
Sudah dua hari ini Keyla sakit, dan Edwin? Dia sibuk di kantor sampai tidak memperdulikan Keyla dan lebih mementingkan kepentingan kantor.
Keyla menatap pantulannya di cermin, satu kata yang mendeskripsikan dirinya saat ini.
Pucat
Keyla menghela nafasnya pelan, harinya tidak berjalan dengan baik selama beberapa Minggu ini, Keyla mengambil vitaminnya di laci tidak lama kemudian helaan nafas keluar dari mulutnya.
"Habis," gumamnya.
Keyla lantas terdiam, ia ingin bertemu dengan Edwin dan memberitahukan keluh kesahnya, tapi tahukah jika Keyla tidak berani ngobrol dengan Edwin akhir-akhir ini. Keyla hanya bertemu dengan Edwin saat malam hari, mereka hanya berbicara jika ada perlunya saja. Edwin dingin dan Keyla takut.
Keyla menatap jam dinding kamarnya menunjukkan pukul satu siang.
Keyla tidak bisa menahannya, sudah cukup selama empat bulan ini ia mencoba sabar karena Edwin selalu sibuk dan mengabaikannya di rumah. Keyla segera mengganti pakaiannya dengan dress simpel yang membalut tubuhnya, perutnya sudah sangat ketara jika ia sekarang tengah mengandung.
Selesai bersiap-siap Keyla mengambil kunci mobilnya dan keluar dari kamar menuju garasi rumahnya.
Keyla memasuki mobil setelah itu ia menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan rumahnya.
Cukup lama perjalanan dari rumah sampai kantor Edwin karena membutuhkan waktu selama tiga puluh menit, mengingat keadaan kota Jakarta yang sangat macet.
Sesampainya di sana.
Keyla turun dari mobilnya dan memasuki kantor.
Saat memasuki kantor banyak yang menatapnya.
"Itu istrinya pak Edwin ya,"
"Istrinya lagi hamil,"
"istri pak Edwin mantan model,"
"Haa yang bener?"
"Kamu kemana aja, Keyla model terkenal yakali kamu nggak tau,"
"Pantesan aku nggak asing sama wajahnya,"
Keyla mengabaikan ucapan-ucapan orang-orang ia menatap ke sekeliling kantor dan mendapati Juna yang tengah berbicara dengan seseorang, lantas Keyla menghampiri nya tapi sebelum Keyla menghampiri Juna ternyata dia sudah menyadari kehadirannya.
"Hai Key?" Sapa Juna.
Keyla tersenyum menanggapi Juna. Juna mengernyitkan dahinya detik selanjutnya ia memelototkan matanya.
"Kamu hamil!" Kaget Juna seraya menatap perut Keyla tidak percaya
"Iya, kenapa kamu kaget gitu," ucap Keyla.
"Sialan! Edwin nggak bilang apa-apa sama saya kalau mau punya anak," ucap Juna heboh.
Keyla tertawa palsu. Kenapa Edwin tidak memberi tahu sahabatnya bahwa ia akan segera memiliki anak. Apa semarah itu Edwin padanya sampai-sampai ia tidak memberi kabar bahagia ini kepada karyawannya.
"Sekarang dia dimana? sibuk?" Tanya Keyla.
Juna menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Edwin lagi nggak ada di kantor, udah dua jam dia keluar nggak balik-balik," ucap Juna disertai helaan nafas.
"Selama itu, kemana?" Tanya Keyla.
"Sorry banget Key saya nggak tau, hpnya juga nggak aktif. Saya heran akhir-akhir ini dia sering keluar kantor" ujar Juna sedikit tidak enak, "Oh iya, mau nunggu di ruangannya atau gimana? Mungkin bentar lagi tu anak balik,"
"Nggak usah deh, Jun, aku balik aja cukup bilangin ke dia kalau saya kesini," ucap Keyla ia sedikit kecewa. Apa benar apa yang di ucapkan Juna barusan bahwa Edwin sering keluar kantor.
"Okee, btw selamat ya atas kehamilannya," Juna memberi selamat membuat pikiran Keyla buyar.
"Thanks Jun," ucap Keyla lalu berpamitan, "Saya duluan,"
"Okee hati-hati di jalan," ucap Juna yang di angguki Keyla.
Setelah itu Keyla kembali ke mobilnya dan menjalankan mobilnya keluar dari area kantor Edwin.
Saat di perjalanan Keyla merasakan kepalanya berdenyut kencang, di tambah jalanan Jakarta yang macet itu.
"Sabar ya sayang bentar lagi nyampek kok," ucap Keyla seraya mengelus pelan perutnya.
Keyla memutuskan pergi ke rumah sakit untuk menemui dokter kandungannya, dan membicarakan tentang keluhannya selama dua hari ini
Drttt drrttt
Hp Keyla berbunyi, Keyla segera mengambil hpnya dan mengangkatnya.
"Hallo kamu di mana key?"
"Aku di jalan ma mau ke rumah sakit," jawab Keyla karena yang menelpon adalah mamanya.
"Kamu sakit? Atau mau cek up?"
"Pusing dikit kok ma,"
"Yaudah kalau gitu telfonnya kasih ke Edwin mama mau bicara,"
"Mah aku lagi nggak sama Edwin, dia di kantor,"
"nggak sama Edwin, kamu nyetir sendiri ceritanya?"
" Iya mah, Edwin lagi sibuk,"
"Lain kali jangan bawa mobil, kamu lagi hamil mama nggak mau kamu kenapa-napa."
Keyla terkekeh pelan karena ucapan mamanya.
