LOVE AFTER MARRIAGE

LOVE AFTER MARRIAGE
Bab33



"Secepatnya aku ingin kamu hamil," ucap Edwin menatap Keyla, seketika wajah Keyla berubah menjadi pucat pasi. Tubuh Keyla membeku seperti patung. Bedanya, Keyla masih bernafas yang menandakan kalau ia masih hidup.


"Hamil?" Beo Keyla memastikan apakah yang di dengarnya keliru. Tapi kata-kata itu terus berputar di kepalanya.


"Kenapa? Kamu belum siap?" tanya Edwin lalu ia mengubah posisinya menjadi duduk.


Keyla sedikit syok saat mendengar kata hamil yang Edwin ucapkan. Ia gelagapan, bukannya ia tidak siap tapi ia terikat kontrak dengan Rahma, jika ditanya apakah Keyla ingin mempunyai anak atau tidak. Maka jawabannya tentu saja Keyla akan menjawab iya, memangnya perempuan mana di dunia ini yang tidak ingin mempunyai anak. Keyla  hanya ingin menunda bukannya tidak ingin.


"A..aku siap kok," jawab Keyla seraya tersenyum kaku.


"Kita usahain ya" ucap Edwin seraya mengecup singkat kening Keyla.


Keyla memejamkan matanya ketika bibir tipis Edwin menyentuh dahinya. Ada rasa bersalah ketika Keyla yang sepertinya tidak bisa memenuhi permintaan dari Edwin. Bagaimanapun caranya Keyla harus bisa menunda kehamilannya tanpa di ketahui Edwin.


"Kamu mau bilang apa hmm?" tanya Edwin.


Pikiran Keyla seketika menjadi blank. Tidak ada kata-kata yang bisa ia ucapkan. Keyla menatap Edwin sedikit takut. Keyla memegang lengan kiri Edwin dan menggenggamnya.


"Maaf," ucap Keyla.


Edwin tersenyum menatap Keyla.


"Kenapa minta maaf kamu ada salah sama aku?" tanya Edwin seraya menggenggam balik tangan Keyla.


"Kesalahan aku banyak Ed, salah satunya aku harus tetap jadi model," lirih Keyla, akhirnya pikirannya kembali lagi.


Edwin terdiam dengan tatapan matanya yang tidak bisa Keyla artikan.


"Im sorry Ed aku tau kamu kecewa karena ak.."


"Ssttt its okey, cukup kasih aku satu alasan kenapa kamu berubah pikiran?" tanya Edwin menatap Keyla dalam.


"Aku nggak berubah pikiran, ini semua karena aku terikat kontrak," jelas Keyla.


"Aku bisa putusin kontrak itu kalau kamu mau," ucap Edwin.


Keyla menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak bisa,"


"Kenapa ngga bisa, aku bisa lakuin apapun termasuk memiliki agensi model yang menaungi kamu," ucap Edwin serius.


Keyla terdiam memang benar yang di katakan Edwin, jika ia bisa melakukan apapun, mengingat Edwin adalah salah satu CEO muda berusia 27 tahun yang terbilang sangat sukses. CEO yang berpengaruh di kota Jakarta, bahkan luar negri. Memangnya apa yang tidak bisa di lakukan Edwin?


"Maaf Ed tapi aku harus profesional," ucap Keyla menatap Edwin lekat.


Edwin tersenyum tipis ia mengacak rambut Keyla.


"Aku hargai jika itu keputusan kamu," ucap Edwin masih menunjukkan senyumannya.


"Kamu ga marah?" tanya Keyla serius.


Edwin menggeleng.


"Beneran?" tanya Keyla sekali lagi.


"Udah sore sebaiknya kamu pulang," jawab Edwin.


"Tapi aku belum selesai bic..."


Cup


"Hati-hati di jalan aku ada meeting mendadak," ucap Edwin mengecup singkat kening Keyla dan beranjak dari tempatnya.


"Meeting lagi, are you seriously, barusan kan udah," kata Keyla menahan tangan Edwin agar tidak pergi.


"Tunggu aku di rumah jam 7," ucap Edwin tersenyum singkat dan melepaskan tangan Keyla begitu saja dan beranjak dari ruangan kerjanya.


Keyla menatap pintu yang barusan tertutup rapat.


Ada perasaan mengganjal dalam hatinya ketika Edwin pergi meninggalkannya sendiri di ruangannya.


Keyla menghela nafasnya pelan ia mengambil tas nya dan keluar dari ruangan kerja Edwin.


Saat keluar dari ruangan Edwin, Keyla tidak sengaja berpapasan dengan Juna.


"Habis ketemu Edwin?" tanya Juna dari arah berlawanan.


"Heum. Jun, Edwin ada meeting lagi ya?" tanya Keyla.


Juna menggeleng.


"Meeting udah selesai dari tadi," jawab Juna.


Keyla menggigit bibir bawahnya pelan, apakah dia salah karena membuat Edwin sampai harus berbohong kepadanya.


