
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
Benar saja, Forten menemaniku sampai aku pergi dari wilayah markas itu, beginilah aku saat hanya bersama Forten. Aku akan lebih manja, bahkan lebih manja daripada saat bersama Papa atau Kak Bryan.
09:23 PM
Aku berhenti di sebuah minimarket yang kebetulan buka 24 jam. Sekarang aku bingung harus kemana, ke rumah keluarga Han? Atau pulang ke rumahku?
Setelah membaca pesan dari Mama Hana, aku segera pulang ke rumahnya lagi, lagi pula pakaianku masih ada di sana.
10 menit kemudian aku sampai di rumah keluarga Alexssandro itu, semuanya masih terang, entah memang seperti ini atau karena aku yang baru datang dari luar rumah. Aku akan merasa tidak enak kalau memang benar karena menunggu kedatanganku.
Satpam dan pengawal yang berada di pos depan hanya tersenyum melihatku, aku berharap semuanya sudah tidur, jadi aku bisa ke kamar dengan tenang.
Tapi itu tidak terjadi, Papa, Mama dan Han masih berada di ruang tengah sambil menatapku yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Blyss... Besok-besok kalau pergi beritahu kami semua agar tidak mengkhawatirkanmu..." Nada Mama tetap sabar meskipun aku sering membuatnya kesal.
"Syukurlah kau kembali dengan selamat Blyss..." Papa juga tetap sabar, meskipun wajahnya sudah seperti harimau yang akan menyantap mangsanya.
"Blyss minta maaf, Pa, Ma."
Tidak ada yang bisa aku katakan lagi selain minta maaf, aku enggan menjelaskan alasan mengapa aku bisa pulang selarut ini.
"Mama dan Papa masih punya kesempatan untukmu," ucap Mama. "Yasudah. Kami berdua tidur duluan," Mama dan Papa pergi dari ruang tengah.
"Iya." Aku menjawabnya, tapi sepertinya mereka berdua tidak mendengarku.
"Kau mau tetap berdiri di sana?" Tanya Han yang masih duduk di sofa.
"Tidak," jawabku santai dan kembali mengangkat kepalaku setelah menunduk untuk meminta maaf kepada Mama dan Papa, aku hanya sopan terhadap kedua orang tua tadi, Han? Sepertinya aku masih bisa berbohong. "Aku mau tidur. Aku duluan," ujarku melewati sofa ruang tengah.
"Terserah."
Itu, Han kesal. Haha. Mudah sekali membuatnya kesal, baiklah, aku akan tidur di kamar sebelah.
Di dalam kamar aku masih bisa mendengar suara pintu yang dibanting oleh Han. Dia sangat kesal, sepertinya hari ini benar-benar tidak menyenangkan untuk Han.
Tapi, jika diingat-ingat lagi aku hanya mandi tadi pagi, harusnya sekarang aku mandi lagi, masa' aku mandi hanya sekali. Hampir saja, koperku beserta isinya masih di kamar Han, tidak apa, dia sudah menjadi kekasihku sekarang ini.
Tok tok tok
"Pintunya tidak terkunci."
"Maaf mengganggu. Aku mau mengambil... Eh? Tidak ada orang? Yang menjawabku tadi siapa?" Tidak ada orang, mungkin sedang di kamar mandi. Aku duduk di sofa sambil menunggu Han keluar dari kamar mandi.
Ceklek
"Blyss? Kukira Mama." Dari raut wajahnya, Han terlihat kaget karena keberadaanku. "Ada apa?"
"Aku mau mengambil koperku. Masih di ruang ganti,'kan?" Tanyaku sambil berdiri. Han hanya menaikkan alisnya. "Ada apa?" Tanyaku sambil berjalan duluan.
"Tidak."
Kalau masuk ke dalam ruang ganti, maka akan melewati wastafel, lalu pintu keluar.
"Untuk apa kau ikut? Kau mau mengambil sesuatu juga di ruang ganti?" Han mengikutiku, entah apa yang ada di dalam pikirannya.
"Untuk menanyakan sesuatu padamu," jawab Han, sebenarnya Han itu kenapa ya? Baru saja dia benar-benar dingin padaku.
"Apa?"
"Kapan kau menghilangkan tanda di lehermu?" Tanya Han membuatku tersedak air liurku sendiri. "Eh? Mau aku ambilkan air?" Aku hanya melambaikan tanganku untuk jawaban tidak sambil menggeleng.
"Hah.... Akhirnya..." Aku sangat tidak suka tersedak air liurku sendiri, aku merasa bodoh, padahal itu wajar saja terjadi.
"Pertanyaanku belum kau jawab Blyss," ujar Han sambil mencengkram lembut rahangku agar aku menatapnya.
