
Edwin menatap nanar pintu yang baru saja di tutup keras oleh papa Keyla, hati Edwin sakit, benarkah Keyla keluar negri begitu saja.
"Kenapa harus luar negri Key," ucap Edwin dengan pandangan sendunya.
Edwin kembali ke mobil dengan perasaan kecewa, hatinya terasa berdenyut kencang. Bagaimana selanjutnya apakah ia bisa menghadapi dunia tanpa Keyla? Tidak! jelas Edwin tidak bisa, dia bisa gila kalau seperti ini.
Edwin mengemudikan mobilnya ke rumah Hana, ia harus mencari informasi apapun yang terjadi dan dimana Keyla berada. Edwin berjanji ia akan membawa Keyla kembali kepelukannya meskipun nyawa taruhannya.
Di perjalanan Edwin tidak fokus sama sekali, pikirannya kalut bahkan tanpa rasa takut Edwin mengemudikan mobilnya secepat mungkin hingga pengemudi lainnya mengklakson dan mengumpati Edwin terang-terangan.
Dua puluh menit mengemudi Edwin akhirnya sampailah di depan rumah Hana dan bertepatan dengan itu Hana baru saja keluar dari rumah.
Hana yang melihat mobil memasuki pekarangan rumahnya, seketika langsung mengernyitkan dahinya tapi ia langsung tersadar siapa yang barusan turun dari mobil.
Hana dengan cepat memasuki rumah menutup pintunya rapat-rapat tapi Edwin berhasil menahannya.
"Han saya mau bicara," ucap Edwin seraya menahan pintu rumah Hana.
Hana menghela nafasnya kasar.
"Kenapa? Kamu mau nyari Keyla? Dia udah pergi jauh sama Raka dan kamu nggak bakalan nemuin dia dimanapun!" Sinis Hana.
Edwin seketika terkejut dengan apa yang barusan di bilang Hana.
"Raka?"
"Kamu kaget? Raka ada disaat Keyla butuh sedangkan kamu? Kamu mentingin si Medusa sialan itu!" Cibir Hana dengan tatapan tidak suka.
"Saya mohon Han, kasih tau saya dimana Keyla sekarang," mohon Edwin.
Hana tersenyum. Untuk apa memberi tahu Edwin jika nantinya Keyla akan di sakitinya lagi.
"Nggak semudah itu Edwin. Kamu tau nggak gara-gara ulah kamu, saya harus kehilangan sahabat dan sepupu saya, dia pergi," ucap Hana dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Sedangkan kamu lebih milih buang berlian seperti Keyla, mikir dong! Dimana perasaan kamu!"
"Saya tau saya salah, tapi saya mohon kasih tau dimana Keyla. Saya sayang sama dia Hana, saya nggak bisa kehilangan dia," ucap Edwin menatap Hana dengan pandangan memohon.
"Nyesel kan? Saya bilang juga apa, sakit kalau jadi Keyla, Edwin" ujar Hana sudah berderai air mata.
"Saya nyesel dan saya mau minta maaf,"
"Kenapa baru sekarang hah! setelah semuanya terjadi dan kamu dengan mudahnya mau minta maaf, mikir Ed mikir" Bentak Hana sungguh rasanya ia juga ikut kecewa dengan Edwin.
Edwin terdiam, dia memang salah tapi apa salahnya jika ia mau memperbaiki semua kesalahannya.
"Pergi!" Usir Hana.
Edwin mengusap wajahnya kasar.
"Dimana dia Han?" Tanya Edwin sekali lagi.
"Kamu bisa cari tau sendiri, saya sudah muak!" Pungkas Hana lalu menutup pintu dengan sangat keras.
Braakkk
Untuk kedua kalinya Edwin diperlakukan seperti ini, dia diusir. Edwin memang pantas mendapatkannya, sepertinya ia memang di hukum oleh Tuhan atas kesalahan fatal yang ia perbuat. Karena ke egoissannya ia kehilangan dua orang sekaligus yang sangat penting dalam kehidupannya.
•••
Edwin memasuki rumah, ia terduduk begitu saja di lantai kamarnya, rambutnya acak-acakan semuanya berantakan.
Edwin menatap nakas yang ada di sampingnya, tangannya mengambil sesuatu yang ada di dalam map. Edwin terkekeh pelan disertai dengan air mata yang mengalir bebas dipipinya
"Aku pantes dapetin ini," ucap Edwin parau.
"Aku hancur Key, kamu benar aku menyesal saat kamu sudah gak ada di samping aku" gumam Edwin seraya menatap nanar surat cerai yang berada di tangannya.
Edwin tidak akan menyerah dan ia juga tidak akan pernah menandatangani surat cerai itu. Ia cinta Keyla sampai kapanpun itu.
Edwin membuka laci di sampingnya, mengambil obat yang berada di kemasan dan memakannya begitu saja tanpa air. Gila Edwin memang gila sekarang, tiga butir obat Edwin makan begitu saja, rasa pait dimulutnya nyatanya tidak sebanding dengan rasa sakit yang di rasakan oleh Keyla.
Dan setelah itu Edwin merasakan matanya memberat dan pandangannya mulai menggelap dan Edwin benar-benar memejamkan matanya.
