LOVE AFTER MARRIAGE

LOVE AFTER MARRIAGE
Bab64



Malam telah tiba, saat ini Keyla berada di kamarnya, ia mengunci kamarnya rapat-rapat membiarkan Edwin yang sedari tadi mengetok pintu.


"Key buka pintunya aku mau bicara," ucap Edwin.


"Aku mau tidur capek, jangan ganggu," jawab Keyla dari dalam.


"Please Key," ucap Edwin lagi.


"Pergi atau malam ini juga aku akan pergi dari rumah ini," ancam Keyla, dan terbukti Edwin langsung kicep di buatnya.


"Sayang?"


Keyla tidak menjawab ia menutup mulutnya rapat-rapat agar isakannya tidak terdengar oleh Edwin.


"Bertahan sebentar ya, nggak lama kok setelah ini mama pasti bawa kamu pergi jauh," tutur Keyla seraya mengelus pelan perutnya tentunya disertai isakan yang sangat menyakitkan.


"Mama sayang banget sama kamu, papa juga sayang kok sama kamu tapi mungkin papa sekarang lagi nggak ngertiin kamu," ucap Keyla.


Keyla mengusap air matanya ia memilih tidur malam ini, tanpa di temani oleh Edwin.


•••


Keyla terbangun dari tidurnya, kepalanya pusing, mungkin karena ia terlalu banyak menangis tadi malam. Mentari belum bersinar, sepertinya hari ini tidak akan ada cahaya matahari. Sama halnya dengan Keyla sepertinya tidak akan ada senyuman untuk hari ini dan hari berikutnya.


Keyla mengubah posisinya menjadi duduk, lagi-lagi pikirannya terisi kembali oleh ingatan-ingatan ketika Edwin mengucapkan ijab Qabul, seketika hatinya berdenyut kencang.


"Enam bulan lagi Key setelah itu kamu bisa pergi," gumam Keyla berusaha menguatkan dirinya.


Keyla menyibak selimutnya ia memilih mandi air hangat dan membersihkan badannya, mungkin sakit kepalanya bisa reda jika ia berendam air hangat.


Dua puluh menit kemudian Keyla sudah selesai dengan kegiatan mandinya, kini ia mengambil beberapa pakaian santainya dan memakainya, setelah itu Keyla mencepol rambutnya ala kadarnya.


Keyla menatap pintu kamarnya ia ragu ingin keluar tapi Keyla juga tidak mungkin kan mengurung diri di kamar apalagi dia belum makan.


Keyla menghembuskan nafasnya sangat pelan, ia harus menerima keadaannya sekarang. Keyla akan pergi jika saatnya telah tiba, dan bisa di jamin saat itu juga Keyla tidak akan menyesalinya.


Ia berjalan membuka knop pintu, mata Keyla terfokus kepada satu titik yaitu kamar di sebelahnya lebih tepatnya kamar Keysa. Seketika muncul sifat tidak terima pada diri Keyla jika Edwin tidur dengan Keysa. Apakah benar keduanya tidur berdua semalam? Tapi entahlah Keyla tidak tahu yang ia perlukan sekarang hanya mengisi energinya kembali.


Tapi saat melewati ruangan kerja Edwin. Keyla tanpa sengaja melihat Edwin yang tengah tertidur di sofa, ada sedikit kelegaan saat melihat Edwin berada di ruangan kerjanya itu tandanya semalam ia tidak tidur dengan Keysa.


Keyla memegang dadanya ia menatap Edwin dengan pandangan sulit di definisikan.


"Andai waktu bisa diulang aku lebih memilih tidak menerima pernikahan kita," gumam Keyla sebelum beranjak dari depan ruangan Edwin dan memilih pergi ke dapur.


Di dapur Keyla menyiapkan segelas susu dan sarapan pagi untuk dirinya sendiri.


Kelya mulai memasukan margarin kedalam teflon yang sudah berada di atas kompor yang menyala. Keyla mengambil telur dan memecahkan telur itu untuk di jadikan telur ceplok. Sambil menunggu telur matang Keyla mengiris tomat dan juga timun. Menaburi telur dengan sedikit garam lalu Keyla mengambil dua roti tawar yang di oleskan sedikit margarin. Keyla menaruh telur ceplok yang sudah jadi kedalam piring setelah itu memanggang rotinya. Setelah masakan matang Keyla mulai menyusun, pertama dia meletakkan telur ke atas roti lalu selembar keju, tomat, timun dan selada setelah itu dia menaruh roti sebagai lapisan terakhir. Tidak lupa ia memberi mata dan senyum menggunakan saus dan jadilah sandwich ala Keyla.


