
2 bulan kemudian.
Keyla tersenyum tipis ia menatap penampilannya di depan cermin. Hari ini ia akan jalan-jalan bersama Raka untuk mengurangi kebosanannya. Sebelumnya Keyla memang agak canggung dengan Raka tapi karena ucapan Raka membuat Keyla kembali seperti semula, bahkan keduanya semakin akrab.
Flashback on
Raka memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen, sedangkan Keyla entah kenapa ia menjadi membisu tidak bicara apa-apa sejak keluar dari rumah sakit, jarinya saling bertautan.
Raka yang melihat itu, tersenyum tipis ia memegang tangan Keyla. Keyla sempat tersentak kaget.
"Raka," ucapnya.
"Kenapa canggung sama aku hmm?" Tanya Raka masih setia memegang tangan Keyla.
Keyla menatap Raka.
"Engga," jawabnya pelan.
Raka tertawa.
"Aku tau, mana Keyla yang jujur mana Keyla yang bohong," ucap Raka.
Keyla meringis pelan, percuma membohongi Raka. Cowok itu selalu mengerti dengan apa yang sedang Keyla rasakan.
"Aku nggak tau Ka" jawab Keyla.
"Seharusnya kemarin aku nggak bilang ke kamu kalau aku suka sama kamu, kayak gini kan jadinya," sesal Raka.
Keyla menatap Raka, ia tidak bisa berkata apapun.
"Mulai sekarang jangan canggung, aku tetep Raka yang dulu, tentang masalah perasaan aku, kamu bisa lupain anggep aja aku nggak bilang apa-apa," tutur Raka.
Keyla menggigit bibir bawahnya.
"Maaf," cicit Keyla.
"Karena aku baik, aku maafin," ucap Raka terkekeh.
Flashback off
Keyla keluar dari apartemennya dengan langkah gontai. Bibir Keyla tersenyum ia menatap Raka yang juga tengah tersenyum kearahnya, tapi senyuman Keyla tidak bertahan lama ketika tanpa sengaja kakinya terpeleset.
"Keyla!" Teriak Raka ia berlari ke arah Keyla yang sudah terjatuh.
Keyla memejamkan matanya air matanya menetes begitu saja bersamaan dengan perutnya yang membentur lantai.
"S..akit," Rintih Keyla.
Raka menghampiri Keyla, ia menatap Keyla jantungnya berpacu dengan cepat ketika mendapati darah yang mengalir di kaki Keyla.
"Keyla jangan buat aku khawatir," ucap Raka seraya mengangkat tubuh Keyla lalu menaiki lift setelah sampai di bawah dengan cepat Raka membawanya ke mobil.
"Hiks S.a..kit Ka," parau Keyla seraya mencengkram erat lengan Raka.
Raka menatap Keyla khawatir.
"Kita kerumah sakit," ucap Raka seraya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
•••
Sesampainya di rumah sakit keyla langsung di tangani oleh Dokter sedangkan Raka ia berada di luar ruangan menunggu Keyla dengan perasaan berkecamuk dia takut terjadi apa-apa dengan Keyla dan juga bayinya.
Beberapa menit kemudian dokter keluar ia menghampiri Raka dan berbicara dengannya. Dokter memberitahukan jika Keyla harus di operasi saat ini juga karena benturan yang sangat keras dan jangan lupakan umur kandungannya yang masih delapan bulan.
Raka mengacak rambutnya frustasi, ia mengiyakan semua yang di ucapkan oleh dokter saat itu juga tanpa berpikir lagi.
Selama operasi Raka tidak tenang sama sekali ia takut terjadi apa-apa dengan Keyla. Tidak! ia tidak siap kehilangan Keyla seseorang yang sangat ia cintai.
Detik berganti menit, menit berganti jam operasi baru saja selesai setelah dua jam lamanya berlangsung. Raka seketika langsung berdiri ketika mendapati para dokter menghampiri nya.
"Sorry sir, we can't save your baby girl,"
Deg
Seketika pasokan udara di sekitar Raka seolah berhenti begitu saja, ucapan dokter membuat jantungnya berdetak kencang,
"I'm sorry," ucap dokter tersebut menepuk punggung Raka pelan dan setelah itu pergi meninggalkan Raka.
