LOVE AFTER MARRIAGE

LOVE AFTER MARRIAGE
Bab69



Edwin mengemudikan mobilnya ia membawa beberapa dokumen untuk perceraiannya dengan Keysa. Sungguh ia sudah muak dengan sikap Keysa, andai saja waktu itu dia tidak mudah percaya begitu saja dia tidak akan kehilangan Keyla dan statusnya sebagai anak orangtuanya. Untuk masalah warisan ia tidak peduli meskipun ia harus kehilangan semua hartanya yang sudah di dapatkannya dari hasil jeri payahnya, jika itu bisa membuatnya kembali bersama Keyla ia ikhlas.


Edwin tiba di rumah yang beberapa tahun ini tidak pernah ia kunjungi. Rumah kediaman keluarga Keysa.


Edwin menghela nafasnya pelan, kenangannya bersama Keysa seolah membuat kepalanya semakin ingin meledak ditambah sikap gadis itu yang sangat membuatnya kecewa. Padahal pada awalnya Edwin berharap Keysa sudah berubah dan setelah menikahinya, Keyla dan Keysa bisa akur. Tapi pada kenyataannya Keyla pergi dan Keysa membohonginya lagi dan lagi.


Edwin mengetuk pintu di depannya, tidak lama kemudian pintu dibuka oleh seseorang.


"Den Edwin, udah lama nggak kesini gimana kabarnya?"" ucap wanita paruh baya yang berdiri di depan Edwin.


Edwin tersenyum tipis, Bi Siti adalah orang yang sangat akrab dengannya ketika Edwin masih menjadi tunangan Keysa dulu dan Edwin sudah menganggap Bi Siti sebagai keluarga sendiri.


"bibik sendiri bagaimana?" Tanya Edwin lebih memilih tidak menjawab akan keadaannya, tentu saja keadaannya sekarang tidak baik-baik saja.


"Alhamdulillah baik,"


Edwin mengangguk.


"Keysa ada bi?" Tanya Edwin.


"Ada den tapi pulang dari rumah sakit kemarin non Keysa nggak pernah mau keluar dari kamar bahkan makan pun enggak, saya jadi khawatir," kata bi Siti menjelaskan.


Edwin terdiam.


"Bisa bawa saya ke kamarnya bi?" Ucap Edwin.


Bi Siti menganggukkan kepalanya ia mempersilahkan Edwin masuk dan mengantarkannya ke kamar Keysa.


"Bibi tinggal dulu," ucap Bi Siti setelah tiba di depan kamar Keysa. Edwin mengangguk sebagai jawaban.


Edwin menatap pintu bercat putih di depannya itu lantas ia mengetuknya tapi tidak ada jawaban sama sekali.


"Cepet buka saya Edwin," ucap Edwin jengah.


Tidak lama kemudian pintu kamar terbuka menampakkan Keysa dengan keadaan berantakan dan wajah pucatnya. 


"Edwin kamu dateng buat aku?" Ujar Keysa seraya menghambur kepelukan Edwin. Edwin melepas pelukan Keysa begitu saja.


"Tanda tangan saya mau cerai secepatnya!" ucap Edwin to the point, ia menyodorkan dokumen perceraian di hadapan Keysa.


Keysa mematung sungguh ia tidak menyangka Edwin akan menceraikannya secepat itu.


"Kamu nggak serius kan Edwin, kita baru nikah beberapa hari dan kamu gugat cerai aku," ucap Keysa menatap Edwin sendu.


"Aku tau aku salah, maafin aku, kita mulai semuanya dari awal dan aku janji nggak akan pernah bohongin kamu," Keysa memegang lengan Edwin dengan tatapan memohon.


"Saya bilang tanda tangan!" Ucap Edwin seraya menyentak kasar tangan Keysa.


Keysa meneteskan air matanya, ia menatap Edwin penuh luka.


"Nggak akan! Atau aku bunuh diri Edwin kalau kamu lakuin ini!" Isak Keysa mengancam Edwin agar tidak jadi menggugatnya.


"Terserah saya nggak peduli!" Kata Edwin.


