LOVE AFTER MARRIAGE

LOVE AFTER MARRIAGE
Bab78



"Key, hubungan kamu sama Raka udah ada kemajuan belum?" Tanya Hana. Saat ini keduanya sedang berjalan tanpa tujuan, melewati toko-toko yang ada di Mall.


"Kenapa tiba-tiba nanya itu?" Keyla heran kenapa Hana tiba-tiba menanyakan hubungannya dengan Raka. Dia sendiri kan tahu kalau Keyla dan Raka semakin hari semakin dekat.


"Pengen tau aja! Siapa tau kalian ada masalah, aku siap bantu" Hana berbicara dengan hati-hati. Sebenarnya ia hanya ingin memastikan apakah Keyla benar-benar menjalin hubungan dengan serius atau tidak.


"Hubungan aku sama Raka baik-baik aja, setiap hari kita menghabiskan waktu bersama, kita semakin mesra dan Raka selalu romantis sama aku cuman..." Keyla menggantung omongannya dan berhenti berjalan lalu di ikuti oleh Hana.


"Cuman apa Key?" Hana yang penasaran pun menunggu jawaban Keyla.


Keyla menunduk, "Aku ragu buat nerima lamaran Raka"


"Kenapa ragu? Sekarang aku tanya sama kamu, kamu bahagia gak sama Raka?"


"Aku bahagia banget sama Raka, Raka sosok ayah yang baik buat Gempara dan ia mampu buat aku sama Gempar nyaman dan aman." Keyla mengatakan ia bahagia tapi kenapa nadanya terdengar sedih di telinga Hana. Hana tahu Keyla, jika Keyla bahagia pasti ia akan mengatakannya dengan sangat antusias.


"Terus kenapa kamu Ragu kalau kamu bahagia sama Raka?" Tanya Hana dengan alis yang naik sebelah.


"Entah lah, aku sendiri gak tau kenapa aku ragu nerima lamaran Raka" Keyla tidak mengerti dengan perasaanya padahal ia sangat bahagia bersama Raka. Raka tidak pernah mengecewakan Keyla. Meskipun cowok itu selalu menyebalkan tapi Raka selalu membuat Keyla tersenyum.


"Hilangin keraguan itu Key, aku tau kamu nerima Raka karena ingin membalas perasaan dan kebaikannya sama kamu, sementara kamu belum bisa melupakan Edwin." Hana memberikan sedikit nasihat yang membuat Keyla sedikit canggung.


"Mana ada kayak gitu, aku tuh beneran cinta sama Raka aku juga udah lupain Edwin kali." Entah Keyla berbicara jujur atau tidak, yang jelas saat ini Keyla mencintai Raka dan sedikitpun tak pernah mengitat Edwin lagi.


"Jangan bohongin hati kamu, aku harap omongonan kamu benar" Kata Hana berharap omongan Keyla benar bahwa ia sudah melupakan matan suaminya. Untuk masalah percintaan, Keyla bisa membuka hatinya pada pria lain dan tak harus berpura-pura mencintai Raka.


"Udah ah. Jangan bahas itu lagi mendingan kita belanja, kangen tau udah lama gak belanja bareng kamu" Kata Keyla mengakhiri obrolannya dan menggandeng tangan Hana.


"Ayo, gas keun" Kata Hana setuju dan mereka-pun langsung melanjutkan perjalanan dengan tujuannya toko pakaian.


•••


Saat ini sikembar Gina Gino, dan juga Gempara plus baby N tengah berada di toko mainan. Gempara terlihat sangat antusias memilih mainan yang akan di belinya.


"Gege, mau robot-robotan ini gak?" Tanya Gino menawarkan robot-robotan yang sebesar tubuh mungil Gempara.


"Da mau itu besal dan selam, Gege takut" Tolak Gempara karena ia takut dengan robot seukuran dirinya. Di tambah lagi robot itu terlihat menyeramkan di mata Gempara.


