
"Kamu apa-apan si Key!" Sentak Edwin seraya melepaskan tangan Keysa yang memegangi lengannya.
"Kita belum selesai bicara," ucap Keysa.
"Saya sudah maafin kamu, jadi kamu bisa pergi sekarang," ucap Edwin sedikit geram karena Keysa menghalanginya untuk pergi.
"Kamu belum bener-bener maafin aku Edwin" ujar Keysa menatap sendu mata Edwin.
"Mau kamu apa?" Ucap Edwin pada akhirnya.
"Kita balik kayak dulu," pinta Keysa.
"Oke kita balik kayak dulu, bukan sebagai tunangan tapi sebagai teman," ucap Edwin segera beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Keysa begitu saja.
Keysa mengepalkan tangannya.
"Yang aku mau kamu balik seutuhnya jadi milik aku," ucap Keysa memandang punggung Edwin yang menjauh dari tempatnya.
"Dan buat istri kamu, aku bakalan lenyapin dia sampai kamu bener-bener nggak ngerasa kehilangan dia, tapi sebelum itu aku bakalan buat kamu benci sama Keyla," ucap Keysa tersenyum menyeringai dan setelah itu memilih pergi meninggalkan kantor Edwin.
•••
Edwin masuk ke dalam ruangannya, tangannya ia kepalkan tidak lama kemudian ia meninju tembok yang ada di depannya, hingga membuat tangannya terluka.
Edwin terduduk di sofa ia memijat kepalanya pelan, kedatangan Keysa sungguh memporak-porandakan hatinya, cinta yang awalnya sudah tertutup sekarang terbuka sedikit demi sedikit.
Mungkin Edwin salah akan perasaannya, ia hanya mencintai Keyla bukan Keysa. Seseorang yang pernah melukainya berkali-kali di masa lalu namun dengan bodohnya selalu ia maafkan.
Pintu ruangan Edwin di buka lebar menampakkan Juna yang menghampiri Edwin.
"Keyla udah tau semua, sebaiknya kamu pergi jelasin ke dia," ucap Juna.
Edwin menghela nafasnya berat, ia mengambil tas kerjanya.
"Saya titip kantor," ujar Edwin.
"Okeee," jawab Juna.
Setelah itu Edwin pergi meninggalkan ruangannya.
Edwin memasuki mobilnya dan menjalankannya meninggalkan kantor.
Edwin mencoba menghubungi Keyla, tapi sedari tadi panggilannya tidak di jawab padahal hpnya sedang aktif.
Apa Keyla marah dengannya?Entahlah Edwin tidak tahu dan hal itu membuat nya sedikit khawatir.
Edwin akhirnya memilih menelpon Hana, siapa tahu Keyla sedang bersamanya karena Keyla saat sedang marah padanya selalu pergi ke tempat Hana.
Tak butuh waktu lama, panggilan Edwin langsung di jawab oleh Hana.
"Hallo?"
"Ada apa Ed?" Tanya Hana dari sebrang telpon.
"Keyla lagi sama kamu?"
"nggak tuh, seharian ini belum ketemu"
"Okee, thanks,"
"emang ada apa dengan Keyla"
"Gak papa, saya cuman mau mastiin dia ketemu kamu atau enggak,"
"Oh gitu, kirain ada apa? Udah ya Ed saya lagi banyak kerjaan"
"Oke,"
Tuuut
Edwin memutuskan panggilannya. Ia segera menjalankan mobilnya menuju rumahnya, tapi saat sampai di rumah, Edwin tidak mendapati mobil Keyla terparkir di garasi rumah.
Edwin memutar balik mobilnya, tujuannya Kini adalah rumah mertuanya. Berharap Keyla ada di sana kalau tidak ada Edwin tidak tahu harus mencarinya ke mana lagi.
Tiga puluh menit mengemudi Edwin kini sudah sampai di depan rumah mertuanya dan dugaannya benar Keyla memang ada di sana.
Edwin turun dari mobil dan memasuki halaman rumah dengan sedikit berlari.
Ia memencet bel rumah mertuanya, dan tidak lama kemudian seseorang membuka pintu.
"Siang pa," sapa Edwin kepada Papa mertuanya.
Dana tersenyum ramah.
"Siang juga, nyariin Keyla nih pasti," tebak Dana.
Edwin mengangguk.
"Baik, papa sendiri?" Tanya Edwin balik.
"Baik juga, tapi ya gitu kerjaan papa numpuk di kantor," ucap Dana.
"Mengenai bisnis kamu yang ada di Perancis, kamu jadi berangkat?" Tanyanya.
"Besok aku berangkat pa," jawab Edwin.
"Kasian banget anak papa kamu tinggal, kangen tu pasti entar," kata Dana seraya tertawa.
