
Waktu menunjukkan pukul 09:20 akhirnya albi dan nadia berangkat ke rumah sakit.
Sesampainya disana albi Langsung masuk kedalam ruangan dokter, kenapa mereka tidak mengantri dulu karna sebelum mereka datang ke rumah sakit albi sudah menelpon temannya yaitu dokter rini untuk mengatakan bahwa mereka akan memeriksakan kesehatan jadi karna rumah sakit itu sebahagian adalah saham nya punya pak harry yaitu ayahnya albi, jadi wajar jika albi dan nadia mendaptkan sedikit keistimewaan atau perbedaan pelayanan dengan pengunjung lain.
"Permisi saya periksa dulu yaa.. " ucap dokter rini dengan lemah lembut kepada nadia yang saat ini sedang berbaring di atas brankar.
"Iya dok.. " Jawab nadia
Setelah dokter rini mempriksa nadia istri teman nya itu, nadia pun dipersilahkan oleh dokter rini untuk duduk di kursi yang berada didepan meja kerjanya. Dengan di bantu albi nadia menuruni brankar tersebut dan akhirnya duduk di depan meja sang dokter
"Jadi gimana rini keadaan istri ku" tanya albi membuka suara ia sudah tidak sabar lagi mendengar bagaimana kesehatan istri tercintanya.
"Istri kamu sepertinya kecapean dan mengenai keluhan yang kamu katakan sebelumnya mual/muntah itu di karenakan maag nya kambuh, jadi ini aku tuliskan resep obat nanti bisa di cek ke apotek ya"
"Dan saranku kurangi makanan berlemak dengan porsi yang besar, harus makan teratur dan jangan lupa istirahat yang cukup" ucap nya sambil menyerahkan resep obat yang ia tulis
"Baik dokter rini terimakasih banyak" ucap alana sambil mengambil resep obat yang diberikan dokter rini
"Sama-sama, panggil aja rini gausah oakai embel-embel dokter" ucap dokter rini sambil tersenyum
"I-iya ri-rini" ucap nadia merasa aneh karna tidak biasa.
"Yaudah rin makasih banyak yaa.. atas bantuan nya kalo gitu kami pamit pulang" Ucap albi sambil menggenggam tangan istrinya menuju pintu keluar
Didalam mobil albi menyalakan mesin mobilnya, setelah sebelumnya ia mengambil obat di apotek sesuai dengan resep dokter rini tadi.
Di perjalanan mereka pulang albi terus menggenggam tabgan sang istri, dengan sesekali mencium punggung tangannya.
Nadia pun tidak menolak, ia hanya duduk sambil bersandar dan memejamkan matanya karna ia masih merasa lemes.
Ketika mobil mereka berhenti di lampu merah, albi yang masih menggenggam tangan sang istri langsung mengelus tangan itu.
"Sayang.. " Kata albi sambil melihat ke arqh sang istri
" Kamu ada yang mau dibeli ngga sebelum kita sampai ke rumah" Tanya albi.
"Nadia lagi ngga kepengan apa-apa kak" Jawab nya sambil menggelengkan kepala nya.
"Bener nih ngga mau apa-apa" Tanya albi meyakinkan nadia
"Iya kak beneran" Sahut nadia sekali lagi sambil menganggukkan kepala nya.
"Ya udah kalo gitu kita langsung pulang aja" Kata albi dan di setujui oleh nadia.
Sambil menunggu lampu yang ternyata masih menunjukkan warna merah, albi meraih pundak nadia untuk bersandar pada nya saja, dan nadia langsung melaksanakan apa yang di kehendaki suaminya itu.
Nadia merebah kan kepalanya di pundak sang suami dengan masih menautkan satu tangannya dengan sang suami sambil memejamkan matanya.
Setelah lampu menunjukkan warna hijau yang artinya jalan, maka albi menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang saja menuju ke rumah mereka.
.
.
.
.
.
.
.