Raka mengusap wajahnya kasar, air matanya entah kenapa turun begitu saja membasahi pipinya, ia merasa gagal menjaga Keyla. Ia tidak tahu bagaimana nanti saat Keyla tahu bahwa salah satu bayinya sudah terlebih dahulu di panggil tuhan.
•••
Raka menatap bayi mungil di depannya yang di letakkan di dalam inkubator, sungguh Raka tidak tahan dengan air matanya karena terdapat banyak alat bantu yang melekat di tubuh mungil bayi di depannya.
"Gantengnya papa yang kuat ya, jangan nyerah kasian mama," ucap Raka lirih.
Raka menyeka air matanya ia segera keluar ruangan dan berpindah ke kamar Keyla.
Hal pertama yang Raka dapati adalah Keyla yang tengah memejamkan matanya dan infus yang berada di tangannya.
Raka terdiam ia mungkin tidak sanggup mengatakannya kepada Keyla. Raka membayangkannya saja tidak sanggup apalagi harus mengatakannya kepada Keyla. Raka takut jika Keyla tidak bisa menerima bahwa putri kecilnya sudah tiada.
Air mata Raka membasahi pipinya, ia memandangi Keyla yang terpejam itu.
"Maafin aku key," ucap Raka lirih.
"Kenapa harus kamu yang ngalamin ini," gumam Raka ia tidak kuasa menahan tangisannya.
Raka terdiam ia mengusap rambut Keyla pelan.
"Aku harap kamu bisa nerima, aku nggak bisa liat kamu hancur kayak gini," ucap Raka.
"Cukup penderitaan kamu sampai disini,"
•••
Ke esokan paginya...
Semalaman Raka tidak tidur sama sekali ia terjaga untuk menemani Keyla. Matanya sayup tapi tetap saja Raka tidak tertidur sama sekali karena yang ada dipikirannya sekarang hanyalah tentang Keyla.
"Ra..ka," panggil Keyla sangat lirih.
Raka yang melihat itu seketika langsung tersentak ia menatap Keyla.
"Iya, aku disini," jawab Raka seraya memegang tangan Keyla.
"Raka kenapa aku disini," ucap Keyla terdengar lemah.
"Jangan banyak tanya hmm istirahat. Kamu masih lemah karena habis operasi," jawab Raka sangat lembut.
Keyla memejamkan matanya perutnya terasa nyeri, dengan perlahan tangan Keyla memegangi perutnya.
"Mereka gak papah kan?"
Deg
Raka bungkam, bibirnya terkunci rapat.
"Keyla istirahat dulu nanti aku kasih tau," Raka belum bisa memberi tahu karena takut Keyla drop.
Keyla menggelengkan kepalanya pelan, ia mengubah posisinya menjadi duduk tentunya di bantu oleh Raka.
"Aku pengen liat mereka," ucap Keyla dengan bibir pucatnya.
"Keyla kamu masih sakit jangan dulu ya nanti aja setelah kamu pulih, jahitan kamu masih basah," jelas Raka. Raka benar-benar takut jika Keyla tiba-tiba drop jika mendengar kenyataannya.
"Sekarang Ka, aku mau liat mereka," ucap Keyla menatap Raka dengan tatapan memohon.
Raka terdiam pikirannya blank, ia menatap Keyla dengan pandangan sendu, bagaimanapun Keyla akan mengetahui nya cepat atau lambat.
"Okee," jawab Raka final.
Keyla tersenyum sangat tipis sungguh ia tidak sabar melihat bayi-bayi mungilnya. Pasti mereka sangat menggemaskan.
Raka membantu Keyla duduk di kursi roda setelah itu keduanya keluar ruangan dan menuju ke ruangan dimana bayi Keyla berada.
Sesampainya di dalam ruangan, bibir Keyla tidak henti-hentinya untuk tersenyum tapi senyumannya pudar seketika karena melihat bayinya yang terbaring lemas dengan alat bantu.
"Maafin mama sayang, kamu jadi kayak gini karena mama ceroboh," parau Keyla dengan mata berkaca-kaca, ia ingin sekali menggendong anaknya tapi dokter belum membolehkannya karena suatu alasan.
"Jangan nyalahin diri sendiri," ucap Raka.
Keyla terdiam, kemudian dia menyadari di sana hanya ada satu bayi.
"Raka bayi aku yang cewek mana?" Tanya Keyla.
Raka mengalihkan pandangannya dari Keyla ia tidak sanggup menatap mata Keyla.
