LOVE AFTER MARRIAGE

LOVE AFTER MARRIAGE
Bab55



Sudah satu bulan lamanya hubungan Keyla dan Edwin menjadi renggang. Keyla memilih mendiami Edwin, tidak peduli berapa kali Edwin meminta maaf. Keyla tetap diam bahkan sifat Keyla semakin dingin tapi meskipun begitu Keyla tetap menjalankan perannya sebagai seorang istri.


Keyla saat ini tengah menyiapkan baju Edwin dan meletakkan di atas tempat tidur, sedangkan Edwin tengah mandi.


Cklek


Pintu kamar mandi terbuka disana ada Edwin yang hanya mengenakan handuk sebatas pinggang nya. Jika dulu Keyla mengagumi tubuh Edwin yang hanya menggunakan handuk dan ingin mengurungnya seharian di kamar, tapi tidak dengan sekarang.


"Baju kamu udah aku siapin," ucap Keyla, karena tidak ingin berpikir terlalu jauh tentang Edwin ia berjalan ke arah kamar mandi. Keyla tidak berhati-hati kakinya tersandung karpet.


Brukkk


"Keyla!" Pekik Edwin, beruntung ia bisa mencegah tubuh Keyla yang hampir menyentuh lantai.


Keyla memejamkan matanya erat, sangat erat.


"Hati-hati kamu nggak inget kalau lagi hamil," ucap Edwin seraya mengangkat tubuh Keyla dan membawanya ke atas ranjang.


Keyla hanya diam saja, dia terlihat sedikit syok, kejadian terkahir kali ia masuk rumah sakit karena hampir keguguran. Dan ia tidak mau masuk rumah sakit lagi karena jatuh.


Keyla mengatur nafasnya pelan ia menatap dingin Edwin yang tengah menatapnya khawatir.


"Makasih," ucap Keyla dingin.


"Lain kali hati-hati," kata Edwin mengingatkan.


Keyla tidak menjawab, ia segera berdiri dari ranjang.


"Keyla tunggu," ucap Edwin.


Cup


Keyla mematung di tempatnya, Edwin tiba-tiba mencium keningnya cukup lama.


"Maaf Key," ucap Edwin melepaskan ciumannya dan menatap Keyla dalam.


Keyla masih terdiam di tempatnya. Enggan untuk menjawab permintaan maaf dari Edwin. Ia terlalu sering mendapatkan kata maaf dari Edwin, Keyla selalu memaafkannya dan pada akhirnya Edwin mengulang kesalahannya lagi.


Keyla memundurkan langkahnya ia menjauh dari Edwin dan segera keluar dari kamarnya.


•••


Keyla mengambil beberapa sayuran dan mulai memotong-motongnya dengan pelan, tangannya lihai dalam memegang pisau tapi karena tidak berhati-hati pisau itu melukai jari Keyla.


"Shh," rintih Keyla ketika mendapati jarinya teriris pisau.


Keyla segera berjalan ke arah wastafel dan membasuh darah yang keluar dari tangannya dengan air. Setelah di rasa darahnya sudah berhenti, Keyla memilih duduk di kursi meja makan. Keyla diam, semakin hari perasaannya semakin buruk. Ingatan tentang Edwin yang mabuk berat dan pulang larut malam bersama Keysa selalu berputar di kepalanya. Pikiran aneh selalu menghantuinya.


"Keyla" panggil Edwin, dengan cepat Keyla menurunkan tangannya yang berada di atas meja.


Keyla hanya menatap Edwin datar sedatar-datarnya.


"Hm" jawab Keyla singkat.


Edwin mendekat ia memegang tangan Keyla.


"Aku kangen sama kamu Key" ucap Edwin, Keyla menarik tangannya.


"Oh, tapi aku enggak," jawab Keyla. Sebenarnya ia juga merindukan suaminya tapi ia masih tidak ingin memaafkan Edwin.


"Udah satu bulan kamu diemin aku Key, salah aku apa? Aku mabuk karena pikiran aku waktu itu berantakan, dan aku udah minta maaf sama kamu berkali-kali," ucap Edwin menatap Keyla intens.


"Tanya sama Keysa apa yang udah kamu perbuat," kata keyla lalu beranjak dari tempatnya dan kembali ke kamar dan mengunci pintu kamarnya.


Sedangkan Edwin bingung apa yang di maksut oleh Keyla. Kenapa ia harus bertanya kepada  Keysa.


Edwin menyusul Keyla ke dalam kamar, tapi saat berusaha membuka pintu kamar pintunya di kunci dari dalam.


"Keyla kenapa di kunci?" Tanya Edwin.


Cklek 


Pintu kamar terbuka memperlihatkan Keyla yang sudah rapi dengan pakaiannya. Keyla menggunakan baju berwarna coklat pendek dengan sepatu yang menghiasi kakinya.


"Mau kemana Key, kamu pakek baju sependek itu?" Tanya Edwin menatap pakaian Keyla tidak suka.


"Keluar," jawab Keyla menggeser badan Edwin tapi Edwin menahan Keyla.


"Maksut kamu apa nyuruh aku tanya sama Keysa?" Tanya Edwin.


Keyla menggeser badan Edwin.


"Minggir, aku bakalan maafin kamu kalau kamu udah tau." ucap Keyla melenggang pergi dari hadapan Edwin.


