LOVE AFTER MARRIAGE

LOVE AFTER MARRIAGE
Bab47



Sudah seminggu lamanya Keyla tanpa Edwin di sampingnya. Rasanya hampa tidak ada yang membujuknya ketika Keyla, tidak ingin makan dan memarahinya ketika Keyla, tidak menurut.


"Key, jangan ngelamun mulu, muka kamu pucet banget aku khawatir," ucap Hana membuyarkan lamunan Keyla.


"Aku gak papa, Han." Kata Keyla.


"Kamu mikir aneh-aneh pasti," tuduh Hana.


"Enggak," jawab Keyla.


"Kamu kangen Edwin?" Tanya Hana.


"Enggak" jawab Keyla lagi kali ini jawaban bohong. Keyla memang merindukan Edwin.


"Ya terus apa?" Jangan buat aku bingung sama khawatir. Edwin dari kemarin nelponin aku terus, dia nanyain kamu, kenapa kamu nggak aktifin hp, sih." tutur Hana menatap Keyla khawatir sekaligus kesal.


Keyla memang sengaja mematikan hpnya agar Edwin tidak bisa menghubunginya untuk saat ini. Sengaja agar cowok itu hawatir dan cepat pulang.


"Malah diem," dumel Hana yang tidak mendapat respon dari Keyla.


"Han, jangan buat aku tambah pusing," ucap Keyla menatap Hana. Hana balik menatap Keyla, helaan nafas keluar dari bibirnya.


"Kamu yang buat aku tambah pusing Key, karena Edwin nyepam aku terus," ucap Hana geleng-geleng kepala.


"Ya udah matiin aja hp kamu," jawab Keyla santai.


Hana membuka mulutnya lebar-lebar karena respon Keyla yang sangat enteng.


"Semenjak hamil keras kepala kamu nambah, greget aku sama kamu" Hana mengeratkan giginya dan juga kepalan tangannya.


"Kamu belum kasih tau Edwin soal kehamilan kamu, aku bilang kasih tau Key, atau Edwin akan marah besar," cecar Hana.


"Aku bakalan kasih tau," jawab Keyla.


"Ya iya kapan?" Tanya Hana mulai emosi.


"Nggak tau," jawab Keyla membuat Hana greget sendiri dan menggigit sedotan yang di ambilnya dari gelas minuman yang ada di mejanya.


"Sekarang," desak Hana.


Keyla menatap Hana kesal.


"Kamu nggak ngerti Han, perasaan aku gimana waktu coba kasih tau Edwin, kalau aku lagi hamil dan dia seenaknya malah pergi ke Perancis sehari sebelum keberangkatannya," ujar Keyla.


"Coba deh Key, koreksi perkataan kamu, kalau saat itu kamu langsung bilang kalau kamu lagi hamil, mungkin Edwin nggak jadi berangkat," ucap Hana.


"Yaudahlah Han nggak usah di bahas, rasanya aku mau nangis sekarang," ucap Keyla dengan mata yang sudah memanas.


"Tau gini aku nggak usah hamil aja,"


"Husss mulut kamu minta aku tabok," ucap Hana menatap tajam ke arah Keyla.


Keyla terlihat seperti ingin menangis sekarang. Hana yang melihat Keyla seperti itu jadi makin khawatir di buatnya.


"Jangan nangis dong, Key" ucap Hana lalu menggeser duduknya lebih dekat dengan Keyla lantas memeluknya.


"Aku nggak nangis, mata aku aja yang ke lilipan" ucap Keyla di pelukan Hana sambil menghapus air matanya.


Keyla melepaskan pelukan Hana dan menghembuskan nafasnya pelan.


"Kemarin aku nggak cek up kandungan, kamu bisa anterin aku sekarang?" Tanya Keyla menatap Hana.


"Astaga Key, ceroboh banget sih kamu, nggak cek up. Kalau ada apa-apa sama calon keponakan aku gimana" omel Hana lagi.


"Hana jangan ngomel-ngomel, pusing kepala aku rasanya mau meledak kalau nggak mau nganterin, aku bisa berangkat sendiri," ucap Keyla lesu.


"Aku anterin, Keyla." kata Hana dengan senang hati.


"Aku ambil kunci mobil dulu," tungkas Hana seraya beranjak mangambil kunci mobilnya di dalam kamarnya. Memang sedari pagi Keyla berada di rumah Hana dan yang di lakukannya hanyalah terdiam tidak berniat melakukan apa-apa.


"Key, kamu tunggu di mobil aja aku mau siap-siap bentar," teriak Hana dari atas tangga menuju lantai dua.


"Iya," jawab Keyla segera keluar dari rumah Hana dan menunggunya di dalam mobil.


Saat sudah di dalam mobil, Keyla mengambil hpnya dari dalam tas. Hp yang sudah seminggu tidak ia aktifkan.


Tangannya memencet tombol power on untuk menyalakan hpnya, tidak butuh waktu lama hp Keyla sudah menyala.


Keyla sedikit terkejut ketika mendapati seratus panggilan tidak terjawab dari Edwin belum lagi pesan yang ia dapat darinya.


"Kaget kan kamu, Edwin pasti nyepam banyak," ujar Hana seraya memasuki mobil dan duduk di kursi pengemudi.


"Hmm banyak ,sampai hp aku lemot," ucap Keyla lalu menyenderkan kepalanya di kursi.


Hana, menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Keyla. Ia memilih segera menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumahnya.


