LOVE AFTER MARRIAGE

LOVE AFTER MARRIAGE
Bab31



Ke esokan harinya.


Keyla tengah bersiap mengenakan pakaiannya, hari ini ia ada janji bersama Rahma untuk membicarakan masalah pekerjaannya.


Keyla mengambil kunci mobil dan juga tasnya, ia segera keluar dari rumah dan menguncinya karena dirumah tidak ada orang, pagi-pagi tadi Edwin sudah berangkat ke kantor karena ada meeting bersama klien.


Keyla segera mengemudikan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah, diperjalanan Keyla hanya bisa menghela nafas karena Jakarta begitu macet. Keyla menatap arloji yang menempel pada tangannya sudah menunjukkan pukul 10 siang.


Lagi-lagi Keyla hanya bisa menghela nafas karena seharusnya sekarang dia sudah sampai di tempat yang dijanjikan oleh Rahma. Tapi takdir berkata lain.


Dua puluh menit terjebak macet akhirnya sekarang Keyla bisa keluar dari zona macet dan mengemudikan mobilnya dengan lancar, tidak butuh waktu lama untuk mengemudikan mobilnya hingga sampai tempat tujuan. Sekarang Keyla tengah memarkirkan mobilnya di depan sebuah Cafe kecil yang terlihat elegan.


Keyla keluar dari mobilnya dan segera memasuki Cafe. Keyla menatap seluruh isi Cafe untuk mencari Rahma, tapi ternyata Rahma belum terlihat batang hidungnya disana jadi Keyla bisa bernafas lega karena tidak membuat Rahma menjadi menunggu kedatangannya.


"Hey Key!" panggil seseorang, Keyla menoleh ke sumber suara ternyata disana ada Rahma yang tengah melambaikan tangannya dari arah pintu masuk Cafe.


Keyla tersenyum dan menghampiri Rahma.


"Aku kira udah dateng duluan kak" ucap Keyla.


"Sorry banget, kamu nunggu lama ya?" tanya Rahma.


"Engga aku juga baru aja dateng," ucap Keyla.


Rahma mengangguk.


"Buruan yuk cari tempat duduk kaki saya pegel," ujar Rahma karena ia sekarang tengah memakai heels yang terlihat cukup tinggi.


Keyla mengiyakan ucapan Rahma dan segera duduk di kursi tidak jauh dari tempatnya sekarang.


"Kamu mau apa kak biar aku yang pesen?" tanya Keyla.


"Samain aja Key," jawab Rahma, Keyla tersenyum setelah itu ia segera pergi memesan.


•••


Selesai memesan Keyla kembali ke tempat duduknya.


"Btw kamu mau bicara soal apa, ko ngajak ketemuan?" tanya Rahma.


Keyla sedikit tidak enak dengan Rahma karena ingin membicarakan tentang keputusannya yang akan berhenti menjadi model, tapi bagaimanapun juga Keyla harus mengesampingkan rasa tidak enaknya. Ini semua ia lakukan demi Edwin.


"Kak aku mau berhenti jadi model," ucap Keyla sudah mantap dengan keputusannya.


"Apaa!" kaget Rahma seraya menatap Keyla bahkan posisi duduknya yang tadinya santai berubah menjadi tegak.


"Aku mau berhenti kak," ucap Keyla sekali lagi.


"Wait-wait kenapa kamu mau berhenti, kamu nggak suka ya kerja sama saya, Key" ucap Rahma terlihat tidak enak dengan Keyla.


"Nggak gitu ka, aku ada problem dikit," jelas Keyla, Rahma menghembuskan nafasnya pelan.


"Kalau boleh tau kenapa?" tanya Rahma.


"Maaf ka aku nggak bisa cerita," ucap Keyla.


"Okee saya ngerti tapi masalahnya kamu nggak bisa berhenti Key," ucap Rahma membuat Keyla mengernyitkan dahinya.


"Maksudnya?" 


"majalah kamu udah kesebar dan respon mereka baik tentang kamu dan kamu sudah tanda tangan, itu artinya kamu harus terima apapun konsekuensinya," jelas Rahma panjang.


"Tapi kak aku nggak bisa, aku bakalan ganti rugi semua uang yang udah kakak keluarin," ucap Keyla mencoba membujuk Rahma.


"Bukan masalah uang Key, tapi ini masalah pekerjaan. Kamu bisa kan bersikap profesional," ucap Rahma.


Keyla menghela nafasnya pelan. Ia mengerti dengan kondisi Rahma jika ia keluar begitu saja. Perusahaan agensi Rahma pasti akan di cap buruk oleh perusahaan lain yang membutuhkan jasanya. Sebenarnya Keyla juga tidak mau berhenti tapi ia harus berhenti agar rumah tangganya harmonis. Keyla memang egois harusnya sedari awal ia berpikir sebelum memutuskan untuk menandatangani kontrak itu.


