LOVE AFTER MARRIAGE

LOVE AFTER MARRIAGE
Bab39



Keyla memasuki rumah dengan langkah gontai air matanya mengalir membasahi pipinya perlahan, ia memasuki rumahnya yang masih terlihat gelap karena ternyata Edwin belum pulang.


Keyla masuk ke dalam kamar dan menangis tersedu-sedu di atas kasur dadanya terasa sakit, begitu juga dengan kepalanya.


"Kenapa harus sekarang?" Gumam Keyla disertai isakan yang keluar dari bibir mungilnya itu.


Hampir lama Keyla menangis dengan keadaan seperti itu, sampai ia mendengar suara mobil memasuki garasi rumahnya, tanpa menunggu lama Keyla langsung mengelap bekas air matanya dan pura-pura tertidur.


Kriiet


Pintu kamar terbuka perlahan, Edwin menatap tempat tidur disana ada Keyla yang tengah tertidur dan seperti nya posisinya tidaklah nyaman, ia menghampiri Keyla.


Edwin berjongkok di hadapan Keyla seraya menatap wajah Keyla yang terlelap.


"Ngga biasanya kamu tidur jam segini, capek ya?" Tanya Edwin lirih meskipun ia tau jika Keyla tidak mendengar pertanyaannya.


Edwin berdiri ia membenarkan posisi Keyla dan menaikkan selimut sampai batas leher nya.


"Good night sayang," ucap Edwin seraya mengecup kening Keyla, setelah itu Edwin memutuskan untuk mandi dan membuat dirinya kembali segar.


•••


Keyla terbangun di tengah malam tenggorokannya terasa kering dan badannya sedikit meriang. Keyla sedikit menggerakkan badannya tidak nyaman, awalnya Keyla mencoba untuk tidur kembali tapi ia malah bergerak gelisah.


Edwin yang menyadari itu langsung membuka matanya.


"Kenapa hmm?" Tanya Edwin seraya memegang pipi Keyla yang terasa sedikit hangat.


Keyla menatap Edwin sayu.


"Badan aku nggak enakan," ucap Keyla, Edwin terduduk.


"Aku ambilin obat ya," ucap Edwin ingin beranjak dari tempatnya namun tidak jadi karena tiba-tiba Keyla memegang tangannya.


"Nggak usah," kata Keyla. Jika ia minum obat sama saja dia sedang ingin membunuh janinnya.


"Wajah kamu pucet Key, jangan nolak. Aku nggak mau kamu sakit," ucap Edwin hawatir.


"Tapi aku nggak boleh minum obat," ucap Keyla tanpa sadar.


Edwin mengerutkan dahinya tidak mengerti. Keyla yang menyadari keanehan akan ucapannya langsung gelagapan.


"Maksut aku, aku nggak mau," jawab Keyla cepat.


Edwin menghela nafasnya ia beranjak dari ranjang dan keluar kamar, tidak lama kemudian Edwin kembali dengan nampan berisikan obat dan segelas air.


"Minum," ucap Edwin menyodorkan segelas air kepada Keyla.


Keyla menuruti apa kata Edwin tapi tangannya menolak saat Edwin memberinya sebutir obat. Ia ragu apakah Keyla akan meminum obat itu atau tidak. Kalau seandainya Keyla meminum obat itu maka ia membunuh janinnya dan Keyla bisa saja menyalahkan Edwin sebagai kambing hitam. Tapi Keyla tak sejahat itu.


"Perut aku nggak enak Ed, atau aku bisa muntah kalau minum obat itu," Alibi Keyla memilih untuk tidak meminum obat karena ia masih memiliki hati nurani untuk tidak menjadikan suaminya sebagai kambing hitam atas kesalahannya.


"Terus aku bakalan biarin kamu sakit gitu kalau nggak minum obat," ucap Edwin menatap Keyla sedikit emosi. Keyla menundukkan kepalanya.


Edwin menghela nafasnya pelan ia membuang obatnya ke tempat sampah.


"Itu yang kamu mau, jangan salahin aku kalau kamu besok sakit!" ujar Edwin sedikit menaikkan nadanya.


Keyla menggigit bibir bawahnya pelan ucapan Edwin sedikit menakutinya, tapi Keyla mencoba sedikit mengabaikannya karena kalau  ia menuruti Edwin tentu saja hal itu membuat anaknya dalam keadaan bahaya karena dimana-mana ibu hamil tidak boleh meminum obat kecuali saran dari dokter. Keyla juga tidak ingin salah langkah yang berakhir dengan Edwin yang mengetahui kehamilannya hanya karena minum obat.


"Maaf," ucap Keyla.


"Ngga usah minta maaf, sekarang tidur udah malem," ucap Edwin memilih menarik selimutnya dan tertidur begitu saja membiarkan Keyla.