"Edwin kamu kenapa berubah, kamu dulu peduli banget sama aku, bahkan kamu nggak bisa kalau aku kenapa-napa tapi kenap.."


"Sayangnya itu dulu!" Edwin memotong ucapan Keysa begitu saja.


Keysa terdiam, ia terisak dadanya naik turun.


"Saya nggak butuh kamu sekarang! yang saya butuhin cuma tanda tangan kamu," ucap Edwin mengambil paksa tangan Keysa untuk menandatangani dokumen perceraian itu.


"Edwin aku ngga bisa," ucap Keysa parau, berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Edwin, tapi apa daya Keysa tidak bisa berbuat apa-apa karena tangan Edwin menggerakkan jari-jarinya untuk menggoreskan tandatangan disana.


"Terimakasih, jangan pernah kamu muncul di hidup saya lagi, kekacauan yang kamu buat akan saya ingat sampai saya mati Keysa!" Tegas Edwin menunjuk wajah Keysa, setelah itu ia pergi begitu saja meninggalkan Keysa yang luruh di lantai.


Keysa terisak ia memukuli dadanya yang berdenyut kencang itu.


"Aku lakuin ini semua karena nggak mau kamu jadi milik orang lain Edwin, andai kamu ngerti." lirih Keysa parau sembari terisak.


Bi Siti yang melihat itu pun merasa prihatin ia menghampiri Keysa yang berada di lantai itu.


"Non Keysa," ucap Bi Siti mengelus pelan bahu Keysa yang bergetar.


Keysa menatap Bi Siti detik selanjutnya ia memeluk Bi Siti.


"Bi, Edwin dia pergi dia benci aku," ucap Keysa terisak.


"Yang sabar non, non Keysa harus bisa ikhlasin den Edwin," ucap Bi Siti.


"Aku nggak bisa bi hiks,"


Bi Siti tidak bisa menjawab apapun ia hanya terdiam dan berusaha menenangkan Keysa.


•••


Edwin baru saja tiba di rumah, ia mendudukkan dirinya di balkon rumahnya.


Bibirnya tersenyum kecut masalahnya dengan Keysa sudah selesai tapi Keyla? Ia tidak tau Keyla berada di mana, tidak ada satu orang pun yang memberitahu kan keberadaannya dimana. Edwin hanya sendiri sekarang tidak ada yang bisa dia tanyai dimana Keyla, karena semua membenci Edwin.


"Keyla aku kangen," gumam Edwin seraya menatap lurus ke depan.


Drtttt drtttt..


Hp Edwin berdering. Edwin menatap hpnya seketika ia menegakkan tubuhnya dan mengangkat panggilan dari orang suruhannya.


Edwin mendengarkan setiap ucapan orang suruhannya dan Edwin mengeraskan rahangnya, tangannya mengepal ketika orang suruhannya mengatakan jika ia tidak bisa melacak keberadaan Keyla meskipun sudah mengunjungi beberapa bandara untuk mencari jejak penerbangan atas nama Keyla dan juga Raka.


"Cari sampai dapat! Ancaman saya tidak main-main!!" Ucap Edwin menutup panggilannya begitu saja.


Edwin kembali ke kamarnya, ia mengambil beberapa alkohol yang ia simpan dan meminumnya begitu saja, dan malam ini lagi-lagi Edwin tertidur dalam keadaan mabuk. Edwin melakukan itu hanya untuk melampiaskan kemarahannya jika tidak dengan alkohol entahlah Edwin pasti sudah bunuh diri.


•••


Ke esokan paginya Edwin terbangun karena alarmnya berbunyi. Edwin terduduk ia menatap samping ranjangnya yang kosong, biasanya disitu ada Keyla tapi sepertinya mulai sekarang paginya akan berubah drastis tidak ada Keyla yang akan menyiapkan baju kantor untuk dirinya tidak ada Keyla yang memasakkan sesuatu untuk dirinya. Tidak ada Keyla yang memberikan perhatian-perhatian kecil untuk dirinya. Tidak ada Keyla yang ia marahi karena sifat ke kanak-kanaknya. Yang ada hanyalah rasa penyesalan yang ada pada diri Edwin, memang benar kata Keyla jika penyesalan selalu datang di akhir dan semua yang Keyla ucapkan benar.


