
Edwin menegak beberapa kali minuman yang ada di hadapannya, malam ini dia terlihat sangat berantakan, jam menunjukkan pukul 01:00 malam tapi Edwin masih tidak ada niatan beranjak dari tempatnya untuk menyudahi aksinya.
"****!" Umpat Edwin seraya meletakkan kasar gelas yang ia pegang.
Pikirannya sedari tadi melayang ke pada Keyla yang telah ia jatuhi talak. Edwin merasakan sakit ketika mendengar Keyla menderita jika bersamanya, oleh sebab itu Edwin menjatuhi talak. Tapi sebenarnya ia tidak ingin melakukan ini tapi keadaan lah yang memaksanya. Semua ini karena kesalahannya.
Edwin menuangkan alkohol terakhirnya pada gelas lantas ia meminumnya dengan sekali teguk.
Drrrttt drrrttt
Hp Edwin berdering hal itu membuatnya melirik hpnya sebentar dan disana tertera nama Keysa. Edwin menerima panggilannya.
"Edwin kamu kemana aja dari tadi aku nungguin kamu, aku ngga bisa tidur,"
"Di luar," jawab Edwin.
"Temenin aku dirumah sakit,"
"Sendiri bisa kan aku sibuk," ucap Edwin seraya mematikan panggilannya secara sepihak.
Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi dan Edwin baru pulang ke rumah dengan keadaan mabuk badannya terkapar begitu saja di kamar tidurnya.
"Keyla aku nggak mau pisah," gumam Edwin sebelum benar-benar memejamkan matanya karena pengaruh alkohol.
•••
"Raka boleh aku minta satu hal sekarang?" Tanya Keyla.
"Boleh, apapun itu," ucap Raka.
"Anterin aku sekarang ke rumah, aku mau ketemu Edwin untuk terakhir kalinya," ucap Keyla.
Raka terdiam.
"Nggak usah Key udah larut malem, nggak baik buat kesehatan kamu di luar dingin," tolak Raka.
"Raka aku mohon, aku juga ada perlu aku mau ngasih dokumen cerai sama Edwin," ucap Keyla.
Raka mengernyitkan kepalanya.
"Dokumen cerai? Sejak kapan key?" Tanya Raka bingung.
"Aku udah urus dari kemarin, rasanya berat tapi aku harus lakuin dan pada akhirnya Edwin udah talak aku, secara agama aku emang udah cerai tapi secara hukum aku belum cerai sebelum Edwin tanda tangan surat ini," ucap Keyla menjelaskannya kepada Raka.
"Edwin talak kamu?" Tanya Raka.
Keyla tersenyum miris.
"Aku pikir Edwin nggak mau nurutin permintaan aku, nyatanya dia ucapkan kata talak di depan aku," ucap Keyla.
Raka terdiam ia menatap Keyla yang terlihat sok tegar itu tapi nyatanya hatinya hancur berkeping-keping.
"Besok aja ya Key biar orang suruhan aku yang nganter," ucap Raka membujuk Keyla.
"Ka," ucap Keyla dengan nada memohon.
Raka menghela nafasnya pelan, ia akhirnya mengangguk dan mengantarkan Keyla.
•••
"Aku tungguin disini," ucap Raka, Keyla mengangguk ia segera masuk kedalam rumahnya.
Saat memasuki rumah, semua lampu rumahnya dalam keadaan gelap. Keyla berjalan ke arah kamarnya ia sedikit terkejut saat mendapati Edwin yang tertidur di tempat tidur dengan keadaan berantakan.
Keyla mendekat memandang lekat wajah Edwin.
"Kenapa harus mabuk," gumam Keyla.
Keyla membenarkan posisi tidur Edwin dan melepaskan sepatu Edwin satu persatu, ia lantas menaikkan selimut Edwin hingga sebatas leher. Setelah itu Keyla ingin beranjak tapi tangan Edwin menarik tubuh Keyla hingga terjatuh di atasnya.
"Jangan pergi," gumam Edwin tanpa sadar.
Keyla membeku di tempatnya, tapi cekalan Edwin yang semakin mengendur seketika menyadarkan Keyla, jika Edwin hanya mengigau karena efek mabuk.
Air mata Keyla menggenang di pelupuk matanya dan perlahan tapi pasti air matanya terjatuh juga.
Keyla terisak di atas dada Edwin, ia mencengkram kuat kemeja Edwin yang sudah berantakan itu.
