LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
Rekan Baru



Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄


"Seenaknya melupakan tugasnya, inikah balasan atas pengabdianku yang terpaksa selama dia tinggal bersamaku, Papa dan Mama?!" Kesalku sendiri dengan bunyi pelan tapi kesal dengan amat kesal. Baru saja di dibicarakan:v


HALO KAK!


^^^Jangan teriak Blyss.^^^


Ya maaf.


^^^Kau marah?^^^


Menurutmu? Ini tujuan utama dari meneleponku apa?


^^^Baiklah, kakak ingin bertanya.. kau sudah makan atau belum?^^^


Kakak pasti sakit


^^^Hahah! Kakak, biasanya juga kakak yang ngajak mogok makan. ^^^


Lelah, ini kita telponan 95% basa-basinya


^^^Menurut kakak 99% basa-basinya^^^


Tidak berguna, menghabiskan kuota dan waktu


^^^Banyak omong sekali kita yah. Kakak mau bilang nanti ada urusan di markas, kamu punya rekan baru. Siap-siap ya.. asisten baru kamu yang jemput.^^^


Iya kak.


Begitulah...


"Rekan baru"


'Rekan baru' 'rekan baru' 'rekan baru' 'rekan baru'


Sampai pukul 07.00 aku dijemput oleh asistenku a.k.a Derry.


"Kenapa gelisah? Ada masalah?" Tanya Derry lembut setelah kami sampai di lampu merah.


"Kata Kak Bryan, aku dapat rekan baru." Jawabku datar.


"Ohhh~ santailah. Blyss yang kukenal bukan seperti ini. Dia orangnya tenang."


"Aku harap aku bisa tenang dan tidak mempermalukan siapapun nanti."


"Hahaha~ iya, akan aku doa'kan."


Aku meresponnya dengan mengangguk lalu keadaan kembali hening.


Kira-kira 9 menit kemudian aku sampai di markas, ada 2 mobil terparkir di samping "mobilku".


Viana dan Han ada di sini? Bagaimana bisa?


"Derry? Apa rekan baruku sudah sampai?" Tanyaku pada Derry yang baru keluar dari mobil.


"Aku kurang tahu soal itu. Baiklah, kau sudah sampai dengan selamat, aku akan pergi ke alamku. Jika ada apa-apa telpon saja aku." Ujar Derry berjalan menuju arah barat halaman luas ini. Aku langsung memakai pakaian yang biasa kupakai saat berada di Dunia Bayangan, lalu mencari Bryan di ruangannya.


"Pagi Gustas. Apa Tuan Bryan ada di ruangannya?" Tanyaku pada sekretaris multifungsinya kak Bryan.


"Pagi juga Blyss, Tuan Bryan sudah menunggumu di ruangannya." Jawabnya dengan lancar dan serius.


"Baiklah." Jawabku lalu berjalan menuju ruangan kak Bryan, ini ruangan yang sama dengan ruangan yang di tempati Papa saat dia masih di sini.


"Pagi kak." Ucapku datar sambil menutup pintu ruangan yang agak gelap itu.


"Rekanmu ada di ruang sebelah, mereka sudah menunggumu. Jangan permalukan kakak dan keluarga Grysselda hanya karena kau gugup." Ucap kakak dengan dingin, dia memang begini ketika ada di dunia bayangan.


"Baiklah." Jawabku, lalu keluar dari ruangan itu.


Aku menuju ruangan sebelah, ruangan itu memang biasa di pakai untuk rapat rekan baru dll.


'Masa iya Viana dan Han rekan baruku? Ck. Mungkin tapi tidak mungkin, yang terpenting adalah tidak gugup. Astaga Mama, Bagaimana sekarang? Blyss. Blyss. Tenang-tenang, jika dipikir logis rekan baru tidak akan memakanmu.' Batinku benar-benar ribut dengan tidak sengaja. Mungkin jika ada yang bisa mendengar kata hati, dia tidak akan mau dekat-dekat denganku karena aku lumayan ribut didalam.


Aku membuka dan menutup pintu dengan hati-hati agar tidak terlalu terdengar jelas, tapi sia-sia, rekanku yang dari luar terlihat laki-laki mendengarnya.


"Pagi Nona Ec." Sapanya lalu berdiri, di ikuti dengan orang di sampingnya.


'Damn, Han? Viana?'


"Em, Pagi juga. Duduklah. Apa kalian rekan baruku?" Tanyaku karena ke-gugup-anku tiba-tiba hilang.


Aku gugup tidak berakar, haah~ aku berlebihan ternyata.


"Viana tidak bisa di ajak kerja sama." Keluh lelaki di samping Viana yang ikut melepas maskernya, lalu menampakkan wajah Johand.


"Maaf, tapi ini terlalu lama." Keluh Viana lagi.


'Ini yang dipersiapkan Papa dan Mama? Rekan seperti ini? Mari ambil hikmahnya.' Pikirku sambil tersenyum miris. "Rencana seperti apa yang mungkin akan kita kerjakan? Aku tidak yakin akan bisa selesai." Kataku.


"Kata-kata yang menyakitkan, tapi aku juga setuju. Masalahnya bahas nanti saja. Aku sangat lelah. Ada tempat istirahat disini Blyss?" Tanya Viana.


"Santai~" respon Han.


