
"Maaf Key, tapi aku percaya,"
Keyla tersenyum getir, ia menatap Edwin penuh dengan luka. Edwin begitu mudahnya percaya pada Keysa padahal dia sendiri tahu bahwa Keysa tidak bisa di pegang omongannya. Apa Edwin tidak berpikir sudah berapa kali Keysa membohonginya semasa mereka masih menjalin hubungan tapi dengan mudahnya Edwin percaya begitu saja tanpa harus mencari tahu terlebih dahulu kebenarannya.
PLAKKK
"Kamu pantes dapetin itu Ed, kalau kamu masih peduli sama aku dan anak kita, pikirin apa yang akan terjadi. Jadi orang jangan mau di bodohi!!" kata Keyla lantas ia menatap Keysa.
"Dan buat kamu! Siap-siap kamu dapat ganjaran yang setimpal!" Tunjuk Keyla di depan wajah Keysa.
Keyla menarik nafas dan mengepalkan tangannya.
"Satu lagi Edwin aku tunggu kamu di pengadilan, aku mau kita cerai!"
Seketika hati Edwin seolah terhantam oleh perkataan Keyla yang amat sangat menyayat hatinya.
"Semoga kalian beruntung," ucap Keyla seraya beranjak dari tempatnya dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.
Keyla keluar dari rumah sakit dengan perasaan terluka, hatinya sakit. Oh Tuhan kenapa rumah tangganya berantakan seperti ini. Apa ini hukuman untuknya karena dulu ia nakal.
Dari kejauhan seseorang baru saja akan memasuki rumah sakit tapi sesuatu mengejutkannya.
"Keyla!" Panggilnya terdengar seperti pekikan.
Keyla menghentikan langkahnya, ia menatap seseorang yang barusan memanggilnya detik selanjutnya Keyla langsung menghambur kepelukannya.
"Raka bawa aku pergi," ucapnya Parau.
Raka yang masih bingung pun membalas pelukan Keyla.
"Kenapa Key jangan buat aku khawatir hmm?" Tanya Raka seraya mengelus pelan rambut Keyla.
"Sa..kit," ucap Keyla terisak tangannya mencengkram erat baju Raka. Raka menatap sekitar tatapannya bertemu seseorang.
Cukup lama tatapan keduanya beradu, tapi tiba-tiba Raka langsung membelalakkan matanya karena mendapati tubuh Keyla ambruk di pelukannya
"Keyla!" Pekik Raka, beruntung Raka sigap memegangi tubuh Keyla. Dengan cepat ia menggendong Keyla dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit.
Edwin menatap khawatir ke arah Keyla yang berada di gendongan Raka.
"Lepasin istri saya!" Ucap Edwin menatap Raka tajam.
"Anda tidak melihat dia pingsan, saya tunggu penjelasan anda!" Ucap Raka segera membawa Keyla ke dalam rumah sakit dan membiarkan Edwin yang sudah mengepalkan tangannya.
Tidak jauh dari tempat itu ada Keysa yang tersenyum lebar.
"Saya harap kamu cepet mati," ucap Keysa seraya beranjak dari tempatnya.
•••
Saat ini Raka dan juga Edwin tengah berada di depan ruangan Keyla karena ia tengah menjalani pemeriksaan, keduanya saling diam lebih tepatnya diam dengan pikiran masing-masing.
Cklek.
Pintu ruangan terbuka seketika Edwin dan juga Raka berdiri dari tempat duduk nya.
"Maaf suaminya ibu Keyla?" Tanya dokter tersebut menatap keduanya.
"Saya dok," ucap Edwin cepat sedangkan Raka, ia memilih diam terlebih dahulu.
"Ayo iku saya kedalam ada yang ingin saya jelaskan," ucapnya, Edwin mengangguk dan segera memasuki ruangan sedangkan Raka ia menunggu diluar.
Cukup lama Edwin mendapatkan penjelasan dari dokter, dan dia sempat mendapat teguran karena membiarkan Keyla terlalu banyak pikiran.
