
Keyla memasuki kamar setelah membersihkan peralatan makannya dan juga Edwin. Sementara Edwin sudah berada di kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Keyla duduk di tepi ranjang seraya mengotak-atik hpnya, tiba-tiba hpnya berdering menandakan ada panggilan masuk.
"Raka? Tumben nelpon ni anak,", gumam Keyla seraya memencet tombol hijau di hpnya.
"Hallo kenapa Ka, tumben kamu nelpon aku?" tanya Keyla.
"kamu nganggur gak Key, lusa ikut ke acara kantor aku yuk?" tanya Raka dari sebrang sana.
Keyla berpikir sejenak.
"Lusa ya?" tanya Keyla.
"Iya,"
"aku ijin dulu sama Edwin, nanti kalau udah dapet jawaban dari Edwin aku kasih tau" tutur Keyla.
"oke aku harap suami kamu ngasih ijin biar aku bisa bisa selingkuh sama istrinya," jawab Raka terdengar suara kekehan.
"Bocah semprol, nyari pacar sono kelamaan jomblo entar karatan"
"Pacar aku kan kamu"
"Raka kedengaran Edwin entar salah paham" Keyla sedikit menekan nada bicaranya.
Raka tertawa, "Iya Sorry, abis kalau gak ngerayu kamu berasa sepi."
"Makanya cari pacar biar gak kesepian"
"Iya nanti aku nyari pacar di online shop"
"Gak sekalian di pasar loak"
"Boleh juga" Raka dan Keyla tertawa bersama setelah itu Raka bersuara lagi "Key udah dulu, aku tutup ya"
"hm," jawab Keyla.
Setelah itu panggilan terputus. Tak lama setelah Keyla meletakkan hpnya ke atas nakas sebuah suara mengalihkan perhatiannya.
Cklek.
Pintu kamar mandi baru saja terbuka disana ada Edwin yang sudah menggunakan pakaian santainya, dan juga rambutnya yang basah. Edwin tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Keyla menghampiri Edwin.
"Aku bantu keringin," ucap Keyla meminta handuk yang di pakai Edwin.
"Ngga usah kamu tidur aja gih udah malem," titah Edwin.
Keyla mendekatkan badannya ke arah Edwin, ia mendongakkan kepalanya menatap Edwin yang lebih tinggi darinya. Edwin menghentikan kegiatannya untuk mengusap rambutnya dengan handuk dan menatap Keyla.
"Kenapa?" tanya Edwin.
Keyla hanya menggelengkan kepalanya dan segera menjauh dari Edwin.
"Aku tidur duluan kalau gitu," ucap Keyla seraya pergi ke arah ranjang.
Keyla menutup setengah badannya dengan selimut tebal miliknya dan memilih memejamkan matanya.
Selesai mengeringkan rambutnya Edwin menghampiri Keyla dan sedikit merapikan selimut Keyla yang sedikit tergeser.
"Good night," ucap Edwin.
"Too," jawab Keyla singkat.
Keyla memilih untuk membelakangi Edwin begitu juga dengan Edwin yang langsung tidur.
Keyla menghela nafasnya pelan, ia memikirkan Edwin. Keyla tau jika Edwin mungkin kecewa dengannya tapi dirinya harus bagaimana lagi jika tidak mengatakan kepada Edwin? Mungkin Edwin akan lebih kecewa dari ini, jadi menurut Keyla mengatakan kepada Edwin adalah hal yang terbaik untuk saat ini, meskipun kenyataannya tidak.
•••
Jam satu dini hari Keyla terbangun dari tidurnya, Keyla membalikkan badannya menatap Edwin yang tengah terlelap.
"Ed," panggil Keyla seraya menggoyangkan lengan Edwin.
Edwin membuka matanya perlahan ia menatap Keyla.
"Belum tidur?" tanya Edwin.
"Kebangun," jawab Keyla.
"Tidur Key udah malem," ucap Edwin kembali memejamkan matanya.
"Udah nggak bisa," jawab Keyla.
Edwin kembali membuka matanya.
"Tidur besok kamu kerja kan," titah Edwin.
Keyla terdiam matanya mulai berkaca-kaca. Sebegitu marah kah Edwin padanya sehingga dia masih bersikap dingin padanya.
