." Tidak ingin berdebat lagi, aku pergi dari tempat itu, sekarang tujuanku adalah ruang pribadi milik Kak Bryan. Berharap saja tidak ada pemiliknya di dalam, dia bisa saja memarahiku habis-habisan. Pertama, aku membiarkan Mama pulang sendiri ke Washington DC. Kedua, aku pulang tanpa sepengetahuannya juga.
Sampai di depan pintu ruangan Kak Bryan, aku meyakinkan diriku untuk masuk, di luar terlihat sepi, biasanya kalau Kak Bryan ada di dalam, maka di posko depan pintu utama akan ada orang yang berjaga-jaga.
Tapi kali ini benar-benar sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini. Pintunya juga tidak terkunci, keberuntungan bagiku, kopernya ada di sebelah sofa.
Sebenarnya benar tidak ada pakaian di sini, aku hanya memasukkan tasku di dalam koper. Entahlah, aku merasa sedikit was-was ketika memakai tas ransel di bandara.
"Oh my god. Thank you so much." Sungguh ini tidak bisa disalurkan melalui perkataan, tidak tahu bagaimana caranya aku berterima kasih. "Good." Aku menggendong tasku setelah menutup koperku seperti semula. "Astaga!" Kaget tidak bisa dihindari, Kakakku berdiri di pintu, benar juga. Tadi aku lupa menutup pintunya.
"Hai Blyss," sapa Kak Bryan dengan wajah tanpa dosanya.
"Kau membuatku kaget saja. Hai juga," sahutku sembari mendekat ke arahnya untuk keluar dari ruang dingin ini.
"Mau kemana? Buru-buru sekali. Kau lupa harus membayar perbuatanmu?" Tanya Kak Bryan sambil menghalangi jalanku.
"Apa-apaan itu? Yang mana?" Tanyaku.
"Sudah-sudah, tidak ada waktu untuk menjelaskannya. Sekarang berikan laptopnya atau kembali ke villa dan diisolasi lagi?" Ancaman yang serius, tapi santai.
Aku menghela nafas berat sembari memutar bola mataku, "Ini!" Kesalku sambil memberi laptopku. Baru saja bertemu sudah dipisahkan lagi. "Jangan lama-lama. Jangan mengusik yang lainnya," ketusku lagi sambil mencibir.
"Wajahmu juga jangan lama-lama seperti itu," ejeknya.
"Ya sudah, aku pergi." Aku segera pergi keluar dari ruangan itu.
...***...
TBC. Mohon dukungannya Readers 😁