LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
Seperti Pindah



"Tidur saja di sini." Ya pada akhirnya Han tidak akan menolak, kami tidur dengan nyaman. Tidak terlalu juga, ini sudah pagi, biasanya ini jadi jam sarapan kami, tapi sekarang malah jadi jam tidur. Kelelawar.


...


"Hoaam...." Han menguap, sepertinya sudah tidak tahan dengan semua ini.


"Han, kau pulang saja ya? Biar aku yang menunggu mereka di sini," ujarku.


"Tidak. Lebih baik kita berdua yang pulang," sahutnya.


"Tapi apa kau yakin masih bisa tahan?" Tanyaku.


"Lima menit lagi, kalau tidak datang, kita pergi. Ada hal lain yang ingin aku kerjakan," jawabnya.


"Iya-iya." Aku sedari tadi hanya diam memandangi Han yang berusaha menahan rasa ngantuk nya. Aku jadi kasihan, tapi sebenarnya dia tidak mengantuk, dia hanya bosan. Baru saja ia bilang akan mengerjakan hal lain.


Ruangan ini, aku dan Han sedang berada di dalam markas kelompok baru di kota ini. Kelompok ini mengundangku dan Han untuk datang ke markasnya, karena merasa tidak enak, Han setuju dan memilih untuk datang. Walau hatinya sebenarnya menolak keras undangan ini.


Ya sudahlah, aku yang merasa khawatir memaksa untuk ikut. Ya, akhirnya aku memohon kepada Han. Memalukan, tapi jika dipikir-pikir lagi tidak juga.


5 menit berlalu, hanya keheningan yang ada, aku bingung ingin membahas soal apa, sedangkan Han memang tidak pernah membahas hal dalam keluarga di tempat asing seperti ini. Kecuali dia sedang dalam pengaruh alkohol atau obat-obatan.


"Ya sudah, kita pergi, lima menit yang aku janjikan sudah lewat enam detik." Han berdiri dari duduknya.


"Tuan tunggu sebentar," ucap seseorang dari lantai atas.


"Ayo, Blyss," ajaknya tanpa menghiraukan ucapan seseorang dari lantai atas itu.


"Mereka? Bagaimana?" Tanyaku sembari mengikuti langkah kaki Han.


Han mengehela nafasnya, "Lima menit yang aku katakan sudah lewat. Kesempatan mereka juga sudah berakhir dari lima menit yang lalu. Kesempatan itu hanya untuk omong kosong. Aku sudah berusaha untuk tidak mengamuk di tempat ini karena akan berbahaya untukmu ke depannya," jawabnya tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.


Han segera masuk ke dalam mobil, sedangkan aku juga ikut tergesa-gesa. Dari wajah Han yang aku perhatikan, dia memang sudah muak, mulai dari undangan, bahkan saat ia sampai di markas ini, wajah jijik saat duduk di sofa. Sayangnya, Han masih punya hati untuk tidak menolak ajakan permintaan ketua dari kelompok baru ini.


"Kedepannya bagaimana?" Tanyaku sembari memegang tangan Han yang sedang melampiaskan kemarahannya lewat setir mobilnya.


"Aku anggap tidak mengenal mereka," singkatnya.


"Terserah padamu saja, tapi jangan terlalu lama emosi seperti ini. Tidak baik, bahkan dalam berbagai perspektif." Aku bingung ingin melakukan apa agar lelaki ini bisa tenang, ingin mengelus kepalanya, tapi seperti tidak membantu. Mengelus tangannya? Rasanya tidak ada gunanya. Apa-apaan ini?!


"Ya baiklah," singkatnya lalu kembali fokus menyetir.


...


Aku hanya diam, sampai-sampai aku tertidur dalam perjalanan ini. Saat membuka mata, kami berdua sudah berada di halaman sebuah rumah. Aku tidak tahu rumah ini sebelumnya, ini pertama kalinya aku datang ke mari. Kami sampai sore, mungkin ini sudah sekitar jam 3.


"Kita sampai, turunlah," ucap Han laku turun dari mobil.


"Kita dimana?" Tanyaku sembari mengikuti langkah kakinya yang sedang berjalan menuju pintu.


"Kau di sini untuk sementara waktu," jawabnya. Pintu rumah ini terbuka.


"Akhirnya kalian berdua datang juga."


"Kalian tidak memikirkan kita bertiga yang menunggu kalian ya?!"


"Syukurlah kalian baik-baik saja."


Ketiga sahabat Han, Gillbert, Jack, dan Shino menyambut kami secara bergantian. Jadi mereka tinggal di sini? Ini tempat yang berbeda dengan tempat sebelumnya yang pernah aku datangi.


"Aku ada urusan penting lainnya. Dan aku tidak mau kau terlibat sedikit pun, jadi aku rasa mereka bertiga sudah cukup untuk menjagamu beberapa hari," jawabnya.


"Tapi Han, bukannya masih ada keluarga ku yang lain?" Aku bingung, kenapa harus ketiga sahabatnya?


"Aku tidak ingin anggota keluargamu yang lain juga terlibat, ini hanya urusan ku dengan orang itu. Derry sedang ikut dengan Pollo, katanya ada urusan mendadak. Siapa lagi? Forten? Kau mau mengganggu nya?" Han menghentikan ucapannya lalu berjalan mendekati ku dan memberiku sebuah kecupan di keningku.