•••


"Sin, Hana kemana?" Tanya Keyla pada Sinta. Saat ini Keyla tengah berada di cafe Hana tapi ia tidak menemukan pemiliknya.


"Tumben tu anak," gumam Keyla.


"Sin aku mau Cappucino kayak biasanya," ucap Keyla.


"Es nya di banyakin kan?" Tanya Sinta, Keyla mengacungkan jempolnya.


Setelah itu Keyla memilih duduk di salah satu kursi cafe. Keyla mengeluarkan hpnya dari dalam tas ia akan menghubungi Hana.


Saat membuka room chatnya dengan Hana, Keyla sedikit terkejut karena tanggal aktif Hana adalah seminggu yang lalu.


Keyla menutup room chatnya ia mencari kontak nomor Hana dan memanggilnya, tapi ternyata hpnya tidak aktif juga.


"Tumben hpnya Hana mati," gumam Keyla.


Keyla sepertinya harus datang ke rumah Hana dan memastikannya.


"Sin, aku langsung aja deh," ucap Keyla kepada Sinta yang kebetulan tengah berjalan ke arahnya.


"Lah kenapa?" Tanya Sinta.


"Mau ke rumah Hana, aku jadi curiga tu anak kenapa-napa," ucap Keyla sedikit hawatir.


Sinta terkekeh pelan. "Engga lah, kalau mau ketemu mbak Hana langsung ke apartemennya saja" beritahu Sinta.


"Thanks infonya, aku bawa ya, nih uangnya," ucap Keyla meletakkan satu lembar uang lima puluh ribu di meja cafe.


"Kembaliannya," kata Sinta.


"Nggak usah deh Sin, aku buru-buru," ucap Keyla segera melenggang pergi dari cafe.


Keyla menjalankan mobilnya menuju apartemen Hana seperti yang di beri tahu Sinta. Perjalanan yang ia tempuh cukup lama sekitar tiga puluh menitan karena jalanan Jakarta sangat macet. Padahal dalam waktu sepuluh menit harusnya sudah sampai jika jalanan lancar.


Keyla memarkirkan mobilnya lantas ia segera bergegas menuju lobby. Menaiki lift, Keyla pun sampai di lantai 9.


Sekarang Keyla tengah berdiri di depan pintu apartemen Hana.


Sudah beberapa kali Keyla memencet tombol bel dan memanggil nama Hana tapi nihil tidak ada jawaban dari dalam. Keyla tidak memiliki kartu akses untuk masuk ke apartemen Hana, Al hasil ia hanya bisa menunggu di luar.


Keyla menghela nafasnya.


"Kamu dimana sih" gerutu Keyla.


"Keyla" Panggil seseorang.


Keyla menolehkan kepalanya orang yang memanggilnya adalah Malvin. Awalnya Keyla terkejut tapi dengan cepat ia menetralkan wajahnya.


"Kamu ngapain disini Key?" Tanya Malvin.


"Bukan urusan kamu," jawab Keyla menatap Malvin tidak suka.


Malvin tersenyum manis sambil menatap Keyla,


Kayla memang tidak pernah berubah. Masih sama seperti saat bersamanya.


Keyla yang mendapati Malvin tersenyum, rasanya ingin mencakar wajah Malvin sekarang. Keyla akui jika Malvin sangat tampan tapi tidak dengan kelakuannya yang sangat minus.


"Saya nggak ada niat apa-apa Key, saya cuman mau kamu maafin saya, sesimple itu," ucap Malvin. Ia berharap Keyla memaafkannya walau hubungannya tidak dapat kembali seperti dulu setidaknya ia mendapat maaf dan bisa berteman dengan mantan kekasihnya.


"Simple menurut kamu tapi rumit bagi saya," ucap Keyla menatap Malvin muak.


"Jujur saya nyesel ninggalin kamu, kamu cewek baik yang udah saya sia-siakan," tutur Malvin.


Keyla terkekeh.


"Bullshit Vin! Saya sudah tau semua keburukan kamu, kalau dulu kamu emang sayang sama saya, kamu nggak bakalan ninggalin saya demi perempuan lain, oh ya dan satu lagi mungkin sekarang saya masih tetep sama kamu kalau kamu gak berhianat, dan asal kamu tau saya sayang sama kamu, tapi itu dulu bukan sekarang," ujar Keyla menggebu-menggebu dengan perasaan yang sudah mulai goncang.


Cklek


Tiba-tiba saja pintu apartemen Hana terbuka.


"Keyla" Panggil Hana, detik selanjutnya Hana terdiam menatap seseorang yang tengah bersama dengan Keyla.


"Malvin!" Ucap Hana menatap Malvin tidak percaya.


Keyla menarik Hana masuk ke dalam apartment dan menutup pintunya dengan keras.


"Key, dia Malvin kan?" Tanya Hana masih syok dengan yang dilihatnya barusan.


Keyla tidak menjawab. Tubuh Keyla merosot begitu saja di lantai ia menangis.


"Kenapa semua cowok sama aja Han, aku capek semua nyakitin aku," ucap Keyla di sela-sela tangisannya.


"Key, kamu kenapa?" Tanya Hana khawatir.


Keyla tidak menjawab ia malah menangis tersedu-sedu, sedangkan Hana memilih memeluk Keyla dan mencoba menenangkannya.