
Malam ini tepat dimana kepulangan Keyla dari rumah sakit dan sekarang Keyla tengah berada di mobil bersama Edwin dan juga bunda Lena. Selama berada di rumah sakit Edwin mendiami Keyla tanpa sepatah katapun. Saat Keyla mengajak bicara Edwin selalu menghindar. Keyla sudah berkali-kali meminta maaf tapi Edwin tetap bersikap sama.
"Sayang kalau butuh apa-apa kamu jangan sungkan sama bunda ya," ucap Lena yang berada di samping Keyla.
Keyla tersenyum tipis, "iya Bun,"
"Ed kamu jangan kerja terus, istri kamu lagi hamil jagain dia," tegur Lena. Edwin hanya menjawabnya dengan deheman saja.
Setelah itu ketiganya hanya diam, Keyla memejamkan matanya ia memilih untuk tidur saja lagi pula perjalanan juga masih jauh.
Lena melirik Keyla yang tengah tertidur, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke pada Edwin.
"Kamu ada masalah sama Keyla, dari kemaren bunda liat dia murung," ujar Lena.
"Enggak," jawab Edwin singkat.
"Kalau ada masalah selesaikan, bunda nggak mau denger Keyla drop cuman gara-gara banyak pikiran, kamu nggak denger tadi apa kata dokter," omel Lena.
"Aku tau Bun, aku nggak ada apa-apa," jawab Edwin.
Lena menghela nafasnya, ia memilih diam sepertinya memang ada yang tidak beres dengan anaknya itu. Lena seorang ibu dia sudah pasti mengenal betul seluk-beluk anaknya.
•••
Mobil Edwin mulai memasuki pekarangan rumahnya. Dia memarkirkan mobilnya di depan garansi.
"Keyla bangun sayang," ucap Lena membangunkan Keyla tapi Keyla sepertinya tidak mendengarkannya karena terlihat tidurnya sangat nyenyak.
"Jangan di bangunin Bun," ucap Edwin seraya keluar dari mobil, kemudian ia membuka pintu belakang mobil dan mengangkat tubuh Keyla.
"Hati-hati," ucap Lena.
Edwin menggendong Keyla diikuti dengan Bundanya yang membantunya membukakan pintu rumah.
•••
Edwin menurunkan Keyla di ranjang ia menaikkan selimut sebatas dada Keyla.
"Bunda langsung pulang aja kalau gitu," pamit Lena ingin pulang.
"Aku anterin,"
"Ngga usah bunda udah pesen taxi, kamu jagain Keyla," ucap Lena. Ia tidak ingin anaknya meninggalkan Keyla karena mengantar dirinya untuk pulang. Meskipun sebentar.
Edwin mengantarkan bundanya sampai di depan rumah, setelah bundanya pergi Edwin kembali ke kamar.
Edwin duduk di sofa kamarnya, pandangannya lurus kedepan menatap Keyla. Ia sadar akan perkataan nya telah menyakiti hati Keyla tapi Edwin berhak untuk marah.
Edwin memejamkan matanya memijat pelipisnya yang terasa berdenyut kencang, dan tanpa sadar ia malah tertidur di sofa kamarnya dengan keadaan duduk.
Tak lama Keyla membuka matanya perlahan, Keyla sedikit terkejut ketika mendapati dirinya berada di kamar bukankah tadi ia sedang tidur di mobil, tidak lama kemudian mata Keyla menangkap sosok Edwin yang tengah tertidur di sofa.
Keyla langsung berkaca-kaca ketika mendapati Edwin tidur di sofa. Entah kenapa Keyla merasakan hatinya sangat perih.
Keyla menyibak selimutnya, ia turun dari ranjang dan membawakan Edwin selimut.
Hal yang pertama dilakukan Keyla adalah memandang wajah Edwin. Mengamati wajah Edwin dari setiap incinya, tangan Keyla bergerak untuk memakaikan selimut di tubuh Edwin.
Tiba-tiba saja Edwin membuka matanya, mata keduanya saling bertemu. Cukup lama Edwin dan Keyla saling tatap dengan diam hingga tiba-tiba Edwin memutuskan pandangan nya dan beranjak dari sofa. Edwin keluar dari kamar meninggalkan Keyla yang mematung di tempatnya merasakan hatinya yang berdenyut sangat sakit.