"Setelah ini saya harap tidak terulang lagi, kasian ibu Keyla dia sepertinya sangat tertekan sampai-sampai tidak sadarkan diri," ucap Dokter Mauretta memperingati Edwin.
"Baik dok," ucap Edwin, ia merasa bersalah tapi ia harus bagaimana lagi semua sudah terjadi begitu saja.
"Saya permisi," ucap dokter tersebut segera keluar dari ruangan Keyla.
Saat keluar dari ruangan dokter tersebut di tahan oleh Raka.
"Dok Gimana keadaan Keyla?" Tanyanya.
Dokter tersebut tersenyum.
"Tidak usah khawatir ibu Keyla tidak apa-apa hanya menunggu dia sadar saja," ujar Dokter.
"Terimakasih dok," ucap Raka
"Saya permisi," pungkasnya lantas beranjak dari tempatnya.
Raka memasuki ruangan hal pertama yang ia lihat adalah Edwin yang tengah memegang tangan Keyla.
"Anda apakan Keyla sampai dia menangis seperti itu?" Tanya Raka.
Edwin menoleh menatap Raka .
"Bukan urusan Anda," jawab Edwin dingin.
Raka terkekeh.
Edwin beranjak dari tempatnya ia menatap Raka tajam.
"Ini urusan keluarga saya! Anda tidak perlu tahu!" Tegas Edwin
Raka terkekeh.
"Oke kalau itu yang Anda inginkan tapi jangan harap Anda bisa hidup tenang kalau Keyla sudah kasih tau semua tentang Anda pada saya. Keyla sahabat saya dari kecil dan saya tahu apa yang seharusnya saya lakuin atau tidak" ucap Raka setelah itu beranjak dari tempatnya, lebih baik ia pergi dari pada harus membuat keributan dan memicu amarahnya.
Bugh
Edwin meninju tembok di depannya hingga tangannya mengeluarkan darah segar.
Edwin tidak peduli, tatapannya kini beralih kepada Keyla yang tergeletak dengan infus berada di tangannya. Edwin menghampiri Keyla ia terduduk lemas di samping Keyla. Tangannya ia gunakan untuk menggenggam tangan Keyla.
"Maaf Key, maafin aku," ucap Edwin dengan suara bergetar, biarlah dia di cap sebagai laki-laki lemah yang menangis jika ada masalah, Edwin tidak peduli persetan dengan semua itu.
Edwin menggenggam tangan Keyla sangat erat seolah tidak ingin melepaskannya.
"Maafin papa sayang," ucap Edwin seraya memegang perut Keyla yang tampak besar itu.
Keyla sebenarnya sudah bangun ia menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan isakan.
"Sakit Ed, sakit banget rasanya," ucap Keyla dengan suara parau nya.
Edwin seketika langsung terkesiap ia menatap Keyla, sama dengan pandangan terluka.
"Kamu udah sadar, mau aku panggilin dokter," ucap Edwin.
"Nggak usah bahkan dokter nggak bisa nyembuhin luka yang kamu buat sendiri," Keyla terisak, ia mengalihkan pandangannya dari Edwin dan menatap ke arah lain.
Edwin terdiam dengan perasaan bersalahnya.
"Maaf," ucapnya pada akhirnya.
"Udah berapa kali kata maaf keluar dari mulut kamu dan kamu tetap mengulang sesuatu yang buat aku sakit berulang kali, aku manusia ada saatnya aku bisa capek Ed," ucap Keyla menatap Edwin dengan pandangan sendu.
"Aku mohon Key jangan pernah berpikir akan mengakhiri pernikahan ini," ujar Edwin memohon.
"Kamu yang sudah mengakhiri semuanya Edwin, bukan aku," ucap Keyla parau.
"Demi anak kita Key, aku mohon," pinta Edwin supaya Keyla merubah keputusannya.
Keyla terpaku saat Edwin mengeluarkan air mata. Kenapa ia sangat membenci air mata Edwin yang turun begitu saja membasahi pipi nya. Keyla benci saat Edwin memohon dengan air mata menetes.
