
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
"Tidak juga," sahutku. Selama masih bisa, akan aku usahakan.
.
.
Han menemaniku makan sampai selesai, "Aku turun dulu ya, mau cuci ini," ucapku pada Han lalu pergi keluar.
"Aku ikut," ucapnya sembari menutup pintu ruang kerja dan mengikuti langkah kakiku.
"Kenapa? Ada hal yang ingin kau tanyakan?" Tebak ku sambil mencuci piring serta perangkatnya yang tadi aku gunakan.
"Kau kenal Jyun Go?" Tanya Han langsung pada intinya.
Aku segera mematikan keran air dan menanyakan, "Siapa katamu?" Tanyaku setelah mematikan keran air.
"Jyun Go. Kang Jyun Go. Masih kurang jelas?!" Tanya Han dengan nada sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. Yang bisa aku simpulkan adalah Han sudah sembuh seperti sedia kala.
"Itu... Itu..." Bibirku seketika bergetar dengan hebat, menelan ludah sendiri saja rasanya sangat sulit. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi keningku, aku tidak bisa mengendalikan diriku lagi. "AARRGGHH!!!" Tanpa sadar aku berteriak kencang sambil memegangi kepalaku dengan kedua tanganku.
Jantungku berdetak kencang dan tidak beraturan. Dadaku sakit sekaligus sesak, rasanya mau meledak, air mataku sudah tidak terbendung lagi, mereka mengalir membasahi pipiku.
"JANGAN!! AKU TIDAK MAU!! LEPASKAN AKU!" Teriakku sedemikian rupa hingga aku tidak sadar kalau Han sudah berada di sebelahku sambil berusaha menenangkan diriku.
"Maaf-maaf... Aku benar-benar minta maaf," ucap Han seraya memeluk tubuhku yang mulai dingin karena keringat.
"Aku tidak mau pergi dengannya... Hiks hiks hiks," tangisanku semakin pecah setelah Han berusaha memeluk ku.
"Kau akan tetap di sini bersamaku dan yang lebih penting, kau aman di sini. Dia tidak akan mengganggumu lagi." Terdengar jelas suara Han yang masih berusaha menenangkan ku.
"Aku takut...." Bukannya tenang, aku makin menangis karena teringat kejadian saat aku baru seminggu berpacaran dengan Jyun Go. Benar-benar sesuatu yang perlu aku lupakan.
"Tenang ya..." Lagi-lagi Han mencoba menenangkan ku. Air mataku masih mengalir, sedangkan kakiku sudah mulai lemas. Tanpa aku minta, Han segera menggendong ku. Dengan erat, aku memeluk tubuh Han. Nyaman yang dulu aku rasakan masih ada dan sama.
Malam ini, kami berdua tidur bersama lagi setelah beberapa bulan. Anxiety yang aku derita sepertinya kambuh karena satu-satunya mantan kekasihku. Meski Han sudah meyakinkan bahwa dia tidak akan pernah sampai menyentuh tempat ini, aku masih takut.
Pengalaman itu salah satu penyebab aku semakin melupakan Han, cuci otak setelah aku hampir diperkosa oleh orang yang paling aku percaya. Aku semakin melupakan Han beserta kejadian-kejadian yang terjadi sebelumnya karena memang aku dan Han lost contacts.
...
Keesokan paginya, aku terbangun dari tidurku, aku berada di bawah selimut, segera aku mencari keberadaan Han, dia tidur di sofa.
Sudahlah, dia lelah, juga hari ini harus bekerja. Lebih baik aku buat diriku berguna untuknya. Aku pergi cuci muka dan gosok gigi lalu turun ke dapur untuk memasak sarapan bersama Bibi. Sepertinya kemarin Bibi tidak jadi pulang karena ikut khawatir. Pertanyaannya membuatku yakin.
"Blyss? Kamu tidak apa-apa...?" Suara lembut Bibi terdengar ketika aku sudah sampai di anak tangga terakhir.
"Sudah, Bi. Bibi tidak perlu khawatir," jawabku dengan raut wajah se-meyakinkan mungkin. (Nyambung ga si? Au'ah)
"Begitu ya, eh tapi Blyss, biar Bibi saja yang masak. Blyss temani Bibi saja, itu sudah lebih dari cukup," ucapnya sembari berdiri tepat di depanku agar aku tidak melangkah lebih dekat dengan wajan dan perangkatnya.
"Iya, Bibi. Hari ini aku melihat saja. Semangat, Bi," ucapku lalu duduk di kursi meja makan. Bibi memasak terlihat sangat jelas dari kursi meja makan. Setelah membereskan piring, serta yang lain, aku kembali duduk dan menonton Bibi yang masih sibuk dengan urusannya.
