LOVE AFTER MARRIAGE

LOVE AFTER MARRIAGE
Bab54



Edwin memegangi kepalanya yang terasa berdenyut kencang, matanya terasa berat untuk di buka ia melihat kesekeliling ruangan.


"Kamar," gumam Edwin.


Ah sial Edwin sampai tidak ingat apa-apa karena ia tadi malam terlalu banyak minum.


Edwin menatap kasur sampingnya dan tidak mendapati Keyla. Edwin beranjak dari tempat tidurnya membuka kamar mandi dan ternyata disana tidak ada Keyla.


Edwin memilih untuk keluar kamar, mencari Keyla di seluruh rumahnya.


"Keyla," panggil Edwin ketika mendapati Keyla yang tengah menyiapkan sarapan pagi.


Keyla menatap Edwin datar.


"Tadi malem kamu mabuk, aku buatin kamu sup," ucap Keyla dingin.


"Aku bisa jel.."


"Nggak usah dijelasin, kamu bisa makan sekarang," kata Keyla meletakkan sup di mangkuk. Ia tidak ingin memulai perdebatan di pagi ini.


Edwin menghampiri Keyla dan menatap matanya yang terlihat seperti mata panda dan sedikit bengkak.


"Key aku minta maaf, aku tau kamu marah karena aku mabuk kan," ucap Edwin memegangi tangan Keyla.


Keyla melepaskan tangan Edwin. Iya dia marah karena suaminya mabuk tapi Keyla lebih marah lagi karena edwin pulang dengan wanita lain dan parahnya wanita itu memiliki tanda kepemilikan di lehernya.


"Kamu inget apa yang kamu lakuin tadi malem dalam keadaan tidak sadar?" Tanya Keyla dengan tenang.


Edwin tidak bisa menjawab ia memang lupa segalanya, bahkan dengan apa yang dilakukannya tadi malam. Yang Edwin ingat, ia masuk ke club untuk minum dan setelah itu ia mabuk sampai lupa semuanya bahkan ia tidak ingat bagaimana ia bisa berada di kamar rumahnya.


Keyla tersenyum miris. Bahkan Edwin tidak mengingatnya.


"Nggak perlu di inget-inget," ucap Keyla memilih meninggalkan Edwin yang berada di dapur. Ia enggan untuk mengungkit hal semalam karena terlalu sakit bila di ingat dan di ungkit kembali.


•••


Keyla mengambil beberapa bajunya dan memasukkan ke dalam tas. Ia berniat untuk pergi dari rumah karena ia tidak ingin kenapa-napa dengan anaknya jika terus berada di sini dengan pikiran negatifnya yang muncul ketika melihat Edwin.


Cklek


Edwin membuka pintu kamarnya sedikit terkejut ketika Keyla memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas. Dengan cepat Edwin menghampiri Keyla.


"Key, kamu ngapain?" Tanya Edwin.


"Ke rumah mama," jawab Keyla singkat tanpa melihat Edwin.


"Tapi kenapa? Cuman gara-gara aku tadi malem mabuk," ucap Edwin tak mengerti dengan istrinya. Hanya karena dirinya mabuk Keyla mau pulang ke rumah orang tuanya.


"Cuman kamu bilang," ucap Keyla meletakkan kasar tas nya di lantai. Edwin benar-benar lupa atau ia pura-pura lupa dengan yang terjadi padanya semalam.


"Ya terus apa Key, aku ngga ngerti kamu marah karena apa?," Edwin kebingungan.


"Bahkan kamu ngga inget apa yang kamu lakuin," Keyla menahan emosinya karena ia sedang hamil.


"Makannya aku tanya sama kamu," ucap Edwin.


"Stop Edwin jangan ngajak aku debat, aku capek!" Sentak Keyla seraya mengambil tas nya dan melenggang pergi. Keyla tidak ingin melanjutkan perdebatannya karena menurutnya sia-sia berdebat dengan orang yang lupa atau pura-pura lupa.


"Berhenti disitu Key!" Perintah Edwin tegas. Keyla menghentikan langkahnya di ambang pintu, ia berbalik menatap Edwin.


"Keyla!!" Sentak Edwin seraya menghampiri Keyla dan mencekal tangannya erat.


"Lepasin!" Berontak Keyla.