"Makasih Jun, saya pergi dulu," ucap Keyla berpamitan kepada Juna.


"Okee, kamu hati-hati," jawab Juna yang di angguki Keyla.


•••


Keyla meletakkan tasnya di dalam kamar dan merebahkan badannya di ranjang begitu saja.


Perjalanan dari kantor sampai rumah lumayan melelahkan karena satu jam Keyla terjebak macet dan ia baru tiba di rumah pukul 6 sore.


Keyla meletakkan ponselnya ia memilih mandi dan berendam air hangat untuk menenangkan pikirannya yang sedikit berantakan. Karena bimbang memikirkan Edwin.


•••


10 menit kemudian Keyla keluar kamar mandi hanya menggunakan bathrob, Keyla mengambil pakaian santainya dan memakainya.


Selesai berganti baju, Keyla pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk dirinya dan juga Edwin, karena setengah jam lagi Edwin akan pulang.


Keyla hanya memasak nasi goreng dan beberapa lauk kesukaan Edwin.


Tidak butuh waktu lama makanan sudah tertata rapi di meja makan.


Keyla melirik jam yang tergantung di di dinding dapur menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit, mungkin Edwin terjebak macet pikir Keyla.


Keyla menunggu Edwin di meja makan tapi setengah jam kemudian Edwin belum juga datang, hal itu membuat Keyla resah. Keyla beranjak dari meja makan berniat mengambil hpnya yang ada di dalam kamar tapi bell rumhnya barusan berbunyi.


Dengan cepat Keyla pergi ke ruangan depan dan membuka pintu rumahnya, ia melihat Edwin yang masih rapi dengan setelan jasnya.


"Aku udah nungguin dari tadi," ucap Keyla menatap Edwin.


"Maaf udah buat kamu nunggu," kata Edwin, Keyla menggelengkan kepalanya ia mengambil alih tas kerja Edwin dan menggandeng tangan Edwin memasuki rumah.


"Aku ke kamar dulu," ucap Edwin.


"Makan dulu, aku udah masak buat kamu," ucap Keyla meraih dasi Edwin dan melonggarkannyam


"Kamu aja duluan, entar aku nyusul," jawab Edwin.


"Engga, sekarang makan dulu," kata Keyla.


Edwin menghela nafasnya ia menuruti perkataan Keyla.


Keyla menyiapkan piring untuk Edwin dan mengambilkan masakannya ke piring Edwin.


Selesai menyiapkan makanan untuk Edwin, Keyla memilih untuk duduk di samping Edwin.


"Kamu ngga makan?" tanya Edwin ketika melihat Keyla tidak mengambil peralatan makannya.


"Kamu duluan, aku entar aja," jawab Keyla.


Edwin menatap Keyla yang sedari tadi melihatnya makan.


"Aku suapin," ucap Edwin menyendokkan sesendok nasi dan mengarahkannya ke mulut Keyla. Bukannya menerima suapan dari Edwin, Keyla malah bergerak maju dan mencium bibir Edwin.


Edwin terdiam ketika bibir hangat Keyla menyentuh bibirnya.


Bukannya membalas ciuman Keyla, Edwin hanya diam saja.


Karena tidak mendapat balasan dari suaminya, Keyla seketika langsung menjauhkn bibirnya dari bibir Edwin.


"Kamu kenapa? Marah?" tanya Keyla.


"Enggak, aku cuman capek aja, Key" ucap Edwin.


Keyla menatap Edwin sedih, jelas Edwin sedikit cuek dengannya hari ini setelah Keyla mengatakan jika ia harus tetap menjadi model.


Egois? Iya Keyla mengakui jika dirinya egois untuk saat ini.


Edwin menangkup pipi Keyla.


"Aku ngga marah sayang," ucap Edwin seraya menarik tengkuk Keyla dan mencium bibir Keyla lembut.


Keyla memejamkan matanya ia tanpa sengaja mengalungkan tangannya di leher Edwin.


Baru saja Keyla menikmati ciuman Edwin, Edwin malah melepaskan ciumannya.


"Makan dulu," ucap Edwin.


Keyla menekuk bibirnya, nada bicara Edwin sedari tadi terdengar datar di telingnya dan itu membuatnya sedikit jengkel dan membebani pikirannya.


"Jangan cemberut, aku ngga suka," kata Edwin.


"Aku tanya sekali lagi, kamu marah?" tanya Keyla masih penasaran kenapa Edwin dingin lagi padanya.


Edwin menghela nafasnya.


"Iya," jawab Edwin menatap Keyla.


"Karena apa? Kontrak itu," tanya Keyla.


Edwin tersenyum tipis.


"Udah nggak usah di bahas lagi oke," tungkas Edwin.


"Tapi kamu marah," kata Keyla.


"Makan dulu entar kita bahas lagi," ucap Edwin.


Keyla menghela nafasnya, pada akhirnya ia hanya mengangguk singkat dan memilih mengambil makanannya sendiri.