•••
Ke esokan paginya, Edwin terbangun dengan keadaan yang mengenaskan bagaimana tidak mengenaskan ia semalaman tertidur di lantai kamarnya yang dingin itu.
Itu semua terjadi karena Edwin pingsan setelah meminum obat tidur yang berlebihan.
Edwin berdiri dengan susah payah, ia terduduk di ranjang kamarnya dengan kepala pusing yang menyerangnya, badannya sakit semua.
Edwin menatap hpnya yang sudah tidak berbentuk itu, pikirannya lagi-lagi tidak bisa bekerja dengan baik. Edwin mengambil hp satunya yang ia punya dan menghubungi seseorang.
"Cari informasi apapun tentang Keyla, malam ini juga saya harus terima hasil, jika tidak kamu akan menerima akibatnya!" Ucap Edwin setelah itu ia menutup panggilannya begitu saja, nafas Edwin memburu ia secepatnya harus mendapatkan informasi tentang Keyla.
Pandangan Edwin terjatuh kepada surat cerai yang ada di nakas, ia mengambilnya dan menyobeknya begitu saja hingga tidak berbentuk.
"Apapun itu aku harus perjuangin kamu Keyla," ucap Edwin bersikeras.
Drttt drttt
Hp Edwin berdering lagi, Edwin mengernyitkan dahinya.
"Ayah," gumam Edwin seraya mengangkat panggilan telfonnya.
"Ke kantor sekarang juga, ada yang mau saya bicarakan!"
Tuuutt
Panggilan diputus begitu saja, Edwin memejamkan matanya bahkan ayahnya berbicara formal dengannya,
Edwin beranjak dari ranjang ia segera membersihkan dirinya dan secepatnya akan ke kantor.
Beberapa menit kemudian Edwin sudah siap dengan pakaian kantornya, ia segera keluar rumah dan menaiki mobilnya. Jujur Edwin sekarang merasa tidak enak badan.
•••
Edwin sampai di parkiran kantornya ia turun dari mobil saat memasuki kantor banyak yang menatap Edwin dan berbisik-bisik karena wajah Edwin yang tampak pucat itu.
Edwin memasuki ruangannya hal pertama yang ia lihat adalah papanya yang terduduk di kursi kebesaran milik Edwin.
"Ayah," Panggil Edwin.
"Tidak perlu memanggil saya Ayah lagi, saya hanya butuh tanda tangan kamu," ucap Farid lalu menyodorkan sebuah kertas di hadapan Edwin.
"Cepat tanda tangan saya tidak ada waktu untuk mengurusi hal-hal sepele seperti ini," ucap Farid.
Edwin terdiam, ia mengambil bolpoin dan langsung menandatangani dokumen itu tanpa membacanya terlebih dahulu.
Edwin tau Ayahnya sangat marah.
"Terimakasih dengan ini kamu resmi bukan anak saya lagi dan untuk warisan akan saya berikan kepada cucu saya," ucap Farid seraya mengambil dokumen dari hadapan Edwin dan pergi begitu saja.
Tapi Edwin menahan tangan Ayahnya.
"Ayah kasih tau aku dimana Keyla, aku mohon," ucap Edwin memohon.
Farid menyentak kasar tangan Edwin.
"Nggak akan pernah, saya tidak akan membiarkan Keyla dan cucu saya kamu sakiti untuk kedua kalinya!" Farid keluar dari ruangan Edwin begitu saja.
Edwin mengacak rambutnya frustasi ia bisa gila karena ini, bukan karena masalah warisan. Ia bahkan tidak menginginkan warisan tapi pikirannya hanya pada Keyla dan anaknya.
"Saya bantu kamu cari Keyla" ucap seseorang menepuk bahu Edwin.
Juna sudah mengetahui semua masalah Edwin dan ia merasa kasihan pada sahabatnya itu.
"Saya udah hancur Jun"
•••
Canada
Kayla baru saja tiba di apartemen barunya beberapa jam yang lalu setelah perjalan panjangnya dari Indonesia.
"Aku bener-bener udah pergi ya Ka" ucap Keyla menatap lurus ke luar jendela.
Raka menatap Keyla, ia terdiam. Raka tau jika Keyla tengah terpukul.
"Aku udah pergi tapi kenapa aku masih ngerasa sakit," gumam Keyla lagi-lagi ia meneteskan air matanya.
Raka bergerak maju ia mengelap air mata Keyla, Keyla menatap Raka, ia lantas memeluknya.
"Aku mau lupain dia Ka," Isak Keyla.
Raka membalas pelukan Keyla. Ia tahu bagaimana rasanya menjadi Keyla saat harus melupakan orang yang di cintainya. Sampai kapanpun tidak akan bisa sama seperti dirinya yang tidak pernah bisa melupakan cinta pertamanya meski sudah berlabuh pada banyak hati.
"Aku tau suatu saat kamu pasti bisa," ujar Raka menguatkan Keyla.
"Kenapa Ka, aku harus ketemu Edwin kalau pada akhirnya harus berakhir kayak gini,"
Raka mengusap rambut Keyla dan mengeratkan pelukannya.
"Mungkin suatu saat kamu bakalan ketemu seseorang yang nggak akan pernah nyakiti kamu, apapun itu keadaannya,"