"Sorry," ucap Keyla.
"Its oke, sini aku peluk, aku tau kamu lagi kepikiran, aku ga marah kok" ucap Edwin menenangkan Keyla.
Keyla menurut ia segera mendekat ke arah Edwin dan menerima pelukannya.
"sorry Ed," ucap Keyla ternyata sudah tidak bisa menahan tangisannya.
"Gak papa sayang udah jangan nangis," ucap Edwin menghapus air mata Keyla dengan jarinya.
Keyla memeluk Edwin erat seraya sesenggukan sedangkan Edwin mengelus pelan rambut Keyla dan sesekali mengecup puncak kepala Keyla.
"Hiks aku minta maaf," ucap Keyla dengan suara paraunya.
"Ssstttt tidur yang," ucap Edwin.
Keyla menurut ia berusaha memejamkan matanya meskipun isakan masih sedikit keluar dari mulutnya tapi perlahan isakan Keyla hilang, yang terdengar hanyalah suara nafas teratur. Itu tandanya Keyla telah tertidur.
"Good night sayang," ucap Edwin lirih seraya mengecup pelan kening Keyla.
"Good night juga Ed" ucap Keyla dengan mata yang terpejam.
"Kamu belum tidur" tanya Edwin. Keyla membuka matanya dan menggeleng.
"Kenapa lagi?"
"Pengen eskrim" jawab Keyla dengan senyuman manisnya.
"Ini sudah malam sayang jangan ngaco" ujar Edwin.
"Bukan eskrim itu, tapi eskrim kamu" kata Keyla sedikit malu mengatakannya.
"Kemarin lolipop sekarang eskrim. Besok apa lagi?" Kata Edwin mengerti dengan arah pembicaraan Keyla.
"Sosis, Mayones, gulali.." belum selesai menyebutkan semuanya Edwin sudah membungkam mulut Keyla dengan ******* bibirnya. Keyla memejamkan matanya menikmati surga dunia yang di berikan oleh Edwin. Perlahan namun pasti Keyla mendesah pelan.
•••
Ke esokan paginya
Keyla menggeliatkan badannya tidak nyaman lantaran sinar matahari mengenai wajahnya, perlahan matanya terbuka.
Ia melirik ke samping ranjang ternyata di sana sudah tidak ada Edwin. Keyla menyibak selimutnya dan turun dari ranjang. Keyla mulai memakai satu persatu pakaiannya setelah itu ia berjalan ke arah kamar mandi dan mencuci wajahnya, selesai mencuci wajahnya Keyla keluar dari kamar dan mencari Edwin di bawah.
Keyla melihat Edwin tengah berada di dapur. Keyla segera menghampiri Edwin.
"Kamu ngapain?" tanya Keyla seraya melihat kegiatan Edwin.
"Buat sarapan," jawab Edwin seraya tersenyum tipis kepada Keyla.
"Nggak usah kamu duduk aja," titah Edwin
"Beneran lho entar kamu ngatain aku nggak pernah masak," ucap Keyla terkekeh pelan.
"Mana ada aku ngatain kamu kayak gitu," kata Edwin.
"Udah tua makannya pelupa," cibir Keyla langsung mendapat pelototan dari Edwin.
"Ngga takut," ucap Keyla menjulurkan lidahnya berniat menjaili Edwin.
"Gini nggak takut?" ucap Edwin seraya mendekatkan bibirnya ke bibir Keyla.
Keyla reflek menjauh.
"Edwiin" pekik Keyla.
"Apa?"
"Dasar jail," ucap Keyla memukul lengan Edwin pelan.
"Yaudah makannya duduk Key" suruh Edwin seraya tertawa kecil.
Keyla memutar bola matanya malas, ia berjalan ke arah meja makan dan duduk dengan tenang.
Keyla sesekali melirik kegiatan Edwin yang tengah menyiapkan sarapan.
"Ed mau ikut aku belanja?" tanya Keyla.
Edwin menoleh.
"Hari ini?" tanya Edwin.
Keyla mengangguk.
"Lain kali gimana hari ini jadwal kantor padat key," ucap Edwin menjelaskan.
Keyla menghela nafasnya pelan.
"Oke aku belanja sendiri aja," jawab Keyla.
"Besok aku anterin," kata Edwin.
