
Sore harinya di rumah sakit.
Edwin menatap jam tangan menunjukkan pukul setengah enam, sedari tadi ia tidak bisa meninggalkan Keysa karena Keysa sempat pingsan tadi dan beruntung kata dokter Keysa tidak apa-apa. Edwin menghembuskan nafasnya kasar ia segera meninggalkan rumah sakit ia akan pulang dan menemui Keyla.
Tiga puluh menit perjalanan dari rumah sakit, Edwin telah sampai di rumah nya. Ia memasuki rumahnya hal pertama yang ia lihat adalah Keyla yang baru saja turun dari tangga. Awalnya Keyla sedikit terkejut karena mendapati Edwin yang menatapnya tajam.
Keyla berusaha mengabaikan Edwin dan menuju dapur tapi nyatanya Edwin malah menarik tangannya keluar dari rumah.
"Edwin" Pekik Keyla karena Edwin menyeretnya begitu saja memasuki mobil dan menutup pintu mobil dngan kencang.
"Diem Keyla! Sejak kapan kamu jadi pembangkang seperti ini liat apa yang sudah kamu perbuat!" Ucap Edwin terdengar murka.
Keyla terdiam tidak menjawab ucapan Edwin.
Edwin memukul setir mobilnya dengan keras hingga membuat Keyla memekik, kemudian dengan tanpa bersalahnya Edwin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi tidak peduli dengan beberapa mobil yang mengklakson nya, sedangkan Keyla ia mati-matian menahan iskan keluar dari bibirnya.
Sesampainya di rumah sakit.
Edwin lagi-lagi membawa paksa Keyla. Menariknya kencang untuk menyamai langkahnya sampai membuat orang-orang keheranan menatap mereka berdua.
"Liat gara-gara kamu dia keguguran keyla! Anak yang seharusnya hidup sudah kamu bunuh, salah Keysa apa sampai kamu perlakukan dia seperti itu!" Sentak Edwin.
"Udah puas," Ucap Keyla ia menatap Edwin yang baru saja meneriakinya.
"pernah nggak kamu mikir hancurnya aku gimana, pernah nggak kamu mikir sakitnya gimana, pernah nggak kamu ngerasain gimana sakitnya jadi aku haaa! sakit Ed sampai rasanya aku mau gila!" Ucap Keyla isakannya lolos di bibir mungilnya.
Edwin terdiam.
"Minta maaf ke Keysa" ucap Edwin membawa Keyla kedalam ruangan Keysa tapi Keyla melepaskan tangan Edwin paksa
"Nggak akan! Dia pantes dapetin itu dan aku? Aku nggak akan minta maaf!" Ucap Keyla tanpa rasa bersalah karena bukan ia yang membuatnya keguguran.
"KEYLA!!" Bentak Edwin ingin menampar Keyla, tapi tangannya terhenti begitu saja.
"Tampar Ed!! Kalau perlu bunuh aku sekalian!!" Teriak Keyla di penuhi dengan isakan tangis.
Edwin terdiam ia mengacak rambutnya frustasi, ia menatap Keyla.
"Aku mohon Key jangan mempersulit semuanya aku cuman butuh permintaan maaf kamu ke Keysa, udah itu aja cukup. Keysa dia terpukul karena hal ini," ucap Edwin mulai menurunkan nada bicaranya.
Keyla menatap Edwin.
"Lepasin aku Edwin, bebasin aku dari status istri kamu, aku udah nggak bisa, udah cukup aku bertahan tapi nyatanya semua sia-sia," ucap Keyla.
Edwin tak bergeming.
"Aku nggak tahan Edwin, bebasin aku sekarang juga," parau Keyla.
Keyla menatap Edwin, sorot matanya meredup.
"Aku nggak tahan Ed,"
"Nggak akan ada kata perceraian," ucap Edwin datar ia memilih beranjak dari hadapan Keyla, tapi Keyla menahan lengan Edwin.
"Lepasin!" Sentak Edwin.
"Aku nggak kuat Ed, sakit banget rasanya, aku mohon," ucap Keyla parau.
Edwin terdiam cukup lama tanpa menjawab ucapan Keyla sama sekali, ia menghembuskan nafasnya kasar lantas ia menatap Keyla.
"Aku Edwin Pradipta Siswanto sekarang juga aku talak kamu Keyla Deolinda" ucap Edwin.
Keyla menutup mulutnya rapat-rapat isakannya tidak bisa ia tahan kembali, dadanya sakit tapi ia harus menahannya dan menerima kenyataannya. Akhirnya Edwin mengucapkan talak kepadanya.
