
"Mah Edwin belum kesini ya?" Tanya Keyla kepada mamanya yang berada di ruang tengah.
"Sibuk mungkin Key, dia tadi pulangnya buru-buru kan," ucap Sofia.
"Coba telpon aja," saran Sofia agar anaknya tidak hawatir.
Keyla menghembuskan nafasnya.
"Udah ma tapi hpnya nggak aktif," ucap Keyla karena tadi sudah menelpon Edwin tapi tidak aktif.
"Yaudah di tunggu aja disini," ucap Sofia.
"Aku pulang aja ma," kata Keyla memilih untuk pulang siapa tahu Edwin lupa untuk menjemputnya.
"mama bilangin ke papa ya biar di Anter," Ujar Sofia membuat Keyla menggelengkan kepalanya.
"Aku pulang sendiri aja mah," tolak Keyla karena tidak ingin merepotkan orang tuanya, lagi pula Keyla bawa mobil sendiri.
"Hati-hati di jalan entar," nasehat Sofia yang langsung di angguki oleh Keyla.
"Aku ke atas dulu mau ambil tas sama pamit ke papa," ucap Keyla yang di angguki Mamanya, setelah itu Keyla pergi ke kamarnya dan membereskan barang-barang nya.
Keyla mengambil hpnya, ia menatap room chat antar dirinya dan juga Edwin, pesannya masih centang satu.
"Kamu kemana sih," kesal Keyla seraya memasukkan hpnya ke dalam tas. Setelah itu Keyla keluar kamar ingin berpamitan ke pada papanya, tapi ternyata papanya sudah ada di ruangan tamu bersama mamanya.
"Papa anter aja gimana udah malem lho ini," tawar Dana hawatir dengan Keyla takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Iya Key di anter papa aja ya nggak baik lho cewek keluar sendiri an," sahut Sofia.
"Nggak usah ma, pa, Keyla gak papa kok," tolak Keyla. Bukankah Keyla sudah terbiasa pulang malam apakah mereka lupa.
"Selalu bandel kamu Key," ucap Dana membuat Keyla terkekeh menanggapi ucapan papanya.
"Kalau nggak bandel bukan anak papa," jawab Keyla.
Sofia tertawa, tiba-tiba saja dia kangen saat Keyla masih SMA, sungguh butuh kesabaran untuk mendidik Keyla yang nakalnya minta ampun.
"Hati-hati kalau gitu," ucap Sofia pada akhirnya membiarkan Keyla pulang sendiri.
"Iya mama sayang, Keyla pulang," ucap Keyla bergantian memeluk mama dan juga papanya.
"Kalau ada apa-apa telpon papa," Dana mengingatkan putri tercintanya. Keyla pun mengangguk.
••••
Keyla memasuki rumahnya, ia menyalakan semua lampu yang ada di rumah kemudian menuju dapur dan mengambil segelas air minum dan menegaknya sampai habis.
"Papa kamu belum pulang, padahal mama mau ngasih tau tentang kamu," ucap Keyla mengajak ngobrol calon anaknya. Keyla akhirnya memilih pergi ke kamar dan mengistirahatkan badannya.
Di kamar, Keyla menunggu Edwin. Sedari tadi Keyla membuka room chat antara dirinya dan Edwin tapi tetap saja belum ada jawaban.
Keyla terus mencoba menelpon Edwin tapi tetap hpnya tidak aktif, akhirnya Keyla menjadi lelah sendiri. Ia melirik jam dinding, Keyla sedikit terkejut ketika melihat jam menunjukkan pukul sepuluh malam dan Edwin belum pulang. Sebenarnya kemana Edwin.
Keyla memegang hpnya ia berusaha mengusir rasa kantuk yang menghampiri dirinya sejak tadi, tapi sepertinya rasa kantuknya tidak bisa di ajak berkompromi dan Keyla malah tertidur sekarang.
•••
Sinar matahari memasuki jendela kamar membuat Keyla bergerak tidak nyaman dalam tidurnya, tapi suara berisik membuatnya membuka matanya perlahan. Keyla menatap sekitar ia langsung duduk dan mendapati Edwin tengah memasukkan barang-barang nya ke dalam koper.
"Edwin kamu udah pulang, jam berapa?" Tanya Keyla menatap Keyla.
"Apa? Barusan! Jadi kamu nggak pulang semalem?" Tanya Keyla tidak percaya. Edwin menghentikan kegiatannya memasukkan baju-bajunya ke dalam koper, ia beranjak dan menghampiri Keyla yang ada di atas ranjang.
Cup
"Maaf sayang tadi malem aku sibuk banget," ucap Edwin setelah mengecup singkat bibir Keyla.
