LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
Newbie



Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄


Aku hanya mengangguk, Han mengecup bibirku sekilas lalu menarik selimut untuk kami berdua.


.....


Aku terbangun, ini bukan akhir pekan, jadi semuanya harus berjalan normal. Aku segera membangunkan Han yang masih tertidur.


"Han..." Aku duduk dari tidurku, sementara tangan Han masih berada di pinggangku.


"Hmm?" Suara khas orang baru bangun dari tidurnya.


"Kau harus memasak sarapan, ingat?" Tanyaku lembut sembari mengelus rambutnya.


"Hm..." Tidak ada kosa kata yang dia keluarkan dari mulutnya. Benar-benar kelelahan.


"Bangunlah, aku tunggu di bawah ya." Aku turun dari tempat tidur meninggalkan Han yang masih memejamkan matanya.


"Kau yakin aku akan bangun?" Langkahku terhenti karena pertanyaan dari Han.


"Memangnya kenapa?" Tanyaku.


"Kau meninggalkanku, bahkan saat aku belum memberikan jawaban yang pasti," jawab Han duduk di tepian kasur.


"Lihat, kau sudah bangun." Aku tersenyum lalu segera pergi dari kamar itu. Aku hanya menghindar dari Han, tapi sepertinya dia sudah lupa, dia santai saja.


.


"Aku masak apa Blyss?" Tanya Han sembari berdiri di sebelahku yang duduk di kursi meja makan.


"Mungkin nasi goreng, tapi ganti nasinya dengan mie atau telur," jawabku. Tadi aku sempat membuka lemari pendingin, masih ada satu bungkus mie tanpa bumbu instan dan beberapa butir telur ayam.


"Ah baiklah. Tunggu ya," sahutnya lalu melakukan tujuan utamanya datang ke dapur.


Lumayan lama, maka dari itu tadi aku segera membangunkan Han cepat-cepat. Kira-kira 20 menit kemudian Han sudah selesai memasak. Kami berdua makan dengan tenang dan nyaman, Han sebenarnya punya ide untuk sarapan di mansion Papanya, tapi aku menolak ide itu.


.


"Sudah?" Tanyanya padaku.


"Hem..." Aku memberikan piringku pada Han untuk sekalian dicuci.


"Tunggu di sofa ya, aku mau mandi lalu ganti baju," ujarnya lalu berdiri di depan wastafel dapur.


"Aku mandi duluan ya?"


"Ya, baiklah." Aku pergi meninggalkan Han untuk mandi.


Selesai mandi, Han sudah ada di dalam kamar, ya tidak heran. Dia hanya mencuci 2 piring, perlengkapan memasak yang ia gunakan sudah dicuci duluan.


"Sudah?" Tanyanya yang berdiri di depan pintu kamar mandi. Aku hanya mengangguk, Han memperlihatkan senyumannya lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggangku.


"Kenapa?" Tanyaku tetap menatap matanya.


"Aku hanya suka begini," jawabnya. "Bagaimana lenganmu?" Tanya Han.


"Tidak sesakit kemarin," jawabku. Han hanya mengangguk lalu ******* bibirku sebentar.


"Aku mandi dulu." Dia segera masuk ke dalam kamar mandi.


Sedangkan aku, mengambil selimut lalu turun ke lantai bawah. Sepertinya lebih baik menunggunya di sini daripada di atas.


Sekitar 10 menit kemudian...


Tok tok tok


Ceklek..


"Tidak sopan." Aku mendekat ke arah pintu. Berdiri seorang perempuan dengan mengenakan dress yang benar-benar memperlihatkan lekukan tubuhnya. Ia tersenyum menatapku, aku pun berdiri hendak bertanya maksud dari ketidak sopannya ini.


"Wah-wah-wah. Sepertinya Tuan Muda Alexssandro sudah punya jal*ng baru," ledeknya melihatku dengan hanya menggunakan baju oversize.


Aku mendekati perempuan itu, menghela nafas panjang lalu. "Ya, dia punya yang baru. Jadi kau tidak perlu datang ke sini lagi," ucapku dengan lapang dada.


"Kau biasa saja. Bahkan jika dibandingkan denganku, tubuhku masih menang," sahutku sambil mengusap rambutku.


Aku menepis tangannya dari rambutku. "Ya itu karena kau memang murni seorang ******. Dan jauhkan tanganmu itu dari rambutku."


"Kau lumayan pintar bertindak sebagai penguasa, tapi lihat saja nanti aku akan membuktikan siapa yang dipilih oleh Han," ucapnya begitu yakin lalu pergi dari hadapanku dan keluar dari halaman rumah ini.


