
Tiga hari lagi Edwin akan berangkat ke Perancis sedangkan Keyla tidak berani berbicara apa-apa kepada Edwin. Keyla masih menyembunyikan kehamilannya tidak ada yang tau selain Raka dan juga Hana.
Entah kenapa Keyla merasa jika dia memberitahu Edwin, ada sesuatu yang akan membuat hatinya mengganjal. Ia terlalu takut Edwin menyuruhnya untuk berhenti menjadi model.
Keyla saat ini tengah tertidur dalam pelukan Edwin, ia terbangun tengah malam karena merasa tidak nyaman.
Keyla menatap wajah Edwin yang terpejam. Edwin terlihat sangat tenang ketika sedang tidur.
"Edwin" Panggil Keyla lirih seraya menggoyangkan lengan Edwin.
Edwin perlahan membuka matanya.
"Kenapa?" Tanya Edwin seraya menelusupkan kepalanya di ceruk leher Keyla. Keyla terdiam sebentar tidak lama kemudian ia menjawab.
"Nggak jadi," ujar Keyla.
"Tidur sayang bentar lagi pagi," ucap Edwin memberitahu Keyla untuk tidur kembali.
"Iya aku tidur," Keyla menurut.
Edwin tetap pada posisinya ia memejamkan mata, sedangkan Keyla entah kenapa tidak bisa memejamkan matanya, bahkan ia sudah tidak lagi mengantuk.
Keyla menggeliatkan badannya sedikit, hal itu membuat Edwin membuka matanya.
"Tidur!" Titah Edwin memperingati Keyla agar tidur.
"Aku ngga bisa tidur," ucap Keyla menatap Edwin. Edwin menyadari jika Keyla akhir-akhir ini selalu terbangun tengah malam.
Edwin menyibak selimut sedikit, ia baru sadar jika Keyla menggunakan bathroob,
"Kamu kenapa pakai bathroob?" Tanya Edwin heran.
"Tadi ketiduran, kan habis mandi," jelas Keyla.
Edwin menghela nafasnya.
"Ya udah sekarang tidur," ucap Edwin.
Keyla menggelengkan kepalanya pelan.
"Yakin ngga mau tidur?" Ucap Edwin menaikkan sebelah alisnya dan menatap Keyla.
Keyla menganggukkan kepalanya pelan.
"Kalau gitu sekalian kita berdua nggak usah tidur sampai pagi," ujar Edwin membuat Keyla sedikit terkejut karena Edwin berpindah posisi menjadi di atas Keyla.
Keyla menelan salivanya kasar.
"Kamu ngapain?" Tanya Keyla gugup.
Edwin tersenyum tipis tanpa menjawab Keyla. Edwin sudah menempelkan bibirnya pada bibir Keyla.
"Kamu mau sosis" tanya Edwin sebelum ia melancarkan aksinya. Keyla hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
•••
Keyla baru saja memejamkan matanya ia benar-benar sangat lelah karena semalam full ia bersama Edwin melakukan hubungan suami istri tanpa henti.
Sedangkan Edwin dia tidak tidur dia sibuk menatap wajah Keyla yang terpejam.
Edwin tiba-tiba saja teringat sesuatu, ia membuka laci yang ada di samping tempat tidurnya dan mengambil kotak merah yang ada di sana.
Edwin tersenyum tipis menatap sesuatu yang ada di dalam kotak itu, tidak lama kemudian Edwin beralih menatap Keyla. Ia memegang tangan Keyla dan memasukan sesuatu ke dalam jarinya setelah masuk Edwin memakaikan benda yang ada di jari Keyla.
"Cantik," ucap Edwin memandangi tangan Keyla yang sangat cocok memakai cincin yang barusan ia sematkan.
Edwin meletakkan tangan Keyla, ia mendekat ke arah telinga Keyla dan membisikkan sesuatu di telinganya.
"I love you sayang, aku harap kita segera punya momongan," ucap Edwin berbisik sangat lirih di telinga Keyla. Keyla tidak mendengar ucapan Edwin karena dia memang benar-benar sudah tertidur.
Edwin beranjak dari ranjang, ia akan membersihkan dirinya karena badannya terasa lengket, dan mungkin setelah mandi ia tidak akan tidur karena sekarang sudah pukul lima pagi.
•••
Sepuluh menit berada di kamar mandi, sekarang Edwin sudah kaluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Ia mengambil beberapa pakaian santainya di lemari dan memakainya kembali di kamar mandi.
Selesai dengan itu Edwin keluar kamar dan mengambil laptopnya yang ada di ruangan kerja dan membawanya ke dalam kamar, ia akan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.
Satu jam kemudian.
Edwin sedikit meregangkan otot-otot tangannya, mengetik membuat tangannya sedikit kaku, ia memilih mengakhiri pekerjaannya.
Edwin menutup laptopnya, ia berjalan ke arah ranjang menghampiri Keyla yang masih tertidur pulas.
Edwin sedikit merapikan selimut Keyla yang sedikit menampakkan tubuh polosnya.
"Kamu gendutan sayang," ucap Edwin tersenyum geli menatap wajah Keyla yang masih setia memejamkan matanya.
