
Di sebuah hutan seseorang berjubah hitam tersenyum smirk seraya menatap bocah kecil yang berbaring di hadapannya. Bocah laki-laki itu, terbaring dengan pakaian sedikit robek dengan berlumuran darah. Di pipi anak itu terdapat lebam dan juga darah dari sudut bibirnya.
Seorang sosok misterius memotret anak kecil itu, bersama pisau yang sedikit berlumuran darah. Ia sedikit menyingkap baju anak itu, memperlihatkan goresan luka yang terdapat pada perut anak itu. Ia mengambil beberapa foto anak yang terbaring tak berdaya itu.
Orang misterius itu, tersenyum jahat penuh kemenangan. Ia benar-benar tertawa puas membayangkan bagaimana reaksi orang tua bocah itu, kala mendapati foto anaknya yang sudah tak bernyawa dengan luka yang ada di sekujur tubuhnya.
Saat ini saja pasti orang tua anak itu, tengah mencarinya seharian ini. Mereka benar-benar lengah menjaga anaknya sehingga ia dapat dengan mudah membawa anak itu, tanpa kesulitan sedikitpun.
Flasback on
Sosok misterius memperhatikan semua orang yang sedang berada di pesata ulang tahun, menggunakan teropongnya. Mereka semua tampak bahagia kecuali satu orang yang tampak sedih baru saja keluar dari dalam rumah itu. Cowok itu, duduk di teras, tak lama seorang anak kecil menghampiri dan memeluknya.
Sosok misterus yang menggunakan jubah hitam, sarung tangan hitam, wajahnya di tutupi masker dan juga kaca mata hitam, menyeringai.
"Let's play game my sister," ucapnya dengan senyum evil di balik maskernya.
Dari dalam mobil itu, ia melihat ayah dan anak itu pergi dari area rumah. Sosok misterius itu, menelpon orang lain.
"Jalankan tugas kalian, buat kekacauan di kantor Winner corp," ucapnya kemudian ia langsung mematikan sambungan itu.
Sosok misterius itu, sedikit menjalankan mobilnya untuk menjauh. Ia membuka masker dan kacamatanya kemudian membuka jubah hitamnya. Terlihat rambutnya yang beruban. Di balik jubah itu, ia memakai pakaian layaknya seorang nenek tua. Wajahnya pun terlihat keriput.
"Ehem-ehem, cu, cucu," sosok itu berdehem dan menirukan suara nenek-nenek.
Sosok nenek tua itu, keluar dari dalam mobil lantas ia berjalan menggunakan tongkat. Nenek tua itu berhenti di dekat pohon yang tak jauh dari rumah yang sedang mengadakan pesta ulang tahun. Ia menunggu situasi untuk menjalankan rencananya.
Tak lama pria dan anak itu kembali, pria itu mengantar bocah kecil yang bersamanya sampai depan rumah, setelahnya ia pergi dengan terburu-buru menaiki mobilnya.
Setelah mobilnya menjauh, nenek tua itu mendekati anak yang sedang anteng memakan es krim. Nenek itu pura-pura jatuh di depan anak itu. Anak itu langsung menolongnya, seperti yang ia perkirakan.
"Nenek da papah?" tanya anak kecil itu yang di balas gelengan kepala.
"Tolongin nenek cu, nenek mau kesana, tapi kaki nenek sedikit sakit," kata Nenek tua itu terlihat meyakinkan.
"Nenek mau kemana? Lumah nenek di mana?" tanya si anak kecil.
"Nenek mau ke sana buat ambil kucing, tadi kucing nenek lari kesana, rumah nenek di samping rumah kamu," ucap nenek itu, tentunya berbohong. Ia sedikit was-was, jika terlalu lama mengobrol takut ada yang melihatnya. Tapi jika rencananya gagal, ia masih memiliki rencana cadangan.
"Kita tetangga ya nek?" Bocah kecil itu tersenyum manis padanya.
"Iya, cu, cucu mau bantu nenek cari kucing nenek," Nenek tua itu menatapnya dengan tatapan penuh harap.
"Ayo nek, Gege bantuin," bocah itu tidak berpikir panjang dan langsung percaya pada nenek tua itu.
"Makasih cu,"
Mereka pun pergi dari sana, Nenek itu jalan membungkuk dengan tongkat di tangannya. Bocah kecil itu menggandeng tangan sang nenek tua.
"Nek kucingnya mana?" tanya anak lelaki itu karena tidak melihat seekor kucing, padahal sudah cukup jauh berjalan.
"Itu di sana, kucingnya naik pohon di sebrang sana," Nenek itu menunjuk pohon yang ada di sebrang jalan, pohon yang berada agak jauh dari tempat mereka berada sekarang.