"Nggak akan!!" Ucap Edwin semakin mencengkram tangan Keyla.


"Balikin baju kamu,"


"nggak mau" kata Keyla yang mencoba melepas cekalan tangan Edwin di tangannya.


"aku bilang balikin" Bentak Edwin mulai tersulut emosi.


Keyla menyerah sekarang ia tidak tahu harus berbicara apa dengan Edwin karena mengingat kejadian semalam saja sudah membuat Keyla sakit. Pada akhirnya Keyla hanya bisa menangis.


"Aku capek Ed, capek! please aku mohon kali ini aja," ucap Keyla mengusap air matanya kasar.


"Capek? Apa yang buat kamu capek? Aku?" Ucap Edwin menunjuk dirinya sendiri.


Keyla tidak menjawab Edwin, ia berusaha melepaskan cekalan dari tangan Edwin tapi Edwin malah memegangnya semakin erat hingga menimbulkan kemerahan di tangan Keyla.


"Edwin lepasin,"


"Ikut aku!", Paksa Edwin seraya menarik tangan Keyla agar memasuki kamar, tapi Keyla tetap keras kepala ia menahan sekuat tenaga agar tidak bergerak dari tempatnya.


"Jadi ini yang kamu mau, jangan salahin aku kalau aku kasar setelah ini," ucap Edwin menarik tangan Keyla sekuat tenaga.


Brakk.


Edwin membanting pintu kamar ia menyeret Keyla dan mendorongnya ke atas ranjang tanpa rasa belas kasihan.


Tubuh Keyla terlempar ke atas ranjang. Keyla terdiam dengan air matanya yang mengalir dan menatap mata Edwin yang penuh emosi ketika menatapnya.


"Sialan, kamu udah mancing emosi aku, Key!" Bentak Edwin matanya menatap nyalang ke arah Keyla.


Keyla terisak, ia memalingkan wajahnya dari Edwin yang terlihat menyeramkan. Sorot matanya bak iblis yang hendak merenggut nyawanya.


"Kalau di ajak bicara liat lawan bicara kamu!" Ucap Edwin mencengkram dagu Keyla kasar. Hingga Keyla bisa merasakan kuku Edwin yang menusuk kulitnya.


"kamu ngerti kan?" Bentak Edwin membuat air mata Keyla semakin deras.


"Kamu bukan Edwin yang aku kenal, kamu nggak pernah sekasar ini dan sekarang apa? bahkan kamu dorong aku barusan, tangan aku sakit, dagu aku perih dan kamu tau apa yang paling sakit?" Serang Keyla di sela-sela tangisannya.


Keyla memegang tangan Edwin seraya mengarahkannya ke dadanya.


"Ini," ucap Keyla terisak. Dada dan hatinya benar-benar sesak kala mendapat perlakuan kasar dari suaminya.


Edwin terdiam menatap Keyla. Wanita itu penampilannya sangat berantakan dengan mata sembapnya dan bekas cengkramnya di dagu terlihat begitu jelas.


"Dan kamu tahu secara tidak langsung kamu juga udah buat dia kesakitan" ucap Keyla mengarahkan tangan Edwin ke perutnya. "Di depan calon anak kita kamu berbuat seperti itu sama aku, sakit hati aku, Ed. Aku ngerti kamu marah sama aku tapi apa kamu gak bisa ngehargain aku yang lagi ngandung anak kamu."


Hati Edwin yang tadi keras seketika melembek seperti kerupuk yang terkena air saat mendengar ucapan Keyla barusan. Keyla menatapnya dengan penuh luka. Luka yang selalu ia berikan? Edwin merasa bodoh atas apa yang ia lakukan, tak seharusnya ia berbuat kasar pada istrinya. Edwin kecewa dengan dirinya sendiri sekarang dan pada akhirnya hanya kata maaf yang bisa ia ucapkan.


"Maaf"


Ma'af dan ma'af selalu saja itu yang terucap saat membuat kesalahan. Pantas saja banyak orang yang mengulangi kesalahannya karena kata maaf mudah ia dapat sebagai penebus kesalahan. Untuk kali ini saja Keyla tidak ingin memaafkan Edwin sebelum ia mendapat jawaban yang pasti atas kesimpulannya.