
Keyla dan juga Hana saat ini tengah berada di rumah sakit, setelah kejadian tadi di mobil Keyla lebih memilih terdiam.
Bahkan saat di periksa oleh dokter Keyla hanya menjawab seperlunya saja.
"Bu Keyla sepertinya anda harus mengurangi stress berlebihan, karena itu bisa membahayakan janin anda," ucap Dokter bername tag kan Mauretta itu.
"Iya dok," jawab Keyla singkat.
"Tensi anda rendah, setelah ini saya akan berikan obat penambah darah dan itu harus diminum rutin," ucapnya.
"Gimana keadaan anak saya, dok?" Tanya Keyla.
"Dia baik-baik saja, tapi agak sedikit lemah sebisa mungkin, Bu Keyla jangan memikirkan yang aneh-aneh," nasehat dokter Mauretta.
Keyla menganggukkan kepalanya pelan.
"Bu Keyla sendiri? Dimana suami anda?" Tanya Dokter.
"Suami saya lagi ada urusan di luar negeri, dok." jawab Keyla.
"Oh, baiklah lain kali saja saya akan menjelaskan jika anda sudah datang dengan suami anda," ucap dokter Mauretta yang di angguki Keyla.
Setelah menerima saran-saran dari dokter Mauretta, Keyla sudah diperbolehkan untuk keluar.
Hana yang memang sengaja tidak ikut ke dalam segera menghampiri Keyla ketika menyadari Keyla sudah keluar.
"Gimana Key, hasilnya?" Tanya Hana.
"Not bad," jawab Keyla.
"Aku terlalu mikirin sesuatu yang nggak penting, sampai nggak nyadar kalau akan berakibat ke anak aku,"
"Sudah jangan nyalahin diri kamu sendiri yang penting dia gapapa" ucap Hana sekali lagi.
Keyla menganggukkan kepalanya.
"Aku cuman butuh istirahat," ucap Keyla.
"Yaudah sekarang aku anterin pulang,"
•••
"Thanks ya Han, sorry udah ngrepotin kamu," ucap Keyla tidak enak karena selalu merepotkan Hana.
"Apaan sih Key, nggak ngrepotin kali, kamu kayak sama siapa aja" ucap Hana terkekeh.
"Lagian aku juga nggak ada kerjaan dirumah, jadi slow ae" lanjut Hana karena ia sedang berlibur dari kerajaannya. Bos mah bebas.
"Kamu mau mampir dulu?" Tanya Keyla.
"Nggak usah deh aku langsung pulang aja, biasa mau setreming bias" ucap Hana jiwa K-Popnya mulai muncul.
"Jiwa fans-girlnya mulai menggebu-menggebu" kata Keyla sedikit tertawa.
"Iya dong" kata Hana sedikit menunjukkan dancenya.
"Stop, udah sana pulang. Hati-hati dijalan," kata Keyla menghentikan gerakan Hana.
"Siap," jawab Hana tersenyum, setelah itu Hana masuk ke mobil dan menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Keyla.
Setelah Hana, pergi Keyla, segera masuk ke dalam rumah dan langsung pergi ke dalam kamar.
Keyla, menjatuhkan badannya di atas kasur bahkan sepatunya belum ia copot.
Keyla, lebih memilih melihat hpnya dan benar saja lagi-lagi Edwin, terus menerus menelponnya. Keyla, menghela nafasnya pelan sedikit lega karena ia sudah mengatakannya kepada Edwin, meskipun dengan cara berteriak. Setidaknya ia tidak di hantui rasa bersalah.
Tanpa berniat mengangkat panggilan dari Edwin, Keyla memilih beranjak dari ranjangnya dan membersihkan badannya di kamar mandi.
Dua puluh menit Keyla habiskan untuk berada di dalam kamar mandi. Akhirnya ia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathroob saja. Keyla menuju meja rias dan mengambil sisir untuk menyisir rambutnya.
Tapi pergerakan Keyla terhenti begitu saja, ia menatap sesuatu yang ada di jarinya.
"Cincin!" gumam Keyla seraya meletakkan sisirnya dan menatap cincin yang ada di tangannya.
Keyla, mengernyitkan dahinya, sejak kapan ada cincin lain di jarinya, dan kenapa dia baru menyadarinya sekarang?
"Edwin yang ngasih?" Tanya Keyla bermonolog dengan dirinya sendiri, tiba-tiba saja bibir Keyla, tertarik ke atas pertanda dia tersenyum.