"Bagus!"
"Akh!!"
Han menguatkan cengkramannya, sebelum aku menutup mata, aku melihat Han menunjukkan senyum iblisnya. Tenagaku memang tidak setara dengan Han, tapi aku tetap berusaha untuk melepaskan tangan Han dari rahangku sambil meringis. Sungguh, rasanya gigiku akan copot jika begini lebih lama.
"Bagaimana...?" Tanya Han lembut setelah melepas rahangku sambil tersenyum. Aku menundukkan kepala, rasa sakitnya masih ada bodoh! "Maaf jika berlebihan, tapi kau juga berlebihan."
"Apanya?" Aku mendongakkan kepalaku untuk menatap Han yang mulai berjalan mendekatiku, bodoh. Seharusnya aku tidak mundur, tapi tatapan Han terlalu mengintimidasi.
"Apa alasan atas kepulanganmu yang larut ini?" Tanya Han sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Tidak ada. Tapi aku sudah meminta maaf kepada Mama dan Papa tadi," jawabku. Aku sudah diajarkan oleh kedua orang tuaku, jika saat kau melakukan suatu kesalahan, jangan mencari alasan kalau kau sudah memang salah. Segeralah meminta maaf, terima konsekuensinya dan jangan ulangi lagi hal yang sama.
"Ya... Hanya pada Mama dan Papa. Tidak kepadaku. Besok-besok aku akan mendatangi Forten dan memberinya pelajaran."
"Jangan lakukan hal yang tidak diperlukan."
"Apa kau tidak sadar dengan posisimu sekarang?"
Habis. Aku sudah tidak bisa mundur lagi, wastafel berada di belakangku.
"Mungkin alam sedang memberikan izin untukku agar memberimu sebuah pelajaran. Karena sudah membuat calon anggota keluargamu khawatir."
Dia juga sama baj*ngannya dengan Forten, tidak bisakah kau sebagai protagonis pria mempermudah hidupku???!!
"Sebaiknya, kita bicara dengan posisi yang lebih baik, kau terlalu pendek." Dengan mudahnya Han menaikkanku di atas wastafel, aku seringan itu ya? Padahal aku sudah memaksakan diri untuk makan lebih banyak. "Sebenarnya tetap pendek, tapi ini lebih baik daripada sebelumnya."
Arrgggghhh!!! Manusia ini benar-benar.
"Apa yang kau mau?" Ketusku.
"Minimal, kau tidur di sini. Lagipula ini hari terakhir kau tidur di rumah ini," ujar Han lalu memegang tengkuk leherku. Tenang Blyss, tidak akan terjadi apa-apa.
"Berjanjilah kau tidak akan pernah berbuat macam-macam kepada Forten." Aku mendongakkan kepalaku untuk menatap Han.
"Baiklah. Itu bisa diatur." Han ******* bibirku, sepertinya tidak ada yang gratis baginya, terlebih lagi untukku.
"Setidaknya biarkan aku mandi dulu." Han melepaskanku setelah aku sedikit memberontak.
"Padahal masih kurang, tapi baiklah. Tidak baik juga kalau kau mandi terlalu malam." Han segera menurunkanku dari wastafel.
Aku masuk ke dalam kamar mandi, jika Han sudah keluar dari tempat wastafel, maka akan berjalan lebih cepat. Tapi, jika Han tidak keluar dari sana, mungkin malam ini akan menjadi malam yang diiringi oleh perdebatan.
30 menit, aku selesai mandi. Di kamar tidur tidak ada siapapun, bahkan Han juga tidak ada. Tapi tidak lama kemudian Han datang sambil membawa hp, laptop dan tas milikku.
"Untuk apa kau membawanya kemari?" Tanyaku sambil memandangi Han yang sedang meletakkan barang bawaannya di atas meja.
"Besok kau akan pergi dari sini. Jadi agar kau lebih dekat mengambilnya, aku pindahkan ke sini."
Dia sebenarnya anak yang baik dan perhatian, hanya saja dia sedikit mempersulit diriku. Han merebahkan dirinya di sebelahku yang masih duduk dan bersandar pada tembok.
"Ada apa?" Tanyaku pada Han yang baru saja memeluk pinggangku, dan aku masih duduk.
"Tidak. Lain kali jangan membuat orang khawatir Blyss..." Nada rendah Han kembali kudengar lagi. "Apa kau tidak tidur? Ini sudah malam..."
Sial. "Baiklah."
Sebelumnya, aku merasa sangatlah tidak nyaman berada di dalam pelukan Han, namun sekarang sepertinya aku sudah bisa menerima ini dengan senang hati.
...***...
TBC. Mohon dukungannya Readers 😁