"Tapi Han...-"


"Mama dan Papaku tidak tahu soal ini, rahasiakan apapun yang kau ketahui. Aku harap kau mau menuruti nasehat dari ketiga manusia di rumah ini yang kadang idenya bahkan lebih aneh daripada aku," potongnya segera, Han berlalu. Meninggalkan aku dengan ketiga lelaki yang sudah lama tidak aku jumpai. Setelah wisuda aku tidak pernah bertemu dengan mereka bertiga.


"Senang bertemu kau lagi, Blyss," ujar Jack. Sedangkan dua lainnya sudah meninggalkan ruang tengah.


"Senang bertemu denganmu juga," jawabku. "Bisa jelaskan apa saja yang boleh aku lakukan di sini?" Tanyaku.


"Tentu, anggap kau sedang liburan dan aku tour guide nya," jawabnya. Aku hanya tersenyum tipis sebagai jawaban iya. "Nah baiklah. Mulai dari kamarmu, ikut aku." Ia berjalan duluan kamarku masih di lantai dasar, jadi sepertinya mudah untuk melarikan diri. Tapi itu benar-benar tidak direkomendasikan untuk keadaan seperti sekarang. Aku berpikir, Han tadi sudah sangat bersungguh-sungguh dalam ucapannya.


.


.


"Baiklah, untuk sekarang, kami bertiga yang akan memasak untuk kita semua. Kau mandilah dulu, setelah itu makan malam. Kalau kami tidak ada di rumah, itu artinya kita sudah pergi bekerja. Mengerti?" Tanya Jack padaku.


"Iya aku mengerti," jawabku mencoba setulus mungkin.


Jack mengangguk lalu pergi ke atas, sepertinya memanggil kedua temannya untuk diajak memasak makan malam. Ya sudah aku percayakan pada mereka bertiga, aku benar-benar lelah dengan perjalanan hari ini. Dari ke kantor Han, lalu ikut rapat bersama dengan rekan kerjanya, disambung dengan menghadiri undangan untuk ke markas seseorang namun hasilnya kosong, dan sampai di sini aku mengelilingi rumah ini sekitar 30 menit bersama Jack.


Setelah sampai di dalam kamar, aku segera mandi, setelah mandi aku memanfaatkan waktu untuk rebahan sebentar. Tapi sekitar 6 menit kemudian Shino mengetuk pintu kamarku, untuk mengajakku makan malam bersama sembari membahas hal-hal yang boleh aku lakukan.


"Kami bertiga bisa saja pergi bekerja, atau tidak. Jadwal kami juga berbeda-beda, jadi jika kami tidak di rumah, jangan repot-repot untuk khawatir karena kami pasti akan kembali ke sini." Shino menjelaskan untuk pertama kalinya.


"Sebenarnya Han meminta kami untuk tidak membiarkan mu keluar rumah walaupun hanya sebentar. Tapi kau sudah dewasa, aku percayakan dirimu sendiri di wilayah ini. Rasanya tidak adil jika tidak membiarkan mu keluar rumah." Dilanjutkan dengan Gillbert. "Lagi pula, kau bisa keluar asalkan tidak ketahuan oleh kami bertiga. Kami memang sahabat Han, tapi jika soal perempuan kau bisa dalam bahaya jika tinggal terlalu lama dengan kami," sambungnya, itu konyol. Seharusnya tidak mengatakan hal seperti itu di depanku yang memiliki anxiety.


"Jika untuk urusan belanja, kartunya tersedia di laci ruang tengah. Pada laci meja TV. Untuk bersih-bersih, itu terserah padamu yang akan di rumah setiap waktu," ujar Jack terakhir.


"Baiklah, aku mengerti," sahutku. "Aku ingin bertanya sesuatu. Boleh?"


"Apa?" Tanya Shino.


"Han sebenarnya pergi kemana?" Tanyaku, meski terlihat tidak berguna bertanya yang seperti ini kepada salah satu dari mereka. Tapi usaha terlebih dahulu.


"Kau mau menyuap kita bertiga dengan apa?" Tanya Jack sembari tersenyum miring.


"Hah? Bisa lebih spesifik?" Tanyaku.


"Itu tergantung pada apa yang mau kau lakukan untuk kami bertiga," jawab Gillbert.


"A... Hahaha, begitu rupanya. Tidak jadi saja," sahutku cepat sambil menampilkan senyum terpaksa ku, sebenarnya aku panik sekali dengan ekspresi dari dua manusia yang duduk di depanku dan satunya lagi di sebelahku.


"Jangan tanyakan hal yang Han sendiri tidak memberitahu mu," ujar Shino.


"Benar sekali, terutama pada kami ini," sambung Gillbert.


"Baiklah, makan malam sudah selesai, kami pergi dulu." Jack pergi dari ruang makan, diikuti oleh Gillbert dan Shino.


Wahh... Semoga Han bisa cepat-cepat kembali, aku tidak suka di sini bersama mereka bertiga. Meski diberikan kelonggaran untuk keluar rumah asalkan tidak ketahuan, tetap saja rasanya seperti mereka tidak memberiku keluar rumah.