
Edwin keluar dari ruangan dokter, ia baru saja melihat hasil pemeriksaannya nyatanya ia hanya kelelahan saja karena kurang istirahat. Akhirnya Edwin bisa bernafas lega.
Saat ingin berjalan keluar langkah Edwin di buat terhenti karena matanya menelisik seseorang yang tengah berdiri tidak jauh dari tempatnya.
"Nggak mungkin, aku salah liat kan," ucap Edwin masih menatap seseorang yang berdiri di sana.
Edwin seketika membelalakkan matanya ketika mendapati orang tersebut melukai pergelangan tangannya hingga mengeluarkan darah segar.
Dengan gerakan cepat Edwin berlari ia langsung menghampirinya dan membuang pisau yang ada di tangan orang itu.
"Keyla!" Ucap Edwin memegangi tangan Keyla yang sudah mengeluarkan banyak darah.
Keyla terdiam ia menatap seseorang yang baru saja menyebut namanya, pandangan matanya bertemu seketika tubuh Keyla ambruk tak berdaya.
"Edwin," lirih Keyla air matanya mengalir bebas dipipinya.
"Kamu gila!" Teriak Edwin sebelum Keyla benar-benar pingsan di pelukannya.
Edwin mengangkat tubuh Keyla ia memanggil dokter untuk memeriksa Keyla.
Tiga puluh menit kemudian setelah lama menunggu, Edwin diperbolehkan untuk masuk ke dalam ruangan Keyla oleh dokter.
Edwin memasuki ruangan, hal pertama yang ia lihat adalah Keyla yang menangis dengan diam, tanpa ba-bi-bu Edwin langsung memeluk tubuh Keyla.
"Tau nggak Key, aku khawatir sama kamu aku berusaha nyari kamu di mana-mana tapi ketika aku ketemu kamu kamu malah mau bunuh diri, kenapa?" Tanya Edwin khawatir.
Sedangkan Keyla entah sejak kapan ia memeluk Edwin erat, ia mencengkram kemeja Edwin hingga kusut dan tangisannya pecah.
"Aku mau mati aku nggak bisa hidup kayak gini, sakit Ed" parau Keyla.
Edwin melepaskan pelukannya, ia menangkup pelan pipi Keyla.
"Maafin aku sayang," ucap Edwin mengecup pelan kening Keyla.
"Hiks dia nggak ada Ed, aku harus gimana hiks," ucap Keyla sekali lagi.
"Siapa yang nggak ada Key?" Tanya Edwin bingung.
"A..na..ak kita hiks,"
Bagai terhantam oleh batu Edwin seketika langsung membeku di tempat karena ucapan Keyla.
"Ma..maksut kamu?" Tanya Edwin.
"Semua gara-gara aku, andai aku nggak ceroboh pasti dia masih ada," ucap Keyla terbata-bata.
Seketika Edwin langsung meneteskan air matanya. Tidak sanggup untuk membendung air mata agar tidak menangis Edwin benar-benar sangat terpukul atas apa yang menimpa bayinya.
Tanpa berkata apapun Edwin memeluk Keyla, air matanya mengalir dipipinya.
Tidak jauh dari tempat mereka berada, Raka melihat keduanya tengah berpelukan. Raka tersenyum kecut padahal ia pergi hanya sebentar tapi saat kembali ia malah dikejutkan dengan kedatangan Edwin yang ada di ruangan Keyla. Keyla terlihat sangat tenang berada di pelukan Edwin. Sepertinya harapan Raka hanya sebatas hayalan untuk bisa bersama Keyla.
"Aku ngalah Key kalau itu bisa buat kamu bahagia,"
•••
Keyla menatap gundukan tanah yang ada di depannya dengan air matanya yang menetes perlahan. Putrinya baru saja di kebumikan sementara putra kecilnya masih di rawat di rumah sakit.
"Ma'af Key" lirih Edwin yang berada di sampingnya.
Keyla tidak menjawab, ia tersenyum nanar. Beginikah alam semesta mempermainkannya seolah tidak puas dengan penderitaan Keyla. Kenapa? Kenapa harus anaknya yang di ambil Tuhan kenapa bukan dirinya saja. Keyla lelah menjalani hidup seperti itu. Ia juga ingin hidup bahagia seperti orang lain yang terlihat seperti tidak memiliki beban hidup.
Edwin memeluk tubuh Keyla yang langsung di balas olehnya.
"Maaf semua ini karena aku, andai aku lebih percaya sama kamu pasti semua ini nggak akan terjadi" sesal Edwin.
"Mungkin ini sudah nasib aku, satu persatu orang yang aku sayangi ninggalin aku" ucap Keyla lalu melepaskan pelukan Edwin.
Edwin meraih tangan Keyla dan menggenggamnya. Edwin menatap mata Keyla.
"Key, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua. Aku janji nggak akan pernah ngecewain kamu" ujar Edwin. Keyla terdiam untuk beberapa saat. Hati kecilnya mengatakan iya tapi mulutnya tidak bisa mengatakan itu.
"Terlalu sakit buat aku untuk kembali, aku ingin hubungan kita benar-benar berakhir sampai disini. Akhiri semuanya Edwin" ungkap Keyla memilih untuk mengakhiri dan melupakan semuanya yang telah terjadi.
Keyla melepaskan tangannya dari genggaman tangan Edwin.
"Maaf Ed aku nggak bisa memperbaiki sesuatu yang udah hancur. Lupain aku Ed kita mulai hidup kita masing-masing" Meskipun berat bagi Keyla untuk melupakan Edwin tapi ia akan berusaha.