Keyla hanya bisa terdiam ketika Edwin tidur dengan keadaan marah yang tertahan, ia segera menidurkan badannya di samping Edwin tentunya tanpa ada pelukan dari Edwin. Jujur Keyla tidak bisa tidur tapi ia mencoba memejamkan matanya, tapi tiba-tiba saja tangan Edwin menarik pinggang Keyla hingga tubuhnya bersentuhan dengan badan Edwin.


"Aku nggak marah," ujar Edwin tanpa membuka matanya, dan jangan lupakan tangannya yang memeluk erat tubuh Keyla.


Keyla sangat senang dengan perlakuan Edwin saat ini, tapi ada hal yang membuatnya sedikit merasa tertekan. Keyla benar-benar bimbang dengan kehamilannya saat ini yang bisa dia lakukan saat ini hanya membatin.


"Aku nggak tau Ed apa yang harus aku lakukan saat ini, disatu sisi aku ingin dia ada tapi di sisi lain aku ingin dia hilang..."


•••


Pukul empat pagi Keyla terbangun dari tidurnya karena hpnya sedari tadi berbunyi, Keyla segera mengambil hpnya yang terletak di atas meja.


"Kak Rahma," gumam Keyla, setelah itu Keyla mengangkat panggilannya.


"...."


"Sorry kak dari tadi malem aku nggak pegang hp,"


"...."


"Pagi ini?"


"...." 


"Oke aku siap-siap sekarang,"


"...."


"Byee,"


Keyla menutup panggilan dari Rahma, hari ini dia ada jadwal pemotretan pukul 8 pagi di Bogor, dan itu tandanya ia harus berangkat sekarang karena letak Bogor yang jauh dari tempat tinggalnya sekarang.


Keyla terduduk dipinggiran kasur jujur saja badannya belum pulih sempurna karena ia bisa merasakan pening di kepalanya, Keyla menatap Edwin yang tengah tertidur tangannya terulur untuk memegang rambut Edwin.


"Maaf aku harus sembunyikan semuanya dari kamu," ucap Keyla lirih. Ia belum bisa memberi tahu semuanya pada Edwin kalau ia sedang hamil karena jika Edwin tahu dia akan melarang Keyla untuk bekerja.


Keyla segera bersiap-siap ia berjalan ke arah lemari dan memasukkan bajunya ke dalam koper kecil dan barang lainnya yang ia akan butuhkan saat di Bogor. Setelah semua siap Keyla pergi untuk mandi.


Dua puluh menit Keyla habiskan untuk berendam air hangat berharap ia akan sedikit enakan, ia saat ini keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathroob.


Keyla berjalan ke arah ranjang dan menghampiri Edwin di sana.


"Edwin," panggil Keyla seraya menyentuh pergelangan tangan Edwin.


Tidak lama setelah Keyla memanggil Edwin, Edwin sudah membuka matanya dan menatap Keyla bingung karena Keyla hanya menggunakan bathroob.


"Kamu mandi pagi-pagi?" Tanya Edwin seraya memposisikan dirinya untuk duduk.


"Hmm, maaf aku harus bangunin kamu sepagi ini," ujar Keyla.


"Aku harus ke Bogor sekarang," lanjut Keyla.


"Kamu bercanda wajah kamu pucet Key dan badan kamu panas," ujar Edwin seraya menyentuh kening Keyla.


"Entar pasti enakan aku gak papa kok," ucap Keyla.


"Nggak bisa kamu di rumah aja," larang Edwin.


"Nggak bisa Ed semua udah di disiapin di Bogor dan aku harus berangkat sekarang" tutur Keyla.


"Ayolah Key, please aku khawatir sama kamu," ujar Edwin seraya menatap Keyla.


"I'm sorry Ed, hanya kali ini," mohon Keyla menatap Edwin penuh harap.


"Kalau gitu aku anterin kamu sampai Bogor," tungkas Edwin seketika Keyla menggelengkan kepalanya.


"Kamu ada meeting kan pagi ini, kamu bisa anterin ke agensi aja disana udah ada kak Rahma yang nunggu aku," jawab Keyla.


"Meeting bisa di tunda," ujar Edwin.


Keyla terkekeh pelan.


"Itu namanya nggak profesional Ed,"


Edwin menghela nafasnya.


"Oke kali ini aku nurut, lain kali nggak ada penolakan," ucap Edwin mengalah.


Keyla tersenyum tipis, Edwin mengecup pelan kening Keyla.


"Aku siap-siap dulu," ucap Edwin seraya beranjak dari ranjang dan memasuki kamar mandi.


Setelah Edwin masuk kamar mandi Keyla juga bersiap-siap, ia mengambil pakaian.


Saat lewat di depan cermin Keyla berhenti sejenak ia menatap dirinya sendiri lebih tepatnya ke arah perutnya.


Keyla melepas tali bathroob yang melekat pada tubuhnya, Keyla bisa melihat jelas perutnya yang masih rata, tanpa sadar Keyla memegang perutnya.


"I'm sorry seharusnya kamu belum ada disini,"