"Ayo nek kita nyebrang, da ada mobil," ucapnya polos. Merekapun menyebrang dan terus berjalan.
Saat mereka sudah dekat dengan sebuah mobil, nenek itu celingak-celinguk melihat keadaan sekitar. Tanpak sepi, tak ada siapapun. Nenek itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya lantas ia membekap bocah kecil itu dengan sapu tangan yang sudah ada obat biusnya.
Setelah anak itu pingsang, sang Nenek tua membawa anak itu kedalam mobil lantas ia pun segera melajukan mobilnya pergi dari sana. Ia membawa anak itu ke sebuah tempat yang terbengkalai, sebelum ia turun terlebih dulu ia memakai jubahnya kembali dan menutupi wajah keriputnya itu.
Ia menggendong anak itu turun dari dalam mobil, tenaganya tidak terlihat seperti seorang nenek tua. Ia memasukan kembali anak itu ke dalam mobil yang lain.
"Kalian bersihkan mobil ini, hancurkan dan bakar, ini uang buat kalian," ucapnya pada tiga orang pria yang memakai topeng.
"Siap bos,"
Setelah itu sosok Nenek tua yang sekarang menjadi misterius lagi langsung pergi dari tempat itu. Ia membawa anak itu keluar kota, tempat di mana ia akan menghabisi nyawa anak itu.
Flasback off
Dia kembali menyeringai lantas segera mengirim foto itu pada orang tua anak kecil di hadapannya.
...•••...
Keyla sudah berputar-putar mencari keberadaan anaknya, tapi tak kunjung ketemu. Orang bilang ada yang melihat Gempara bersama seorang nenek tua, setelah itu tidak melihatnya lagi karena mereka pikir itu adalah neneknya. Jadi tidak menaruh curiga sedikitpun karena Gempara juga terlihat senang bersama nenek itu.
Sekarang Keyla tengah berada di pos keamanan untuk mengecek cctv yang ada di jalan. Kebetulan di sekitar sana ada satu cctv yang mengarah ke jalan yang di lewati oleh Gempara. Ia mulai melihat rekaman Cctv itu, benar saja Gempara memang bersama seorang Nenek. Gempara terlihat menggandeng Nenek itu, mereka tampak berbicara sebentar kemudian mereka menyebrang dan setelah itu keduanya tidak terlihat lagi oleh CCTV karena tidak terjangkau.
Kelya semakin panik, ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ia tidak tahu kemana Nenek tua itu membawa Gempara. Dan apa motifnya. Gempara sudah menghilang hampir setengah hari, bahkan Edwin sudah melaporkan kejadian ini ke polisi, tapi belum ada kabar apapun mengenai Gempara.
Keyla sudah kembali ke rumahnya, orang rumah juga sudah mengecek CCTV dan mereka memberi tahu kalau Gempara tadi mengobrol dengan seorang Nenek tua di halaman depan Rumah. Awalnya Nenek tua itu terlihat jatuh dan Gempara menghampirinya untuk menolong. Gempara dan Nenej tua itu mengobrol, tak lama mereka pergi.
Ditengah suasana yang begitu serius itu, tiba-tiba saja suara notifikasi berbunyi dari hp milik Dana. Dana langsung membukanya, begitu ia membaca pesan itu ia langsung tegang. Ia tahu siapa orang yang mengirimkannya, tapi apa mungkin anak itu masih hidup setelah 25 tahun lamanya dia menghilang.
'hallo Ayah, apa kau masih ingat denganku? Sepertinya tidak, memangnya siapa aku. Aku ingin bertanya, apa sekarang kau sedang mencari cucumu, tenang saja dia ada bersama tantenya.'
Tak Hanya Dana yang mendapatkan pesan dari orang misterius itu. Sofia juga. Ia langsung membukanya dan terkejut ketika mendapati pesan itu. Keringat dingin langsung membasahinya, ia tak mengerti apa maksud dari pesan itu.
'Hallo ibu, kau ingat aku. Aku adalah anak dari seorang istri yang kau racuni, dan suaminya kau nikahi. Aku juga yang kau tuduh telah menusukan jarum pada kaki adik tercintaku. Kau menuduhku hendak membunuhnya, dan kau menyuruh ayah ku membuang diri ku ke hutan. Aduh kok, aku jadi bahas masa lalu. Aku cuma ingin memintamu untuk mengakui ke jahatanmu atau satu persatu keluargamu akan mati di tanganku seperti bocah malang yang sedang kau cari-cari.'
Disela isak tangisnya Keyla juga mendapatkan pesan. Ketika keyla membaca pesan itu, ia tak mengerti kenapa si pengirim menyebutnya saudari, padahal Keyla anak tunggal.
