LOVE AFTER MARRIAGE

LOVE AFTER MARRIAGE
Bab62



Plak


"Papaaa!! Pekik Keyla ketika satu tamparan mendarat di pipi Edwin. Saat ini Keyla tengah berada di ruang tamu bersama suami dan orang tua Keyla.


"Maksut kamu apa?" Tanya Dana kembali menampar Edwin. Dana tidak percaya dengan apa yang barusan di katakan Edwin.


Edwin hanya diam mendapat tamparan dari papa mertuanya.


"Ceraikan anak saya sekarang!" Ucap Dana tegas.


"Maaf pa tapi aku nggak bisa," ucap Edwin.


Bugh


Dana memukul pipi Edwin hingga mengeluarkan darah dari sudut bibirnya. Dana kembali memukul Edwin di bagian perutnya, Edwin tidak melakukan perlawanan.


"BIADAB KAMU! LEPASKAN ANAK SAYA ATAU KAMU AKAN MENDERITA SEUMUR HIDUP!" maki Dana yang sudah tersulut emosi, sedangkan Keyla sudah menangis tersedu-sedu.


"Pah stop Keyla mohon," ucap Keyla mencoba melerai papanya, ia menghalangi papanya saat akan menghajar Edwin lagi.


"Minggir kamu Key!" Bentak Papanya.


"Keyla! Ikut mama!" Ucap Sofia seraya membawa paksa Keyla.


"Enggak mah, aku mohon!" Ujar Keyla dengan tangisnya yang pecah.


"KAMU LIAT DIA! EDWIN DIA UDAH KAMU SAKITI BERULANG KALI TAPI DIA TETAP BELAIN SUAMI NGGAK TAU DI UNTUNG SEPERTI KAMU!!" Ucap Sofia murka.


Sedangkan Edwin hanya diam saja, ia menatap Keyla.


"Sayang kamu ikut mama ya," ucap Edwin mencoba berbicara dengan Keyla. Keyla menggelengkan kepalanya, air matanya terus saja mengalir membasahi pipinya.


Bugh


Bugh


"Pah aku mohon... lepasin Edwin!" Teriak Keyla histeris ketika mendapati Edwin terus dihajar oleh papanya bertubi-tubi, tapi tetap saja Sofia menahan Keyla agar tidak mendekat kepada Edwin.


"Mah aku mohon bilangin ke papa," ucap Keyla di sela-sela isakannya tangisnya, menatap Sofia dengan pandangan memohon.


"Mama nggak peduli, itu belum seberapa," ucap Sofia.


"CERAIKAN ANAK SAYA! SAYA TIDAK SUDI MEMPUNYAI MENANTU BEJAT SEPERTI KAMU!!


bugh


Bugh


"Pah stop hiks jangan kayak gini!! Edwin suami aku pa!"


"SUAMI KAMU BILANG? SADAR KEYLA DIA UDAH NYAKITI HATI KAMU!!!" bentak Dana.


Keyla terisak, ia tidak tega melihat Edwin yang hanya pasrah saja ketika dipukuli papanya berkali-kali. Lebih baik Keyla yang tersakiti di banding melihat Edwin seperti itu.


Bugh


Bughh


"STOPP PAH AKU BAKALAN CERAI SAMA EDWIN!!!" teriak Keyla histeris seraya berlari ke arah Edwin yang akan di pukul oleh papanya.


"Aku mohon pa kali ini dengerin Keyla, jangan pukul Edwin," ucap Keyla.


"Keyla minggir ini nggak seberapa sama yang kamu rasain bener kata mama kalau aku suami nggak tau di untung," ucap Edwin seraya menarik tubuh Keyla dari hadapannya.


"Jangan sentuh anak saya!" Ucap Dana seraya menarik tangan Keyla kencang dari hadapan Edwin.


"pa aku janji bakalan cerai, aku janji tapi jangan kayak gini, jangan pukul Edwin pa aku mohon!" Mohon Keyla.


Dana menatap Keyla lantas ia menghela nafasnya kasar.


"Papa tunggu," ucap Dana seraya beranjak dari hadapan Keyla dan memilih keluar dari rumah Edwin diikuti dengan Sofia.


Tubuh Keyla luruh dilantai, hatinya hancur sehancur-hancurnya.


Edwin dengan susah payah berdiri ia menghampiri Keyla dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Aku Gak papa jangan nangis lagi," ucap Edwin.


