
Keysa terbaring lemas di rumah sakit, bibirnya pucat kering sudah hampir sebulan ia di rawat di rumah namun keadaannya tidak kunjung membaik akhirnya ia di larikan ke rumah sakit.
Air matanya tiba-tiba turun membasahi pipinya, dokter menjelaskan jika ia mempunyai penyakit mematikan berupa kanker stadium pertama, awalnya Keysa tidak percaya ia berusaha memberontak tapi kenyataannya ia tidak bisa.
"Kak, kakak makan ya," ucap Malvin adiknya.
Keysa menggelengkan kepalanya.
"Aku nggak mau mati kayak gini Vin, aku nggak bisa, kenapa Tuhan jahat sama aku hiks," Isak Keysa.
Malvin yang tidak tega pun langsung membawa kakaknya kedalam pelukannya.
"Kakak pasti sembuh," ucapnya.
"Aku harus apa, kenapa semua kayak gini hiks, pertama Edwin dia udah pergi dan sekarang aku penyakitan," parau Keysa.
"Kakak bisa sembuh, percaya kak jangan putus asa semua pasti ada jalannya," ucap Malvin menenangkan Keysa.
"Aku nggak mau mati Vin, aku mau Edwin balik sama aku, aku mau dia," Isak Keysa seraya mencengkram erat baju Malvin.
"Kak kamu tau kan perbuatan kamu salah, kamu udah nyakiti seseorang yang aku sayang," ucap Malvin.
Keysa melepaskan pelukan Malvin.
"Maksud kamu apa haa!! Kamu lebih milih nyalahin aku dari pada Keyla mantan sialan kamu!" Teriak Keysa frustasi.
"Kak aku mohon ngerti, Edwin suami Keyla tapi kamu berbuat kayak gini, kamu salah kak," ucap Malvin menatap Keysa berharap kalau kakaknya itu mau mengerti.
"Edwin bukan buat kakak, sadar sama kenyataan. Kamu harus terima itu apapun alasannya," lanjut Malvin.
"Pergi Vin! Kamu sama aja sialan! kalau kayak gini kenapa aku nggak mati aja sekalian!" Ucap Keysa lalu mengambil belati buah yang ada di samping.
"KAK KAMU GILA!!!" pekik Malvin seraya merebut pisau di tangan Keysa tapi semuanya terlambat karena Keysa sudah melukai tangannya hingga darah segar mengalir dari tangannya.
"Dokter!" Teriak Malvin kepada seorang dokter yang baru saja melewati ruangannya. Malvin berusaha memegangi Keysa yang sudah menangis tersedu-sedu, ia membuang pisau itu dari tangan Keysa.
"Pergi, aku mau mati!!" Teriak Keysa frustasi.
"Astaga kenapa bisa seperti ini," ucap dokter itu kebingungan, ia segera menyuntikkan obat penenang kepada Keysa.
Tidak lama kemudian perlahan tapi pasti Keysa memejamkan matanya.
"Dok," Panggil Malvin gusar.
"Tidak apa-apa anda bisa keluar saya akan mengobati lukanya semoga tidak parah," ucap Dokter itu.
Malvin menghembuskan nafasnya kasar ia keluar ruangan.
"Kenapa kamu segila ini kak!" Teriak Malvin frustasi.
Malvin menunggu dokter memeriksa Keysa. Ia bingung harus melakukan apa, orangtuanya sengaja tidak ia beritahu karena keadaan Keysa tentu saja mengkhawatirkan.
"Luka sayatannya tidak dalam, tidak apa-apa jangan khawatir," ucap dokter yang baru saja keluar dari ruangan Keysa dan menepuk pelan punggung Malvin.
Malvin menghela nafasnya pelan. Bersyukur karena luka kakaknya tidak dalam.
"Dok maaf apa penyakit kakak saya bisa sembuh?" Tanya Malvin.
Terlihat dokter itu menghela nafasnya pelan.
"Bisa tapi harapannya sedikit kecil," ucap dokter.
"apa ada solusinya?" Tanya Malvin.
Dokter Tersenyum.
"Tenanglah semua pasti akan ada solusinya, kita berharap saja dia bisa sembuh meskipun kemungkinannya sangat kecil,"
•••
Setelah berbicara dengan dokter, Malvin masuk kedalam ruangan Keysa. Ia menatap kakaknya yang masih tidak sadarkan diri dengan infus yang berada di tangannya.