Entah seperti apa hubungan mereka sebelumnya, bahkan sampai Han memberikan alamat rumahnya pada perempuan tadi. Ingin tidak kupikirkan, tapi itu selalu menggangguku. Saat kupikirkan, kepalaku rasanya sakit, hatiku juga.


Aku kembali menuju sofa, Han pun sudah duduk di sana sembari memakai sepatunya. Dia menatapku sebentar lalu kembali fokus pada sepatunya. "Tadi siapa?" Tanyanya.


"Tidak tahu," jawabku, lalu duduk di sofa panjang.


Selesai memakai sepatunya, Han menghela nafas panjang karena menatapku. "Ada apa?" Tanyanya. Aku tidak menjawab, segera aku duduk di atas pengakuan Han, aku sadar melakukan ini. Tidak di bawah pengaruh alkohol atau apapun. "Tiba-tiba?" Tanya Han dengan senyum yang mengembang di wajah.


"Iya," singkatku lalu menciumi lehernya. Han tidak mengatakan apapun, ia terdiam, hanya tangannya yang bergerak untuk memeluk pinggangku. Tidak lama aku berurusan dengan leher. "Kau milikku mulai sekarang," bisikku tepat di telinga Han, aku selesai lalu menatap Han.


"You suprising me." Han memegangi tengkuk leherku lalu mengecup bibirku sekilas. "More?" Godanya.


"Nope." Aku turun dari pangkuannya.


"Better then before. So let's go to mansion."


Han berjalan mendahului diriku. Aku segera mengambil selimut yang tadi kubawa lalu berjalan beriringan dengan Han.


...


Kami sampai, sekitar pukul 7 mungkin lebih 5 menit.


"Pagi Ma," sapa kami berdua setelah tahu bahwa Mama Hana yang membukakan pintu.


"Pagi juga...." Terlihat wajah berseri bahagia dari Mama Hana. "Ada apa ini pagi-pagi? Blyss? Selimutnya? Untuk apa itu?" Tanyanya bertubi-tubi sembari tersenyum menahan tawa. Aku menoleh ke arah Han, dia hanya menaikkan bahunya acuh.


"Lupa bawa pakaian Ma," jawabku sambil nyengir kuda.


"Yang penting bukan dengan orang lain selain Han," ujar Mama.


"Intinya, sendiri adalah yang paling benar," batinku sembari tersenyum kikuk.


"Ya sudah ayo masuk dulu. Mungkin kalian harus sarapan," ajak Mama lalu menarik tanganku yang berada di bawah selimut.


Aku tersenyum, Mama masih sama, bahkan setelah aku tinggalkan ke Seoul beberapa hari lalu. Semoga tidak akan pernah berubah.


"Tapi Ma, aku dan Blyss sudah sarapan tadi," ujar Han yang berjalan di belakangku dan Mama.


"Sudah ya?" Aku pun mengangguk, karena memang tadi sudah sarapan dan sekarang juga masih kenyang. "Oke kalau begitu. Jadi, kalian berdua ada apa ke sini?" Tanya Mama menarikku lagi menuju sofa yang sudah kami lewati 2 langkah.


"Tadi kata Han, ada yang mau dia tunjukkan Ma," jawabku sembari duduk di sebelah Mama, sedangkan Han duduk di sebelahku.


"Begitu rupanya. Selesaikan urusan kalian, lalu kembali ke sini," ujar Mama. Aku menoleh ke arah Han yang sedang mengangguk. "Tunggu sebentar." Mama mengehentikan langkah kami berdua.


"Ada apa Ma?" Tanya Han yang keheranan dengan sikap Mamanya yang biasanya santai.


"Di rumahmu ada nyamuk Han?!" Tanya Mama yang tidak sesantai biasanya.


"Tidak," jawab Han sambil menggeleng.


"Itu?" Tanya Mama menunjuk ke arah leher Han, tepatnya pada bagian dimana tadi aku menciumnya.


"Dia," jawab Han sambil menatapku. Mama terdiam, "Blyss juga buas Ma. Dia yang membuatnya," sambung Han dengan tenang.


"Astaga. Mama tidak kepikiran sampai sana. Mama kira benar-benar ada nyamuk di dalam rumahmu," sahut Mama.


Aku hanya tersenyum, tidak tahu harus menjawab apa. "Baiklah. Aku dan Blyss naik dulu." Han berjalan mendahuluiku, tidak lupa dia juga menarik tanganku.


"Iya-iya. Sekalian ganti baju ya. Pakaian Blyss yang waktu lalu masih ada di sini." Mama agak berteriak.


"Iya Ma..." Balasku yang juga agak berteriak.


...****************...


TBC😅


Mohon dukungannya Readers 🤩