Keyla membawa sarapan ke meja lalu Keyla segera memakan makanannya dengan diam. Jujur sekarang ia tidak selera makan apapun meski makanannya ia hias dan di buat semenarik mungkin. Tapi kembali lagi ke faktanya jika ia sekarang tengah hamil dan tidak boleh egois.


Keyla memakan makanannya tanpa mempedulikan sekitar, sampai ia tidak sadar jika seseorang duduk di sampingnya.


"Pagi kak" ucapnya.


Keyla menghentikan kegiatannya dan menoleh kepada seseorang yang barusan berbicara.


"Saya nggak sudi kamu panggil kakak!" Ucap Keyla seraya meletakkan sendoknya hingga menimbulkan dentingan.


Keysa tersenyum.


"Tapi faktanya sekarang kamu jadi kakak saya, Gimana dong," ucap Keysa.


Keyla mengepalkan tangannya.


Plak


"Akh, maksut kamu apa!!" Teriak Keysa karena tangan Keyla barusan menamparnya dengan keras.


Keyla tersenyum, pelan ia mendekat ke telinga Keysa.


"******," bisiknya, seketika Keysa langsung mencekal tangan Keyla dan menatapnya tajam.


"Jaga omongan kamu kalau kamu nggak mau anak kamu celaka!" Ucap Keysa.


Keyla terkekeh pelan ia melepaskan tangan Keyla dengan sekali sentakan.


"Sebelum itu terjadi kamu mati di tangan saya, jangan ngira saya lemah karena ngasih Edwin ke kamu, kamu nggak tau siapa saya?" Ucap Keyla seraya menyibakkan rambut Keysa kesamping.


Keysa menatap Keyla tajam tangannya terangkat ingin menampar Keyla tapi dengan cepat Keyla menahan tangan Keysa. Keyla mencengkram tangan Keysa dengan sangat kuat.


"Akh lepasin tangan kamu!" jerit Keysa nyaring.


Keyla tersenyum lebar.


"Selamat kamu dapet bekas saya" ucap Keyla setelah itu melenggang pergi.


Brakk


Keysa melemparkan semua barang yang ada di hadapannya kilatan marah sangat tampak pada dirinya.


"Sialan!" Umpat Keysa, ia mengepalkan tangannya erat.


"Mati kamu sama saya," umpat Keysa seraya beranjak dari tempatnya.


Keyla kembali ke kamarnya belum sampai ia membuka pintu seseorang menahan tangannya. Keyla menoleh menatap tangannya yang di genggam.


"Edwin," ucap Keyla.


Edwin mendekat ia memeluk tubuh Keyla tiba-tiba. Keyla tidak bergerak ia hanya diam saja, tidak ada sama sekali niatan untuk membalas pelukan Edwin.


"Lepasin," ucap Keyla.


Edwin mengeratkan pelukannya.


"Ngga sebelum kamu maafin aku," ucap Edwin.


Keyla menghela nafasnya pelan, matanya sedikit berair tapi ia tahan.


"Kesalahan kamu nggak bisa aku maafin Ed," gumam Keyla.


"Mulai sekarang belajar ikhlasin aku," ucap Keyla seraya melepaskan pelukan Edwin.


"Se fatal itu kesalahan aku Key" tanya Edwin


Keyla tersenyum.


"Iya"


Bagai di hantam batu, ucapan Keyla menusuk tepat mengenai ulu hati Edwin. Edwin menatap Keyla dengan pandangan teduh.


"Kasih tau aku satu hal yang buat kamu maafin aku," ucap Edwin.


Keyla terdiam.


"Lepasin Keysa," ucap Keyla.


Edwin terdiam akan ucapan Keyla, hal itu membuat Keyla tersenyum kecut.


"Kalau nggak bisa ya jangan nanya Edwin, kamu tau nggak? aku sebenarnya cape tapi disini aku bertahan karena dia," ucap Keyla seraya memegang perutnya.


"Sebelumnya aku nggak pernah egois tapi kali ini aku mau egois, aku mau kamu seutuhnya tanpa orang ketiga," ucap Keyla.


"Pikirin baik-baik, kalau kamu mau aku," ucap Keyla seraya beranjak memasuki kamar, tapi Edwin menahan lengannya.


Edwin mendekat ia mengecup lama kening Keyla. Keyla terdiam ditempatnya ia mematung, jujur ia merindukan semua yang ada pada diri Edwin.


"Aku lakuin, tapi nggak sekarang," ucap Edwin menatap Keyla penuh harap.