"Aku cinta kamu Ed, tapi nyatanya kita hanya di takdirkan seperti Teluk Alaska, bertemu tapi tidak untuk melebur menjadi satu" lirih Keyla dengan suara parau, hatinya sakit tapi nyatanya dia tidak bisa apa-apa sekarang dan Keyla harus menerima fakta bahwa statusnya sekarang bukan sebagai istri Edwin melainkan hanya mantan istri.
"Dan aku nggak bisa bertahan dengan keadaan seperti ini, jalan satu-satunya hanya merelakan," ucap Keyla Mengusap air matanya pelan, Keyla segera beranjak dari tempatnya.
"Jaga diri Edwin, aku pergi," ucap Keyla seraya meletakkan dokumen perceraiannya di atas nakas. Keyla menutup pintu kamar dan pergi keluar rumah menghampiri Raka yang menunggunya di dalam mobil.
Raka menatap Keyla yang barusan masuk ke dalam mobil.
"Jangan sedih," ucap Raka seraya mengelus pelan rambut Keyla.
Keyla menganggukkan kepalanya.
"Aku mau cepet-cepet pergi," ucap Keyla, Raka tersenyum lantas ia menganggukkan kepalanya dan setelah itu Raka menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Edwin.
•••
Matahari pagi mengusik tidur nyenyak Edwin. Matanya perlahan terbuka, hal pertama yang ia rasakan adalah pusing yang menyerang kepalanya.
"Keyla" gumam Edwin seraya melirik ke samping tempat tidurnya. Edwin seketika langsung tersadar ia langsung terduduk ingatan-ingatan tentang saat ia menalak Keyla kembali muncul. Edwin turun dari ranjang mencari Keyla di seluruh rumah tapi nihil Edwin tidak menemukan keberadaan Keyla.
Edwin mencoba menghubungi Keyla tapi hpnya sudah tidak aktif. Sepertinya semalam Keyla tidak ada di rumah.
Pyarr
Edwin sedikit terlonjak kaget ketika mendengar suara benda jatuh dari kamar Keysa. Edwin menghela nafasnya ia membuka kamar Keysa ternyata ada vas bunga yang jatuh entah apa penyebabnya. Saat Edwin akan berjalan mendekat ke vas yang jatuh itu kaki Edwin tidak sengaja menginjak kertas yang terselip di bawah nakas. Edwin mengernyitkan dahinya ia segera berjongkok dan mengambil amplop itu.
Edwin membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya lalu membuka secarik kertas yang ada di dalamnya.
Edwin membulatkan matanya, rahang nya mengeras menatap hasil tes DNA dengan hasil negatif itu. Edwin segera pergi ke ruang kerjanya untuk mengambil hasil tes DNA yang ia dapatkan dari Keysa tempo hari. Edwin membandingkan keaslian dari kedua tes DNA itu.
Edwin seketika langsung meremas kertas itu dan ia segera keluar rumah dengan amarah yang sudah memuncak. Jelas tes DNA yang hasilnya negatif yang asli dan yang positif adalah yang palsu.
Edwin mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit.
Edwin membuka pintu ruangan Keysa seketika si penghuninya langsung menolehkan kepalanya
"Edwin kamu dar..."
"Maksut kamu apa!" Ucap Edwin seraya melemparkan kertas yang sudah lecek karena remasannya tadi di hadapan Keysa.
"Ini apa?" Tanya Keysa seraya memegang kertas yang sudah sedikit lecek itu.
"Baca, kamu punya mata kan!" Ucap Edwin sudah tersulut emosi.
Keysa dengan cepat membuka kertas itu dan betapa terkejutnya dia.
"Puas kamu udah bohongin saya!" Ucap Edwin.
"A..akuuu nggak bohongin kamu Edwin, ini salah paham," ucap Keysa terbata-bata.
"Saya bodoh udah percaya sama kamu Keysa" ucap Edwin.
"Aku bisa jelasin," ucap Keysa menatap Edwin takut.
Edwin terkekeh pelan.
"selama ini, kamu jual diri sama siapa hmm," Tanya Edwin mencengkram dagu Keysa kuat.
"Ed..win sa..kit," ujar Keysa terpotong-potong seraya memegang tangan Edwin.
"****** murahan!" Cibir Edwin.
Keysa terdiam, kenapa Edwin setega itu mengatainya ******.
"Saya kira kamu bisa berubah nyatanya apa. Kamu murahan Keysa. Saya muak sama kamu! Enyah kamu dari hidup saya" Sentak Edwin seraya melepaskan cekalannya pada dagu Keysa.