"Itu kan yang kamu mau, aku udah turuti," ucap Edwin menatap datar Keyla.
Keyla tidak menjawab ia segera beranjak dari tempatnya dengan hati yang amat terluka, air matanya sedari tadi mengalir membasahi pipinya, rasanya sakit ketika berusaha tegar dalam keadaan seperti ini, Keyla memang memintanya dan berharap ia tidak menyesali keputusannya.
Setelah Keyla pergi air mata Edwin jatuh begitu saja membasahi pipinya, perkataan Keyla amat sangat menyakitkan bagi hatinya, baiklah Edwin akan mengalah jika ini adalah yang terbaik bagi Keyla.
Keyla kembali ke rumah, ia membereskan baju-bajunya ke dalam koper dengan isak tangis yang memilukan.
"Mama tau kok ini sakit buat kamu juga, tapi mama ngga bisa bertahan sayang, mama nggak bisa," ucap Keyla parau.
Selesai membereskan semua pakaiannya, Keyla langsung keluar dari rumah dan menaiki mobilnya, biarlah malam ini menjadi malam yang terburuk baginya, tapi mulai esok Keyla akan merubah garis takdirnya agar tidak seperti saat sekarang.
•••
Keyla berdiri di depan pintu apartemen Raka, air matanya sedari tadi tidak bisa berhenti. Tangannya berusaha mengelap air matanya tapi sayang semuanya tidak berguna.
Cklek.
Pintu apartemen di buka, Keyla seketika langsung memeluk Raka yang berada di hadapannya.
"A..aku udah nggak kuat Ka," ucap Keyla memeluk Raka erat, bahunya bergetar hebat. Isakannya terdengar menyakitkan bagi siapapun yang mendengarnya.
Raka terdiam tanpa bertanya apapun, Raka langsung membalas pelukan Keyla.
Raka berusaha menenangkan Keyla, tangannya bergerak untuk menangkup wajah Keyla.
"Besok kita pergi," ucap Raka.
Keyla terisak kepalanya mengangguk pelan.
"Bawa aku sejauh mungkin Raka, aku bener-bener nyerah,"
Raka mengangguk lantas ia mengecup puncak kepala Keyla.
"Jangan nangis, hati aku sakit liat kamu kayak gini,"
Keyla mengusap pelan air matanya, ia menatap Raka.
"Capek ka," ucap Keyla lagi.
"Aku tau," ucap Raka.
Raka membawa Keyla ke dalam apartemen nya. Keyla duduk di sofa.
•••
Raka sedari tadi menyuruh Keyla untuk mengisi perutnya tapi sayangnya ia selalu menolak dan memilih diam di sofa apartemen Raka, sesekali isakan keluar dari bibir mungilnya.
"Makan ya Key, kalau kayak gini terus aku takut kamu kenapa-napa," ucap Raka seraya mengusap kepala Keyla.
Keyla menggeleng.
"Mana bisa aku makan Ka, sakit banget rasanya aku bener-bener nggak nyangka masa depan aku Kayak gini," ucap Keyla.
"Hey dengerin aku, mungkin ini awal kebahagiaan untuk kamu, kita nggak tau apa yang terjadi sama masa depan," ucap Raka menggenggam tangan Keyla.
Keyla terdiam tapi sepertinya ucapan Raka akan mustahil bagi dirinya. Keyla tidak tau apakah ia kuat berdiri di kakinya sendiri atau tidak. Keyla tidak bisa membayangkan jika anaknya kelak menanyakan dimana papanya.
Sakit pastinya ketika terlahir tanpa seorang ayah. Keyla takut saat anaknya beranjak dewasa menjadi bahan cemoohan orang karena tidak ada ayah di sampingnya.
"Makan key demi anak kamu," ucap Raka.
Keyla terisak lantas ia mengangguk pelan, Raka tersenyum ia menyodorkan sendok ke mulut Keyla.
"Aku bisa sendiri," ucap Keyla mengambil alih sendok di tangan Raka.
Raka mengangguk, ia lantas beranjak menuju balkon apartemen nya dan menghubungi seseorang.
"Siapkan pesawat pribadi karena saya ingin kembali ke Canada," ucap Raka setelah itu ia memutuskan panggilannya.
Raka menatap Keyla yang terdiam di sofa, hatinya sakit saat melihat Keyla tanpa tenaga, dan Mulai saat ini Raka berjanji ia akan membahagiakan Keyla apapun caranya meskipun ia harus mati sekalipun Raka akan melakukannya.