LOVE AFTER MARRIAGE

LOVE AFTER MARRIAGE
Bab90



"Sepertinya kita melewatkan sesuatu?" celetuk Gino tiba-tiba membuat mereka serempak menoleh ke arahnya.


"Melewatkan apa?" tanya Raka.


"Om Dana, pesan yang di kirim ke om Dana, waktu itu om Dana dan tante Sofia juga mendapatkan pesan dari orang misterius itu, kan," pernyataan Gino membuat Raka dan Keyla teringat pada hari di mana orang misterius itu mengirim foto pada Keyla. Dan sebelumnya, Dana dan Sofia yang mendapat pesan terlebih dahulu, tapi Keyla tak sempat menanyakan perihal pesan itu.


Sementara itu Edwin tidak mengerti karena waktu itu ia masih berada di jalan sehabis melapor ke kantor polisi.


"Kamu benar, orang itu kan bilang kalau kita ingin tahu tempat keberadaan Gempara di foto itu, tanyakan pada ayahmu, itu artinya sosok misterius itu kenal sama om Dana, dan foto yang kita temukan juga foto om Dana sama seorang wanita dan anak kecil," ujar Raka teringat dengan pesan yang di kirim pada Keyla.


"Sepertinya kita harus menanyakan siapa wanita dan anak kecil itu pada nenek, karena aku merasa ada yang janggal dengan penjelasan om Dana," ujar Gino.


"Kamu benar, No, kalau gitu ayo kita ke rumah nenek," kata Keyla lantas berdiri dengan cepat.


"Biar aku aja, kak, kamu gak usah ikut, kalau ada kamu nenek gak mau cerita gimana," cegah Gino yang masih pada posisinya.


"Aku yakin nenek mau cerita sama kamu walaupun ada aku, kamu kan cucu kesayangan nenek," Keyla sedikit tersinggung, tapi demi Gempara ia akan menghadapi neneknya yang tak pernah suka padanya.


"Ya udah ayo, gak usah sedih gitu," Gino berjalan terlebih dahulu lantas di ikuti oleh ketiganya.


Mereka pun langsung pergi menuju ke rumah neneknya Keyla dan Gino menggunakan mobil. Sementara itu, Sofia yang mendengar obrolan mereka dari jauh, menunduk sedih. Sebagai seorang ibu dan nenek, ia tak bisa berbuat apa-apa. Padahal kunci agar Gempara bisa kembali ke pelukan Keyla ada padanya.


"Maafin Mama, Key, Maafin Mama,"


•••


Gino, Keyla, Raka dan Edwin baru saja tiba di rumah milik sang nenek. Terlihat di teras ada wanita tua yang sedang mengemas rengginang mentah ke dalam plastik. Gino menghampiri neneknya, sementara yang lain menunggu sebentar di mobil.


"Assalamualaikum nek," ucap Gino pada sang nenek lantas mencium punggung tangan neneknya.


"Waalaikumsalam," balas wanita tua itu. "Gino, kamu kesini ada apa?"


"Gino kesini nganterin Keyla, dia mau jenguk nenek, waktu itu kan Keyla gak ikut," kata Gino lantas duduk di sebelah sang nenek.


"Buat apa anak itu kemari, nenek gak perlu di jengukin dia yang ada nenek tambah sakit, bukannya sembuh," ucap wanita itu, sikapnya terhadap Keyla masih saja sama seperti dulu padahal mereka sudah lama tak bertemu.


"Nenek niat Keyla kesini baik loh, kok nenek bicaranya gitu, gak baik loh, nenek kan selalu ajarin Gino buat bersikap baik, tapi kenapa nenek gak lakuin," kata Gino seraya menyender di bahu wanita itu dan bersikap manja padanya.


"Kamu pasti cape sehabis perjalanan jauh, istirahat dulu sana, nanti nenek masakin makanan ke sukaan kamu," ucap neneknya menyuruh Gino untuk beristirahat.


"Gak mau ah, Gino pengen disini pelik nenek, Gino kangen banget sama nenek," Gino adalah cucu laki-laki yang paling dekat sekali dengan neneknya dan Gino selalu bersikap manja pada wanita tua itu. Berbeda kalau di depan maminya, Gino selalu bersikap dewasa dan perkasa. Kalau di depan Hana dan Gina, Gino bersikap cerewet dan ngeselin. Kalau di depan sang pacar pastinya Gino bersikap romantis, tapi sayang Gino jomblo.


"Kamu ini, belum ada sebulan kamu kesini, udah kangen aja, kamu itu anak cowok gak boleh manja,"


"Assalamualaikum nek," ucap Keyla memberi salam pada neneknya dan dia mencium punggung tangan neneknya.


"Waalaikumsalam, mau ngapain kamu kesini?" tanya wanita tua itu dingin. Sikapnya berbeda, tak seperti tadi yang berbicara lembut dan hangat pada Gino.


Raka dan Edwin pun bersalaman dengan nenek itu. Mereka pun duduk di teras beralaskan tikar.


