
Edwin saat ini tengah berada di rumah sakit, ia menunggu Keysa yang tengah di tangani oleh dokter. Edwin khawatir kepada Keysa tapi pikirannya sekarang tengah tertuju kepada Keyla. Edwin menatap tangannya yang ia gunakan untuk menampar Keyla. Ada rasa bersalah yang menyelimuti hatinya ketika melakukan itu.
"Dengan suami ibu Keysa," ucap seorang dokter membuyarkan pikiran Edwin seketika ia langsung berdiri.
"Iya dok," ucap Edwin.
"Maaf kami tidak bisa menyelamatkan janinnya,"
Bagai tersambar oleh petir hati Edwin langsung tidak karuan.
"Silahkan temui ibu Keysa di dalam sepertinya dia sangat tertekan," ucap dokter tersebut seraya beranjak dari tempatnya.
Sedangkan Edwin masih mematung di tempatnya, tapi detik selanjutnya ia langsung beranjak dari tempatnya dan memasuki ruangan Keysa.
"Edwin dia udah nggak ada," Isak Keysa seraya menatap Edwin, air matanya lolos begitu saja.
Edwin mendekat kepada Keysa lantas memeluknya, tentunya tanpa mengatakan apapun.
"Semua gara-gara Keyla andai dia nggak dorong aku waktu itu pasti dia masih ada disini," racau Keysa.
"Nggak usah nangis semua akan baik-baik aja," ucap Edwin.
" semua udah terjadi aku harus gimana," Isak Keysa.
Edwin melepaskan pelukannya ia menatap Keysa.
"Semua pasti ada hikmahnya, jangan nangis Keysa aku benci air mata," ucap Edwin sangat lembut.
Keysa mengangguk pelan, ia memeluk Edwin dan di balas olehnya. Keysa menangis tersedu-sedu bibirnya bergetar tidak lama sebuah senyum kemenangan terbit di bibirnya.
"Untung aku minum obat itu, karena aku tau kejadiannya bakalan kayak gini dan Edwin dia pasti nyalahin Keyla, hahaha selamat datang di neraka sayang." Ucap Keysa dalam hati.
•••
Jam menunjukkan pukul enam pagi dan Edwin saat ini masih tertidur di sofa rumah sakit, matanya mengerjap perlahan karena sinar matahari mengenai wajahnya.
Pandangan Edwin terjatuh pada Keysa yang masih tertidur dengan infus yang berada di tangannya.
Edwin mengacak rambutnya frustasi, semua berantakan.
"Keyla kenapa harus melakukan ini," gumam Edwin memilih beranjak dari tempatnya dan akan pulang kerumah untuk menemui Keyla tapi sebuah panggilan menghentikan langkahnya.
"Edwin"
Edwin menoleh ia menatap Keysa yang baru saja membuka matanya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Keysa.
"Ada yang harus aku urus," ucap Edwin.
Keysa menggelengkan kepalanya, ia meneteskan air matanya.
"Jangan pergi, aku nggak mau sendiri," ucap Keysa mulai menangis lagi.
Edwin menghela nafasnya pelan ia mengangguk dan menghampiri Keysa dan berusaha menenangkan nya.
•••
Di lain tempat lebih tepatnya di rumah, Keyla semalaman tidak tidur hingga pagi, air matanya tidak pernah mengering, bahkan pipinya masih berdenyut karena bekas tamparan Edwin. Pipinya sedikit membiru dan di ujung bibirnya ada bekas darah yang keluar.
Tes
Tes
Keyla seketika terkejut ketika mendapati darah yang mengalir dari hidungnya. Keyla mengambil kotak tisu yang ada di sampingnya dan mengelap darah yang terus mengalir di hidungnya, pusing itu yang Keyla rasakan saat ini.
Keyla mengambil hpnya menghubungi seseorang yang tidak lain adalah Hana.
Tidak butuh waktu lama Hana langsung mengangkat panggilan Keyla.
"Han bisa kesini? Temenin aku," ucap Keyla.
"kamu kenapa Key? apa si Medusa itu nyakitin kamu?" tanya Hana mengepul-ngepul.
"Aku Gak papa, cuman butuh temen aja,"
"oh, tadinya aku mau bawa samurai kalau benar dia macem-macem sama kamu"
Keyla terkekeh mendengar penuturan Hana.
