LOVE AFTER MARRIAGE

LOVE AFTER MARRIAGE
Bab58



Seminggu telah berlalu dan Keyla telah berhenti sepenuhnya dari pekerjaannya, tentu saja hal itu membuat Edwin senang tapi Keyla merasa ada yang aneh dengan Edwin selama seminggu itu. Sikap Edwin sedikit berbeda ia lebih banyak diam dan akhir-akhir ini Edwin sering keluar rumah.


Saat ini Edwin tengah berada di ruangan kerjanya, Keyla membawakan secangkir kopi panas kepada Edwin yang tengah fokus dengan pekerjaannya itu.


"Edwin ada yang mau aku bicarakan sama kamu," ucap Keyla seraya meletakkan kopi di tangannya di meja Edwin.


"Aku sibuk nanti aja ya," ucap Edwin tanpa menatap Keyla, ia fokus kepada laptop di depannya.


"Tapi ini penting," Kata Keyla.


"Aku sibuk Key," jawab Edwin seraya menghela nafasnya.


"Oh oke," jawab Keyla memilih keluar dari ruangan Edwin tapi sebelum itu Keyla berbalik ia menatap Edwin.


"Akhir-akhir ini kamu beda," ucap Keyla setelah itu ia keluar dan menutup pintu ruangan kerja Edwin.


Edwin menatap pintu yang barusan tertutup itu, ia menghela nafasnya kasar.


Keyla pergi ke kamar ia lebih memilih duduk di balkon kamarnya menatap langit malam yang gelap tanpa ada hiasan sedikit pun. Keyla menghela nafasnya pelan tangannya bergerak untuk memegang perutnya yang sudah sedikit terlihat berisi.


Keyla menatap perutnya rasanya hatinya menghangat ketika menyadari di dalam perutnya ada buah cintanya dengan Edwin.


"Kamu tau kan apa yang mama rasain sekarang," gumam Keyla.


Keyla saat ini tengah memikirkan Edwin. Suaminya berubah cuek lagi padanya, padahal tadi Keyla ingin membicarakan suatu hal penting kepadanya.


Keyla terdiam cukup lama di balkon kamarnya sekitar tiga puluh menitan, hingga hawa dingin masuk kedalam pori-pori kulitnya. Keyla mengusap-usap lengannya ia memilih segera beranjak dari balkon dan masuk ke dalam kamar.


Keyla menatap jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan, dan Edwin belum kembali dari ruangan kerja. Keyla berniat menyusul Edwin tapi ternyata pintu kamarnya barusan terbuka dan menampakkan Edwin dengan tangan yang membawa laptop.


"Udah selesai?" Tanya Keyla.


Edwin melewati Keyla begitu saja.


"Belum, aku mau lanjutin disini," ucap Edwin seraya menaiki ranjang dan duduk bersandar dan jangan lupakan matanya yang fokus kembali dengan laptop di depannya.


Keyla ikut menghampiri Edwin.


"Edwin udah ya, ini udah malem," ucap Keyla.


"Ngga bisa, malem ini harus selesai Key, kalau mau tidur duluan aja nanti aku nyusul," Edwin mengabaikan ucapan Keyla.


"Kalau gitu ada yang mau aku bicarain sama kamu sekarang," ujar Keyla.


"Yaudah bicara aku dengerin," kata Edwin tentunya masih fokus dengan laptop di depannya.


Keyla terdiam ia sedikit tersinggung saat Edwin mengabaikannya seperti ini. Istrinya laptop atau dirinya tapi Keyla berusaha menepis pikirannya.


Keyla menatap Edwin dengan sedikit kecewa.


"Keysa yang ngasih aku obat penggugur kandungan," ucap Keyla memberi tahu.


Reflek tangan Edwin langsung berhenti bergerak.


"Jadi?" Tanya Edwin acuh.


"Kamu nggak salah tanggapan kamu kayak gitu Ed, ini tentang anak kita yang hampir celaka," ucap Keyla menatap tidak percaya kepada Edwin akan reaksinya barusan yang terdengar biasa saja.


Edwin menutup laptopnya.


"Nggak usah di bahas, anak kita udah gak papah Key," ujar Edwin seraya meletakkan laptopnya di nakas.


"Gak papah kamu bilang, kamu nggak liat kemarin keadaan aku gimana" ucap Keyla mencoba sabar akan respon Edwin.


"Yang penting sekarang dia ngga kenapa-napa, aku buatin kamu susu setelah itu tidur," kata Edwin seraya beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar.


Percayalah sekarang Keyla tengah terdiam akan ucapan Edwin. Saat Edwin tahu ia berniat ingin menggugurkan kandungannya, Edwin marah besar, tapi saat Edwin tahu siapa yang sebenarnya ingin mencelakai anaknya ia biasa saja. Keyla tak mengerti dengan edwin apa mungkin karena sang mantan yang melakukannya jadi ia biasa saja.