Di perjalanan Keyla kembali bersuara. "Han, aku mau cerita sesuatu tentang Keysa"


Hana mengernyitkan dahinya, bingung karena ia tidak tahu siapa orang yang di maksud Keyla.


"Makannya aku sekarang mau cerita," ucap Keyla, "Keysa, dia sahabat sekaligus mantan tunangan, Edwin."


"Apaa!!" Kaget Hana tercengang dengan fakta yang di berikan oleh Keyla.


"Kamu aja kaget, gimana aku nggak kaget banget," ucap Keyla.


"Kamu serius Key, Edwin, punya mantan tunangan?" Tanya Hana tidak percaya.


"Iya," jawab Keyla singkat.


"Firasat aku nggak enak, Han, cara natap Keysa ke Edwin beda," jelas Keyla mengingat tatapan yang di berikan oleh Keysa pada Edwin.


"Beda?" Beo Hana.


"Seolah dia mau rebut Edwin dari aku" jawab Keyla.


"Mungkin firasat kamu bener atau mungkin juga bisa salah, tapi semua tergantung Edwin. Tenang aja aku tau kalau Edwin cintanya sama kamu, apalagi sekarang kamu lagi hamil anaknya," ucap Hana menenangkan Keyla agar tidak terusik dengan kehadiran mantan Edwin.


"Kamu tau alasan mereka bisa putus di tengah jalan?" Tanya Hana.


"Keysa, dia ngehianatin Edwin, Han"


"Nah kan aku bilang juga apa, nggak mungkin lah Edwin mau sama penghianat yang udah nyakitin dia," ucap Hana. Dia saja tidak mau balikan lagi dengan orang yang sudah menyakitinya apalagi Edwin si dingin itu. Hana mengenal betul bagaimana sifat seseorang seperti Edwin mereka sangat susah untuk menerima orang yang sudah menyakiti mereka karena mereka sangat otoriter. Tapi manusia sangat susah untuk di tebak.


"Tapi Han, aku takut Edwin bener-bener ninggalin aku dan balik lagi sama Keysa," ujar Keyla di penuhi rasa cemas.


"Nggak akan, percaya deh sama aku, sekarang jangan banyak pikiran kasian dede utun" ucap Hana. Keyla hanya diam saja sebenarnya dia memang sangat takut, bagaiman jika Edwin masih mencintai Keysa. Tapi apa yang Hana ucapkan benar juga ia tidak boleh banyak pikiran karena bisa berefek pada kehamilannya.


Drttt drttttt


"Key, hp kamu bunyi tuh," Hana memberi tahu. Keyla segera mengenyahkan pikiran buruknya, dan menatap layar hpnya yang menyala.


"Edwin telpon," ucap Keyla segera menegakkan badannya.


"Yaudah angkat aja,"


"Nggak! Aku takut kena marah," jawab Keyla cepat.


"Nggak akan, udahlah angkat aja kalau dia marah aku marahin balik" ucap Hana tapi Keyla tak kunjung mengangkatnya "angkat atau aku yang angkat" greget Hana.


"Iya-iya aku angkat," ucap Keyla pada akhirnya karena parno melihat wajah Hana yang menyeramkan seperti ingin menelannya hidup-hidup.


Sambungan pun terhubung.


"Ha.halo," ucap Keyla gugup. Jujur ia takut kena omelan Edwin.


"Kenapa baru diangkat, kemana aja kamu seminggu Key, hp kamu sengaja kamu matiin?" Serang Edwin terdengar sedikit tegas.


Keyla menggigit bibir bawahnya, suara Edwin terdengar dingin di telinganya.


"Iya," jawab Keyla takut.


"Alasannya kenapa?" Tanya Edwin.


"Gak papa, aku bosen aja main hp," ucap Keyla, ia menatap Hana yang berucap tanpa suara "gak papa"


"Kamu tau disini aku khawatir, selama seminggu ngga ada kabar dari kamu, Key,"


Terdengar helaan nafas dari sebrang sana.


"Maaf," hanya kata itu yang mampu Keyla ucapkan.


"Bisa sedikit dewasa kan kamu, umur kamu berapa? 21 tahun dan kamu seharusnya ngerti pentingnya komunikasi!!" Edwin berbicara dengan nada sedikit mebentak.


Keyla memejamkan matanya.


"Ya nggak usah marah juga, aku udah minta maaf kan! Kamu mau apalagi?"


"Jangan kekanak-kanakan Keyla!" Bentak Edwin.


"Edwin kamu kelewatan!!" Teriak Keyla tidak terima matanya sedikit memanas. Hana yang ada di sampingnya menepuk pelan punggung Keyla agar lebih tenang.


"Kamu yang kelewatan Keyla, aku udah sabar ngadepin kamu untuk saat ini, kamu kenapa jadi kayak gini," ucap Edwin sedikit memelankan suaranya.


"Aku hamil, puas kamu!!


Setelah mengatakan itu Keyla melemparkan hpnya hingga panggilan terputus begitu saja ia menangis sesenggukan. Hana yang melihat itu langsung menepikan mobilnya.


"Sstt udah gak papa," ucap Hana memeluk Keyla.


"Dia bentak aku Han" ucap Keyla.


Hana mengelus pelan punggung Keyla yang bergetar.


"Percaya sama aku, Edwin nggak akan marah lagi, setelah tadi kamu bilang soal kehamilan, aku yakin dia kaget sekarang,"


Keyla mengangguk, setelah itu Hana kembali mengemudikan mobilnya.