LOVE AFTER MARRIAGE

LOVE AFTER MARRIAGE
Bab81



Ceklek..


Pintu ruangan tempat Gempara di tangani terbuka dan menampilkan sosok dokter wanita beserta beberapa perawat keluar dari ruangan tersebut.


"Dengan keluarga pasien?" Tanya dokter itu.


Keyla segera melespaskan pelukannya dari Raka dan menghampiri dokter itu. "Saya ibu nya dok, bagaimana keadaan anak saya?" 


Dokter wanita itu tersenyum. "Keadaan putra ibu baik-baik saja, namun di bagian keningnya harus di jahit, sedangkan untuk luka di bagian kakinya hanya perlu di oles salep, nanti saya akan kasih resepnya dan ibu bisa beli di apotek." Jelas dokter itu membuat Keyla sedikit lebih tenang.


"Apa anak saya harus di rawat dok?" Tanya Raka.


"Tidak, nanti setelah infusnya habis putra bapak bisa langsung di bawa pulang." Jelas dokter. "Kalo gitu saya permisi dulu."


"Iya dok, makasih." Tutur Raka.


Keyla tanpa banyak ucap langsung masuk ke dalam ruangan untuk melihat kondisi Gempara, bocah laki laki itu kini tertidur di atas brankas rumah sakit dengan perban di jidatnya.


"Ge" Panggil Keyla sambil membelay rambut putranya.


"Maafin Buna sayang, karena buna lalay jagain kamu" Ujar Keyla, fokus menatap wajah Gempara yang sudah bersih dari darah, namun putranya masih juga belum sadarkan diri.


•••


Keyla baru saja menebus obat yang di resepkan oleh dokter untuk Gempara. Saat ia berjalan menuju ruangan Gempara, Keyla tidak sengaja melihat Edwin tengah mendorong kursi roda yang di duduki oleh Keysa.


Edwin memasuki ruangan bersama Keysa, entah kenapa langkah Keyla membawanya ke sana, mengamati kegiatan Edwin yang tengah menggendong Keysa untuk memindahkannya dari kursi roda ke ranjang rumah sakit.


Awalnya Keyla terlihat biasa saja, tapi tiba-tiba saja hatinya terasa sakit kala melihat Keysa dengan sengaja menarik lengan Edwin hingga terjatuh di atas tubuhnya. Dan jangan lupakan bibir mereka yang bersentuhan. Edwin membelalakan matanya dan secepatnya langsung bangkit dari posisinya.


"Maaf Edwin, aku nggak sengaja," ucap Keysa lirih seraya menatap Edwin.


Edwin menghembuskan nafasnya kasar.


"Saya pergi," ucap Edwin lantas berbalik dan betapa terkejutnya ia mendapati Keyla yang juga tengah menatapnya. Sementara itu Keysa yang melihat kehadiran Keyla hanya tersenyum smirk.


"Keyla!" Kaget Edwin.


Keyla dengan cepat membalikkan badannya dan pergi begitu saja. Pergerakannya terhenti karena Edwin menahan tangan Keyla.


"Keyla ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan, aku bisa jelasin" ucap Edwin mencoba menjelaskan.


"Jelasin apa Edwin, itu hak kamu kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi" ucap Keyla dengan suara bergetar.


"Kita memang gak ada hubungan apa-apa lagi, tapi aku tahu kamu cemburu"


"Untuk apa aku cemburu, Aku nggak pernah cemburu liat kamu sama Keysa." Bantah Keyla. Sebenarnya ia memang sedikit merasa cemburu melihat Edwin yang dekat Keysa. Sakit rasanya mengingat Keysa, dulu adalah madunya. Lebih sakit lagi ketika Edwin lebih percaya pada Keysa dan lebih memilihnya.


"Kalau nggak cemburu kenapa nangis?" Tanya Edwin yang melihat mata sembab Keyla meneteskan air mata.


Keyla terdiam, ia menatap Edwin dengan amarahnya.


"Kamu pikir aku nangis karena cemburu sama kamu, kamu salah Edwin!" Ucap Keyla menyentak tangan Edwin.


"Mata kamu nggak bisa bohong"


"Dulu sebelum kamu lebih memilih Keysa, kamu pernah ada ruang tersendiri di hati aku, tapi sekarang? Semua udah hilang, cemburu? Mungkin aku belum terbiasa dengan itu," Ujar Keyla.


"Mungkin kata maaf sudah tidak berarti lagi buat kamu, tapi aku mohon kasih aku kesempatan Key. Aku sudah tahu semuanya. Kamu belum menikah lagi dan Gempara anak aku." Tutur Edwin, membuat Keyla terdiam. Bagaimana bisa Edwin mengetahuinya? Siapa yang sudah memberi tahunya?


"Iya, Gempara memang anak kamu, tapi kamu jangan berharap bisa ngambil dia dari aku" pungkas Keyla tidak mengelak. Setelah itu Keyla memilih beranjak dari hadapan Edwin.


"Aku gak akan ngambil Gempara dari kamu, tapi setidaknya kamu jangan halangin aku buat dekat sama Gempara." Gumam Edwin.


•••


"Are you okey, boy?" Tanya Raka pada Gempara yang saat ini sudah sadarkan diri.


"Gege luka, kepala Gege cakit Pupu" Keluh Gempara sambil memanyunkan bibirnya.


