
"Keyla"
Keyla menatap siapa orang yang menyapanya. Keyla tersenyum kaku lantas menyapanya balik.
"Hy Juna, apa kabar?"
"Kabar baik, ini beneran kamu kan Key, Saya pangling banget liat kamu. Kapan kamu pulang ke indo?" Tanya Juna antusias, ia sangat pangling ketika bertemu dengan Keyla.
"Saya baru saja sampai" Kata Keyla, tak berminat dengan percakapannya.
"Oh" Kata juna lantas ia melihat anak kecil yang bersama dengan Keyla, Juna sedikit bingung anak siapa yang di bawa Keyla.
"Itu Anak siapa Key?"
"Ini anak aku" jawab Keyla.
Juna terdiam. Heran, setahunya anak Keyla dan Edwin sudah meninggal kalaupun Keyla memiliki anak lagi dari pria lain anak itu tidak mungkin sudah sebesar ini.
"Maaf Juna, saya harus pergi soalnya saya sudah ditunggu mamah, sama papa, saya" Kata Keyla was-was, takut Juna bertanya lebih dalam lagi tentang anaknya. Ia juga takut bertemu dengan mantan suaminya, mengingat kantornya berada di sebrang jalan Restoran ini.
"Ahh, iya key, sampai ketemu lagi"
Keyla dan anaknya pun berlalu pergi meninggalkan Juna ,yang masih tak mengerti.
"Ah sudahlah" Kata juna lantas ia melanjutkan niatnya untuk makan siang.
•••
Keyla dan putra kecilnya akhirnya sampai di kediaman rumah orang tua Keyla. Keyla mengetuk pintu Rumahnya, seseorang dari dalam langsung membukakan pintu untuknya.
"Keyla" panggil wanita paruhbaya yang masih terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda.
"Mama." Sahut Keyla kemudian hendak memeluk sang ibu, namun wanita itu lebih dahulu membungkuk untuk memeluk cucunya, membuat Keyla hampir saja menyusruk kedepan.
"Jahat bangettt." Manyun Keyla.
"Nene." Ucap Gempara dengan lucu.
"Cucu nenek ganteng banget sih, gemes deh." Ucap Sofia selaku Mamahnya Keyla.
"Maacih, nene juga cantik" ucap Gempara, membuat Sofia terkekeh.
"Cucu nenek bisa aja"
"Kok gak ada yang kangen sama kakek." Ucap Dana dengan mimik wajah yang di buat sendu.
"Kake." Ucap Gempara kemudian berlari menuju Dana yang ada di dekat Sofa ruang tamu.
"Non, kopernya biar bibi bawa aja ke atas" Kata Art di rumah orang tua Keyla.
"Makasih Bik, jadi ngerepotin" Kata Keyla.
"Sama-sama non Keyla, gak ngerepotin ini kan udah tugas Bibi"
"Bik, nanti kita nyeblak bareng ya? Udah lama saya gak makan seblak buatan Bibi." Ujar Keyla, ia merindukan seblak buatan bibik yang menurutnya paling enak. Bahkan dulu Hana sempat meminta resepnya dan ijin untuk menggunakan resep itu untuk jualan.
"Siap, non!"
Setelahnya Keyla langsung menghampiri orang tuanya.
"Uhh cucu kakek gemesin banget sih." Ucap Dana sambil menggendong Gempara.
"Umurnya cucu kakek yang ganteng ini berapa sih?" Tanyanya.
"Foul yeal old" Jawab Gempara.
Uhuk... Uhuk...
Di sela aktivitasnya menggendong cucu mungilnya Dana terbatuk-batuk.
"Pa, kenapa?" Tanya Keyla yang melihat wajah pucat papahnya dan terbatuk-batuk itu.
Keyla menurunkan Gempara dari gendongan Papahnya. Lasntas merekapun duduk di sofa sementara Gempara melilih duduk di pangkuan Neneknya yang bersebrangan.
"Papa kamu tuh bandel, lagi sakit malah kerja terus, di suruh cuti gak mau bilangnya kalau papah cuti kerjaan di kantor banyak gak ada yang ngurusin" ucap Sofia mengadu.
"Papa tuh harus jaga kesehatan gak boleh terlalu capek, mama benar, papa tuh harusnya cuti dulu buat istirahat, soal kerjaan kan bisa di handle sama bawahan papa" Ujar Keyla.
"Lah... Hubungannya apa pa, perusahaan sama Keyla nikah" Seloroh Keyla tak mengerti dengan ucapan papahnya.
"Biar papa, gak terlalu hawatir sama kamu karena udah ada yang jagain kamu dan ada yang gantiin papa, buat mimpin perusahaan" Ungkap Dana yang ingin Keyla untuk segera menikah lagi. Ia tidak ingin melihat anaknya terus-terusan di hantui bayangan masa lalunya tentang pernikahan.