"Keputusan aku udah bulat, kita cerai setelah aku melahirkan," ucap Keyla menahan sesak di dadanya.
"Aku mohon Key jangan, aku sayang kamu," pinta Edwin menatap Keyla sendu.
"Kamu pikir aku engga, aku sayang banget Ed, lepasin tanggung jawab kamu dan kita baik-baik aja," kata Keyla terisak. Ia tidak ingin di madu.
"Andai aku bisa udah aku lepasin Keysa, tapi anak dia anak aku juga Key, dia juga punya hak," ucap Edwin.
Keyla terisak air matanya semakin deras membasahi pipinya, berhak kata Edwin? Seharusnya yang berhak memiliki nya adalah dirinya bukan Keysa, tahukah Edwin jika hatinya sekarang seperti tertancap oleh ribuan paku.
"Ed kamu boleh tanggung jawab tapi bukan dengan cara nikahin dia. Cukup kamu penuhi semua kebutuhannya sampai anak itu dewasa"
"Aku gak bisa, aku ingin bertanggung jawab sepenuhnya"
"Tapi dia bukan anak kamu, kamu nggak pernah nyentuh ibunya bagaimana mungkin dia hamil anak kamu"
"Cukup Key, aku tahu kamu berbicara seperti itu agar aku tidak bertanggung jawab" ucap Edwin membuat Keyla diam. Mau di beritahu bagaimana pun juga sepertinya Edwin tetap pada pendiriannya.
"Maaf jika aku ngecewain kamu" kata Edwin Keyla tidak menjawab.
Keyla mengusap air matanya pelan, ia terdiam cukup lama sama halnya dengan Edwin yang sedari tadi mengucapkan kata maaf, Keyla menghembuskan nafasnya sangat pelan.
"Kapan kamu nikahin dia?" Tanya Keyla dengan berat hati.
Edwin tertegun, ia tidak percaya apa yang barusan diucapkan oleh Keyla.
"Aku tau ini berat Key, tapi aku janji setelah Keysa melahirkan aku akan ceraikan dia," ucap Edwin.
Keyla meremas erat selimut yang ada di tangannya. Hatinya begitu teriris harus menerima pakta bahwa ia akan di madu.
"Kamu nggak perlu ceraikan dia, biar aku yang mundur, biar aku yang pergi, itu kan yang kamu mau sebenarnya dari awal. Aku sudah menduga bahwa kamu masih ada rasa sama mantan kamu. Dan kamu gunain kata tanggung jawab biar bisa nikah sama dia" ucap Keyla menatap Edwin dengan pandangan sangat terluka.
"Gak gitu Key, sama sekali aku sudah tidak ada perasaan apapun sama dia. Aku mohon Key demi anak kita kamu bertahan," ucap Edwin meyakinkan dan menggenggam erat tangan Keyla.
Keyla melepaskan tangan Edwin pelan, lantas ia menatap Edwin.
"Nggak usah di bahas lagi karena ini percuma, semua sudah terjadi. Kita memang di takdirkan seperti Teluk Alaska, menyatu tapi tidak akan pernah bersatu" ucap Keyla sembari mengusap air matanya dan mencoba membuat dirinya agar terlihat tegar.
"Aku janji kita akan tetap bersama dan menjadi satu untuk selamanya sampai kita melebur menjadi tanah" tutur Edwin menyakinkan.
"Gak bisa Ed kita berbeda, setiap kali hati kita menyatu pasti ada saja cobaan yang membuat hubungan kita renggang." Ucap Keyla menghela nafas lalu berkata lagi, "Jika tuhan tidak mengijinkan kita untuk bersama setidaknya aku pernah mencintaimu, Ed"
"Jangan bicara seperti itu, sampai kapanpun kamu tetap milikku aku tidak akan pernah melepaskanmu. Sekarang kamu istirahat jangan banyak pikiran, kasihan anak kita" pungkas Edwin tidak ingin berdebat lagi.