LOVE AFTER MARRIAGE

LOVE AFTER MARRIAGE
Bab51



Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam sedari tadi Keyla, Nacha dan juga Rahma masih terhanyut dalam obrolan mereka. Begitu juga dengan orang-orang yang ada disana, mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


Keyla sedikit merasa aneh ia merasa pusing dan perutnya sedikit sakit.


"Key, muka kanu pucet, kamu sakit?" Tanya Rahma yang ada di samping Keyla.


"Aku gak papa kak, aku ke toilet bentar," ujar Keyla yang di angguki Rahma.


Keyla berjalan ke arah toilet tanpa sengaja ia menabrak punggung seseorang.


"Sorry," ucap Keyla lantas ia menatap wajah orang yang tak sengaja di tabraknya dan ternyata orang itu adalah Keysa.


"No problem," jawab Keysa.


Keyla segera masuk ke dalam toilet meninggalkan Keysa yang tersenyum misterius seraya menatap punggung Keyla yang menjauh darinya.


•••


Keyla menatap dirinya di pantulan cermin, memang benar wajahnya terlihat pucat. Keyla sedikit membenarkan dandanannya yang sedikit berantakan.


Tangan Keyla bergerak untuk memegang perutnya lebih tepatnya sedikit mencengkram nya.


"Ya Tuhan kenapa sakit banget," rintih Keyla karena perutnya tiba-tiba terasa lebih sakit.


Keyla segera keluar dari toilet ia berniat pulang saja ke rumah dan istirahat mungkin perutnya terasa kram karena Keyla kecapekan seharian ini.


Keyla menghampiri Rahma yang duduk sendiri. Sementara Nacha entah sudah pergi kemana. Gadis itu sudah tidak terlihat lagi disana.


"Kak aku pulang sekarang ya, badan aku agak nggak enak, kak rahma gak papa aku tinggal?" Tanya Keyla sedikit sungkan.


"Kamu sakit? Kenapa ngga bilang dari tadi, tau gitu kamu nggak saya bolehin dateng, Key." ucap Rahma menatap Keyla khawatir.


"No problem kak, aku cuman butuh istirahat aja malem ini," ujar Keyla tersenyum tipis, tapi muka pucatnya memang tidak bisa di sembunyikan.


"Saya suruh asisten saya untuk anterin kamu pulang," ucap Rahma. Keyla menggelengkan kepalanya.


"Aku udah pesen taxi kak," tolak Keyla.


"Yaudah kalau gitu kamu hati-hati di jalan," Kata Rahma.


"Sorry ya kak, aku nggak bisa disini sampai selesai," ucap Keyla merasa tidak enak dengan Rahma.


"Gak papah Key, kesehatan nomor satu bagi saya" ucap Rahma.


•••


Saat keluar dari hotel, Keyla tidak sengaja berpapasan dengan Malvin. Keyla dengan cepat melangkahkan kakinya tapi Malvin terlebih dahulu menarik tangan Keyla.


"Lo sakit? muka Lo pucet," Tanya Malvin menatap mata Keyla intens.


"Bukan urusan kamu," ujar Keyla menyentak tangan Malvin.


"Gue anter pulang," tawar Malvin.


Keyla menghela nafasnya.


"Jangan maksa saya, Vin," kata Keyla jengah.


"Kalau gitu gue minta maaf, gue nyesel, Key" ucap Malvin terlihat lebih serius.


"Saya nggak peduli!" Sentak Keyla lalu memilih enyah dari hadapan Malvin karena ia sudah tidak tahan dengan perutnya yang semakin terasa sakit.


Keyla segera keluar dari gedung beruntung taxi yang di pesannya sudah berada di depan.


Keyla memasuki taxi, ia menggigit pelan bibirnya. Perutnya terasa sangat nyeri sekarang.


"Pak bisa cepet dikit," pinta Keyla kepada driver taxi.


"Iya mbak," jawabnya.