'Hallo Keyla saudari ku, apa kau ingat aku. Ah sepertinya tidak karena kau masih bayi pada saat itu. Aku tak ingin berbasa-basi aku ingin memberitahu, anakmu ada bersamaku.'
Keyla ingin mengirimkan pesan pada orang itu. Ia ingin tahu kenapa dia bisa bersama anaknya, tapi pergerakan tangan keyla terhenti ketika orang itu mengirimkan foto.
Orang yang mengirim pesan itu, mengirimkan beberapa foto padanya. Begitu keyla melihatnya, suara tangisnya langsung pecah. Di dalam foto itu, Gempara terlihat berbaring di tanah dengan luka di tubuhnya. Di atas perut Gempara terdapat sayatan dan sebuah pisau berdarah di letakan di atas perutnya. Orang itu juga mengirimkan video padanya untuk membuktikan jika foto itu tidak palsu dan bukan editan.
'Bagaimana apa kau puas melihat karyaku. Apa kau puas melihat anakmu sudah tak bernyawa. Uhh, aku juga berencana akan membuang jasad anakmu kesungai. Tunggu! Sepertinya tidak, biarkan saja dia di sini biar di makan binatang buas, tapi kalau kamu mau mengubur jasad anakmu, pergilah ke hutan ini. Jika kau ingin tahu tempatnya, tanyakan pada ayahmu.'
Itulah isi pesan yang di dapat Keyla, membuatnya tak bisa menahan sesak dan tangisnya. Sungguh kejam orang yang melakukan itu pada Gempara, Keyla yang syok dan tak bisa percaya pada apa yang di lihatnya, seketika langsung pingsan.
"Keyla," Semua orang yang ada di sana memekik karena Keyla pingsan secara tiba-tiba. Lena langsung menghampiri Keyla untuk membantunya.
Raka yang penasaran pun langsung melihat penyebab Keyla pingsan. Ia sama terkejut ketika melihat isi pesan itu. Raka tak bisa menahan air mata, mendapati pesan itu. Ini sangat sadis, siapa orang yang berani melakukan ini pada anaknya. Raka murka, ia tak bisa memaafkan perbuatan keji orang itu.
Raka memberikan hp itu pada Dana. Raka tak mau meminta penjelasan dari Dana mengenai pesan itu. Ia hanya ingin tahu di mana tempat yang di maksud. "Om tahu dimana hutan itu berada? Orang itu menyebutkan kalau om tahu tempatnya,"
Dana terdiam, ia sangat syok melihat cucunya terkapar di sana. Sungguh kejam orang itu, berani sekali melukai anak kecil yang tak berdaya.
"Om jawab,"
Dana mengangguk lemah, jelas ia tahu hutan yang di maksud orang misterius itu.
"Ya udah kita kesana, kita pastikan kalau semua ini tidak benar,"
"Jangan, om takut ini jebakan, dia gak mungkin setega itu melukai anak kecil," kata Dana, ia takut kalau itu hanya jebakan untuk mencelakai keluarganya lagi. Kalau memang benar Gempara ada di hutan itu, biarlah anak buahnya yang kesana.
"Jebakan apa om, sudah jelas di sana Gempara terluka, kita harus bawa Gempara kembali, apapun keadaannya," Raka sangat murka, ia ingin segera kesana. Ia ingin menemui Gempara dan memastikanya.
"Kita suruh bodyguard buat ngecek kesana, om gak mau kamu terluka,"
"Gak bisa om, aku harus kesana, aku harus nangkap orang itu, aku gak bisa berdiam diri," Raka mengepalkan tangannya. Urat kemarahan terlihat begitu jelas di lehernya, rahangnya pun mengeras dengan sorot mata penuh amarah.
Edwin dia baru saja kembali dari kantor polisi. Ia melihat Keyla yang pingsan dan Raka tampak menahan amarah. Edwin yang tidak tahu apapun langsung bertanya pada siapapun. "Ada apa, apa kalian mendapat kabar tentang gempara?"
Semua bungkam tak ada yang menjawab. Edwin yang geram karena tidak mendapat jawaban langsung merampas Hp di tangan Dana, yang ia ketahui hp milik Keyla. Edwin curiga tadi saat masuk ia melihat Raka memberikan hp itu pada Dana dan mantan mertuanya itu langsung lemas dengan mata yang berkaca-kaca.
Edwin melihat sesuatu dari sana, tubuhnya langsung merosot ke lantai. Ia tak kuasa menahan air matanya, putra kecilnya terbaring tak berdaya dengan luka. Dada Edwin langsung naik turun dengan amarah yang memuncak. Tega-teganya seseorang melukai anak kecil tak berdosa itu, siapapun orang yang berani melakukan ini pada anaknya, Edwin akan menghajar orang itu tanpa pandang bulu. Dia harus menerima pembalasan yang setimpal.