•••
Entah kenapa Keyla merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, apa mungkin cuman perasaannya saja.
Keyla duduk di sofa ruang tamu. Keyla takut sekaligus khawatir apakah Edwin semarah itu kepadanya hingga ia tidak kunjung pulang.
Keyla menyesal karena membuat Edwin semarah ini. Harusnya Keyla tidak mengatakannya kepada Edwin biar saja menjadi rahasia tapi sekarang sudah terlanjur. Tapi meskipun Keyla menyembunyikannya suatu hari nanti pasti Edwin bakalan tau. Bangkai tidak bisa di simpan rapat untuk selamanya pasti baunya akan tercium.
"Edwin maafin aku"
•••
Sedari tadi Keyla masih setia menunggu Edwin di ruang tamu tapi kedatangannya tidak ada tanda-tanda sama sekali. Keyla mengantuk tapi ia memilih tetap untuk menunggu Edwin pulang.
Hingga tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar di telinganya, dengan cepat Keyla beranjak dari tempatnya dan membuka pintu, matanya membulat jantungnya berdetak tidak karuan melihat siapa yang ada di depan pintu.
"Keysa" Kaget Keyla. Tidak hanya itu pandangan Keyla mengarah kepada Edwin, yang tengah berada di pelukan Keysa dalam keadaan setengah sadar.
"Kamu buka pintu aja lama banget!" Sentak Keysa seraya menatap Keyla tidak suka.
"Kenapa Edwin sama kamu?" Tanya Keyla dengan mata berkaca-kaca pikirannya kacau menatap Edwin dengan baju acak-acakan dan juga Keysa yang menggunakan baju super minim itu.
"Ck nggak usah banyak bacot, nih saya balikin Edwin," ucap Keysa seraya melepaskan cekalannya pada Edwin, dengan cepat Keyla memegangi lengan Edwin.
"Keyla kamu tau aku habis ngapain?" Tanya Edwin ngelantur.
Keyla menahan tangisannya ia mencengkram erat lengan Edwin agar tubuh sempoyongan Edwin tidak jatuh.
"Keysa apa yang kamu lakukan pada Edwin!!" Sentak Keyla menatap Keysa.
"Kamu bisa nyimpulin sendiri apa yang aku lakuin sama Edwin" Keysa berbisik di telinga Keyla. Keysa menyingkirkan rambutnya menunjukkan sebuah kiss Mark yang ada di leher nya dan menatap Keyla dengan senyum penuh kemenangan. Setelah itu ia pergi begitu saja dari hadapan Keyla.
Edwin yang setengah sadar itu menatap Keyla detik selanjutnya ia tersenyum.
"Sayang aku tunggu kamu di kamar," ucap Edwin berjalan menaiki tangga dengan badan sempoyongan.
Keyla terdiam mematung ditempatnya memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Kenapa Edwin pulang dengan keadaan mabuk bersama Keysa yang memiliki tanda kepemilikan di lehernya. Apa mungkin mereka telah melakukan sesuatu.
Keyla tidak bisa lagi menahan air matanya, tangisannya luruh begitu saja tangannya mencengkram erat pintu rumahnya.
Keyla mengusap air matanya kasar ia menutup pintu rumahnya kembali setelah itu ia berjalan menaiki tangga menyusul Edwin yang berada di dalam kamar.
Keyla membuka pintu kamar pemandangan pertama yang ia lihat adalah Edwin yang terbaring di ranjang kamar. Keyla menghampiri Edwin dengan hati yang sudah bertanya-tanya tentang kesimpulannya benar atau tidak.
"Edwin apa yang kamu lakuin sama Keysa," ucap Keyla lirih menatap Edwin yang tengah terpejam itu.
Keyla memegang tangan Edwin dan membawanya untuk memegang perutnya.
"Kamu tega sama dia hm" ucap Keyla terisak.
Keyla melepaskan tangan Edwin, ia memilih beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar tamu. Malam ini ia akan tidur di sana.
Keyla duduk sambil memeluk kedua kakinya, di ranjang yang ada di kamar tamu. Keyla terus saja terisak, bibirnya bergetar, tangisannya terdengar menyakitkan.
Semalaman full Keyla tidak bisa tertidur karena waktunya ia habiskan untuk menangis. Menangisi kenyataan pahit yang akan ia terima dari Edwin.
Hingga pagi telah tiba Keyla masih saja terisak pelan.