Dua puluh menit kemudian Taxi berhenti di depan rumah Keyla. Ia membayar ongkos taxi lalu mengucapkan terima kasih. Setelah itu Keyla keluar dari taxi.


Keyla memasuki rumahnya. Keyla melepaskan sepatunya setelah itu ia berjalan menaiki tangga dengan hati-hati.


"Shh," rintih Keyla berpegangan pada pinggiran tangga, ia memaksakan langkahnya.


Keyla membuka knop pintu kamarnya perlahan.


"Udah pulang hmm," ucap seseorang. Keyla mendongakkan wajahnya menatap seseorang yang baru saja berbicara, seketika mata Keyla membulat sempurna.


"Edwin" Kaget Keyla. Edwin benar-benar pulang dari Perancis hari ini, Keyla senang dan itu membuat rasa sakitnya sedikit berkurang.


Edwin menghampiri Keyla, ia membawa tubuh Keyla kedalam pelukannya.


Keyla mengeratkan pelukannya kepada Edwin, tapi tiba-tiba saja Keyla melonggarkan pelukannya. Keyla berganti memegang perutnya yang seperti di lilit.


Keyla sedikit menjauh dari badan Edwin, tangan yang satunya memegang lengan baju Edwin.


Edwin yang melihat Keyla sedikit kesakitan langsung memegang Keyla.


"Kamu kenapa?" Tanya Edwin khawatir.


Keyla menundukkan badannya, ia memejamkan matanya merasakan sakit yang semakin menusuk perutnya.


"Keyla," panggil Edwin sekali lagi.


Keyla membuka matanya, matanya tertuju pada satu objek. Darah! Keyla melihat darah di lantai.


"Da..darah," gumam Keyla.


Edwin seketika menatap ke arah pandangan mata Keyla, dia terkejut bukan main melihat darah mengalir dari Keyla.


"Sakitt," rintih Keyla memegangi perutnya kuat, ia bahkan hampir terjatuh jika Edwin tidak memegangi tubuh Keyla.


"Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Edwin cepat, seraya mengangkat tubuh Keyla dan menggendongnya ala bridal style.


"Kamu nggak bakalan kenapa-napa, aku janji," ujar Edwin seraya membawa Keyla ke dalam mobil.


Edwin menyalakan mobilnya, ia segera menjalankan mobilnya meninggalkan pekarang rumah, tentunya dengan kecepatannya di atas rata-rata.


"Akh, sakiit," rintih Keyla.


Edwin menggenggam tangan Keyla.


"Sayang tahan bentar," pinta Edwin khawatir.


Keyla memegang tangan Edwin erat seolah menyalurkan rasa sakitnya kepada suaminya.


"Aku ngga kuat," ucap Keyla sudah dibanjiri air mata bahkan keringat dingin sudah membasahi wajahnya.


Edwin mengusap wajahnya kasar, ia mempercepat laju mobilnya, 


•••


Edwin memasuki ruangan Keyla. Hal pertama yang ia lihat adalah Keyla terbaring lemas dengan muka pucat yang menghiasi wajahnya.


Edwin duduk di kursi, tangannya menggenggam erat tangan Keyla. Perkataan dokter membuatnya seolah tertampar.


Keyla menggerakkan tangannya perlahan. Edwin yang menyadari itu langsung sigap.


Keyla membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah Edwin yang tengah memandangnya khawatir. Pikiran Keyla seolah mencerna apa yang barusan ia alami, seketika tangan Keyla langsung memegang perut nya.


"Edwin dia gapapa kan?" Tanya Keyla di sertai isakan.


"Sayang," Panggil Edwin memandang Keyla dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Nggak! Nggak mungkin! dia gak kenapa-napa kan," ucap Keyla seraya mengganti posisinya menjadi duduk dan menatap Edwin sepenuhnya.