Keysa memejamkan matanya setetes air matanya turun begitu saja membasahi pipinya.
"SEMUA GARA-GARA KAMU EDWIN!! AKU NGGAK AKAN KAYAK GINI KALAU KAMU BALIK SAMA AKU!!" Teriak Keysa.
"Dengerin baik-baik saya nggak sudi jadi suami kamu, mulai sekarang saya talak kamu!" Tandas Edwin lalu meludah ke samping.
"Enggak Ed aku cinta kamu jangan lakuin ini!!" Frustasi Keysa seraya memegang tangan Edwin.
Edwin menyentak tangan Keysa kasar dan melenggang begitu saja meninggalkan ruangan Keysa.
"Edwin salah aku apa!" Teriak Keysa sudah di banjiri air mata tapi tetap saja Edwin tidak menghiraukannya dan tetap keluar dari ruangan itu.
Edwin memukul setir mobil dengan kasar, kini hanya satu pikirannya.
Edwin mengotak Atik hpnya mencari nomor Keyla dan terus menerus menghubunginya tapi sedari tadi tidak ada balasan.
"Keyla aku mohon angkat," ucap Edwin gusar.
Tapi percuma saja panggilan tetap tidak terhubung. Sang pemilik nomor enggan untuk menjawab panggilannya.
Edwin yang merasa frustasi pun melemparkan hpnya membentur kaca mobil hingga membuat hp itu mati.
Edwin mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah sakit dengan cepat menuju rumah mertuanya, satu-satu harapannya hanya ada disana.
Beberapa menit kemudian Edwin sudah sampai di depan rumah mertuanya, tanpa ragu Edwin langsung masuk tapi langkahnya terhenti karena suara mama mertuanya.
"Ngapain kamu kesini udah puas buat anak saya pergi dari rumah!" Teriak mama Keyla.
"Keyla di mana mah?" Tanya Edwin.
"Gara-gara kamu Keyla pergi ke luar negeri tanpa sepengetahuan saya!" Murka Sofia, ia tahu Keyla pergi ke luar negeri dari Hana.
Hati Edwin mencelos mendengar ucapan ibu mertuanya.
"Mama bercanda, Keyla nggak mungkin pergi," ucap Edwin sudah mulai panik.
"Usir dia pah aku nggak Sudi liat wajah dia!!" Teriak Sofia.
"Keluar sebelum saya benar-benar menghajar kamu!" Ucap Papa Keyla penuh penekanan.
"Pah aku mohon," ucap Edwin.
Brakk
Pintu di banting begitu saja, Edwin terdiam ia mengusap wajahnya kasar, tidak dia tidak boleh kehilangan Keyla.
•••
Keyla saat ini sudah di dalam pesawat pribadi milik Raka dengan Raka yang berada di sampingnya, beberapa menit lagi pesawat akan lepas landas.
"Ka keputusan aku nggak salah kan?" Tanya Keyla.
"Coba mana tangan kamu," ucap Raka.
Keyla mengernyitkan dahinya, ia membiarkan tangannya di genggam oleh Raka.
"Percaya sama aku, kamu nggak salah sama keputusan kamu buat pergi," ucap Raka memandang lekat Keyla.
"Apa yang kamu takuti?" Tanya Raka.
Keyla mengigit bibirnya.
"Aku takut suatu saat anak aku nanyain papanya," ucap Keyla lirih.
Raka tersenyum.
"Kamu bisa gunain aku sebagai papa dia," ucap Raka.
Keyla terdiam karena ucapan Raka.
"Mana mungkin Ka, suatu saat kamu juga bakalan punya kehidupan sendiri," ucap Keyla.
"Udah ya nggak usah dipikirin," Raka tersenyum hangat kepada Keyla.
Keyla menghela nafasnya pelan ia memilih menatap ke arah luar jendela pesawat.
Pemberitahuan dari awak kabin jika pesawat mulai lepas landas, membuat Keyla sedikit gundah pikirannya melayang kemana-mana tiba-tiba saja ia merasakan sesak di dadanya dan setetes air matanya turun bersamaan dengan batinnya yang berbicara.
Aku mengalah bukan berati kalah. Hanya saja aku memilih pergi dan mengucapkan kata TIDAK untuk kembali. Selamat tinggal Jakarta aku pergi bukan berarti aku membenci hanya saja aku butuh tempat baru untuk memulai kembali hidupku.