"Kenapa Ed? Karena yang ngelakuin itu Keysa jadi kamu biasa aja," kata Keyla berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh begitu saja dipipinya.


Keyla terdiam ia melamun dengan tangan memeluk kedua lututnya.


"Jangan duduk gitu kasihan anak kita," ucap Edwin seraya memasuki kamar dan meletakkan gelas susu di nakas.


Keyla menatap Edwin dengan pandangan sendu.


"Peduli apa kamu sama anak kita," gumam Keyla sangat lirih.


"Barusan kamu bilang apa?" Tanya Edwin.


Keyla hanya menggelengkan kepala nya ia mengambil gelas yang ada di nakas dan menghabiskan susunya dengan cepat.


Edwin mengambil gelas yang sudah kosong dari tangan Keyla dan meletakkannya kembali di nakas.


"Tidur benerin posisi kamu," titah Edwin.


Keyla menutup mulutnya ia segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan susu yang barusan ia minum. Edwin menghela nafasnya selalu saja seperti ini jika Keyla selesai meminum susu.


"Biasain jangan dimuntahin Key, kasian anak kita kalau kayak gini terus tiap hari, mana ada nutrisi kalau susunya tiap hari kamu muntahin," ujar Edwin seraya memijat tengkuk Keyla.


Percayalah air mata Keyla saat ini sudah mengalir membasahi pipinya karena ucapan Edwin. Tidak tahukah Edwin jika muntah-muntah seperti ini membuat perutnya sedikit tertekan dan itu sakit tapi semua Keyla tahan.


Keyla mengelap bibirnya.


"Kamu pikir aku mau kayak gini," ucap Keyla memilih beranjak dari kamar mandi dan langsung merebahkan badannya di tempat tidur dan menangis sesenggukan disana.


Edwin menyusul Keyla. "Nggak usah cengeng kamu bukan anak kecil,"


"Sakit hiks! Kamu ngga tau kan rasanya gimana waktu aku muntah? hiks, perut aku sakit Ed! Kalau kamu yang berada di posisi aku, kamu gak bakal tahan!" Isak Keyla mengeluarkan unek-uneknya.


Edwin menghela nafasnya.


"Yaudah sekarang maunya gimana?" Tanya Edwin lembut.


"Kamu diem!" Ujar Keyla memilih memunggungi Edwin yang tengah berbicara dengan nya.


"Oke," jawab Edwin, ia mematikan lampu kamar tidur dan memilih tidur di samping Keyla.


Keyla tidak tidur sedari tadi bibirnya tidak berhenti mengeluarkan isakan.


"Keyla udah malem, tidur," titah Edwin.


Keyla menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan isakan, badannya bergetar, sedangkan Edwin hanya diam saja.


•••


Ke esokan paginya.


Keyla terbangun dari tidurnya karena merasa perutnya bergejolak ia dengan cepat menyibak selimutnya dan pergi ke kamar mandi, lagi-lagi Keyla muntah.


Edwin yang menyadari Keyla terbangun segera menyusul nya ke kamar mandi.


"Kenapa bisa muntah lagi," ucap Edwin seraya menyingkirkan helaian rambut Keyla.


Keyla menahan sakit yang ada di perutnya, perutnya terasa tertekan karena yang ia muntahkan hanyalah air dan itu bertambah membuat perut nya sakit.


Keyla segera mengelap bibirnya, mukanya terlihat pucat. Edwin yang melihat itu segera membantu Keyla untuk kembali ke tempat tidur.


Edwin memberikan minum kepada Keyla.


"Udah enakan?" Tanya Edwin.


Mata Keyla berkaca-kaca ia menggelengkan kepalanya.


"Mau aku kasih minyak kayu putih perutnya?" Tanya Edwin seraya mengambil gelas yang ada di tangan Keyla.


Keyla hanya mengangguk sebagai jawaban.


Edwin segera mengambil minyak kayu putih yang ada di laci nakas, setelah itu ia segera menyingkap baju Keyla dan mengoleskan minyak kayu putih di perutnya. Setelah selesai Edwin menurunkan baju Keyla.


"Jangan nakal ya kasian mama kamu," ucap Edwin seraya mengecup perut Keyla yang tertutup dengan piyama.


"Hiks,"


Keyla terisak, bukan karena muntah yang ia rasakan melainkan ia teringat akan jawaban Edwin tadi malam yang membuatnya sedih dan tentunya menyakiti dirinya.


Edwin yang menyadari itu mengusap pelan air mata Keyla, ia menatap Keyla.


"Tidur lagi ya sayang masih pagi," ucap Edwin.


Keyla hanya mengangguk, Edwin segera membenarkan posisi Keyla dan menyelimutinya.


Keyla menuruti Edwin, ia segera memejamkan matanya dan tertidur tentunya dengan pikiran yang membebani dirinya.