"Mama serius kok malah ketawa, mama khawatir sama kamu. Usia kandungan kamu itu masih muda key, mama nggak mau terjadi apa-apa sama cucu mama," tutur Sofia panjang.
"Iyaa mama sayang lain kali nggak bawa mobil kalau nggak kepepet," Jawab Keyla mengerti dengan apa yang di takutkan Mamanya.
"CK yaudah mama matiin telponnya, entar malem mama ke rumah kamu kita kumpul bareng-bareng sama mertua kamu juga, mama udah janjian soalnya,"
"Iya udah hati-hati, mama matiin telponnya," pungkas Sofia.
"Iya mah,"
Keyla meletakkan kembali hpnya saat panggilan sudah terputus, ia segera fokus dengan jalanan di depannya.
Dua puluh menit kemudian Keyla sampai di rumah sakit. Keyla segera memarkirkan mobilnya, setelah itu ia turun dan masuk ke rumah sakit.
Keyla pergi ke meja resepsionis.
"Selamat datang ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya.
"Dr Mauretta nya ada?" Tanya Keyla.
"Ada, mbak pasiennya dr Mauretta?" Tanyanya Lagi.
"Iya,"
"Sudah membuat janji?"
Keyla mengangguk.
"Bentar ya dr Mauretta saya telpon dulu, mbak nya duduk aja," ucapnya, Keyla hanya mengangguk.
Beberapa menit kemudian.
"Dengan Mbak siapa?" Tanyanya.
"Keyla," jawab Keyla.
"Oke kata dr Mauretta langsung aja ke ruangan beliau," ucapnya.
"Makasih," ucap Keyla tersenyum setelah itu ia beranjak dari tempatnya.
Keyla berjalan di sepanjang koridor rumah sakit, saat akan memasuki ruangan dokter Mauretta, Keyla menghentikan langkahnya karena mendapati seseorang yang sangat ia kenal tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Aku harus gimana hiks, semua udah terbukti Ed, kalau dia anak kamu, aku nggak pernah bohong,"
Deg
Keyla mematung di tempatnya, pandangannya menatap lurus kepada Edwin yang tengah terdiam di depan Keysa yang tengah terisak.
Keyla mengepalkan tangannya erat. Apa maksud dari omongan Keysa barusan, apa dia sedang memanipulasi keadaan. Menuduh Edwin menghamilinya padahal anak itu hasil dari hubungannya dengan pria-pria hidung belang.
"Jawab Ed, aku harus gimana!!" Ucap Keysa mencengkram erat kemeja Edwin.
Edwin masih belum menjawab ia masih terlihat syok dengan ucapan Keysa barusan.
"Aku nggak bisa besarin dia tanpa seorang ayah," ucap Keysa terisak.
Edwin terdiam tidak lama kemudian ia mengambil nafasnya dalam-dalam.
"Aku akan tanggung jawab,"
Bagai di hantam batu besar Keyla merasakan hatinya berdenyut kencang, ia berjalan ke arah mereka.
"Maksut kamu apa, ha?" Tanya Keyla lantang.
"Keyla!" Kaget Edwin.
"Jawab Aku Edwin, apa maksut kamu buat tanggung jawab?" Tanya Keyla geram.
Edwin berdiri ia memegang bahu Keyla tubuhnya ambruk di pelukan Keyla.
"Maaf Key, aku gagal," ucap Edwin lirih.
Keyla melepaskan pelukan Edwin, ia berganti menatap Keysa.
"Apa buktinya kalau anak haram kamu, anak Edwin!" Ucap Keyla menunjuk Keysa.
Plakk
"Keysa!!" Pekik Edwin ketika Keysa menampar pipi Keyla begitu saja.
"Dia udah ngatain anak kita anak haram Ed, aku nggak terima ya!!" Ucap Keysa.
Keyla sempat-sempatnya terkekeh setelah mendapat tamparan dari Keysa. Memang benar adanya apa yang keyla katakan anak yang di kandung sebelum ibu dan ayahnya menikah di sebut haram. Memang anak ketika di lahirkan semuanya suci tapi kedua orang tuanya yang menjadikannya Haram sebelum lahir. Sungguh anak yang malang.
"oke mungkin anak kamu gak haram di mata ibunya..." Keyla menjeda omongannya sesaat, "tapi kamu yang haram dan murahan"
"Stop Keysa!" Ucap Edwin memperingati Keysa yang hendak menjambak rambut Keyla.
"Kamu gak papah?" Tanya Edwin khawatir menatap Keyla.
Keyla menghempaskan tangan Edwin.
"Asal kamu tau Ed itu bukan anak kamu! Kamu gak pernah nyentuh dia" Ucap Keyla tegas.
Keysa terkekeh pelan.
"Saya udah lakuin tes DNA dan hasilnya cocok," ucap Keysa.
"Saya mau kamu tes lagi," ucap Keyla menantang Keysa. Sudah dapat di pastikan Keysa tidak akan melakukannya karena Keyla tahu anak itu bukan anak dari suaminya, Edwin.
Keysa sempat terdiam sebelum ia kembali berbicara.
"Kamu pikir saya bohong? Tanya Edwin!"
Keyla terdiam, selanjutnya ia menatap Edwin.
"Kamu percaya? Tanya Keyla. Tidak mungkin Edwin percaya begitu saja pada orang yang berkali-kali membohongi dan menghianatinya.
Cukup lama Edwin terdiam ia menatap Keyla dengan pandangan sendu.
"Maaf Key, tapi aku percaya,"