"Kenapa kamu berubah kak, dulu kamu nggak sejahat ini," gumam Malvin seraya mengamati wajah Keysa yang terlihat pucat.
Tangan Keysa bergerak pelan, Malvin yang melihat itu dengan sigap langsung berdiri dan menatap kakak nya yang perlahan membuka matanya.
"Kak kamu gak papah?" Tanya Malvin.
Keysa menatap Malvin sebentar lantas ia memalingkan wajahnya dari Malvin, air mata Keysa mengalir begitu saja membasahi pipinya.
"Maafin aku" ujar Malvin pelan, ia mengusap rambut Keysa yang tergerai itu.
"Aku capek Vin," parau Keysa.
"Aku tau aku jahat tapi asal kamu tau semua yang aku lakuin cuma demi Edwin. Aku mau bawa dia balik ke pelukan aku,"
"Aku hancur setelah tau Edwin nikah," Isak Keysa.
Malvin menatap tidak tega kakaknya.
"Ikhlasin dia dan kamu bisa bahagia kak perlahan," ucap Malvin.
"Mana bisa aku lupain Edwin," bantah Keysa.
Malvin terdiam memang sulit melupakan seseorang yang pernah ada di dalam hati, apalagi orang itu mempunyai kenangan tersendiri di dalam hati.
"Kalau gitu nggak usah dilupain cukup simpan dalam-dalam rasa yang pernah ada di hati kakak" tutur Malvin.
Keysa terisak ia menggelengkan kepala nya.
"Segitu bencinya Edwin sama aku," Keysa terisak.
Malvin menghapus air mata yang ada dipipi kakaknya.
"Fokus sama kesehatan kak kalau kakak sembuh kakak bisa dapetin apa yang kakak mau," Malvin berusaha menegarkan hati kakaknya agar tidak putus asa.
Keysa memilih tidak menjawab ucapan Malvin, ia memejamkan matanya dan terisak.
•••
Edwin saat ini tengah berada di sebuah restoran, dihadapannya terdapat makanan yang sudah ia pesan namun belum di sentuhnya. Pikiran Edwin menjelajah saat tadi ia mencoba membujuk mertuanya untuk memberitahukan dimana keberadaan Keyla. Bukannya mendapatkan informasi Edwin malah di hajar habis-habisan oleh papa mertuanya.
Flashback on
"Kasih aku satu kesempatan pah, aku mohon papa bisa lakuin apapun tapi jangan jauhkan aku dari Keyla," ucap Edwin berlutut di kaki papa Keyla.
"Diam kamu Edwin! Bukannya kamu sendiri yang membuat jarak antara kamu dan Keyla!" Sentak Dana emosi.
"Pergi !" Usir Dana seraya menendang kaki Edwin
Edwin memejamkan matanya, tidak masalah ia diperlakukan seperti ini, bahkan sampai mati pun Edwin rela jika ini adalah jalannya untuk bertemu dengan Keyla.
"Maaf pah, aku memang salah tapi aku mohon kasih aku kesempatan untuk memperbaikinya," pinta Edwin memohon.
Dana yang sudah muak dengan Edwin pun mencengkram erat kerah baju Edwin hingga lecet.
"Pergi sebelum saya menghajar kamu tanpa ampun!" Tegas Dana sangat tajam.
"Papa bisa hajar aku," ujar Edwin tidak peduli meski ia harus di pukuli.
Dana mengeraskan rahangnya tangannya mengepal kuat-kuat.
Bugh
"Usir dia," ucap Sofia menyuruh bodyguard nya untuk menyeret Edwin.
Flashback off
Trakk
Edwin menatap tangannya yang berdarah barusan ia mencengkram erat gelas yang ada di tangannya hingga pecah. Edwin terkekeh pelan bahkan ia sudah mati rasa menatap tangannya yang penuh dengan darah.
"Darah, kenapa bisa kayak gini,"ujar seseorang tiba-tiba menghampiri Edwin dan duduk di sampingnya.
Edwin tidak menjawab, bahkan ia diam saja saat wanita di depannya mengeluarkan tisu dan mengelap darah yang ada di tangan Edwin.
"Edwin hey kenapa?" Tanyanya seraya membalut tangan Edwin dengan sapu tangannya.
"Ini parah sebaiknya kita kerumah sakit," ucapnya khawatir.
Edwin terdiam.
"Hana kenapa kamu nolongin saya," ucap Edwin menatap Hana yang ada di depannya.