"Ngga usah deh Ed, aku sekalian main bareng Hana,"
"Beneran?" tanya Edwin.
"Iya Ed, kamu kerja aja," jawab Keyla.
"Sorry," ucap Edwin merasa tidak enak dengan Keyla.
"Gak papa, tapi lain kali kita belanja bareng," ujar Keyla seraya tersenyum tipis.
Edwin menunjukkan jempolnya pertanda ia setuju.
"Bisa ambilin aku piring?" tanya Edwin.
Keyla mengangguk ia menggeser kursinya dan segera berdiri untuk mengambil piring di lemari dapur.
"Nih," ucap Keyla menyerahkan dua piring ke pada Edwin.
Edwin menerima piring dari Keyla dan meletakkan di meja.
"Cobain kurang apa?" tanya Edwin seraya menyuapkan hasil masakannya ke pada Keyla.
Keyla menerima suapan dari Edwin dan mengunyahnya pelan.
"Udah pas kok," kata Keyla.
Edwin segera menyiapkan hasil masakannya di piring.
"Sini biar aku yang bawa," ucap Keyla mengambil alih piring di tangan Edwin dan meletakkan makanannya di meja makan.
Edwin segera duduk di kursi mengikuti Keyla.
Keduanya memakan makanannya dengan tenang.
Selesai makan Keyla segera membersihkan dapur dan mencuci piring sedangkan Edwin terlebih dahulu pergi ke kamar untuk mandi karena hari ini ia harus berangkat ke kantor.
Selesai dengan kegiatannya Keyla memilih untuk kembali ke kamar dan menunggu Edwin selesai mandi.
Keyla membuka knop pintu kamarnya, ia berjalan ke arah lemari dan menyiapkan beberapa keperluan Edwin.
Drttt drrtttt
Keyla menoleh ke arah hp yang berdering dan ternyata itu adalah hp Edwin.
Keyla mengambil heandphone Edwin yang berdering di nakas kamar, ia mengernyitkan kepalnya saat tidak ada nama pada layar hp Edwin melainkan hanyalah beberapa angka yang berderet.
Keyla menggeser tombol hijau dan menerima panggilan tersebut.
"Halo siapa?" tanya Keyla.
Awalnya tidak ada jawaban dari sebrang sana tapi kemudian seseorang berucap.
"Edwin ada?" ucapnya bertanya.
Keyla bertambah heran ketika suara perempuan yang terdengar.
"Maaf ada perlu apa ya, nyari suami saya?" tanya Keyla to the point.
Tuuuttt tuuuttt
Panggilan terputus secara sepihak.
"Ngga jelas," ucap Keyla menatap hp Edwin.
Cklek.
Keyla reflek menoleh ke pintu kamar mandi yang terbuka.
"Tadi ada telpon," ucap Keyla memberi tahu.
"Siapa?" tanya Edwin.
"Nggak tau nggak ada namanya," jawab Keyla.
"Ooh mungkin orang iseng," ucap Edwin.
Keyla tidak ambil pusing ia segera meletakkan hp Edwin kembali di tempatnya lantas ia menghampiri Edwin dan memasangkan dasinya.
"Oh iya Ed, semalam sahabat aku ngajak aku pergi ke acara kantornya, kamu kasih ijin aku gak?" Tanya Keyla di sela-sela kegiatannya meminta ijin untuk pergi bersama Raka.
"Sahabat kamu yang mana bukanya sahabat kamu cuma Hana?" Edwin menaikkan sebelah alisnya.
"Sahabat aku gak cuma Hana ada lagi kok, namanya Raka" jawab Keyla.
"Oh"
"Kok cuma oh doang, kamu ngasih ijin aku pergi atau nggak" tanya Keyla setelah mendapat respon yang di pastikan jawabnya adalah tidak mendapat ijin.
"Nggak" jawab Edwin dingin.
"Kenapa gak ngasih ijin? Kamu cemburu ya aku pergi sama cowok" Keyla tersenyum menggoda seraya merapikan dasinya yang sudah terpasang di leher Edwin.
"Gak"
Keyla mengalungkan tangannya di leher Edwin, "Gak apa hayoo"
"Gak salah lagi" kata Edwin lantas mengecup bibir Keyla.