"Aku suruh ikut dia nggak mau pa,"
"Oh ya? Alasannya apa?"
"Kerjaannya banyak pa," jawab Edwin.
Dana tersenyum tipis.
"Sebenarnya papa ngga setuju Keyla jadi model, tapi ya balik lagi ke Keyla nya, papa udah nggak bisa ngatur dia," ujar Dana karena sekarang Keyla sudah memiliki suami dan dia tidak berhak untuk mengatur Keyla karena itu sudah menjadi tanggung jawab Edwin sebagai seorang suami untuk menasehati istrinya.
"Keyla ada di kamarnya mungkin lagi tidur, kamu keatas aja papa mau nyamperin mama di belakang," ucap Dana yang di angguki oleh Edwin.
Setelah Dana pergi Edwin segera menghampiri Keyla yang berada di kamarnya.
Pintu kamar di buka perlahan, Edwin melihat Keyla tengah tertidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
Edwin menghampiri Keyla, ia mencium kening Keyla pelan.
Edwin berjongkok di hadapan Keyla, ia mengamati wajah Keyla dengan teliti. Edwin mengakui jika Keyla sangatlah cantik, tangan Edwin menyusuri wajah Keyla. Saat tepat tangannya berada di atas bibir, Keyla tiba-tiba membuka matanya perlahan.
"Bisa-bisanya aku mimpi dia ada disini," gumam Keyla memilih memejamkan matanya kembali.
Edwin tersenyum tipis, ia memegang dagu Keyla dan dengan cepat ia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Keyla. Seketika Keyla langsung membuka matanya cepat.
Tatapan Keyla dan Edwin bertemu. Edwin tidak menanggapi keterkejutan Keyla. Ia malah menutup matanya dan ******* pelan bibir Keyla layaknya eskrim, tapi dengan cepat Keyla mendorong tubuh Edwin pelan.
"Kamu ngapain disini, bukannya kamu lagi CLBK sama mantan kamu" sinis Keyla memilih mengubah posisinya menjadi duduk.
Edwin mendekat ke arah Keyla.
"Dia cuman sahabat aku sayang," ucap Edwin.
Keyla menatap Edwin galak. "Dan mantan tunangan, kalau kamu lupa,"
"Aku marah kamu nggak ngasih tau aku semuanya, dan tiba-tiba aku tau dari orang lain gimana rasanya? Sakit dan kamu bakalan tau akibatnya," ucap Keyla mengancam.
"Akibatnya?" Tanya Edwin sedikit bingung.
"Bisa jelasin?" Tanya Keyla segera mengalihkan pembicaraan nya.
"Aku memang salah nggak ngasih tau kamu dari awal kita nikah tentang masalah ini, tapi kamu tau Key aku ngelakuin itu karena apa, karena aku nggak mau buka luka lama yang pernah ada," jelas Edwin membuat Keyla terdiam dengan seribu bahasa.
Sesakit itu? Sampai Edwin tidak bisa menceritakannya.
"Lain kali aku nggak akan sembunyikan apapun dari kamu," lanjut Edwin.
Keyla hanya menatap Edwin dengan pikiran yang sudah menerawang jauh.
"Maaf," ucap Edwin.
Keyla bingung harus menjawab apa, hatinya sedikit menghangat saat Edwin meminta maaf kepadanya. Dan mulai mengerti perasaannya karena Keyla pernah mengalami rasanya berada di posisi Edwin. Apa dia juga harus memberi tahu sekarang atas ke hamilannya.
Keyla menatap Edwin lembut dengan sedikit menarik sudut bibirnya, pandangan Edwin yang terlihat sendu membuat bibir Keyla ingin mengatakannya.
"Edwin sebenarnya aku ha.."
Drtttt drtttt
Ucapan Keyla terhenti begitu saja di gantikan oleh nada dering dari handphone Edwin.
"Bentar aku angkat telpon dulu," ucap Edwin sedikit menjauh dari posisi Keyla dan menerima panggilannya.
Keyla hanya bisa menghela nafas panjang sambil menunggu Edwin.
Tidak lama kemudian Edwin menyudahi telphone nya.
"Key, aku harus pergi sekarang, ntar malem aku jemput kamu!" ucap Edwin.
"Tapi aku mau bicara,"
"Maaf nanti malem aja ya, kita bicara lagi," ucap Edwin mengacak gemas rambut Keyla.
"Aku pergi," pamit Edwin mengecup pipi Keyla dan setelah itu keluar dari kamar dengan terburu-buru.
Keyla lagi-lagi menghela nafasnya pelan, dia ingin jujur tapi ternyata waktunya tidak tepat. Edwin malah meninggalkannya begitu saja.