
Terang sudah berganti gelap dan Keyla ia telah lama menangis di dalam kamar bahkan sepertinya air matanya tidak mau keluar lagi karena ia terlalu lelah untuk menangisi hal yang seharusnya tidak ia tangisi.
Keyla memilih segera mencuci wajahnya dan keluar dari kamar.
Saat membuka pintu kamar, rumahnya terlihat sepi bahkan lampu-lampu rumahnya belum menyala, satu pertanyaan yang ada di benak Keyla dimana Edwin.
Keyla segera menuruni tangga, dan menyalakan lampu.
Klik
Hati Keyla mencelos ketika mendapati Edwin yang ternyata tertidur di sofa ruang tamu dengan keadaan berantakan dan jangan lupakan wajahnya yang penuh dengan luka lebam.
Keyla mendekat ke arah Edwin, ia berjongkok, satu persatu air matanya luruh kembali.
Keyla tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memeluk Edwin. Keyla memeluk Edwin dengan isakan yang memilukan.
Edwin yang merasa terusik pun membuka matanya dan betapa terkejutnya ketika ia mendapati Keyla yang sudah memeluknya erat.
"Aku mohon Ed jangan lakuin ini, rasanya sakit," ucap Keyla pilu. Ia pun kembali terisak dengan air mata yang keluar deras dari pelupuk matanya yang terlihat bengkak.
Edwin meneteskan air matanya, ia membalas pelukan Keyla tidak kalah eratnya.
Hatinya sakit mendengar Isakan keluar dari bibir Keyla.
"Jangan lakuin aku mohon Ed, a..aku nggak mau keluarga kita berantakan." ucap Keyla tersedu-sedu.
Sedangkan Edwin tidak bisa menjawab apa-apa ia hanya bisa memeluk Keyla erat.
Cukup lama Keyla memeluk Edwin, sampai akhirnya Keyla mengusap air matanya pelan, ia melepaskan pelukan Edwin perlahan.
Keyla memegang tangan Edwin.
"Kamu nggak kasian hmm sama dia, dia belum lahir Ed, kenapa dia harus ngerasain beban yang seharusnya tidak ikut ia tanggung," Isak Keyla.
Edwin tidak kuat ia kembali meneteskan air matanya, lagi-lagi yang ia bisa ucapakan hanyalah kata maaf.
•••
Beberapa hari kemudian.
Keyla menatap Edwin dengan pandangan teduhnya.
"Penyesalan selalu ada di akhir, aku harap kamu nggak nyesel ya. Mungkin saat kamu menyesal aku sudah tidak ada di sisi kamu lagi" ucap Keyla seraya membenarkan dasi Edwin.
"Apa maksud dari ucapan kamu. Aku mohon Key, jangan bilang gitu." ucap Edwin
Keyla tersenyum.
"Bukan apa-apa, aku cuma mau bilang sekali lagi anak itu bukan anak kamu Ed, buktinya apa? Tes DNA? Itu bisa aja palsu, dan satu hal yang perlu kamu tau malem itu kamu nggak ngapa-ngapain sama Keysa karena aku tau faktanya dari Alisya yang ngikutin kalian" ucap Keyla menjelaskannya sekali lagi. Ia berharap Edwin mundur dari pernikahan ini dan menyelamatkan rumah tangganya.
"Aku bisa apa Key, tes DNA itu nggak mungkin palsu, aku udah lihat sendiri hasilnya. Bahkan Keysa rela menanggung resiko saat melakukan tes DNA itu," Edwin tetap pada pendiriannya. Seolah menulikan telinganya, tidak ingin mendengar fakta sesungguhnya yang keluar dari mulut Keyla.
Keyla tersenyum getir. Sebegitu inginkan edwin untuk menikahi Keysa hingga ia percaya begitu saja bahwa anak Keysa adalah anaknya.
"Jangan nyesel ya kalau aku pergi," ucap Keyla menahan tangisannya.
"Sampai kapan pun kamu nggak akan aku biarin pergi, kamu milikku" ucap Edwin.
"Kalau takdir berkata lain kamu bisa apa?" Kata Keyla.
Edwin terdiam seolah tertohok oleh ucapan Keyla.
"Sembilan bulan Key, setelah itu aku lepasin Keysa, janji," ucap Edwin.
"Sembilan bulan? Itu kalau aku bisa bertahan Ed." ucap Keyla berharap Edwin memikirkan lagi keputusannya. Edwin diam Keyla memilih beranjak dari kamar.
Edwin mengepalkan tangannya, matanya tidak teralihkan dari punggung Keyla sampai menghilang di balik pintu.
Saat keluar kamar Keyla berpapasan dengan Keysa.
"Saya menang," bisik Keysa di telinga Keyla.
"Bangga? Saya nggak peduli, saya harap anak kamu nggak nurun sama kelakuan bejat ibunya," ucap Keyla seraya beranjak dari hadapan Keysa yang menahan emosinya.
