LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
"Haha. Ayo."



Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄


"Tentu," sahutku.


...


Malam tiba, ini dia, kami berdua sudah dalam perjalanan menuju TKP yang dimaksudkan. Jauh juga ternyata. Perjalanan kami memakan waktu sekitar satu jam.


"Aku perlu jalan duluan?" Tanya Han.


"Aku tidak ingin turun," jawabku.


"Ya sudah. Beri aku setiap pergerakan di sekitarku," sahutnya denga nada kesal.


"Pasti, Tuan," jawabku. "Sebentar." Aku segera menahan tangannya.


"Apa?" Tanyanya bingung.


"Kau sendiri? Yakin sendiri? Tidak ada pasukan?" Tanyaku.


"Tidak, ini hanya urusan pribadi."


"Come on dude. Ya sudah aku ikut," ujarku sambil menggendong tas ku.


"Haha. Ayo." Dia berjalan duluan, sepertinya dia sudau tahu seluk-beluk tempat ini. Gudang, aku pertama kali melihatnya, ya ini gudang.


"Yakin tidak mau aku panggilkan sesiapa untuk membantu? Derry mungkin? Pollo juga pasti free," tanyaku berbisik sambil tetap berjalan.


"Tidak, aku sudah punya yang lebih berpengalaman di sini," jawabnya.


"Damn!"


"Mulutmu perlu dijaga lain kali."


Kami berdua masuk dengan mengendap-endap, sudah gelap, ini sekitar pukul 2 pagi. Aku bahkan tidak tahu apa masalah yang dimiliki oleh Han dengan orang di gudang ini. Yang pasti, tempat ini sudah aku amankan secara menyeluruh untuk kami.


"Han," panggil ku dengan agak kaget.


"Apa?"


"Di depan ada orang, dari tubuhnya dia seorang perempuan paruh baya," ucapku sambil menatap monitor laptop.


"Rekan kita," jawab Han.


"Siapa?"


"Nanti juga tahu sendiri." Han menghampirinya, sedangkan aku belum yakin, tapi dari tubuhnya, dia benar-benar tidak asing.


"Bibi? Ini benar-benar Bibi?" Tanyaku sembari mendekati mereka berdua.


"Benar, Blyss," jawabnya dengan nada khasnya.


"Wah...." Aku kehabisan kata-kata untuk merespon ini. Benar-benar tidak disangka. "Han, kau berhutang cerita padaku."


"Nanti kita bicarakan di rumah, sekarang ikuti Bibi," jawabnya.


Tidak ada hal yang terjadi, tempat ini hanya dipasangi beberapa peledak oleh Han. Aku tidak mengerti dan tidak tahu kesimpulannya. Kami bertiga pulang dengan tangan kosong, dan mata yang mulai mengantuk. Sudah lama sekali aku tidak begadang lagi.


...


Sampai di rumah, matahari sudah mulai terbit, aku dan Han memilih untuk tetap di rumah. Bibi juga sudah pulang ke rumahnya.


"Han, tadi itu tempat apa? Punya siapa?" Itu pertanyaan yang sedari tadi aku tahan.


"Tapi aku belum mandi," jawabku.


"Aku juga, sekalian saja ini dicuci besok. Lagi pula sudah ini seprai lama, sebelum menikah. Tapi karena aku jarang di sini, Bibi jadi tidak menggantinya."


"Ah baiklah." Aku segera naik ke atas tempat tidur lalu berbaring di sebelah Han, dengan lengan Han sebagai alas kepala. Ini nyaman. Lebih nyaman dari yang aku bayangkan. "Ceritalah."


"Itu tempat mantan kekasihmu, aku hanya ingin kau ikut melihat markasnya hancur. Jika aku beritahu sebelum berangkat, mungkin anxiety mu akan kambuh, dan kau tidak dapat merasakan kesenangan yang aku rasakan," jelasnya.


"Lalu Bibi?" Sebenarnya ada kemungkinan kalau Han dan Bibi sudah bekerja sama untuk mengelabuhi Jyun Go, Bibi pura-pura bekerja di sana, yang padahal Bibi adalah mata-mata khusus dari Han untuk menyingkirkan Jyun Go pada saat yang sudah ditentukan. Tapi aku harus mendengar klarifikasi langsung dari yang bersangkutan, terutama dalangnya.


"Bibi bekerja sekitar 3 tahun dengan Jyun Go, ya itu dimulai setelah aku tahu dia pacaran denganmu dan putus tidak lama setelahnya. Salah satu hal yang membuatku mendesak mu menikah adalah karena aku tahu kalau Jyun Go sudah memulai komunikasi dengan Vania. Perempuan yang menyambangi rumahku ketika kau yang membukakan pintu."


"Kau tahu kalau dia datang tapi masih bertanya siapa yang datang?" Kesalku.