"Nggak usah banyak tanya, kamu mikir Ed. Seputus asa itu kamu di tinggal Keyla!" Ucap Hana menatap Edwin tajam.
Edwin tersenyum miris, memang benar ucapan Hana jika ia putus asa.
"Saya bisa apa Han, kamu aja nggak mau kasih tau dimana Keyla, bahkan semua orang benci sama saya," ucap Edwin.
"Itu tandanya kamu disuruh usaha! Bukan malah putus asa," sinis Hana seraya membalut tangan Edwin dengan sapu tangan miliknya.
"Kasih tau saya dimana Keyla, saya janji saya nggak akan nyakiti dia lagi, saya mohon," Edwin terus memohon dengan penuh penyesalan.
Hana terdiam ia menyudahi aktifitas nya membalut luka Edwin.
"Sorry saya nggak mau kasih tau," Ucap Hana setelah itu memilih pergi begitu saja dari hadapan Edwin.
Edwin tersenyum miris ia kecewa dengan jawaban Hana.
•••
Ke esokan paginya.
"Dua bulan lagi kamu harus urus ini," ucap Juna menyerahkan beberapa dokumen di hadapan Edwin.
Edwin menatap dokumen di depannya.
"Gantiin saya, kamu aja yang berangkat," ucap Edwin.
Juna menghela nafasnya pelan.
"Mana bisa, kamu lebih tau proyek ini dari pada saya"
Edwin terdiam.
"Gaji kamu saya naikin tiga kali lipat," tegas Edwin.
"Ck ogah, kamu aja yang berangkat saya nolak gaji yang kamu kasih," tolak Juna karena ia tidak mengerti masalah proyek yang akan di tanganinya.
"Jun bisa nggak sekali aja bantuin saya," ucap Edwin disertai helaan nafas.
"Sorry bro saya angkat tangan kalau masalah proyek ini," Juna mengangkat tangannya menyerah.
Edwin menatap Juna.
"Oke kamu urus jadwal saya disana dan kapan saya harus berangkat?" Tanya Edwin pada akhirnya ia harus berangkat juga.
"Dua bulan lagi," jawab Juna.
Edwin menghela nafasnya ia membuka laptopnya dan menyelesaikan pekerjaannya yang belum tuntas.
"Kamu udah tau Keyla dimana?" Tanya Juna sangat hati-hati.
"Saya harap saya bisa bilang udah," jawab Edwin.
Juna menatap Edwin prihatin.
"Bukannya apa-apa ya Ed, sorry kalau perkataan saya nyakitin kamu. Seharusnya waktu itu kamu jangan mudah percaya sama Keysa mungkin kejadian ini nggak serumit ini kalau kamu lebih milih Keyla," ucap Juna.
Edwin mengentikan ketikannya di laptop.
"Begonya saya! Kenapa saya harus percaya sama orang yang udah hianati saya berkali-kali," ujar Edwin.
Juna menghela nafasnya pelan.
"Kamu cowok seharusnya kamu bisa tegas bukannya letoy, muka doang kayak tembok hati mah lembek sontoloyo" ucap Juna setengah mencibir.
"Kamu ngatain saya!" Tanya Edwin menatap Juna horor.
Juna cengengesan.
"Saya bercanda serius amat elah," Juna menciut.
Edwin tidak menjawab Juna, ia memilih meneruskan pekerjaannya.
"Keyla pasti balik sama kamu tenang aja," ucap Juna menepuk bahu Edwin kemudian keluar dari ruangan Edwin.
Edwin menghela nafasnya pelan, bagaimana jika ucapan Juna akan berbanding terbalik.
•••
Setelah Juna pergi dari ruangan Edwin ia berjalan keluar kantor karena sekarang jam nya makan siang, Juna memilih pergi ke restoran dekat kantornya.
Saat akan memasuki Restoran Juna dikejutkan karena tiba-tiba Jasnya terkena jus yang di bawa oleh seorang gadis yang ada di depannya.
"Sorry saya nggak sengaja!" Ucapnya kaget.
Juna menghela nafasnya ia menatap gadis di depannya dengan wajah kesalnya.
"Lain kali bisa hati-hati kan," ucap Juna memperingati.
"Serius saya nggak sengaja, kamu masuk aja saya bersihin jas kamu, kebetulan Resto ini saya yang punya," ucapnya merasa bersalah.
Tunggu
Sepertinya Juna tau gadis di depannya tapi siapa?