"Gak kok. Kamu langsung masuk aja Han aku tunggu di kamar,"
"iya key, i'm coming for you"
Keyla mematikan panggilannya, ia terus saja mengelap darah yang mengalir dari hidungnya yang tidak berhenti dan malah bertambah banyak, bahkan kamar Keyla sudah di penuhi dengan tisu yang berwarna merah.
Sepuluh menit telah berlalu dan Keyla sedikit lega ketika darah yang Ada hidungnya sudah berhenti mengalir.
Cklek
"Astaga! Keyla!" Kaget Hana karena mendapati banyak tisu berwarna merah di ranjang Keyla. Hana menghampiri Keyla.
"Aku gak papah cuma kecapekan aja, lagian mimisannya udah berhenti," ucap Keyla memaksakan senyuman nya.
Hana terdiam, ia mengamati Keyla yang terlihat berantakan, matanya sembab tapi ada satu hal yang membuat Hana sedikit bingung.
"Jawab aku, kamu di apain sama Edwin?" Tanya Hana seraya memegang pipi Keyla yang memerah.
"Shhh, sakit Han" ucap Keyla karena sentuhan Hana.
"Kamu di apain?" Tanya Hana, sorot matanya menjadi tajam.
Keyla menggelengkan kepalanya.
"Aku nggak di apa-apain, pipi aku merah ya emang sakit," bohong Keyla.
"Key, ayolah jangan bohong sama aku," ucap Hana menatap Keyla khawatir.
"Serius Han, aku gak papah" ucap Keyla.
"Kamu bohong Key," ucap Hana tentu saja tidak percaya.
"Han jangan tanya lagi ya, aku capek banget semalem ngga tidur dan sekarang badan aku lemes banget," ucap Keyla menatap Hana dengan pandangan memohon.
Hana pada akhirnya mengangguk.
"Biar aku yang beresin kamu istirahat aja, setelah itu makan aku buatin bubur," ucap Hana.
"Maaf aku ngerepotin kamu," ucap Keyla.
"Nggak ada yang namanya ngerepotin Key, kamu sepupu aku wajar aku kayak gini," ucap Hana.
Hana melepaskan pelukannya ia segera membereskan bekas tisu dan membuangnya di tong sampah yang ada di kamar Keyla.
"Aku ke bawah ya," ucap Hana yang di angguki Keyla, setelah itu Hana keluar dari kamar Keyla menuju dapur.
Sepeninggal Hana isakan Keyla kembali lolos di bibirnya, rasanya Keyla benar-benar merasa di titik paling bawah dalam hidupnya.
•••
Hana mulai memasak bubur untuk Keyla, helaan nafas keluar dari mulutnya.
"Sialan!" Umpat Hana ketika memikirkan betapa teganya Edwin pada Keyla. Hana tadi memang belum beranjak dari depan pintu kamar Keyla dan mendengarkan isakan Keyla. Selama ia bersahabat dengan Keyla, Hana tidak pernah melihat Keyla bersedih apa lagi sampai menangis terisak seperti itu. Tapi semenjak Keyla menikah Keyla sering murung dan hari ini ia melihat pakta bahwa Keyla mendapatkan kdrt.
"Kualat kalian semua!" Umpat Hana lagi-lagi.
Hana menghembuskan nafasnya kasar.
Ia segera menyelesaikan masakannya setelah siap ia memindahkan bubur kedalam mangkok kecil dan menaruhnya di atas nampan, setelah itu Hana mengambil segelas air minum dan membawanya ke kamar Keyla.
Saat membuka pintu kamar, Hana mendapati Keyla yang tengah meringkuk di atas kasur dengan mata terpejam.
Hana meletakkan nampan itu di nakas lantas ia menatap Keyla.
"Aku nggak bisa liat sahabat aku diginiin," ucap Hana entah sejak kapan air matanya turun membasahi pipinya, melihat Keyla seperti ini rasanya Hana seolah merasakan apa yang di rasakan oleh Keyla.
Hana dengan cepat menghapus air matanya ia tidak mau Keyla melihatnya menangisi dirinya.
Hana membangunkan Keyla, Keyla membuka matanya perlahan.
"Aku ketiduran lama ya Han?" Tanya Keyla seraya mengubah posisinya menjadi duduk.
"Enggak, makanan kamu udah siap, mau aku suapin?" Tanya Hana.
"Nggak usah, manja banget aku sampai minta di suapin," kekeh Keyla.
