
Edwin terbangun dari tidurnya karena suara bising dari handphonenya yang terus berdering menandakan ada telephone masuk. Edwin langsung mengangkat panggilan itu.
"Hello sir, I have got all the information you want. I have sent it to your email" kata seorang Pria dari sebrang telphone.
"Good work" ucap Edwin yang langsung memutuskan sambungan telphone.
Setelah sambungan terputus, Edwin pun membuka laptopnya dan langsung masuk ke email untuk membaca informasi yang di inginkannya. Kemarin setelah Edwin bertemu Keyla, ia menyuruh seseorang yang berada di Canada untuk mencari tahu tentang Keyla dan juga Raka. Edwin hanya ingin tahu apakah benar Keyla sudah memiliki anak bersama Raka? Tapi aneh rasanya jika anak itu benar anak mereka, mengingat usia anak itu seusia anaknya yang sudah meninggal.
Edwin membaca dengan seksama artikel yang di berikan oleh orang suruhannya itu. Edwin mengepalkan tangannya ketika mengetahui fakta yang sesungguhnya. Edwin menatap layar laptopnya dengan nanar, rasa senang dan juga sedih bercampur menjadi satu sampai membuat kepalanya pening.
"Apa kamu sebenci itu key sama aku, sampai kamu gak ngasih tau aku kalau anak kita kembar" kata Edwin, tak sadar ia meneteskan air matanya. Hatinya terasa nyeri dan sesak, apa sepatal itu kesalahannya? Hingga Keyla menjauhkannya dari anak kandungnya.
•••
Malam harinya, Raka dan juga Keyla tengah menghadiri pertemuan bisnis dengan beberapa pembisnis terkenal di kota Jakarta, keduanya nampak serasi di tambah kehadiran Gempara, membuat mereka terlihat seperti keluarga bahagia, mungkin orang yang tidak tau mengira mereka adalah keluarga.
Keyla terlihat cantik dengan setelan dress berwarna baby blue sedangkan Raka ia mengenakan tuxedo berwarna hitam yang semakin menambah aura ketampanannya.
Keyla dan juga Raka tengah mengobrol dengan teman-teman rekan bisnis yang Raka kenal, sedangkan Gempara dia tengah terduduk tenang menjilati lolipop di kursi tidak jauh dari tempatnya.
Tidak jauh dari tempat itu seseorang mengamati kegiatan Gempara yang tampak menggemaskan itu, bibirnya terukir membentuk senyum tipis. Dia Edwin.
Senyuman Edwin tidak bertahan lama, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam Edwin sungguh sangat ingin menghampiri Gempara, tapi sepertinya keadaan tidak memungkinkan, karena tidak jauh dari sana Edwin bisa melihat Keyla tengah bergandengan mesra dengan Raka dan jangan lupakan bibir cantiknya itu yang kadang tertawa merespon candaan orang-orang.
Lagi-lagi Edwin hanya bisa tersenyum miris, dulu tangannya yang selalu digandeng oleh Keyla, tapi sekarang Keyla sudah berpindah ke lelaki lain yang lebih baik darinya.
Nyatanya Edwin masih mencintai Keyla sampai sekarang, ada keinginan pada dirinya untuk kembali, tapi seperti yang di ketaui bahwa Keyla sudah berpaling kepada pria lain, bahkan sampai dia tega merahasiakan kehadiran anak mereka yang ternyata kembar.
Pandangan Edwin beralih kembali kepada Gempara yang tengah menggapai mainannya yang ada di meja, tapi ternyata tinggi bocah kecil itu tidak sampai.
Terlihat ke kecewaan di wajah Gempara saat ia tidak bisa menggapai mainannya. Edwin tersenyum tipis, Gempara sangat menggemaskan ia tidak bisa menahannya lagi untuk tidak mendekati anak itu.
"Kamu mau ini?" Tanya Edwin mengambilkan mainan nya di atas meja.
Gempara menatap Edwin, tidak lama kemudian ia mengangguk di sertai dengan senyuman kecil di bibirnya.
"Makasih om," ucap Gempara mengambil mainannya di tangan Edwin.
Edwin berjongkok, ia menatap anak lelaki itu dengan teduh.
"Om kenapa ngeliatin Gege? Gege ganteng ya?" Tanyanya lugu, sungguh Edwin ingin tertawa kenapa anaknya sepede ini, tapi memang benar bocah kecil di hadapannya sangat tampan dan menggemaskan.
"Iya ganteng, tapi kalau makan lolipop nggak boleh belepotan sayang," ucap Edwin seraya mengelap bibir Gempara dengan tisu.
"Om mau lolipop?" Tanya Gempara seraya menyodorkan lolipop nya di depan Edwin. Edwin tidak bisa tidak untuk tersenyum.
"Buat Gempara aja om nggak makan lolipop," ujar Edwin.
Gempara mengangguk-anggukan kepala.
"Om jangan panggil aku Gempala, da suka, panggil Gege. Okay om" katanya dengan ekpresi menggemaskan. Sedangkan Edwin terdiam mengamati wajah anaknya itu.
"Gege, om boleh peluk kamu?" Tanya Edwin.
Gempara yang awalnya fokus dengan lolipopnya menatap Edwin.
"Kenapa om mau di peluk Gege, om lagi sedih ya kata Buna kalau olang lagi sedih itu maunya di peluk," ucap Gempara dengan polosnya.