"Itu robotnya kayaknya jahat deh, harus di musnahin biar gak mesurak bumi" Kata Gina ngaco membuat Gino cengo.


"Robot-robotan kok jahat, kamu kali yang jahat suka nistain kembarannya" Celetuk Gino membuat dirinya di hadiahi jeweran dari Gina.


"Ampun Gin, ampun" Kata gino memohon jewerannya di lepas.


"Ngaku dulu wahai orang jahat, siapa yang jahat yang suka nistain kembarannya?" Tanya Gina, ia tak mau melepaskan tangannya dari kuping Gino.


"Gino bukan Gina. Lepasin ya cantik malu di liatin Gege sama Ula"


"Gak mau, biarin aja mereka liat biar mereka tahu omnya nakal dan harus di beri pelajaran"


"Kuping ino cakit, lepacin ya" rengek Gino seperti anak kecil dan hal itu membuat gempara cekikikan karena merasa lucu.


Gina pun akhirnya melepaskan jewerannya dan Gino mengusap-ngusap telinganya yang sakit akibat ulah saudara kembarnya itu. Harusnya tadi Gino gak usah menjawab omongan Gina karena sepertinya Gina sedang berada dalam mode wonder woman.


"Ge, ayo kita cari robot yang kuat biar bisa membasmi kejahatan bersama wonder woman" Kata Gino seraya mengangkat sebelah tangan ala superman yang hendak terbang dan di ikuti oleh Gempara.


"Ayo om"


Kemudian merekapun menelusuri estalase, saat sedang asik mencari robot-robotan tanpa mereka sadari Gempara sudah tidak berada di dekat mereka.


"Ge, yang ini bagus gak?" Tanya Gino.


"Lah, Gemapara mana Gin?" Gino celingak-celinguk mencari Gempara yang menghilang dari pandangannya.


"Aku gak tau tadi kan di gandeng sama kamu, aku gak merhatiin gempara karena terlalu pokus nyari mainan" Kata Gina terlihat cemas.


"Kita mencar buat nyari dia" Kata Gino cepat bertindak. Kemudian keduanya langsung pergi mencari Gempara.


•••


Bocah kecil itu sedang asik melihat lihat mainan yang terpajang di etalase dengan sangat antusias, biasanya jika membeli mainan bersama kedua orang tuanya pasti Bunanya akan membatasi mainan yang mau ia beli dan tak membebaskannya untuk memboros begitu saja. Tapi sekarang bocah itu bebas memilih mainan yang ia suka bahkan sekarang ia tengang membawa kotak yang berisikan pesawat mainan.


Gempara berhenti pada sebuah rak yang menjejerkan mobil remot kontrol, bocah laki laki yang tengah memeluk kotak besar itu kini tengah terpana pada sebuah mobil remot berwarna merah yang berada di etalase yang letaknya cukup tinggi.


Seseorang yang tengah asik pada ponselnya tanpa sengaja menabrak tubuh mungil Gempara hingga bocah kecil itu tersungkur dengan posisi duduk.


"Aduh." Keluh Gempara.


"Eh, maaf ya om gak sengaja." Ucap lelaki itu sambil membantu Gempara berdiri.


"Iya da papah, Om." Jawab Gempara sambil tersenyum dan kembali mengambil kotak pesawat mainan yang tadi ia peluk.


"Orang tua kamu mana?." Tanya lelaki itu  bingung mengapa orang tua anak itu tidak ada disekitarnya, tapi tak bisa di pungkiri bahwa ia merasa gemas dengan tingkah Gempara yang sangat menggemaskan kala bocah kecil itu memeluk pesawat mainannya.


"Da tau, tadi aku cari mainan sama om dan onti" Jawab Gempara yang semakin membuat pria itu gemas, kemudian dengan spontan menyubit kecil pipi gembul itu.


"Om, aku boleh minta tolong da?." Tanya Gempara.


"Minta tolong apa?." Tanyanya.