"Kenapa aku nggak percaya sama kamu Keyla" Gumam Edwin menyesali perbuatannya.


Edwin beranjak dari tempat tidurnya ia segera menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya yang penuh dengan bau alkohol itu.


20 menit kemudian


Edwin sudah selesai membersihkan dirinya, ia keluar kamar mandi dan mengambil baju nya di lemari dan memakainya, selesai memakai bajunya Edwin memakai dasinya, Edwin lagi-lagi teringat ketika Keyla memasangkan dasinya.


Flashback on


"Sayang bisa pakein dasi aku?" Tanya Edwin kepada Keyla yang tengah terduduk di ranjang kamar mereka.


Keyla tersenyum ia lantas berjalan ke arah Edwin, bukannya segera memasangkan dasi Edwin, Keyla malah menghela nafasnya pelan.


"Edwin udah aku bilang beberapa kali kalau make baju tuh yang bener," omel Keyla seraya menurunkan lengan baju Edwin.


Edwin terkekeh melihat Keyla sangat cerewet ketika mengomelinya hanya karena hal kecil.


"Kenapa ketawa," ucap Keyla galak seraya memasangkan dasi Edwin.


Edwin terkekeh pelan.


Cup


Keyla menghentikan gerakannya ketika Edwin mengecup pelan dahinya.


"Edwin jangan dicium," ucap Keyla terlihat gugup.


"Kenapa hmm?" Tanya Edwin.


"Ya aku gugup," jawab Keyla jujur, Edwin kembali terkekeh pelan ia malah sengaja mengulangi perbuatannya.


Cup


Dan Keyla benar-benar membelalakkan matanya karena Edwin mengecup bibirnya singkat.


Flashback off


Edwin tersenyum kecut nyatanya itu cuma bayangannya saja.


•••


Kantor


Edwin memasuki kantor, banyak yang menyapa Edwin tapi seperti biasanya Edwin selalu bersikap dingin kepada karyawannya dan hal itu sudah biasa terjadi.


Edwin membuka ruangan kerjanya ia segera duduk di kursi kebesarannya, baru saja Edwin ingin membuka laptop seseorang mengetuk pintu nya.


"Masuk," titah Edwin dingin.


"Pak jam 10 anda ada pertemuan dengan klien anda dari Kalimantan di restoran xxx," ucap seorang wanita.


"Batalkan saya sibuk!" Ucap Edwin.


"Ta..tapi pak ini sangat penting anda tidak bisa membatalkan begitu saja," ucap wanita itu dengan takut, nyalinya seketika menciut melihat Edwin yang sepertinya marah itu.


"Batalkan atau kamu saya pecat sekarang!" Ucap Edwin sadis membuat wanita itu gelagapan.


"Ba..baik pak saya akan batalkan," ucapnya gugup dan segera keluar dari ruangan Edwin.


Bertepatan saat wanita itu keluar Juna memasuki ruangan, ia mengehela nafasnya karena Edwin terlihat sangat kejam, siapapun pasti takut jika berhadapan dengan Edwin ketika marah-marah seperti itu.


"Saya tau maslah kamu berat tapi saya mohon. Kamu bisa bedain mana pekerjaan dan mana urusan pribadi," nasihat Juna menepuk pundak Edwin.


"Kamu nggak akan ngerti apa yang saya rasain," ucap Edwin.


Juna lagi-lagi menghela nafasnya berat.


"Kalau Keyla jodoh kamu dia pasti bakalan balik, saya harap perkataan saya ini bisa buat kamu tenang, jodoh nggak akan kemana Ed, semarah apapaun dia, sekecewa apapun dia kalau dia jodoh kamu dia tetep balik lagi sama kamu," tutur Juna.


Edwin menghela nafasnya pelan memang benar perkataan Juna tapi Keyla apakah dia mau kembali dengannya setelah dikecewakan seperti itu.


Entahlah hanya Tuhan yang tau dan Edwin hanya perlu berdoa agar cepat di pertemukan kembali dengan Keyla.