Keyla melenguh tapi ia kembali tenang lagi setelah Keyla merangkul tangan Edwin dan memeluknya.
Edwin menuju dapur, saat menuruni tangga bel rumahnya berbunyi. Edwin sedikit mengernyitkan dahinya siapa yang akan bertamu sepagi ini? Pikir Edwin bertanya-tanya.
Edwin segera mempercepat langkahnya, sampailah ia di depan pintu dan membuka pintu.
Edwin terkejut bukan main di depannya ada Keysa yang tengah berdiri dan memandang wajahnya.
"Kamu ngapain kesini?" Tanya Edwin cuek.
Keysa mengusap lengannya pelan.
"Aku butuh kamu Edwin," ucapnya lirih memandangi wajah Edwin. Edwin merasa jika tatapan Keysa terlihat kosong.
Edwin berdecak seraya tertawa pelan.
"Kamu tidak capek mengulang perkataan Kamu setiap bertemu saya," ujar Edwin dingin.
"Enggak! Dan nggak akan pernah capek, sebelum aku dapetin apa yang aku mau!" Ucap Keysa terdengar memaksa.
"Kamu mau apa?" Tanya Edwin to the point.
Keysa tersenyum tipis.
"Aku mau kita balik lagi" ucap Keysa.
"Ngga ak..."
"Edwin?" Panggil seseorang dari belakang Edwin yang tidak lain adalah Keyla.
Edwin seketika berbalik dan menatap Keyla.
"Sayang kamu ngapain disini?" Tanya Edwin seraya memegang bahu Keyla.
Bukannya menjawab Keyla malah sedikit menggeser badannya dan menatap seseorang yang ada di depan pintu, hingga tatapan Keyla dan juga Keysa bertemu.
"Hai saya Keysa sahabatnya Edwin," ucap Keysa menatap Keyla.
"Sahabat?" Ucap Keyla heran, jadi selama ini Edwin mempunyai sahabat yang namanya hampir sama dengannya? Kenapa dia tidak tahu dan kenapa Edwin tidak pernah bercerita tentang sahabatnya. Ah Keyla lupa kalau Edwin adalah orang dingin, mana mau dia bercerita padanya.
"Keysa, kamu bisa pergi sekarang," ucap Edwin menatap Keysa.
Keyla menggeser Edwin sedikit. Tidak kah Edwin mau memperkenalkannya dan menyuruhnya masuk ini malah menyuruh sahabatnya pergi.
"Hai, saya Keyla istrinya Edwin," ucap Keyla tersenyum ramah seraya mengulurkan tangannya ke arah Keysa dan gadis itu menyambut tangan Keyla balik, tapi tatapan Keysa mengarah kepada Edwin. Keysa tersenyum lebih tepatnya tersenyum miring.
"Keyla kamu masuk sekarang," ucap Edwin.
Keyla menatap Edwin heran. Kenapa suaminya menyuruhnya masuk dan tadi menyuruh sahabatnya pergi.
"Edwin dia sahabat kamu, kenapa nggak kamu suruh masuk?" Tanya Keyla heran.
"Nggak usah saya pulang aja," jawab Keysa.
"Oh ya satu hal lagi, Keyla saya cuman mau bilang kapan-kapan kita ketemu lagi," ucap Keysa tersenyum kepada Keyla.
"Oke lain kali kita bisa ngobrol bareng," jawab Keyla membalas senyuman Keysa.
Keysa beralih menatap Edwin dan Edwin membuang muka.
"Aku pulang, dan aku bakalan bawa balik apa yang seharusnya jadi milik aku" ujar Keysa sebelum beranjak dari rumah Edwin.
Keyla terdiam karena perkataan Keysa, memang apa yang seharusnya menjadi miliknya. Apa Edwin mengambil sesuatu dari Keysa atau ada hal lain. Entahlah Keyla tidak tahu dan tidak mau tahu kalaupun ada sesuatu yang membuat persahabatan mereka merenggang seharusnya mereka cepat menyelesaikannya.
Edwin tidak mempedulikan ucapan Keysa, ia segera menggandeng tangan Keyla dan masuk ke dalam rumah.
"Edwin sejak kapan kamu punya sahabat?" Tanya Keyla menatap Edwin penuh tanda tanya.
"Nggak usah di bahas sayang, kamu capek kan ngapain turun kebawah," ucap Edwin.
"Kena..."
Cup
Edwin mencium bibir Keyla sekilas.
"Diam atau kita lakuin yang tadi malem," ancam Edwin dengan tatapan mesumnya.
Keyla sedikit menjauh dari hadapan Edwin tapi sebelum itu dia memukul pelan dada Edwin.
"Dasar mesum, aku capek," kesal Keyla membuat Edwin terkekeh pelan.
Ia bergerak maju dan memeluk tubuh Keyla.
"Mandi sana kamu bau," ucap Edwin seraya mengacak rambut Keyla pelan.
"Ck, mana ada aku bau," decak Keyla seraya melepaskan pelukan Edwin dan meninggalkannya begitu saja yang tertawa pelan dengan senyum manisnya.
Tapi setelah itu senyuman Edwin tidak bertahan lama setelah Keyla pergi. Wajahnya berubah menjadi dingin tanpa ekspresi, tatapannya menjadi nyalang.