LOVE AFTER MARRIAGE

LOVE AFTER MARRIAGE
Bab88



Sudah terhitung tiga hari, setelah hilangnya Gempara. Selama itu Keyla terus menangis. Raka dan Edwin masih mencari keberadaan Gempara di Bandung dan belum menemukan tanda apa-apa. Sebelumnya sobekan baju dengan bercak darah yang di temukan Edwin memang benar itu sobekan baju Gempara. Darah yang ada di sobekan baju itu ternyata darah hewan. Karena hal itu, Edwin semakin yakin bahwa Gempara masih hidup dan tidak lah di buang ke sungai. Namun, Edwin buntu petunjuk. Ia sama sekali tidak tahu motif pelaku menculik anaknya.


Jika penculik itu butuh uang, kenapa dia tidak minta tebusan dan kenapa malah mempermainkannya.


Gino berjalan sambil mencari-cari sesuatu di sana, siapa tahu ia bisa menemukan sesuatu lagi seperti kemarin.


Raka menatap pohon-pohon yang menjadi background foto Gempara. Ia mencocokkan gambar pohon yang ada di ponselnya dengan pohon aslinya. Foto Gempara yang terbaring bukanlah foto editan. Itu foto asli yang di potret di tempat ini. Namun, Raka tak percaya jika orang itu tega menyakiti anaknya. Raka tak percaya dengan luka sayatan pada tubuh Gempara apalagi setelah tahu darah di robekan baju Gempara adalah darah hewan.


"Kita gak punya petunjuk apa-apa lagi, anak buah om Dana sudah menelusuri sungai tapi gak nemuin apa-apa, polisi juga sudah menyelidiki kasus ini, namun mereka juga belum ngasih kabar apapun, darah di sobekan baju Gempara juga darah hewan, kemungkinan orang itu membawa Gempara pergi dan dia sepertinya sengaja mempermainkan kita," ucap Raka masih dalam posisi sama.


"Sebenarnya apa mau orang itu, kalau memang dia punya masalah sama saya kenapa dia harus bawa-bawa anak saya," ujar Edwin menatap tajam ke depan. Ia sama sekali tak mengerti mengapa orang misterius itu menculik Gempara dan mempermainkan mereka.


"Memangnya kamu memiliki musuh Ed? Mungkin orang itu ingin balas dendam sama kamu," tanya Raka, siapa tahu saja akar permasalahannya ada pada Edwin yang mungkin memiliki musuh.


"Gak ada," ucap Edwin datar, detik berikutnya ia menatap tajam Raka, "sepertinya keluarga kamu yang memiliki musuh dan ingin menghancurkan kamu, mengingat kamu adalah anak dari pebisnis sukses dan terkenal yang membuat pebisnis lain iri, dan yang jadi sasarannya adalah anak saya karena mengira Gempara anak kamu," tuduh Edwin. Bukan tanpa alasan Edwin berbicara seperti itu, memang benar di dalam dunia bisnis pasti akan ada orang yang tak suka dan berusaha untuk menghancurkan lawannya.


"Jangan sembarang, memang banyak yang iri sama bisnis keluarga saya, tapi keluarga saya hidup damai dengan pebisnis yang lain, kami tidak saling menjatuhkan," ucap Raka tak suka. Memang ayahnya adalah pebisnis sukses, tapi tak ada satupun orang yang ingin menghancurkannya karena ayahnya adalah pebisnis yang jujur dan di sukai banyak orang.


"Itu kan menurut kamu, siapa tahu ada yang diam-diam ingin menghancurkan bisnis keluarga kamu, seperti kamu yang dulu diam-diam mencintai istri saya," ujar Edwin dengan mengungkit masa lalu Raka yang diam-diam menyukai Keyla.


"Kenapa kamu jadi bawa-bawa itu, apa kamu gak rela karena sekarang Keyla jadi milik saya," kata Raka tetap tenang. Ia sedikit menyunggingkan senyum.