"Kenapa sampai nggak pulang?" Terus itu apa? Kamu mau kemana?" Tanya Keyla berurutan seraya menunjuk baju-baju Edwin yang sebagian sudah masuk ke dalam koper.
"Aku harus berangkat sekarang," beritahu Edwin.
"Edwin jangan bercanda, kamu nggak ngasih tau aku kalau hari ini kamu bakalan berangkat, bukannya besok?" Ucap Keyla menatap Edwin seolah meminta penjelasan.
"Aku nggak sempet ngasih tau kamu, bahkan aku semaleman nggak pegang hp dan nggak baca pesan kamu," ujar Edwin.
"Aku mau kasih tau kamu sesuatu, tapi please jangan berangkat ke Perancis sekarang," ujar Keyla dengan tatapan memohon kepada Edwin.
"Maaf Key aku nggak bisa karena hari ini juga aku harus berangkat, tentang sesuatu yang mau kamu bicarakan kita bisa bicarakan lewat telepon," tutur Edwin.
"Edwin tapi ini penting, gak bisa di bicarain lewat telepon" kata Keyla dengan wajah serius.
"Nanti aja," jawab Edwin seraya kembali pada kegiatan awalnya memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.
Jujur Keyla ingin menangis, ia ingin Edwin mendengarkannya sekarang bukannya malah mengabaikannya dan memilih berangkat ke Perancis. Keyla bisa saja mengatakannya langsung sekarang. Tapi Keyla juga ingin perhatian Edwin terarah sepenuhnya kepadanya, bukan dengan cara seperti ini yang Keyla inginkan.
Keyla hanya diam, mengamati kegiatan Edwin yang memasukkan baju ke dalam kopernya secara terburu-buru, tidak butuh waktu lama baju Edwin sudah masuk semua ke dalam koper. Setelah selesai Edwin mengecek jam tangannya tidak lama kemudian pandangannya beralih ke pada Keyla.
"Key, aku harus berangkat sekarang, kamu jaga diri di rumah," ucap Edwin seraya memegang tangan Keyla.
Keyla mengangguk pelan. "Hati-hati,"
"Kita bicarakan nanti, setelah aku sampai di sana," ucap Edwin.
"Hmm," jawab Keyla dengan berat hati.
"Aku berangkat," pamit Edwin lantas mengecup kening Keyla dan setelah itu Edwin menjauh dari Keyla untuk mengambil kopernya.
"Kalau ada apa-apa telpon aku," pungkas Edwin di ambang pintu. Keyla hanya mengangguk saja setelah itu Edwin benar-benar menghilang dari hadapannya.
Keyla meremas selimutnya kesal karena di tinggal Edwin yang tidak ingin mendengar perkataannya terlebih dahulu.
Tidak lama kemudian terdengar suara mobil menjauh dari rumahnya.
Keyla menelangkupkan wajahnya di antara kedua lututnya, air matanya mengalir begitu saja dipipinya. Cengeng! Itu yang menggambarkan keadaan Keyla sekarang.
Sungguh Keyla ingin mengatakan kabar gembira ini kepada Edwin tapi sepertinya Tuhan masih belum berkehendak, kalau sudah begitu Keyla bisa apa? Edwin pergi saja Keyla tidak bisa mencegahnya.
Keyla tidak masalah jika Edwin hanya pergi beberapa hari saja, tapi masalahnya Edwin di Perancis selama satu bulan dan itu waktu yang cukup lama untuk Keyla di tambah lagi Edwin perginya bersama Alisya dan itu cukup membuatnya cemburu.
Keyla terisak pelan, ia mengambil hpnya dan membuka notifikasinya yang barusan berbunyi. Keyla semakin terisak saja saat mendapat chat dari dokter kandungannya jika besok waktunya Keyla untuk cek up kandungan dan itu artinya Keyla tidak di temani oleh Edwin. Padahal Keyla berharap sebelum Edwin pergi terlebih dahulu ia di temani untuk check up.
Sungguh menjengkelkan bukan? Entahlah Keyla hanya bisa menangis sesenggukan di dalam kamar nan luas ini tanpa seorang teman.
Keyla mengusap pelan air matanya, ia beranjak dari ranjang dan berjalan pelan ke arah kamar mandi. Ia mencuci wajahnya di wastafel, setelah itu Keyla pergi ke dapur membuat susu dan juga roti dengan selai coklat di atasnya, berusaha melupakan ke sedihannya untuk hari ini.
Keyla mulai memakan makanan nya tapi yang terjadi air mata Keyla mengalir lagi membasahi pipinya. Keyla tetap melanjutkan makannya dalam keadaan menangis, terasa lebih menyakitkan makan disertai dengan isakan.
Makan sambil menangis rasanya sakit!
Jangan di tiru karena adegan tersebut hanya di lakukan oleh propesional.