"Iya sayang om lagi sedih banget" Memang benar Edwin lagi sedih karena ia sangat ingin Gempara memanggilnya Papah.
Gempara dengan lugunya berjalan lebih dekat ke arah Edwin.
"Om nggak boleh sedih lagi, Gege udah peluk om," ucap Gempara memeluk Edwin.
Edwin terdiam, pelukan Gempara berhasil membuat hatinya tenang, Edwin memejamkan matanya ia membalas pelukan Gempara. Tanpa sadar air matanya berderai membasahi pipinya.
Gempara melepaskan pelukannya, Edwin dengan cepat menghapus air matanya.
"Om udah ya pelukannya, Gege pegel," ujar Gempara membuat Edwin tertawa kecil.
"Gege," panggil seseorang dari arah belakang.
"Pupu," ucap Gempara seraya berlari ke arah seseorang yang barusan memanggilnya, lantas orang itu memangku Gempara.
Edwin menolehkan pandangannya ke sumber suara, di sana ada Raka dan Keyla.
"Pupu?" Tanya Edwin bingung.
Raka tersenyum.
"Kenapa ada yang salah?" Tanya Raka.
Edwin terdiam, sedangkan Raka menatap Edwin dengan pandangan kesal, namun juga kasihan.
"Gege coba jawab pertanyaan Pupu, Gege anaknya siapa?" Tanya Raka, ia mengalihkan pandangannya ke pada Gempara yang tengah berada di gendongannya. Raka Berbicara seperti itu di depan Edwin, karena ia cemburu barusan Gempara memeluk Edwin.
"Anaknya Pupu Laka sama Buna Keyla," ucap Gempara cadel.
Deg
Edwin terdiam kenapa rasanya sesakit ini, ketika anaknya sendiri tidak tau jika papanya adalah dirinya.
Pandangan Edwin kini mengalih kepada Keyla yang berdiri di samping Raka. Keyla benar-benar menjadikan Raka sebagai ayah dari anaknya.
"Pupu ayo kita pergi," ucap Keyla, menarik tangan Raka pergi meninggalkan Edwin yang tersenyum kecut, kekecewaan terlihat jelas dimatanya. Keyla mungkin mengira ia tidak tahu yang sebenarnya, padahal Edwin sudah mengetahuinya. Gempara adalah anaknya bukan anak Raka.
•••
Edwin terdiam di rumahnya seorang diri, pertemuannya dengan Keyla dan juga Gempara barusan berhasil menyayat hatinya.
Edwin tersenyum getir, anaknya sangat tampan dan menggemaskan, tapi sayang ia tidak bisa melihatnya dengan puas. Mengajaknya bermain dan menghabiskan waktu bersama. Semuanya hanya angan-angan.
Andai Keyla tau perasaan Edwin saat ini bagaimana. Namun sepertinya Keyla sudah tidak peduli lagi dengannya, memangnya dia siapa harus dipedulikan, tapi setidaknya Keyla tidak se egois itu. Gempara anak kandungnya bukan orang lain, ayah mana yang tidak sakit jika dipisahkan dengan darah dagingnya sendiri.
Sakit hati Edwin bertambah ketika Gempara memanggil Raka dengan sebutan Pupu, rasanya Edwin benar-benar ingin menghilang dari dunia ini. Kenapa Keyla harus memisahkannya dengan Gempara dan menjadikan orang lain sebagai ayah Gempara untuk menggantikan status nya?
•••
Harusnya siang ini Keyla dan Gempara pergi ke rumah Neneknya, untuk mengunjungi beliau yang sedang sakit, tapi nyatanya sekarang mereka malah di rumah sakit. Karena ke teledorannya, Gempara jatuh dari sepedah saat bermain di halaman rumah. Dia di larikan kerumah sakit karena kepalanya berdarah akibat membentur batu.
Sedari tadi Keyla menangis di pelukan Raka, khawatir dengan keadaan Gempara yang sekarang tengah di tangani oleh dokter.
"Semua ini salah aku Ka, coba aja tadi aku ngelarang Gege buat main sepedah pasti kejadiannya gak akan seperti ini." Parau Keyla di sela isak tangisnya.
"Kalau saja tadi aku gak teledor jagain gempara pasti sekarang gempara gak kenapa-napa." Keyla terus menyalahkan dirinya sendiri atas keteledorannya dalam menjaga anak. Keyla merasa gagal menjadi ibu yang sigap dalam menjaga anak.
"Ini bukan salah kamu Key, kamu jangan nyalahin diri kamu sendiri. " Kata Raka lembut. Ia mengelus rambut Keyla.
"Aku takut kehilangan Gempara, sama seperti aku kehilangan Giska" Kata Keyla mengingat saudari kembar Gempara yang sudah meninggal.
"Gempara anak yang kuat, dia gak akan kenapa-napa. Kamu gak usah takut, mendingan sekarang kita do'a-kan Gempara" ujar Raka, sebenarnya ia juga khawatir dan juga cemas, tapi sebisa mungkin ia bersikap tenang agar Keyla tidak tambah khawatir.
"Iya ka" Kata Keyla, tangisnya mulai mereda.
"Jangan nangis lagi, nanti cantiknya ilang. Kalau masih nangis aku cium, mau?" Ucap Raka yang di hadiahi cubitan di pinggangnya. Raka-pun meringis. "Aww"
"Jangan modus" ketus Keyla.