Edwin menepuk pundak Raka dua kali. "Jangan berbangga hati, selama kamu dan Keyla belum melangsungkan pernikahan, Keyla belum menjadi milik kamu, bisa saja Keyla kembali menjadi milik saya,"


"Jangan harap Keyla mau kembali sama kamu, begitu Gempara di temukan saya akan menikahi Keyla dan membawanya pergi," kata Raka mulai terpancing emosi. Sepertinya Edwin tengah mengibarkan bendera perang padanya. Raka harus berhati-hati dengan Edwin yang masih belum merelakan Keyla bersamanya.


"Kita lihat saja nanti," Edwin menatap remeh Raka.


•••


Sepasang suami istri tengah berbicara di dalam sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan yang tidak terlalu ramai di lalui pengendara lainnya.


"Aku yakin yang menculik Gempara adalah Sagita, anak itu ingin menuntut balas pada kita," ucap sang suami pada istrinya.


"Ini salahku, harusnya waktu itu aku tidak menyuruhmu untuk membuangnya ke hutan itu, aku menyesal pa," sang istri menyesali perbuatannya di masa lalu.


Ting.


Suara notifikasi dari handphone milik pria itu berbunyi. Wanita itu langsung mengambil handphone itu dari atas dasbor mobil dan langsung membuka pesan yang baru masuk itu.  Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak di kenali. Jika kemarin orang misterius itu mengirim pesan melalui WhatsApp maka sekarang hanya melalui pesan biasa/SMS.


'Bagaimana apa kalian sudah menemukan jasad cucu kalian'


"Pa, dia mengirim pesan lagi," ucapnya begitu notifikasi berbunyi lagi.


'Belum! Jelas, karena cucu kalian ada bersama saya. Dan yang saya buang ke sungai hanyalah tikus kecil yang darahnya saya ambil. Tenang, dia baik-baik saja bersama saya, saya tidak akan melukainya untuk saat ini'


Mereka sedikit bernafas lega mengetahui bahwa cucunya belum lah meninggal. Tapi apa foto itu editan. Jika editan kenapa foto yang di kirim sosok itu terlihat nyata. Mereka berdua jadi bimbang.


'akui saja kejahatan kalian di kantor polisi dan saya akan mengembalikan anak ini, saya tunggu sampai besok malam, jika kalian tidak melakukannya maka anak ini akan menjadi korban balas dendam saya'


'kalian ingat dengan cara apa kalian melenyapkan ibu saya, saya juga akan melakukan cara itu pada anak ini'


"Sekarang kita harus apa, pa? Apa kita lakuin yang dia mau, sudah seharusnya kan kita mengaku" jantung wanita itu berpacu dengan tidak normal. Ia ketakutan karena cucunya dalam bahaya, tapi dia juga tidak bisa menuruti permintaan dari si pengirim pesan.


"Jangan ma, kita tidak boleh di perdaya olehnya, lagi pula papa yakin dia hanya membual, dia hanya ingin menghancurkan kita saja," pria itu tidak yakin dengan ucapannya.


Hening sejenak sebelum pria itu kembali bersuara.


"Jika dipikir-pikir, dia tidak mungkin selamat di hutan belantara itu, anak itu pasti sudah tiada karena tidak bisa bertahan hidup dan mungkin dia di makan binatang buas, dan yang menelor kita adalah orang lain," pria itu ingat betul, jika dulu di hutan itu banyak sekali binatang buas. Namun, seiring berjalannya waktu, binatang-binatang itu mulai habis karena banyak di buru.


"Tapi siapa pa, kenapa orang misterius itu tahu banyak tentang kita, jika bukan Sagita siapa yang menculik Gempara," wanita itu jelas mengetahui bahwa orang bernama Sagita lah pelakunya. Di lihat dari pesan yang di kirimnya semua terlihat jelas bahwa orang misterius itu menuntut balas atas meninggalnya sang ibu.


"Entahlah, sepertinya memang benar Sagita pelakunya, kita harus temukan dia,"


Orang misterius itu kembali mengirim pesan.


'Jangan kalian pikir saya main-main dengan ucapan saya, mengerti,'