"Kasih aku kesempatan," ucap Edwin dengan tatapan memohon.


Keyla menatap Edwin dalam.


"Aku udah banyak ngasih kamu kesempatan Ed, yang ada kamu malah ngecewain," ucap Keyla terlihat sorot kecewa dimatanya.


"Maaf Key, aku emang cowok nggak baik, aku emang cowok bejat yang nyia-nyiain cewek sebaik kamu," ucap Edwin.


Keyla menggigit bibir bawahnya, ia memegang tangan Edwin.


"Tau nggak Ed, apa kesalahan terbesar yang pernah aku perbuat? Jatuh cinta sama seseorang yang tidak lain adalah kamu," ucap Keyla, ia melepaskan tangan Edwin.


"Ada saat nya aku nyerah," ucap Keyla memilih masuk ke kamar dan menutup rapat pintu kamarnya, sedangkan Edwin ia menatap pintu kamar yang barusan tertutup itu dengan perasaan kecewa.


•••


Seharian Keyla tidak pernah keluar kamar sama sekali, dan tiba-tiba saja ada ketukan pintu yang membuatnya terpaksa untuk berdiri.


Keyla membuka pintu hal pertama yang ia dapati adalah Keysa yang berdiri di depan pintu dengan tangan membawa kantong berisi logo kue terkenal.


"Nih, sebenarnya males saya ngasih ini, tapi mau gimana lagi Edwin nyuruh saya," ucap Keysa memberikannya kepada Keyla.


"Kamu bisa makan sendiri, saya nggak nafsu," jawab Keyla.


"Heh saya ngasih karena Edwin nyuruh kalau enggak mah udah saya telen sendiri," ujar Keysa.


Keyla menatap kantong tersebut, tangannya terulur untuk mengambilnya dan langsung melemparkannya ke lantai. Dia tidak bodoh bisa saja Keysa menaruh obat penggugur dalam kuenya.


Keysa menganga tidak percaya.


"Bicth!" Ucap Keysa seraya menarik rambut Keyla kebelakang.


Keyla tidak mau kalah ia seketika langsung menarik rambut Keysa.


"Kamu apa-apan sih!" Ucap Keysa seraya menahan tangan Keyla agar tidak terlalu kencang menarik rambutnya.


"Masih nanya lagi, saya muak sama kamu ******, umur saya emang lebih muda dari kamu, tapi saya nggak bodoh kayak kamu Bicth!" Ucap Keyla seraya menarik lebih kencang rambu Keysa.


"Sialan! Kamu mau nyiksa saya!" Umpat Keysa.


Keyla melepaskan tangannya dari rambut Keysa, seketika Keysa langsung menegakkan badannya.


Plakk


Keyla memejamkan matanya saat tangan Keysa menampar pipi mulusnya, sakit? Enggak karena Keyla langsung membalasnya.


Plakk


"Akh," Rintih Keysa seketika langsung tersungkur di lantai karena Keyla menamparnya lebih keras.


"KEYLA!" Teriak Edwin langsung menghampiri Keysa yang tergeletak di lantai.


"Sakit Ed" ucap Keysa seraya memegangi perutnya.


Edwin berdiri ia menatap Keyla.


"Please Key jangan egois, Keysa lagi hamil!"


"Aku nggak peduli, urus sana anak sama istri sialan kamu!" Ucap Keyla menatap tajam Edwin.


"Kamu bilang apa!" Bentak Edwin seraya mencekal tangan Keyla, ia menatapnya tajam.


"Kenapa? Kesinggung? Bukan urusan Aku" ucap Keyla santai.


Plak


Keyla memejamkan matanya, tangannya memegang pipinya yang barusan terkena tamparan Edwin, matanya memanas tapi sekuat tenaga ia menahannya.


"Kamu keterlaluan Ed, lepasin saya sekarang juga," ucap Keyla tidak bisa membendung air matanya lagi.


"Balik ke kamar sekarang Keyla!" Ucap Edwin tanpa merasa bersalah sekalipun.


Keyla menatap Edwin tidak percaya.


"Ada saatnya kamu nyesel dan saat itu juga kamu nggak bisa dapetin apa yang kamu mau," ucap Keyla.


"E.. Edwin darah," ucap Keysa tiba-tiba, seketika Edwin langsung membelalakkan matanya, ia menghampiri Keysa.


"Kita kerumah sakit," ucap Edwin seraya mengangkat tubuh Keysa dan pergi begitu saja dari hadapan Keyla.


Keyla mematung di tempatnya, air matanya mengalir semakin deras di pipinya, secepat itu Edwin berubah? Bahkan ia tega menamparnya.