"Aku kan udah ada yang jagain, pa" timpal Keyla. Ia memang sudah ada calon untuk jadi suaminya tapi Keyla masih ragu untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius lagi. Jujur ia masih trauma akan pernikahannya yang kandas. Meski sekarang sedang menjalin hubungan tapi Keyla tidak berniat untuk menikah.
"Iya papa tahu tapi kapan kamu sama Raka akan menikah?" Tanya Dana.
"Untuk itu aku belum tahu" Keyla menggelengkan kepala perlahan.
"Jangan lama-lama nanti papa keburu gak ada"
Sepontan Keyla menepak pelan tangan papahnya, "Huss, papa jangan ngaco deh emangnya papa mau kemana?"
"Umur gak ada yang tahu Key, apalagi papa udah sakit-sakitan gini" Dana berbicara dengan suara lesu.
"Papa jangan ngomong gitu, Keyla kan jadi sedih" Mimik wajah Keyla berubah sendu.
"Buna gak boleh sedih, nantli cantiknya Buna ilang" Kata Gempara yang sedari tadi berada di pangkuan Neneknya.
"Kake juga da boleh omong gitu, da baik" Tegur Gempara.
"Iya sayang maafin kakek ya" Kata Dana. Ia tersenyum simpul, bangga memiliki cucu seperti Gempara yang pengertian dan semoga dia bisa jagain Keyla kelak.
"Iya kake, Gege maafin"
"Kalian berdua pasti lelah, istirahat dulu gih. Nanti kita lanjut ngobrolnya" Kata Sofia sambil mengelus-ngelus surai hitam rambut Gempara yang halus.
"Kalau gitu Keyla, sama Gege, mau istirahat dulu, mah, pah."
"Iya sayang" Jawab Sofia dan Dana bersamaan.
"Ayo Ge, kita ke atas" Ajak Keyla.
"Okye Buna"
•••
Dilain tempat, tepatnya di sebuah kantor seorang pria tengah sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk di mejanya.
Semenjak pria itu bercerai dengan istrinya ia jadi gila kerja. Dua hal yang ada dalam hidupnya yaitu pekerjaan dan mantan istrinya. Katakan saja dia tidak bisa move-on. Dan penyesalan selalu menghantuinya, maka dengan bekerja pikirannya bisa teralihkan. Edwin, nama pria itu. Memangnya siapa lagi kalau bukan dia.
"Ed, kamu tahu gak barusan saya ketemu siapa?" Kata Juna yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu dulu.
Edwin diam, tak peduli dengan kehadiran Juna dan apa yang di omongkannya.
"Yeah. Malah di cuekin" Juna menggeser kursi lantas ia duduk.
"Kamu gak penasaran, saya barusan bertemu siapa?"
Edwin tidak bergeming. Juna sudah tahu edwin tidak akan peduli dengan apapun pake ditanya, kecuali masalah pekerjaan.
"Makin hari makin dingin aja mas bro, saya punya berita yang bisa buat mas bro kembali hangat dan merasakan indahnya dunia lagi" Cerocos Juna yang sudah pasti di abaikan oleh Edwin.
"Silahkan keluar" Kata Edwin tanpa basa-basi.
"Ini penting pak bos, tadi saya ketemu sama Keyla" Beritahu Juna.
Edwin membeku begitu mendengar nama Keyla di sebut, ada rasa rindu yang menjalar dalam tubuhnya, namun detik berikutnya ia kembali bersikap normal seolah nama itu tidak berpengaruh apapun.
"Gak ada urusannya dengan saya." Tukas Edwin.
"Ada! Pak bos kan bilang kalau anak pak bos udah meninggal setelah di lahirkan, tapi tadi saya ketemu Keyla bareng Anak Kecil."
"Anak" Beo Edwin.
"Iya, umurnya sih sekitar empat tahunan"
Edwin diam, ia berpikir anak siapa yang bersama Keyla. Bukankan anak mereka sudah tiada, bahkan Edwin sendiri yang mesemayamkannya. Apa mungkin anak itu anaknya Keyla dan Raka, tapi tidak mungkin jika anak itu berumur empat tahun sama seperti mendiang anaknya.
"Kamu pasti lagi mikir kenapa bisa anak itu seumuran dengan anak kamu yang sudah meninggal?" Tebak Juna tepat sasaran.
"Jika tidak ada yang penting silahkan keluar atau saya keluarkan kamu dari kantor ini" tandas Edwin mutlak, membuat Juna mencebik. Salah Juna sendiri sudah tahu bosnya itu tidak suka di ganggu saat sedang bekerja, ia malah nekat.
"Gak asik ah mas bro" katanya sembari melenggang pergi.