"Aku gak bisa hidup tanpa kamu, aku bener-bener hancur Key tolong kasih aku kesempatan sekali lagi" mohon Edwin sekali lagi. Berharap Keyla memikirkan kembali semuanya.
"Aku gak bisa" pungkas Keyla seraya menggelengkan kepalanya lalu setelah itu ia memilih pergi meninggalkan Edwin yang terdiam membisu. Dengan rasa kecewa Edwin tersenyum tipis.
•••
Keyla berhambur ke pelukan Raka. Raka yang mendapat pelukan tiba-tiba sedikit terkejut.
"Kenapa?" Tanya Raka, sedari tadi ia berada di rumah sakit dan tidak menghadiri acara pemakaman putrinya Keyla jadi dia tidak tahu apa yang terjadi padanya.
"Gak papah" jawab Keyla. Ia tidak ingin bercerita dulu pada Raka tentang hatinya yang terasa sesak setelah mengatakan kata-kata yang tidak ingin ia katakan pada Edwin.
"Oh iya Key, kamu udah kasih tau Edwin soal putra kalian?" tanya Raka karena ia tahu bahwa Keyla belum mengatakan apapun tentang bayinya yang keritis kepada Edwin.
"Aku gak mau ngasih tau dia." ujar Keyla melepaskan pelukannya pada Raka.
"Kenapa gak di kasih tau, dia berhak tau kalau bayinya kembar dan yang satu selamat" Tutur Raka memegang kedua bahu Keyla.
Keyla menundukkan kepalanya, "aku takut Edwin bawa anak aku pergi" lirihnya.
"Gak bakal Key, hak asuh sepenuhnya ada di kamu. Dia masih bayi gak mungkin Edwin bisa bawa dia pergi" ucap Raka mendongakkan wajah Keyla untuk menatapnya.
"Aku tetap gak mau ngasih tau dia karena kamu ayahnya bukan dia" tegas Keyla.
Raka menaikkan sebelah alisnya, "kok bisa aku jadi ayahnya, perasaan aku nggak nikah sama ibunya"
"Raka, kamu sendiri yang bilang waktu di pesawat kalau kamu boleh jadi ayahnya. Gimana sih" gerutu Keyla mengingat perkataan Raka saat di pesawat sebelum ia pergi.
Raka terkekeh pelan melihat Keyla cemberut. "Iya Key, iya"
•••
Edwin baru saja sampai ke rumah dinasnya. Hatinya benar-benar sakit saat Keyla lebih memilih untuk mengakhiri hubungannya dari pada memberikannya kesempatan. Memang ia lebih pantas mendapatkan semua itu karena perbuatannya. Perbuatannya yang menyebabkan istrinya meninggalkannya dan anaknya yang terenggut nyawanya karena kebodohan Edwin. Andai waktu bisa di putar kembali Edwin pasti lebih memilih percaya kepada Keyla dari pada tipu daya Keysa. Tapi semua itu mustahil karena nyatanya waktu terus berjalan seiring dengan penyesalan.
Edwin berteriak prustasi seraya menjambak rambutnya. Ia terpukul atas kepergian anaknya untuk selamanya.
"Maafin papa, gara-gara papa kamu harus pergi. Papa gagal jadi orang tua buat kamu," ucap Edwin yang sudah terduduk di lantai, bersandar pada pinggir ranjang.
"Maaf Key, karena aku udah jadi suami yang buruk buat kamu" lirihnya.
•••
Beberapa hari kemudian.
RS.
Hari ini Keyla dan anaknya sudah bisa keluar dari rumah sakit. Putra kecilnya sudah sembuh, dokter sudah mengijinkan Keyla untuk merawat anaknya di rumah. Keyla benar-benar senang, terlihat dari senyumnya yang mengembang sempurna saat menggendong putranya keluar dari ruangan tempat bayinya di rawat.
Raka yang melihat itu ikut tersenyum. Raka berharap senyum Keyla adalah awal dari kebahagiaan untuknya dan tidak akan pernah memudar lagi.
"Key" Panggil Raka berhenti melangkah begitupun dengan Keyla.
Keyla mendongakkan kepalanya menatap Raka yang berada di sampingnya, "Iya Ka, kenapa?"
"Kamu udah kasih nama belum untuk putra kamu?" Tanya Raka sembari mengusap wajah tenang bayi mungil di gendongan Keyla.
"Udah" jawab Keyla menatap putranya yang tengah tertidur. Ia memang sudah menyiapkan nama untuk putranya dari jauh hari.
"Siapa?" Raka menatap Keyla penasaran dengan nama yang akan di berikannya.
"Gempara" Tutur Keyla.
"Arion" tambah Raka membuat Keyla tersenyum hangat. Mungkin dengan memakai nama tengah Raka anaknya akan memiliki identitas baru.
"Gempara Arion" ulang Keyla. Raka mengangguk dengan senyum manis. Semoga setelah ini tidak akan ada lagi kesedihan yang terus menyelimuti Keyla dan dia bisa menata hidupnya kembali. Hidup yang di penuhi kegembiraan, keceriaan bersama putra kecilnya.
Raka merangkul Keyla dan melanjutkan perjalanan mereka. Semua tentang Keyla telah berakhir, berakhir dengan lahirnya putra yang akan membawa kisah baru untuk kehidupan Keyla yang akan menjalani hidupnya sebagai seorang ibu.