
Beberapa hari ini Keyla terlihat tidak fokus, pikirannya menjelajah kemana-mana bahkan pekerjaannya sempat terganggu karena Keyla sedikit lalai.
Keyla memijat pangkal hidungnya lima menit yang lalu ia disuruh istirahat terlebih dahulu. Sang fotografer terpaksa menghentikan pemotretan Keyla dan Alisya. Alasannya hanya satu karena Keyla tidak bisa fokus sama sekali.
Alisya yang duduk di sebrang menatap Keyla jengkel.
"CK kamu tau nggak, disini panas dan kamu malah lama-lamain pekerjaan!" Omel Alisya kepada Keyla, masalahnya cuaca memang sangat terik saat ini.
"Sya kamu bisa diem, kamu buat saya tambah pusing," ucap Keyla menatap Alisya yang sudah keluar tanduknya itu.
"Saya diem kalau pemotretan selesai cepet, dan semuanya berantakan gara-gara kamu" Ucap Alisya terus menatap Keyla dengan tampang menjengkelkan nya.
Keyla menghela nafasnya.
"Sorry," kata Keyla pada akhirnya. Keyla minta maaf karena ia memang salah jika tidak mana mau Keyla meminta maaf pada Alisya yang ingin merebut suaminya.
Alisya menghembuskan nafasnya kasar, ia menatap Keyla tidak lama kemudian matanya memicing.
"Kenapa?" Tanya Keyla karena melihat gelagat Alisya.
"Saya gatel nggak ngomong, kalau punya masalah keluarga nggak usah di bawa-bawa kesini. Saya tahu kamu lagi ada problem," tutur Alisya tersenyum remeh kepada Keyla.
Keyla yang awalnya menyenderkan punggungnya di kursi langsung mengubah posisinya menjadi tegak.
"Kamu tau dari mana!" Tanya Keyla dengan nada tidak santai.
Alisya tersenyum.
"Apasi Key, yang nggak saya tau dari kamu," ucap Alisya ada jeda sebelum kembali berbicara. "Saya tau semuanya termasuk masalah kamu yang paling besar,"
"Sya, kamu jangan macem-macem," tegur Keyla sedikit waspada.
Alisya terkekeh pelan.
"Kamu hamil kan sekarang," ucap Alisya membuat Keyla terdiam. Dari mana Alisya tahu tentang kehamilannya.
"Kamu diem berarti iya," ucap Alisya tersenyum miring. "Siap-siap aja karir model kamu hancur,"
Tenggorokan Keyla sedikit tercekat, ia lantas menatap Alisya.
"Saya nggak peduli, yang saya pedulikan cuman anak saya dan tentunya suami saya, Edwin!" Ucap Keyla dipenuhi dengan penekanan disetiap katanya. Keyla sudah menyadari bahwa anaknya lebih penting di banding karirnya. Anaknya tidak bisa di ganti dengan apapun sementara karir ia bisa memulainya lagi dari awal. Bahkan sekalipun Keyla tidak bisa berkarir lagi di dunia modeling, Keyla tidak peduli.
Alisya menghembuskan nafasnya kasar, kemudian sebuah senyuman terbit di bibirnya.
"Edwin? Saya bakalan rebut dia dari kamu," sinis Alisya.
"Coba aja kalau bisa Sya, saya tungguin cara licik kamu," ucap Keyla, ia tersenyum menatap Alisya.
Entah apa yang salah dengan Alisya, ia malah tertawa terbahak-bahak.
"Hei c'mon Key, saya nggak mau gunain cara licik karena saya sadar bahwa Edwin nggak bisa saya dapetin dengan cara licik," ucap Alisya ia beranjak dari tempatnya dan menghampiri Keyla yang duduk di sebrang.
Ia menepuk bahu Keyla.
"Saya bercanda, saya nggak akan ngusik kehidupan kamu sama Edwin. Kenapa? Karena saya sadar kalau saya salah," tutur Alisya.
Keyla mencekal tangan Alisya yang ada di bahunya.
"Kenapa? Kamu takut kalah dari saya," ucap Keyla menatap Alisya dengan sorot mata tajam.
Alisya tersenyum tipis.