"Pura-pura tidak tahu itu menyenangkan, Blyss. Aku yakin kau juga pernah," sahutnya. Ya sering, bahkan 70% dari hidupku dipenuhi dengan pura-pura tidak tahu karena saking tidak sukanya ikut campur dengan urusan orang lain.


"Hem begitulah."


"Jadi, rekan Vania yang menculik mu adalah Jyun Go. Selama kau di sana, dia hanya mengamati mu, tidak ada niatan lainnya. Beda dengan Vania yang benar-benar ingin membunuhmu secara perlahan. Aku rasa, Jyun Go tidak menyentuh mu karena dia sudah menikah dan punya anak." Han berhenti, ia menggantikan lengannya dengan sebuah bantal untuk kepalaku. Sedangkan tangannya turun sampai di pinggangku. "Mungkin orang yang terlintas di benakmu adalah Nicols, tapi itu salah. Beberapa minggu setelah kau pindah ke Washington DC, ia mengikuti mu ke Amerika Serikat, tapi belum sampai di Washington DC. Dia tahu kau di sini adalah sehari setelah kau pergi ke kantorku untuk yang pertama kalinya," lanjutnya.


"Jadi pria serba hitam itu dia?" Tanyaku.


"Benar, tapi ada kemungkinan juga itu suruhannya. Jyun Go di sini bersama anak buah Pamannya, yang masih ada hubungan dengan Kino. Aku sakit, pada awalnya aku sengaja, aku pikir mungkin sehari dua hari akan sembuh. Tapi setelah kau pergi untuk menemui Viana, aku merasa lebih tidak nyaman daripada sebelumnya. Dan berakhir dengan masuk angin." Aku yang mendengarnya hanya tersenyum geli, bisa-bisanya dia sengaja sakit agar bisa izin dari kantor padahal dia pemilik kantor itu secara sah.


"Sedikit aneh didengar, tapi percayalah aku sudah tidak heran lagi," sahutku.


"Yang lain berjalan lancar, hambatannya hanya ada pada aku sakit lebih dari sehari. Saat aku akan pura-pura sakit, kau ternyata sibuk dengan pekerjaan Kakakmu. Aku menghentikan niatku hari itu, tapi ternyata besoknya aku malah masuk angin. Ya sudahlah, rencana ku dan Bibi untuk menghanguskan gudang itu jadi diundur sampai aku bisa sarapan bersamamu dan Bibi di meja makan," jelasnya lagi.


"Baik Han, itu mengesankan. Aku tidak mengerti bagaimana caranya kau bisa tahu semua itu padahal aku sudah berusaha menutupinya," ujarku sambil berusaha menyelipkan tanganku pada lengan Han yang sedang melingkar pada pinggangku. Terlalu sesak, aku tidak bisa.


"Jangan masukkan tanganmu, kita berdua harusnya lelah dan istirahat sekarang ini. Jangan sampai aku unboxing kau saat ini," ancam Han dengan serius.


"Iya-iya tidak akan aku masukkan." Aku tidak berkutik lagi. "Satu lagi, kau bahkan belum menjelaskan bagaimana caramu menemukanku di sekitar lokasi penyanderaan."


"Itu ya... Salah satu jepit rambutmu berisi GPS, di gaun mu juga ada, jadi aku tidak sepenuhnya kehilangan jejak mu," jawabnya.


"Bukankah itu terlalu lama?" Tanyaku bingung.


"Jaringan terputus, daerah itu sepertinya milik keluarga Vania atau Jyun Go. Tapi kalau menurutku sendiri ya Jyun Go, itu lokasi yang sama seperti tempat Forten. Hanya orang yang memiliki akses dapat menghubungi seseorang," jelasnya sambil menarikku semakin dekat ke dalam pelukannya.


"Baiklah, itu runtut, jelas, dan padat. Tapi bisa tidak jangan sedekat ini? Aku sesak," keluhku. "Lebih baik tidur saja, kita begadang, ingat?"


"Iya, ya sudah, tidurlah," ujarnya melepaskan pelukannya.


"Kau mau kemana?" Tanyaku.


"Ke ruang kerja," jawabnya ringan.


"Kau tidak peduli dengan kesehatanmu? Kau masuk angin karena kurang tidur, Han."


"Aku tidur di sana saja," sahutnya. Aku segera bangkit dari tidurku lalu mendorong Han dengan sekuat tenagaku. "Blyss yang buas sepertinya sudah bangkit kembali," ejeknya setelah aku berhasil menindih tubuhnya.


"Tidur saja di sini." Ya pada akhirnya Han tidak akan menolak, kami tidur dengan nyaman. Tidak terlalu juga, ini sudah pagi, biasanya ini jadi jam sarapan kami, tapi sekarang malah jadi jam tidur. Kelelawar.


...****************...


TBC😅


Mohon dukungannya Readers 😋