LOVE AFTER MARRIAGE

LOVE AFTER MARRIAGE
Bab38



Raka sekarang tengah terduduk di dalam ruangan dokter, ia sedikit cemas memikirkan tentang keadaan Keyla yang akan dikatakan oleh dokter.


"Pak Raka sebelumnya apakah anda menunda mempunyai momongan dengan ibu Keyla?" Tanya dokter Rudi, Raka dibuat bingung harus menjawab apa pasalnya ia buka suami Keyla yang sebenarnya.


"Tidak dok," alibi Raka.


"Dari hasil lab barusan ditemukan obat penunda kehamilan di dalam tubuh ibu Keyla," ujar dokter Rudi.


Raka bisa memaklumi ucapan dokter Rudi karena profesi Keyla mengharuskan ia tidak mempunyai anak terlebih dahulu.


"Sebelum nya kami memang menunda tapi sekarang sudah tidak," Kata Raka.


"Dan anda sangat beruntung pak karena ibu Keyla sepertinya beberapa Minggu ini tidak mengonsumsinya, karena itu bisa saja membahayakan kandungannya jika tidak mengetahuinya dengan cepat,"


"Maksut dokter?" Tanya Raka sekali lagi memastikan kebenaran dari ucapan Dokter Rudi.


Dokter Rudi tersenyum.


"Istri anda tengah mengandung dan usia kandungannya sudah mencapai tiga Minggu, selamat untuk anda," ucap dokter Rudi.


Raka cukup terkejut dengan pernyataan yang diberikan dokter Rudi jika Keyla tengah mengandung. Ia bingung harus menjawab apa dilain sisi ia senang jika sahabatnya itu akan menjadi seorang ibu, tapi di sisi lain Raka sedikit menyayangkan jika Keyla hamil. Raka tau betul jika dunia modeling pasti tidak membolehkan modelnya untuk hamil terlebih dahulu. Entah apa nanti reaksi yang ditimbulkan oleh Keyla saat mengetahui dirinya tengah mengandung.


"Sekali lagi saya ucapkan selamat untuk anda atas kabar baik ini," ucap Dokter Rudi mengulurkan tangannya dan Raka menjabatnya.


"Terima kasih dok,"


•••


Raka keluar dari ruangan Dokter Rudi ia segera menemui Keyla dikamar pasien, ia membuka knop pintu pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah Keyla yang tengah memejamkan matanya.


Raka menghampiri Keyla.


"Selamat key, kamu bakalan jadi ibu," ujar Raka meskipun tidak dapat di dengar oleh Keyla yang belum sadar.


"Aku harap kamu nggak kecewa sama kabar ini," ucap Raka sekali lagi.


Tangan Raka terulur untuk memegang tangan Keyla, tapi hpnya tiba-tiba saja berbunyi dan menampilkan nama papanya disana.


Tanpa menunda Raka langsung mengangkat panggilan dari papanya.


"Hallo ada apa pa?" Tanya Raka.


"Mama masuk rumah sakit," 


"Apa!" Ucap Raka terkejut.


"Papa tunggu kamu di rumah sakit xx," ucap Papa Raka.


Tanpa menjawab ucapan papanya Raka langsung memutuskan sambungan telponnya, ia menatap Keyla dengan gelisah karena sepertinya Raka tidak bisa menjaga Keyla dikarenakan harus pergi ke rumah sakit lain untuk melihat keadaan mamanya.


"Permisi," ucap seorang suster memasuki ruangan Keyla sepertinya dia akan mengecek keadaan Keyla.


"Sus, saya titip Keyla, nanti malam saya akan kesini lagi," ujar Raka.


Suster itu mengangguk sebagai jawaban.


"Key, cepet sembuh aku harus pergi," ucap Raka seraya menatap Keyla dan setelah itu ia keluar dari ruangan Keyla.


•••


Beberapa jam kemudian...


Keyla membuka matanya perlahan, bau obat-obatan menyeruak memasuki Indra penciumannya.


"Syukurlah anda sudah sadar," ucap seorang suster.


Keyla mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk pada matanya.


"Raka," gumam Keyla teringat siapa yang ia temui terakhir kali sebelum ia pingsan.


"Sus, asam lambung saya naik ya?" Tanya Keyla.


Suster itu tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.