"Saya manusia, saya juga bisa capek, saya serius sama omongan saya. Saya nggak akan ganggu kehidupan kalian berdua," tutur Alisya terdengar serius.
Keyla sedikit tidak percaya dengan ucapan Alisya karena selama ini dia terlihat sangat licik.
"Saya sadar menghancurkan rumah tangga orang adalah dosa besar. Saya tidak ingin menjadi plakor karena di dunia saja pelakor sudah di benci, apalagi di akhirat kelak" ucap Alisya membuat Keyla diam. Apa Keyla sedang berhadapan dengan Alisya atau bukan. Kenapa dia jadi sedikit religius.
Alisya duduk di samping Keyla dan mendekatkan wajahnya ke arah telinga Keyla.
"Saya kasih tau satu fakta, Keysa bohongin kamu. Dia nggak pernah ngelakuin itu sama Edwin," ucap Alisya membuat Keyla yang tadi diam seketika membelalakkan matanya.
"Ma maksut kamu?" Tanya Keyla.
"Saat Edwin mabuk, saya ada disana,"
Flashback on
Alisya baru saja menginjakkan kakinya di sebuah Club ternama di kota Jakarta. Seperti biasanya Alisya langsung masuk dan memesan beberapa minuman beralkohol. Alisnya pergi ke sana hanya sekedar untuk minum, setelah selesai minum ia pun akan segera pergi.
Alisya menatap sekeliling, matanya sedikit memincing ketika mendapati seseorang yang sepertinya ia kenal.
"Edwin" gumam Alisya menatap Edwin dari kejauhan. Cowok itu tengah mabuk dan terlihat Juna sedang berbicara dengannya namun tak lama Juna pergi.
Setelah melihat Juna pergi keluar, Alisya ingin menghampiri Edwin tapi ternyata Edwin malah berdiri dari tempat duduknya dengan langkah gontai dan Alisya yang melihat itu berinisiatif untuk menghampiri Edwin.
Tapi sebelum itu terjadi Edwin malah menabrak seseorang yang berjalan dari arah lorong kamar club, sontak hal itu membuat Alisya terhenti.
"Edwin kamu ngapain disini?" Tanya orang yang di tabrak Edwin seraya memegang tangan Edwin. Alisya berusaha menajamkan pandangannya ia sepertinya mengenal suara itu dan benar saja ternyata itu Keysa. Alisya mengenal Keysa karena beberapa tahun lalu ia pernah bekerjasama dengan perusahaan keluarga Keysa. Dan Kesya juga adalah teman dari pemilik agensi model yang menaunginya saat ini, Alisya juga tahu kalau Keysa adalah mantan Edwin. Cewek itu sudah beberapa kali menghianati Edwin tapi Edwin dengan mudahnya memaafkannya. Padahal dulu Alisya sangat mencintai Edwin tapi Edwin tidak pernah menganggap perasaannya dan tetap menunggu kekasihnya kembali. Tapi setelah satu tahun kepergian Keysa Edwin di kabarkan sudah menikah.
Edwin menepis tangan Keysa, ia segera berjalan keluar bar dan memasuki mobilnya.
Alisya masih diam tapi langkahnya membawanya untuk mengikuti Edwin dan juga Keysa.
Edwin menatap Keysa yang menghalangi pintu mobil itu.
"Lepasin tangan kamu dari pintu mobil saya," ucap Edwin tajam.
"Nggak akan! Aku nggak bisa ngebiarin kamu nyetir dalam keadaan mabuk," ucapnya.
"Bukan urusan kamu!" Ucap Edwin mencoba menepis tangan Keysa.
"Okee aku bakalan biarin kamu pergi tapi dalam keadaan nggak kayak gini, kamu mabuk dan itu bahaya," ucapnya.
"Ya terus mau kamu apa!" Tanya Edwin.
Keysa mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Edwin. Edwin dengan kasar merebut botol minuman itu dan meminumnya sampai tidak tersisa setetespun di dalamnya.
"Puas!" Ucap Edwin seraya membuang botol minuman itu.
Keysa tersenyum.
Alisya sedikit tersentak ketika mendapati Edwin sudah tidak sadarkan diri di rangkulan Keysa.