•••
Persiapan Pernikahan sudah selesai Keysa bahkan sudah mengenakan kebaya putih yang membalut tubuhnya. Sedangkan Edwin ia sudah mengenakan tuxedo hitam, dan Keyla? Ia hanya tersenyum kecut menatap Edwin. Rasanya sangat sesak ketika melihat suaminya hendak menikah lagi dengan perempuan lain. Jika tidak ingat ia sedang hamil mungkin saat ini juga Keyla sudah pergi.
"Sabar ya sayang, kamu yang kuat ya" ujar Keyla pada anaknya yang sedang ia kandung.
•••
Hana baru saja turun dari mobilnya bersama Raka, keduanya memasuki rumah Edwin. Disana hanya ada beberapa saksi atas pernikahan keduanya, sedangkan orangtua Keyla dan mertuanya tidak menghadirinya karena mereka memang benar-benar menolak pernikahan ini.
Sebenarnya Hana dan Raka juga malas untuk datang. Mereka datang bukan untuk menyaksikan pernikahan Edwin dan Keysa, melainkan untuk menenangkan Keyla agar tetap tegar.
Mata Hana bertemu dengan mata Keyla. Keyla tersenyum kepada keduanya, sedang Raka ia merasa senyuman Keyla awal dari sebuah kesedihan dan Raka tau jika Keyla sekarang mencoba tegar.
Hana menghampiri Keyla, ia seketika langsung memeluk Keyla.
"Jangan senyum Key, aku mohon. Aku tahu kamu pasti sakit banget," ucap Hana dengan mata berkaca-kaca, ia tidak bisa melihat Keyla tersenyum di saat keadaan memaksanya seolah tidak terjadi apa-apa
"Seenggaknya sekarang aku masih bisa senyum Han, sebelum Edwin bener-bener jadi milik orang lain," ucap Keyla seraya melepaskan pelukan Hana.
Tatapan Keyla beralih kepada Raka, ia tersenyum getir.
"Ka aku seburuk itu ya, dosa aku banyak ya. Sampai aku nggak berhak bahagia," ucap Keyla pelan.
Raka terrenyuh akan ucapan Keyla, kenapa gadisnya diperlakukan seperti ini Tuhan.
"Kamu berhak apapun itu alasannya. Kamu berhak bahagia," ucap Raka seraya mendekat dan memeluk Keyla.
"Kalau kamu nggak kuat kamu bisa lari ke aku,"
Keyla terkekeh.
"Iya aku bakalan lari ke kamu" ucap Keyla berusaha terlihat tegar, tentunya.
"Buruan masuk acaranya udah di mulai," ucap Keyla seraya beranjak dari tempat nya meninggalkan Raka dan Hana.
"Ka aku ikut sakit kalau kayak gini," ucap Hana menatap Raka.
"Jangan ikut-ikutan sakit, entar siapa yang hibur Keyla kalau kamu aja sedih," ucap Raka seraya mengacak rambut Hana.
Hana menghela nafasnya pelan, jika saja membunuh orang tidak dosa maka sekarang bisa di pastikan Edwin dan juga wanita ular itu mati di tangan Hana.
Hana dan Raka segera menyusul Keyla kedalam, keduanya duduk di antara Keyla.
Keyla terdiam pandangannya menatap lurus kepada Edwin yang tengah bersiap mengucapkan ijab kabul. Pandangan mata Keyla bertemu dengan Edwin seolah menyiratkan jika ia tidak sekuat yang Edwin lihat. Keyla dengan cepat memutuskan kontak matanya dengan Edwin.
Tangan Keyla saling bertautan ketika Edwin tengah mengucapkan ijab qobul dengan sekali tarikan nafas. Seperti dia sudah hapal di luar otak dengan yang di ucapkannya.
Keyla meremas dadanya kuat ketika kata Sah menggema di seluruh ruangan, air matanya sudah menetes begitu saja. Lihatlah sekarang pemandangan di depannya sangat menyakitkan, Edwin mengecup pelan kening Keysa dan tersenyum. Bahkan dulu saat mereka menikah Edwin tidak tersenyum setelah mengecup keningnya.
"Ya Tuhan aku mohon hilangkan aku dari dunia ini"
"Kamu kuat Key, ada kita berdua yang ada di samping kamu" ucap Hana seraya memeluk Keyla erat, mata Hana memanas ia tidak bisa melihat sahabatnya tersakiti seperti ini.
"Kamu mau pergi kan? Kita bisa bawa kamu pergi sejauh mungkin," ucap Raka menatap Keyla dengan pandangan sendunya.
"Aku harus apa setelah ini, aku udah hancur," Isak Keyla, tangisnya terdengar menyakitkan.
Keyla melepaskan pelukan Hana ia berganti menatap Raka dengan pandangan terluka.
"Aku mau pergi Ka, tapi keadaan maksa aku buat bertahan," ucap Keyla dengan suara parau.
Raka mendekat ia mengelap air mata Keyla, ia menatap Keyla dengan pandangan sama terlukanya.
"Jangan nangis, ada aku," ucap Raka seraya memeluk Keyla erat. Hana pun ikut memeluk Keyla. Kini ketiga sahabat itu menitikkan air mata ikut merasakan sakit yang di terima Keyla.