"Selamat atas kehamilan anda,"


Dar.


Bagai disambar petir tubuh Keyla seketika menegang jantungnya berpacu dengan cepat, oksigen disekitar nya seolah menipis. Dan dunia serasa berhenti berotasi berbarengan dengan perkataan suster yang terus berputar di otaknya.


"Ha..hamil," ucap Keyla terbata-bata.


"Iya Bu, sebaiknya anda istirahat yang cukup untuk saat ini," ucap suster tersebut menyudahi kegiatannya dan pergi meninggalkan ruangan Keyla.


"Nggak mungkin," ucap Keyla seraya memegang erat bajunya, perlahan tapi pasti buliran bening di pelupuk matanya jatuh dengan sempurna. Keyla merasa terpukul dengan kehamilannya saat ini.


"aku ngga bisa," ucap Keyla disertai tangisannya.


Air matanya semakin deras, dadanya terasa sakit seolah dia tidak bisa menerima kehadiran sang anak yang masih di dalam kandungannya itu.


Keyla mengelap semua bekas air matanya ia menatap jam yang tergantung di dinding menunjukkan pukul delapan malam selama itukah ia berada di rumah sakit dan pasti sekarang Edwin sudah pulang dari kantor.


Keyla menatap tangannya yang masih terdapat jarum infus, dengan gerakan cepat Keyla mencopot jarum itu hingga membuat tangan Keyla berdarah. Rasanya sangat sakit tapi Keyla tidak peduli ia segera turun dari ranjang dan keluar dari ruangannya. Saat itu juga Keyla berpapasan dengan Raka. Raka yang melihat Keyla pun sontak terkejut.


"Keyla kamu mau kemana, tangan kamu berdarah," ucap Raka menarik Keyla.


"Aku mau pulang ka," ucap Keyla menatap Raka dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu gila, kamu harus istirahat disini. Kamu lagi hamil Key," ucap Raka seraya memegang pundak Keyla.


"Kamu tau, aku nggak bisa," ucap Keyla seraya memukul dada Raka, tangisnya pecah kembali, Raka memegang tangan Keyla, ia segera memeluk tubuh Keyla.


"Tenang Key, its oke," ucap Raka seraya mengelus kepala Keyla.


"Nggak bagi aku!" Teriak Keyla.


"Key dengerin aku, kamu lagi hamil please nurut sama aku kali ini aja," ucap Raka sembari mengusap air mata Keyla.


"Sulit Ka bagi aku, kamu tau kalau aku belum bisa," ucap Keyla disela-sela tangisnya.


Raka menghela nafasnya pelan yang ia takuti ternyata benar-benar terjadi jika Keyla memang belum bisa menerima kehamilannya.


"Kita balik ke kamar," ucap Raka.


"Anterin aku pulang sekarang Ka, aku mohon sama kamu," ucap Keyla disertai isakan yang terdengar memilukan di telinga Raka.


"Oke aku anterin kamu pulang, dengan syarat aku dapet izin dari Dokter," pungkas Raka final.


•••


Saat ini Keyla tengah berada di dalam mobil lebih tepatnya mobil Raka. Raka menatap Keyla yang tengah terdiam karena melamun.


"Key" panggil Raka seraya mengelus pelan kepala Keyla.


Keyla tidak menjawab ia hanya bungkam tapi air matanya sedari tadi mengalir dipipinya.


Raka menghela nafasnya pelan, ia segera menjalankan mobilnya meninggalkan arena rumah sakit.


Tiga puluh menit diperjalan akhirnya keduanya sampai, Raka memarkir kan mobilnya di depan rumah Keyla.


"Makasih Ka," ujar Keyla seraya membuka pintu mobil Raka, tapi Raka menahan nya.


"Jangan nangis aku benci kamu nangis Key, kamu tau itu," ucap Raka seraya menatap Keyla.


"Aku nggak akan nangis Ka, kalau ini nggak kejadian," ucap Keyla seraya melenggang keluar dari mobil Raka.


Raka menatap kepergian Keyla dengan banyak kekhawatiran. Raka takut jika Keyla akan melakukan sesuatu yang aneh-aneh dengan dirinya. Raka cukup mengenal Keyla, sekali dia menolak pasti Keyla akan menolak tidak peduli apapun yang terjadi dan itu cukup ditakuti oleh Raka.