Cincin itu terlihat elegan dan juga sangat pas di jari Keyla, tapi senyuman Keyla pudar perlahan. Ia sedikit sedih saat Edwin, membentaknya tadi dan mengatainya kekanak-kanakan. Keyla, tidak kekanak-kanakan ia hanya sedikit labil.
Keyla menyudahi kekagumannya atas cincin tersebut ia memilih meneruskan untuk menyisir rambutnya dan menggelungnya ke atas.
Selesai dengan kegiatannya, Keyla langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian santai.
Setelah itu Keyla memutuskan untuk tidur siang.
•••
Keyla terbangun dari tidurnya, ia meraba-raba kasur disampingnya mencari hpnya, setelah di rasa ketemu Keyla menatap hpnya melihat jam.
Jam menunjukkan pukul lima sore, Keyla meletakkan kembali hpnya, ia sedikit meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku.
Badan Keyla terasa malas untuk bangun dari kasur. Keyla malah mencoba memejamkan lagi matanya tapi hpnya berdering membuatnya terpaksa membuka matanya.
Keyla menatap nama yang tertera di sana, ada nama Edwin.
Keyla ragu ingin mengangkatnya tapi meskipun ragu jari Keyla bergerak untuk mengangkat panggilan itu. Keyla meletakkan ponselnya di telinganya.
"Keyla" panggil Edwin dari sebrang sana.
"Apa?" Jawab Keyla ketus.
"Kamu serius dengan ucapan kamu tadi?" Tanya Edwin. "Kamu beneran lagi hamil?"
Keyla menghela nafasnya pelan.
"Menurut kamu gimana?"
"Key, ayolah aku serius." ucap Edwin.
"Aku juga serius," jawab Keyla pelan.
"Nggak, pasti kamu bohong kan," ucap Edwin terdengar tidak percaya di telinga Keyla.
Keyla tanpa sadar terkekeh pelan.
"Aku nggak bohong, sebentar lagi kita jadi orangtua," ujar Keyla.
Edwin terdiam. Keyla yang merasa tidak ada jawaban dari Edwin pun sedikit khawatir.
"Edwin?" Panggil Keyla.
"Tunggu aku besok aku pulang ke Jakarta," kata Edwin.
"Apa!" Kaget Keyla. "Jangan aneh-aneh bukannya kamu disana nyele.."
Tuuuttt
Tiba-tiba saja panggilan terputus secara sepihak, tidak lama kemudian Keyla menerima chat dari Edwin.
Edwin: secepatnya aku pulang ke Jakarta.
Keyla tersenyum membaca chat dari Edwin. Keyla, menutup wajahnya dengan bantal rasanya pipinya memanas sekarang.
Rindunya pada Edwin semakin bertambah saja membuat Keyla ingin segera bertemu. Keyla tiba-tiba ingin memeluk Edwin sekarang.
Keyla seketika membuka bantalnya, ia memegang perutnya yang berbunyi.
"Kamu laper ya?" Tanya Keyla menyadari dirinya belum makan apa-apa dari pagi, dengan cepat Keyla menuju ke dapur dan mengambil beberapa makanan yang sudah ia masak sejak pagi, tapi saat menatap makan di hadapannya Keyla merasa tidak selera.
Keyla menghela nafasnya pelan, ia memilih mengambil cemilan saja yang ada di dalam kulkas dan memakannya.
"Kenapa aku pengen rujak manis, jangan bilang kalau aku lagi ngidam," ucap Keyla. Keyla jadi bingung ia tidak tau dimana tempat menjual rujak manis di sekitar rumahnya.
"Sayang lain kali aja ya mama lagi males keluar," ucap Keyla meminta anaknya agar tidak mengidamkan sesuatu.
Tapi sepertinya Keyla tidak bisa menolak untuk tidak keluar. Masalahnya ia menginginkannya sekarang detik ini juga. Keyla tidak mau sampai anaknya ileran karena ngidamnya tidak terpenuhi. Jangan sampai anaknya ileran karena keegoisan Keyla yang malas untuk mencari pedagang rujak.
Dengan semangat 45 akhirnya Keyla keluar untuk mencari penjual rujak buah. Berharap ada pedagang rujak yang dekat dengan rumahnya jadi Keyla tidak perlu repot-repot untuk mencarinya lebih jauh lagi.
"Semangat Key demi Debay"