"Maafin aku Key,"
Keyla terdiam mendengarkan apa yang akan di katakan Raka.
"Dia nggak selamat,"
Keyla menatap Raka, matanya melebar, nggak! Dia pasti salah dengar dengan ucapan Raka barusan pasti cowok itu sedang bercanda.
"Raka jangan bohong!" Ucap Keyla gusar.
Raka terdiam lagi-lagi ucapan maaf yang bisa keluar dari bibirnya.
"Maaf Key" ucap Raka memeluk Keyla.
Keyla meneteskan air matanya, ketika tubuh Raka memeluknya. Hati Keyla benar-benar sakit. Cobaan apa lagi yang menimpanya sekarang tidak bisakah Keyla bahagia sebentar saja.
"Bawa aku ngeliat dia," ucap Keyla melepaskan pelukan Raka.
"Nggak sekarang Key," tolak Raka.
"Raka aku mau liat dia sekarang!" Pinta Keyla disertai isakan.
Pada akhirnya Raka hanya bisa pasrah ia menuruti perkataan Keyla dengan ditemani beberapa perawat. Keyla dan Raka di bawa ketempat dimana bayinya berada.
Keyla menutup mulutnya dengan tangannya ia syok menatap bayi di depannya.
"Ka aku mimpi kan," ucap Keyla seraya menatap Raka.
"Key dengerin aku, dia udah nggak ada," ucap Raka.
Setetes demi tetes air mata Keyla turun membasahi pipinya, Keyla mencoba memegang tubuh bayinya yang terasa dingin.
"Nggak!! Nggak mungkin! Raka kenapa dia nggak mau buka matanya " ucap Keyla menatap bayi mungil di depannya.
Raka terdiam ia tidak bisa menjawab pertanyaan Keyla, hatinya sakit melihat Keyla seperti ini.
"Sayang buka mata kamu, kamu nggak mau liat mama," parau Keyla dengan air mata yang terus membanjiri pipinya.
"Dia udah nggak ada Key, kamu ikhlasin dia" ucap Raka tidak kuasa menahan tangisannya.
Hati Keyla tercekat saat Raka mengatakan sesuatu yang tidak ingin ia dengar
"Enggak Ka! bahkan aku belum liat dia nangis dia tidur kan," Isak Keyla dengan air mata yang terus membanjiri pipinya.
"Ikhlasin dia Key" ucap Raka.
"Kenapa! satu persatu orang yang aku sayang ninggalin aku kenapa haaa!! Salah aku apa?" Tanya Keyla memukul mukul dada bidang Raka.
Raka menggenggam tangan Keyla dan memeluk tubuh Keyla yang tak berdaya itu, hatinya sakit kenapa harus Keyla yang mengalami semua ini.
•••
Keyla keluar ruangan meninggalkan bayinya dengan perasaan hancur, hatinya sakit menatap putri nya tergeletak tanpa nyawa bahkan ia belum sempat melihatnya membuka matanya.
Tubuh Keyla melemas begitu saja beruntung Raka langsung memegangi tubuh Keyla.
"Raka tinggalin aku sendirian" pinta Keyla.
"Aku nggak akan ninggalin kamu sendirian," ucap Raka.
"Kenapa harus dia kenapa bukan aku yang mati," Isak Keyla, Raka memeluk Keyla erat mencoba menenangkan gadis itu tapi percuma saja nyatanya Keyla malah semakin menjadi.
"Aku mau mati aja kalau terus seperti ini,"
••••
Di tempat lain, Edwin baru saja menyelesaikan meeting panjangnya dengan rekan bisnisnya yang kemarin ia bicarakan dengan Juna. Lelah! Itu yang ia rasakan saat ini karena harus bekerja seharian mengurus proyek yang akan di bangun di sini, Edwin berada di negara orang sudah terhitung seminggu yang lalu setelah ia meninggalkan Indonesia.
Entah kenapa Edwin merasakan pusing sekali di kepalanya. Edwin menatap arlojinya menunjukkan pukul sembilan malam, ia sampai lupa jika ada janji dengan dokter untuk mengambil hasil pemeriksaannya kemarin.
Edwin menghela nafasnya pelan ia segera pergi ke rumah sakit dan setelah itu ia akan istirahat tentunya setelah menerima hasil pemeriksaannya.