"Keyla dengerin aku," ucap Edwin sekali lagi, tapi Keyla tidak mau mendengarkan ucapan Edwin dia malah semakin menangis dibuatnya.


"Enggak! Aku ngga mau dengerin!" Teriak Keyla menangis sejadi-jadinya. Edwin berusaha menenangkan Keyla, ia memeluk Keyla erat.


"Lihat mata aku," ucap Edwin melepaskan pelukannya ia menatap Keyla.


Dengan sedikit keberanian Keyla menatap Edwin dengan pandangan terluka, air matanya tidak bisa berhenti membasahi pipinya.


Tangan Edwin bergerak memegang perut Keyla.


"Dia nggak kenapa-napa," ucap Edwin tersenyum.


"Maksutnya?" Tanya Keyla dengan suara bergetar.


"Dia masih ada disini sayang," kata Edwin memberi tahu.


Keyla seketika langsung berhambur ke tubuh Edwin, ia memeluknya erat dan menumpahkan seluruh tangisannya.


"Aku takut hiks," Edwin mengelus pelan rambut Keyla.


"Gapapa sayang semua bakalan baik-baik aja setelah ini,"


"Tentunya setelah aku menemukan siapa pelaku di balik kejadian ini." Batin Edwin.


Flashback on.


"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Edwin cemas.


"Syukurlah dia tidak papa, beruntung bapak segera membawa ibu Keyla ke rumah sakit. Dia hampir saja mengalami keguguran jika tidak segera di tangani," ucap Dokter bernama Rudi.


Edwin tidak berhenti mengucap syukur.


"Pak Edwin saya ingin bertanya sesuatu, apa ibu Keyla tidak menginginkan seorang anak?" Tanya dokter Rudi membuat Edwin bingung.


"Dok tidak mungkin istri saya tidak menginginkan anaknya sendiri," ucap Edwin.


"Baiklah kalau seperti itu,"


"Sepertinya ada seseorang yang berusaha mencelakai ibu Keyla dan bayinya, ia memasukkan obat penggugur kandungan pada makanan yang di konsumsi istri anda,"


"Apaa!!" Kaget Edwin, sungguh dia tidak habis pikir dengan ucapan dokter Rudi yang membuatnya terkejut.


"Untuk saat ini ibu Keyla tidak papa, hanya saja kandungannya sangat lemah, beberapa hari lagi dia akan pulih seperti semula,"


"Sebaiknya anda mengawasi orang di sekitar ibu Keyla karena jika hal ini terulang kembali bisa di pastikan janinnya tidak bisa terselamatkan untuk kedua kalinya," ujar dokter Rudi serius.


Edwin menganggukkan kepala setelah itu dokter Rudi beranjak dari tempatnya. Edwin menatap lurus kedepan tangannya mengepal, rahangnya mengeras. siapa yang melakukan hal keji seperti ini kepada Keyla. Edwin berjanji ia akan menyeledikinya dan siap-siap saja orang itu akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatannya.


Flashback off


Edwin membantu Keyla terbaring di tempat tidur. Keyla masih terlihat sedikit syok buktinya dia hanya diam saja, sesekali isakan keluar dari mulutnya.


Edwin menyisihkan rambut Keyla.


Sebuah kecupan singkat ia berikan kepada Keyla. lagi dan lagi air mata Keyla malah turun tanpa bisa di cegah. Keyla menatap Edwin.


"aku takut dia kenapa-napa," ucap Keyla seraya memegang erat tangan Edwin.


Edwin menghapus air mata Keyla menggunakan tangannya.


"Ssttt jangan nangis ada aku disini, dia gapapa sayang, kamu cuman kecapekan," ucap Edwin menenangkan Keyla.


Cup


Cup


Edwin mengecup kedua mata Keyla.


"Kamu tidur, aku temenin disini hmmm," ucap Edwin.


Keyla mengangguk pelan ia segera memejamkan matanya dan tertidur tentunya di temani oleh Edwin yang berada di sampingnya.