"Ada Vi, ayo ikut aku." Ucapku sambil berdiri. "Han cari kak Bryan saja kalau mau." Tawarku.


"Untuk apa?"


"Kalau tidak mau juga tidak apa, aku hanya menyarankan. Bagaimanapun kalian berdua tetap tamuku di sini." Jawabku dengan datar.


"Iya nanti aku tour sendiri saja."


"Kami pergi." Ucapku sambil menutup pintu ruangan dingin itu lalu pergi bersama Viana ke ruanganku.


"Ruanganmu lumayan dekat dengan ruangan tadi ya, aku jadi bisa cepat-cepat istirahat." Kata Viana saat sampai di ruangan istirahatku, lalu Viana berbaring di sana, tidak perlu waktu lama.. Viana sudah tidur.


'Entah apa saja yang kau alami selama di markas Vi, kau terlihat lelah sekali.' Pikirku sambil duduk di mejaku. Sebenarnya aku ada proyek individu, inilah fungsi dari W0rld Sh4dow.


Tempat menyimpan benda yang belum debut untuk khalayak. Proyekku sudah selesai, hanya saja benda itu masih ada di ruang bawah tanah, di tempatku membuat benda-benda baru.


Aku mengambil kertas catatan yang dapat menempel, lalu menulis sebuah pesan untuk Viana jika dia bangun nanti.


Vi, aku tidak enak membangunkanmu tadi.. jika kau sudah selesai istirahat, kau cari aku di ruangan bawah tanah. Jika bingung tanyakan saja pada orang di sekitar sana di mana ruang pribadi Blysstina di bawah tanah.


Sekian terima gaji.


Setelah selesai menulis itu, aku menempelkannya di tangan kanan Viana. Lalu aku pergi dari ruangan itu dengan hati-hati. Aku berjalan menuju lift untuk ke ruang bawah tanah, hawa dingin langsung terasa saat aku sampai di ruang bawah tanah. Disini tidak pernah terkena sinar matahari, jika di film ini akan jadi sarang vampir dan kawannya yang tidak suka cahaya. Tapi diruanganku benar-benar terang, aku yang menambahkan banyak lampu di ruanganku.


Di ruang bawah tanah, ada dua lantai lagi. Lantaiku ada di paling bawah, bersama dengan ruang pribadi kedua Bryan, ruang private untuk membicarakan hal lebih lanjut jika ada kesepakatan yang belum benar, tempat labolatorium alat elektronik, tempat wawancara mata-mata yang tertangkap, tempat membuat kecanggihan baru, dan lain hal yang harus mendapatkan privasi penuh.


Saat aku keluar dari lift untuk menuju ruanganku, aku menemukan orang yang seharusnya tidak disini. Aku memandangnya sampai dia melewatiku, tapi dia tidak menatapku sama sekali.


'Sepertinya aku sudah mulai untuk mencari


perhatiannya.' Pikirku saat Han melewatiku.


"Han." Panggilku sambil berbalik menatap punggungnya.


"Hmm? Kenapa?" Tanyanya berbalik menatapku dengan nada rendah.


'Sial, aku terlalu menikmati suaranya. Aku merindukanmu.' Pikirku sambil menatap matanya. "Tidak, kalau mau pergi, pergilah." Jawabku sambil beranjak pergi, pikiranku tiba-tiba blank saat Han merespon panggilanku tadi dan mata Han juga menatapku seperti aku adalah orang yang istimewa.


Author POV : (lagi mabok majas)


Belum sempat melangkah, tanganku ditarik Han hingga aku menghadap ke arahnya, lalu Han memelukku. Astaga. Aku nyaman di sini.


"Apa bisa aku tebak, kalau kau merindukanku?" Tanya Han belum melepas pelukkannya.


'Bisa jadi.'


"Iya." Jawabku datar.


"Kau bisa rindu juga ternyata." Ejek Han. "Baiklah, aku beruntung." Ucap Ham sambil melepas pelukannya. "Kenapa kau tidak bilang?" Tanya Han sambil mengunci pergerakkanku di tembok sambil menyeringai. "Kalau kau bilang, kita mungkin bisa bertemu di tempat lain yang lebih memadai." Sambung Han.


Tiba-tiba aku tidak bisa berpikir jernih, Blyss sadarlah cepat. "Aku sudah bilang iya tadi." Jawabku sambil mencoba melepas tangan Han dari tanganku.


'Aku benar-benar bodoh.' Umpatku.


"Late baby~" Han menciumku setelah menyeringai. Aku tetap mencoba melepas tanganku, sampai akhirnya Han melepas ciumannya padaku. "Kenapa kau tidak membalasku?" Tanya Han dengan nada mengejek lagi.


Sekarang aku tidak tahu apa yang harusku jawab. "Apa ada alasan untuk itu?" Tanyaku.


"Kau memang unik," sahut Han mengecup bibirku. "Beberapa hari ke depan kuharap kita bisa melepas rindu. Aku pergi dulu," Sambung Han dengan senyumnya setelah mengecup bibirku lalu pergi menuju lift.


"Siapa sebenarnya dia?" Gumamku setelah lift sudah tertutup. 'Apa dia juga merindukanku? Itu tidak penting lagi, rinduku sudah terobati.' Pikirku sambil masuk kedalam ruanganku.


.........


TBC. Mohon dukungannya readers 😁