"Ambiyin itu tuh, mobil yang becal, yang ada yemotnya." Ucap Gempara sambil menunjuk mobil tersebut.


"Ini?." Tanyanya yang di angguki Gempara.


"Kamu bisa bawanya?." Tanyanya yang ragu memberikan mobil tersebut.


"Bica om, cini." 


Gempara merentangkan ke dua tangannya dengan sedikit kesusahan karena masih memeluk pesawat mainnanya.


"Gak bis-."


"Gempara" Panggil Gina. Gempara pun menengok ke arah sumber suara. Gina akhirnya bisa bernapas lega setelah menemukan Gempara. Gina buru-buru menghampirinya.


"Ge, kamu kemana aja kita cemas nyariin kamu?" Tanya Gina lantas ia melihat seorang pria yang bersama Gempara.


"Anda siapa, anda mau menculik keponakan saya" Tuduhnya sembari menarik Gempara ke belakang tubuhnya.


"Bukan, anak itu tadi minta tolong buat ngambilin main ini" Jawab pria itu sembari menyerahkan mobil-mobilan itu pada Gina.


Gina mengambilnya lantas meminta maaf karena salah mengira, "Maafkan saya sudah menuduh Anda. Terima kasih sudah membantu Gempara."


"Hm" jawabnya singkat setelah itu dia pergi meninggalkan mereka. Sementara Gina semakin merasa bersalah karena pria tadi menjawabnya dengan deheman, sepertinya dia tersinggung karena Gina tanpa sengaja menuduhnya penculik.


•••


Gempara sekarang tengah berjalan bersama Gina dan Gino untuk kembali kepada Keyla yang tengah menunggunya di Resto yang ada di mall. 


"Buna" kata Gempara setelah sampai. Bocah itu menaruh mainnya yang ia bawa di bantu Gino tentunya. Gina juga membawa beberapa boneka yang di belinya untuk baby N.


"Ini mainanya banyak banget, Buna gak ngajarin kamu buat boros. Buna kan jadi gak enak sama om Gino" Kata Keyla yang melihat mainan Gempara begitu banyak, dari mainan besar hingga kecil. Kan Keyla jadi merasa gak enak sama Gino yang sudah membelikannya. Lagi pula Keyla tak pernah membiarkan Gempara untuk memboros.


"Gak papah, Key. Sekali-kali anak kamu di manjain. Uang banyak gak bakal habis" Ucap Gino dengan senyum smirknya.


"Ini pemborosan, aku gak suka. Manjain anak kan gak harus hamburin uang cukup dengan kita selalu ada buat dia dan ngertiin dia. Kita sebagai orang tua harus mendidik anak sedari usia dini biar nanti anak kita tumbuh menjadi orang mandiri dan sukses, bukan menjadi anak manja yang suka hamburin uang" Kata Keyla membuat mereka Cengo. Sejak kapan Keyla jadi bijak, padahal dulu dia gak begitu. Dan soal boros dulu dia yang paling suka hamburin uang buat hal yang gak ada gunanya.


Sementara Hana tersenyum simpul, semenjak Keyla tinggal di luar negeri, Hana memang merasakan perubahan dari sikap Keyla.


"Kalian kenapa?" Tanya Keyla yang melihat ekpresi mereka.


Gina dan Gino menggelengkan kepala.


"Udah sekarang kita pesan makan, laper nih" Kata Hana lantas ia mengambil alih anaknya yang sedari tadi bersama Gina.


"Anak mami, anteng banget sama ateu Gina" ucap Hana pada anaknya.


"Makasih ya Gin udah jagain anak kakak" Ucap Hana pada Gina yang sekarang sudah duduk.


"Iya, sama-sama"


"Gina doang nih, aku enggak" Kata Gino yang sedikit cemberut.


"Makasih om Gino yang nyebelin udah jagain baby N sama Gempara" Kata Hana sambil mencubit gemas pipi Gino yang duduk di sebelahnya.


"Aku tau pipi aku ini menggemaskan tapi gak usah di cubit, sakit"