"Gini nek, sebenarnya Gino sama Keyla kesini karena ada yang mau kita tanyain sama nenek," ujar Gino memberi tahu tujuan mereka datang ke sana.


Gino mengeluarkan sebuah foto dari dalam saku Hoodienya dan menunjukkannya pada sang nenek. "Nek, apa benar wanita ini anak nenek yang sudah meninggal?"


"Kamu dapat foto itu dari mana?" tanyanya.


"Gino dapat dari seseorang, jadi benerkan Nek, wanita ini tante Vega dan anak kecil ini kalau tidak salah namanya Keyna Sagitarius," ujar Gino ragu dengan nama anak perempuan di foto itu. Gino dulu pernah di beritahu tentang mereka, tapi Gino agak lupa.


"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan mereka, mereka sudah tidak ada untuk apa di bahas," wanita tua itu tampak tak suka di tanyakan tentang mereka.


"Terus suaminya di mana, Nek, apa beliau masih ada," kata Keyla angkat bicara.


"Kamu menanyakan suaminya pada saya, kenapa tidak kamu tanyakan pada ibumu, dia tau semuanya, dia tahu penyebab asli Vega meninggal, dia juga tahu kenapa Sagita bisa menghilang," wanita itu tanpak emosi. Keyla tak mengerti, dulu setiap kali Keyla bertanya tentang foto wanita yang ada di rumah ini, neneknya pasti marah dan bilang kenapa tidak kamu tanyakan pada ibumu. Keyla dulu bertanya pada ibunya, tapi dia bilang tidak tahu di karenakan pada saat ibu dan ayah Keyla pacaran, wanita itu sudah meninggal.


Keyla mengambil kedua tangan neneknya. "Nek, tolong beri tahu Keyla, Keyla butuh informasi tentang Tante Vega dan Sagita, anak Keyla di culik dan penculik itu yang memberikan foto ini, mungkin penculik itu ingin Keyla mencari kebenaran tentang Tante Vega dan Sagita," kata Keyla memohon.


"Kebenarannya ada pada ayah dan ibu kamu Keyla, tanyakan pada mereka,"


•••


Setelah dari rumah neneknya, Keyla langsung menemui ibu dan ayahnya. Keyla menanyakan perihal Vega dan Sagita pada mereka. Namun, ayah dan ibunya tidak mau menjawab dan malah membuat minta maaf.


"Maafin mama sama papa Key, maafin kita,"


"Pa, ma, Keyla minta jawaban dari kalian, tapi kenapa kalian minta maaf tanpa memberi tahu alasannya kalian minta maaf itu karena apa," ucap Keyla yang sekarang sedang berada di kamar penginapan orang tuanya. Keyla duduk di tepi ranjang bersama dengan ibunya. Sementara ayahnya berdiri menghadap ke jendela.


"Mama, sama papah gak bisa jawab apapun yang kamu tanyakan, memang Tante Vega adalah adik papa, tapi mama dan papa tidak tahu apapun," ujar Sofia seraya memegang kedua tangan Keyla.


"Ma jangan bohong kalian pasti tahu sesuatu, nenek bilang kalau Keyla mau tahu tentang mereka tanyakan pada papa, itu artinya papa tahu, gak mungkin gak tau karena papa adalah kakaknya," kata Keyla lantas menghampiri ayahnya.


Keyla mengambil sebelah tangan Dana. "Pa, tolong jawab jujur, papa tahu siapa suami Tante Vega karena kemungkinan dia lah yang menculik Gempara, dia ingin kematian istrinya terungkap, atau mungkin dia ingin mencari tahu penyebab anaknya menghilang,"


"Masalah hilangnya Gempara gak ada hubungannya sama Vega ataupun Sagita, jadi stop bahas mereka," kata Dana tanpa melihat ke arah Keyla yang berdiri di sampingnya.


"Kalau gak ada hubungannya kenapa penculik itu mengarahkan kita ke hutan itu dan meletakkan foto Tante Vega, Sagita dan juga papah di sana?" tanya Keyla tak mengerti sama sekali.


"Papa juga gak tau, Vega sudah lama meninggal dan Sagita juga sudah lama menghilang, dan itu sudah 25 tahun lamanya," jelas Dana.


"Papa tahu, Tante Vega meninggal karena apa?" Tanya Keyla.


"Tante Vega bunuh diri, dia meminum racun," balas Dana.


"Kenapa Tante Vega bunuh diri, apa dia punya masalah?" ketika seseorang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya kemungkinan besar orang itu memiliki masalah yang rumit, pikir Keyla.


"Papa gak tau, sudah lah jangan di bahas lagi, kejadiannya sudah lama, yang harus kita pikirkan itu Gempara," ucap Dana lantas mengambil kunci mobil dan juga Smartphonenya yang ia letakkan di atas meja.


"Papa mau keluar buat cari Gempara, kalau pencarian kita hari ini tidak membuahkan hasil, besok kita kembali ke Jakarta,"


Dana keluar dari kamar itu, meninggalkan anak dan istrinya. Keyla memandang kepergian sang ayah yang sedari tadi mengindari tatapannya. Tak biasanya, membuat Keyla curiga.