.
.
Selesai. Tinggal kita makan, tapi Han belum juga turun untuk makan. Sepertinya dia akan bekerja dari rumah lagi. Tidak masalah, yang penting dia tidak memaksakan dirinya sendiri.
"Blyss? Han kenapa tumben sekali ya belum turun? Ini sudah pukul 8 bahkan lewat 15 menit," tanya Bibi dengan wajah cemasnya.
Kulihat Han sedang duduk dengan mata terpejam, terlihat sangat mengantuk, aku jadi tidak tega membangunkannya. Aku duduk di sebelahnya, "Han," panggilku.
"Hem?" Singkatnya.
"Ayo sarapan dulu," ajakku.
"Hem..." Jawabnya sambil berusaha untuk membuka matanya.
"Aku duluan," ucapku sambil berdiri dan beranjak.
"Tunggu dulu..." Keluh Han sambil menahan tanganku. "Enak saja mau ditinggal." Han berdiri sambil merangkul pundak ku. "Ayo," sambungnya. Kami berjalan beriringan menuju dapur. Dia benar-benar memaksakan diri untuk sarapan bersama. Aku bisa yakin kalau Han sudah sembuh, tinggal menjaganya saja.
Selesai makan, Bibi dengan sesegera mungkin membereskan peralatan makan. Sedangkan aku yang kehilangan kesempatan, hanya menontonnya mondar-mandir. "Bi, pelan-pelan saja," ujarku yang mulai panik takut kalau ada salah yang pecah lalu melukai Bibi.
"Bibi sudah terbiasa, sebentar lagi selesai," ucapnya. Ya memang tidak berselang lama kemudian Bibi sudah selesai dengan urusannya lalu menghampiri aku dan Han yang dari tadi hanya menontonnya membersihkan peralatan makan.
"Kenapa, Bi?" Tanya Han.
"Bibi ada urusan, jadi harus pulang cepat," jawabnya tergesa-gesa.
"Ya sudah, Bi. Hati-hati di jalan. Atau perlu aku hantarkan?" Tanyaku, aku sedikit was-was dengan Bibi yang terburu-buru.
"Ah tidak-tidak. Baiklah. Bibi pergi dulu." Dia meninggalkan aku dan Han di rumah ini. Hening, wajah Han mengatakan kalau dia tahu sesuatu mengenai Bibi yang terburu-buru pergi. Tapi aku mengurungkan niatku untuk bertanya, ada yang lain yang harus aku tanyakan.
"Han." Han menoleh, tapi terlihat acuh. "Itu, masalah permintaan bantuan dari Forten, apa sudah ada informasi lagi?" Tanyaku.
"Belum," jawabnya. "Yang aku mintai tolong waktu lalu sudah?" Tanyanya.
"Sudah, tinggal mengecek TKP," jawabku santai.
"Ikut aku."
"Ke TKP?"
"Iya," jawabnya.
"No problem." Sudah lama tidak keluar area komplek ini. "Oh ya, kau kemarin begadang?" Tanyaku.
"Iya," jawabnya sambil berjalan menuju sofa ruang tengah.
"Bagaimana bisa? Aku kira kau sudah tidur setelah berbaring di sebelahku," ujarku sambil ikut berjalan menuju sofa ruang tengah.
"Itu yang tidak kau tahu." Han duduk lalu menarik tanganku.
"Han, aku tidak nyaman," rengek ku ketika sudah duduk di atas pangkuan Han. Anak ini memang sering memberikan culture shock padaku.
"Diam saja, kau pikir siapa yang membuatku tidak bisa tidur? Kalau bukan karena kau yang mengigau," ucapnya mengeratkan pelukannya.
"Maaf soal itu, aku tidak sengaja. Tapi bisa tidak pelukanmu dilonggarkan sedikit?" Tanyaku yang masih berusaha untuk tidak menempel dengan dada Han.
"Permintaan ditolak," singkatnya, dan segera menarik ku dengan kuat lalu ******* bibirku dengan agresif. Aku sesak, sungguh. Memberontak ya sama seperti biasa, tidak ada gunanya. Tapi, jujur saja, aku sedang rindu dengan Han yang seperti ini. Senang bisa tahu dia benar-benar sudah baik-baik saja.
Han melepaskan bibirku, "Kenapa?" Tanyanya melihatku yang hanya terdiam.
Aku tersenyum menatapnya, "Aku tidak nyaman, tapi aku senang," jawabku sambil memeluknya. Han tidak memberi respon apapun, dia hanya membalas pelukanku.
"Nanti malam, ikut aku ke TKP ya," ajaknya.
"Tentu," sahutku.