"Kak tapi aku bener-bener ngga bisa," kata Keyla memelas.


"Sorry Key, tapi kamu nggak bisa berhenti sebelum kontrak kamu habis dan aku minta maaf," ucap Rahma.


•••


Keyla mengemudikan mobilnya meninggalkan cafe, ia memijat pelan pelipisnya karena kepalanya terasa pusing, pembicaraannya dengan Rahma tadi cukup membuatnya menguras pikiran.


Keyla bingung ia harus bicara apa dengan Edwin mengenai keputusannya yang tidak jadi untuk berhenti. 


Apakah Edwin akan marah? Tapi Keyla tidak ingin membuat Edwin marah, sebaiknya ia menyembunyikan masalah kontrak itu terlebih dahulu dari Edwin, mungkin itu adalah keputusan yang tepat untuk saat ini.


Keyla mengemudikan mobilnya ke cafe Hana. Pergi kesana adalah hal yang paling tepat untuk saat ini karena Keyla bisa bercerita tentang kebimbangannya.


Sesampainya di cafe, Keyla memarkirkan mobilnya, setelah itu ia segera masuk dan menemui Hana.


"Hai! Han," sapa Keyla dan langsung duduk di salah satu kursi Cafe.


"Lemes amat, kamu kenapa?" tanya Hana menghampiri Keyla.


"Panjang ceritanya," ujar Keyla.


"Revisi aja biar pendek" kata Hana. Keyla mendengus sebal Hana kira cerita novel yang bisa di revisi.


"Masalah apa?" tanya Hana akhirnya dan memilih duduk di depan Keyla.


"Nggak tau Han, aku juga bingung," ucap Keyla.


Hana mendengus kesal. Dia yang punya masalah masa tidak tahu.


"Kamu aja bingung gimana aku yang nggak tau apa-apa, Key," ucap Hana.


Keyla menelungkupkan wajahnya.


"Ceritain-lah siapa tau aku bisa kasih solusi," ucap Hana.


Keyla menggelengkan kepalanya. Masih enggan untuk bercerita.


"Kamu mau minum, gratis gak pake bayar, aku tau kamu suka gratisan," ucap Hana membuat Keyla langsung berbinar. Jika bersangkutan dengan yang namanya gratisan Keyla langsung gercep apapun kondisinya.


"Oke yang banyak ya, mak, kalau ngasih gratisan," kata Keyla semangat 45.


"Aku getok pala mu, denger gratisan aja langsung gercep" omel Hana membuat Keyla tertawa.


Hana berdiri dari kursinya untuk segera membuatkan minuman untuk Keyla. Sementara Keyla memilih mengotak-atik hpnya dan ternyata ada notifikasi dari Edwin.


Edwin: Dimana?


Keyla: Cafe Hana, kenapa??


Keyla segera mengirim balasannya kepada Edwin.


Tidak lama kemudian Edwin langsung membalasnya lagi.


Edwin: ke kantor aku tunggu


Keyla: Ngapain?


Edwin: Dateng aja jangan banyak tanya.


Keyla mendengus kesal karena balesan dari Edwin.


Keyla: 😒


Edwin: Bercanda sayang


Keyla tersenyum kecil padahal Edwin baru saja membuatnya kesal tapi dia juga yang membuat Keyla tertawa.


Keyla menutup ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas.


Ia menghampiri Hana.


"Han, udah selesai belum?" tanya Keyla.


"Masih aku buatin," jawab Hana.


"Aku mau ke kantor Edwin buru-buru lain kali aja ya," ucap Keyla.


"Kampret udah aku buatin juga tungguin, aku ngga mau tau kalau enggak gak bakal aku traktir lagi" ancam Hana tidak bisa di bantah.


Keyla menghembuskan nafasnya kesal. Keyla pasrah dan menunggu Hana. Ia tidak mau hanya karena ini Hana tidak mau mentraktirnya lagi.


"Hmm, cepetan," kata Keyla tidak sabar.


"Nih, udah sono pergi nggak usah balik lagi," ujar Hana seraya memberikan cup berisi minuman cappucino kepada Keyla.


"Taii!" ucap Keyla sebal karena Hana mengusirnya.


Hana tersenyum puas karena melihat wajah Keyla yang terlihat sebal.


"Bilang apa dulu sayang?" ucap Hana mengingatkan supaya Keyla berterima kasih kepadanya.


"Jijay, makasih!" ucap Keyla membuat Hana tertawa.


"Hati-hati Nak" kata Hana.


"Hmm aku pergi," pamit Keyla melambaikan tangannya kepada Hana.