Plak


"Aku capek!" Teriak Keyla seraya menampar pipi Edwin kuat setelah itu Keyla berlari menaiki tangga dan menutup kamarnya sekencang-kencangnya.


Tentu saja Edwin tidak tinggal diam ia menyusul Keyla dan menggedor-gedor pintu kamar.


Edwin terus saja mencoba berbicara dengan Keyla tapi nihil tidak ada jawaban dari Keyla sama sekali yang ada hanya isakan yang terdengar di telinga Edwin.


Hati Edwin sakit mendengar tangisan Keyla, ia terus mencoba menggedor-gedor pintu tapi nyatanya Keyla tetap diam.


Edwin menyerah tubuhnya luruh dilantai.


Detik mulai berganti menit, menit mulai berganti jam dan saat ini sudah satu jam lamanya Edwin berada di depan pintu berharap Keyla akan membukakan pintu untuk dirinya.


"Edwin," panggil seseorang.


Edwin mendongakkan kepalanya di sana ada ayah dan bundanya.


"Ayah, bunda," ucap Edwin seraya menghampirinya keduanya.


Plak


"Bunda kecewa sama kamu!" Ucap Lena seraya menampar wajah Edwin.


"Berani-berani nya kamu mempermalukan ayah! Mikir! Otak kamu di mana haaa!!" Kata Farid seraya menarik kerah Edwin. Sedangkan Edwin lagi-lagi hanya pasrah karena ia pantas mendapatkan ini.


"Maaf yah," ucap Edwin.


Bugh


"Batalkan pernikahan ini kalau kamu mau maaf dari ayah!" Ucap Farid memukul keras rahang Edwin.


Edwin terdiam.


"Maaf ayah aku nggak bisa, aku salah aku harus tanggung jawab," ucap Edwin.


Lena menangis.


"Kamu tau nak Kamu sudah menyakiti hati bunda, rasanya sakit, bagaimana dengan Keyla dia pasti lebih sakit dari apa yang bunda rasakan," ucap Lena terisak.


"Batalkan Edwin atau semua harta warisan Ayah tidak ada satupun yang jatuh di tangan kamu," ancam Farid.


"aku tidak butuh warisan ayah," ucap Edwin.


Farid menggertakkan rahangnya. Mau di ancam sedemikian rupa pun Edwin tetap bersikap keras kepala. Farid kecewa saat tahu anaknya akan menikah lagi dengan perempuan yang katanya sedang mengandung anaknya.


Plak


Plak


"Percuma ayah didik kamu, seharusnya kamu tidak usah jadi anak ayah, ayah kecewa!" Ucap Farid murka. Farid merasa gagal dalam mendidik Edwin.


"Maaf ayah, aku tidak bermaksud, aku menikahi Keysa hanya sebatas tanggung jawab tidak lebih, setelah itu aku akan menceraikannya setelah melahirkan" ucap Edwin.


Plak.


"Sejak kapan Edwin, ayah ngajarin kamu mempermainkan pernikahan sejak kapan haa!!!" Teriak Farid sudah hilang kesabaran.


Lena yang melihat itu semakin terisak ia tidak berharap anak yang ia besarkan menjadi sebejat ini. Menghamili perempuan lain yang bukan istrinya dan menghianati istrinya yang sedang hamil. Lena tahu betapa sakitnya Keyla saat ini.


"Tanggung jawab kamu bilang!! Persetan dengan semua itu, dia bukan anak kamu!" Ucap Farid memperjelas.


"bukti udah di depan mata yah," ucap Edwin.


"Bukti? Bunda tanya kamu Edwin, memang kamu merasa melakukannya dengan Keysa?" Tanya Lena dengan suara parau.


Edwin terdiam ia tidak bisa menjawab ucapan Lena. Memang ia merasa tidak pernah melakukannya tapi malam itu Edwin mabuk dan tidak ingat. Kemungkinan ia melakukannya dan hasil DNA itu adalah saksinya.


"Bunda kecewa sama kamu! Bunda tidak ingin mengakui kamu lagi sebagai anak bunda!" Ucap Lena yang kecewa dengan anaknya.


"Ayah ayo pergi," ajak Lena seraya menarik tangan Farid pergi meninggalkan Edwin yang terdiam di tempatnya.


Keyla yang ada di dalam kamar sebenarnya ia mendengar kegaduhan di luar kamar, kini ia hanya terisak menahan sesak di dadanya dan memilih diam seolah menulikan pendengarannya.