"Sabar ya sayang, Gege kan kuat kayak Hulk" Ujar Raka, malah semakin membuat Gempara cemberut.


"Gege, gak mau jadi sepelti Hulk" Jelasnya membuat Keyla dan Raka tertawa renyah.


"Emang Hulk tidak kuat?" Tanya Raka.


Gempara menatap Keyla yang tengah terkekeh. "Buna kuat, berarti buna mirip Hulk?" Tanya Gempara yang sukses membuat tawa Raka pecah.


"Masa Buna di samain sama Hulk? Kamu gak liat muka Buna cantik gini? Buna kamu tuh bintang model loh, Ge, masa di samain sama Hulk." Protes Keyla pada putranya.


"Hahaha." Tawa Raka yang semakin pecah karena melihat ekspresi Gempara yang hanya diam saja saat di protes oleh Keyla.


"Kalau Buna Hulk, Pupu kamu apa?" Tanya Keyla.


"Zombi" jawab Gempara.


"Kok Zombi, pupu kan bukan mayat idup" kali ini Raka yang protes.


"Tapi kamu cocok jadi zombi, ka" kata Keyla.


"Grahw, Zombi tampan mau nangkep Gege" ujar Raka, satu tangannya di kedepankan menirukan zombi yang ada di film.


"Jangan, tangkep Buna aja" cegah Gempara.


"Siap bos" Raka menurut.


"Raww"


Raka mulai menggelitiki Keyla membuatnya kegelian dan Gempara yang melihat itu tertawa bahagia.


"Geli ka, ampun"


•••


Keysa menatap pantulan dirinya di cermin, wajahnya terlihat pucat dan rambutnya mulai rontok. Setelah tadi pulang dari rumah sakit ia memutuskan untuk pergi ke tukang cukur rambut di temani adiknya, Malvin. Keysa memutuskan untuk mencukur habis rambutnya dan akan mengantinya dengan rambut palsu.


"Kalian berhasil ngancurin hidup aku, aku bakal balas perbuatan kalian." Gumam Keysa saat rambutnya mulai di potong.


Setelah selesai, Malvin pun membawa Keysa pergi.


"Vin, kita mampir ke taman dulu ya?" Kata Keysa. Suaranya terdengar lembut.


"Ngapain ke taman? Kakakan harus istirahat?" Tanya Malvin.


"Kakak pengen jalan-jalan sebentar" jawab Keysa.


"Sebentar aja ya kak" Kata Malvin lantas mendorong kursi roda kakaknya menuju mobil. Setelah merekan naik, mobil itu pun melaju menuju taman.


Keysa dan Malvin sampai di taman. Mereka berkeliling taman untuk menghabiskan waktu bersama, sesekali Keysa meminta berfoto dengan Malvin yang tentu di turutinya dengan senang hati.


Hati Malvin menghangat, sudah lama sekali ia tidak berjalan-jalan berdua dengan kakaknya. Malvin merasakan kakak yang ia kenal dulu kembali. Malvin merindukan Kakaknya yang lembut dan selalu pengertian padanya. Semoga saja kakaknya bisa kembali lagi jadi Keysa yang penyayang, bukan Keysa yang ia kenal sekarang.


"Vin, bantu kakak buat duduk disana?" Keysa menunjuk kursi taman.


"Iya kak" Malvin membatu Keysa untuk duduk di kursi taman atas permintaannya. Malvin juga ikut duduk di sampingnya.


"Vin, maafin kakak udah jahat sama kamu. Maafin kakak karena suka marah-marah sama kamu" Keysa tulus meminta maaf pada Malvin.


"Kakak gak jahat, kakak marah-marah sama Malvin karena sayang, iya kan kak." Mendengar ucapan Malvin, Keysa pun tersenyum lantas ia memeluk adiknya.


"Maafin kakak, Malvin." Malvin melepas pelukannya dan menatap wajah pucat Keysa.


"Iya kak, Malvin maafin. Tapi Kakak juga harus minta maaf sama Keyla dan Edwin" Malvin mengusap air mata yang ada di pipi Keysa dengan tangannya.


"Kakak gak yakin bisa minta maaf sama mereka" Ucap Keysa.


"Kenapa kak?" Tanya Malvin.


Keysa hanya menggelengkan kepalanya. Malvin mengerti, mumgkin kakaknya belum siap untuk meminta maaf pada mereka, tapi Malvin akan membantu Keysa untuk merubah sikapnya menjadi lebih baik lagi.


"Kak mau es krim, gak" tawar Malvin saat ia melihat penjual es krim yang tak jauh dari tempatnya berada.


Keysa mengangguk sebagai jawaban.


"Tunggu bentar ya kak, aku beliin. Yang vanilla-kan, kak?" Tanya Malvin memastikan bahwa rasa es krim kesukaan kakaknya masih tetap sama.


Keysa tersenyum "iya Vin, kamu kan tau kakak suka rasa vanilla"


Setelah itu Malvin pergi untuk membelinya. Tak berapa lama ia pun kembali dengan dua es krim di tangannya. Namun saat sampai ia terkejut dengan kakaknya yang sudah terbaring lemas di kursi taman.


"Kak, bangun kak." Tak ada pergerakan dari kakaknya, Malvin pun langsung menggendongnya ke mobil untuk menuju rumah sakit.