"Aku akan rebut kamu dari Keyla, dan kita balik lagi kayak dulu, tunggu aja aku bakalan kasih karangan terindah aku,"
Alisya menghela nafasnya kasar sepertinya ia harus ikut campur dalam permainan Keysa. Keysa memasuki mobil Edwin dan memindahkan posisi nya. Alisya tidak bisa tinggal diam melihat Keysa yang menggunakan cara licik untuk mendapatkan Edwin. Alisya tidak mau saingannya bertambah apalagi saingannya seorang Keysa yang sangat licik dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.
Mobil Edwin berjalan meninggalkan Club, dengan cepat Alisya juga masuk ke dalam mobilnya dan mengikuti mobil Edwin.
Beberapa menit perjalanan ternyata mobil Edwin memasuki pekarangan rumahnya. Alisya menghentikan mobilnya di jalan ia ikut turun tapi dengan mengendap-endap dan mengikuti Keysa.
Terlihat Keysa tengah membopong tubuh Edwin dan mengetuk pintu, tidak lama kemudian seseorang membuka pintu rumah yang tidak lain adalah Keyla. Alisya diam saja melihat mereka, ternyata benar Keysa memainkan taktik liciknya di depan Keyla. Keysa terlihat berbisik dan memamerkan tanda kepemilikan yang ada di lehernya.
Alisya tersenyum miring.
"Murahan banget caramu Keysa," gumam Alisya seraya memilih beranjak dari tempatnya. Sepertinya ia mendapatkan jackpot yang bisa ia gunakan untuk menyingkirkan Keyla.
Flashback off
Keyla sedikit tercengang dengan cerita Alisya barusan, selicik itu kah Keysa?
"Saya kasih tau kamu nggak gratis, ada imbalannya," ujar Alisya.
"Apa?" Tanya Keyla.
Alisya tersenyum karena respon Keyla secepat itu tanpa berpikir dulu.
"Saya mau kamu berhenti jadi model," Alisya memberi tahu keinginannya. Keyla terdiam.
"Kenapa saya harus berhenti, kamu nggak ada hak buat minta saya berhenti," ucap Keyla.
"Informasi yang kamu dapet nggak gratis Key, mau nggak mau kamu harus lakuin itu,"
Keyla memejamkan matanya ia menghembuskan nafasnya kasar. Mungkin dengan berhenti jadi model akan lebih baik untuk dirinya.
"Oke,"
Alisya tersenyum senang akan jawaban Keyla yang sangat memuaskan hatinya.
"Thank Key, Saya nggak mau punya saingan yang lebih tinggi dari saya. Soal kemarin-kemarin saya minta maaf karena udah ngusik rumah tangga kamu" ucap Alisya setelah itu melenggang dari tempatnya.
Keyla menghela nafasnya berat, permintaan Alisya sangat berat baginya, di lain sisi Alisya memang mengakui jika Keyla berada di atasnya tapi hal ini sedikit berat untuk Keyla melepas karirnya yang baru saja ia mulai.
Drtttt drtttt
Ponsel Keyla berdering.
Keyla menatap hpnya yang tertera nama Rahma disana, Keyla segera mengangkatnya.
"Key besok kamu ke Yogyakarta ya, ada pemotretan yang harus kamu selesai in secepat mungkin," ucap Rahma disebrang sana.
Keyla menghembuskan nafasnya pelan.
"Aku berhenti kak," ucap Keyla kemudian ia mematikan telfonnya begitu saja, ia tau ini tidak sopan tapi Keyla harus merelakan karirnya dan ia besok akan membicarakannya baik-baik dengan Rahma.
•••
Saat ini Keyla sedang mengendarai mobilnya lantas ia menepikannya di pinggir jalan karena Keyla baru saja mendapat telpon dari seseorang. Seseorang yang Keyla tugaskan untuk menyelidiki kasus yang sudah menimpa dirinya dan juga Dede bayinya.
"Bagaimana? Kamu sudah tau siapa pelakunya?" Tanya Keyla.
"....."
"....."
"Oke thanks bayaran kamu akan langsung saya transfer," ucap Keyla lalu menutup telponnya.
Keyla mencengkram erat setir di depannya, rasanya sekarang ia ingin mencekik seseorang yang mencoba mencelakai nya waktu di pesta kemarin.
"Aku nggak akan tinggal diem,"