Tapi tiba-tiba saja Juna langsung teringat.
"Kamu Hana? Sahabat Keyla?" Tanya Juna cepat.
Hana mengernyit kan dahinya.
"Kamu tau saya dari mana?" Tanya Hana.
"Ada seseorang, emh Keyla kemana kok saya nggak pernah liat dia," pancing Juna sebenarnya ia hanya mencari informasi tentang Keyla.
"Keyla dia di Ca.." Ucapan Hana terhenti begitu saja, sepertinya ada yang mencurigakan. Hana memincingkan matanya mengamati cowok itu, seketika Hana langsung teringat siapa orang di depannya ini.
Hana tersenyum.
"Hahaha saya nggak sebodoh yang kamu kira. Saya tau kamu siapa. Kamu Juna! Kamu sahabatnya Edwin kan, ngaku nggak! Mau nyari informasi hmm!" Ucap Hana menatap Juna tajam.
"Sialan" Batin Juna, gagal sudah rencananya untuk membantu Edwin.
Juna terdiam ia menatap Hana.
"Lupain, tanggung jawab kamu udah numpahin jus ke jas saya" ucap Juna.
"Saya berubah pikiran," ucap Hana memilih beranjak dari tempatnya tapi Juna membisikkan sesuatu di telinga Hana.
"Oh jadi gini ya cewek yang nggak tau namanya sopan santun," bisik Juna.
Hana mendelik tajam, enak saja dirinya di bilang cewek tidak tau sopan santun.
"Buruan masuk, saya bersihin jas kamu kalau perlu sampe glowing itu jas," ujar Hana meninggalkan Juna dan masuk ke dalam.
Juna cengo.
"Glowing apaan? Berminyak iya!" Kesal Juna tidak jelas.
Juna mengikuti Hana.
"Lepasin jas kamu," titah Hana.
"Yang bersih awas aja malah kamu rusakin," ucap Juna seraya melepas jasnya.
"Baik bapak Juna yang terhormat!" Ucap Hana menyambut jas Juna dan membawanya ke kamar mandi begitu saja.
Beberapa saat kemudian, Hana keluar dari kamar mandi dengan jas Juna yang ada di tangannya.
"Nih!" Ucap Hana memberikan jas itu.
Juna tersenyum menerima jas dari Hana.
"Oke terimakasih babu," ucap Juna seraya ngacir dari hadapan Hana.
"Babuuuu!!! Kamu ngatain saya babu sialan kamu Jun!!" Teriak Hana tidak terima.
Sedang Juna sudah hilang dari pandangan Hana.
"Kenapa mbk teriak-teriak," ucap Yunita karyawan Hana.
"Ada cowok gila, lain kali usir aja kalau ada dia disini," ucap Hana memilih beranjak dari tempatnya meninggalkan Yunita yang kebingungan.
•••
Keyla menatap pintu apartemen Raka yang baru saja ia ketuk.
Tidak lama kemudian Raka muncul membukakan pintu untuk Keyla.
"Aku minta maaf," ucap Keyla menatap Raka.
Raka mengernyitkan dahinya.
"Untuk?" Tanya Raka tidak mengerti.
"Semuanya," ujar Keyla menatap Raka tidak enak.
"Apaan sih, aku gak papah emangnya aku kenapa sampai kamu harus minta maaf," ujar Raka terkekeh pelan.
Keyla menggigit bibir bawahnya, Raka malah membuatnya semakin merasa bersalah saja.
"Hari ini cek up kan, aku anterin," ucap Raka.
"Ka, aku serius minta maaf tentang masalah kemarin, aku nggak ada maksut," ujar Keyla merasa bersalah karena kejadian kemarin saat Raka mengutarakan perasaannya.
Raka menghela nafasnya pelan.
"Its oke," ucap Raka Pada akhirnya.
Keyla tersenyum kaku ia bingung harus menghadapi Raka seperti apa lagi jika ia bersikap seperti ini.
"Aku ke dalem dulu mau siap-siap," ucap Raka.
Keyla terdiam lantas ia menatap Raka.
"Nggak usah Ka, aku bisa berangkat sendiri," ucap Keyla karena merasa canggung jika harus pergi bersama Raka.
"Nggak ada penolakan," ujar Raka sebelum pergi dari hadapan Keyla.
Sedangkan Keyla menghela nafasnya pelan, Raka selalu saja berhasil membuatnya pasrah.