Hana tertawa ia mengambilkan makanannya dan memberikannya kepada Keyla.
"Key, mau ikut aku ke Bandung gak. Kita liburan di sana yuk. Nenek kangen kamu loh, katanya" ajak Hana. Ia ingin Keyla menenangkan dirinya dan terjauh dari Edwin untuk sementara waktu.
"Nggak deh, aku di sini aja. Lagian mana pernah nenek kangen sama aku." Tolak Keyla, ia tidak ingin pergi kemana-mana kalau pun ia pergi ia ingin perginya nanti setelah urusannya selesai. Dan soal neneknya yang katanya kangen sama Keyla itu tidak mungkin. Setiap kali Keyla pergi ke rumah neneknya ia pasti di abaikannya. Semua salah Keyla, sih, yang suka melawan pada neneknya saat di beri nasihat.
"Kenapa kamu gak mau ketemu nenek?"
"Aku takut, Kamu tahu kan, Han, hubungan aku sama nenek kurang baik"
"Kalau gitu kita ke tempat lain aja liburannya. Korea misalnya" Usul Hana lagi.
"itu mah maunya kamu"
"emang, yuk kesana yuk"
Keyla menggelengkan kepalanya, seperkian detik berikutnya bel rumah Keyla berbunyi.
Ting tong
"Biar aku yang bukain," ucap Hana segera beranjak dari tempatnya dan melihat siapa yang datang.
Keyla melanjutkan makannya meski tidak nafsu. Namun ia harus mengisi perutnya supaya calon anaknya sehat.
Tidak lama kemudian Hana masuk kamar Keyla bersama dengan seseorang.
"Bunda," ucap Keyla menatap ibu mertuanya.
Lena menghampiri Keyla, ia memeluknya erat.
"Maafin bunda sayang bunda udah gagal didik anak bunda," ucap Lena terisak.
Keyla membalas pelukan Lena.
"Bunda aku gak papa, bunda jangan nangis," ucap Keyla.
"Bunda nggak habis pikir sama kelakuan Edwin, bunda nggak bisa akuin dia sebagai anak bunda lagi," ucap Lena seraya melepaskan pelukan Keyla.
Keyla menatap Lena.
"Bun jangan gitu, Edwin anak bunda dia begitu karena sedang khilaf" ucap Keyla, Lena lagi-lagi meneteskan air matanya lihatlah menantunya sangat baik tapi kenapa anaknya tega menghianatinya, cukup lama Lena menangis tapi perlahan mulai tenang, ia menatap Keyla.
"Kamu sakit muka kamu pucet banget, udah makan? Mau bunda buatin bubur?" Tanya Lena khawatir.
"Nggak usah Bun, aku udah makan kok Hana tadi yang nyiapin," jawab Keyla.
Lena bernafas lega, lantas ia menatap Hana.
"Makasih ya sayang udah jagain Keyla," ucap Lena kepada Hana.
"Iya Tante nggak masalah kok," jawab Hana.
"Em.. Tante aku pamit pulang ya," ucap Hana karena ia merasa tidak enak dengan Lena.
"Loh, kenapa?" Tanya Lena.
"Ada hal mendadak yang harus aku selesaikan tante di cafe," ucap Hana beralasan, ia menatap Keyla memberinya kode untuk membuka hpnya.
"Yaudah deh kamu hati-hati ya," ucap Lena.
Hana mengangguk.
"Thanks Han," ucap Keyla yang di angguki Hana setelah itu Hana memyalami tangan Lena dan segera pulang.
Sepeninggal Hana, Keyla dan Lena mengobrol satu sama lain.
"Bunda kalau Keyla pergi boleh ya," ucap Keyla tiba-tiba
"Jangan ngomong gitu Key, bunda nggak mau kehilangan kamu sama cucu bunda," ucap Lena.
Keyla tersenyum.
"Bunda tapi Keyla capek banget," ucap Keyla dengan suara bergetar.
Lena yang melihat Keyla seperti itu tidak bisa membendung air matanya kembali.
"Sakit banget Bun rasanya di saat Keyla bener-bener sayang sama Edwin tapi Edwin milih orang lain," ucap Keyla terisak.
Lena memeluk Keyla diusapnya pelan punggung Keyla yang bergetar, keduanya sama-sama menangis. Sungguh Lena tidak tahan dengan ucapan Keyla yang terdengar sangat menyayat hatinya. Sebagai seorang wanita ia bisa merasakan apa yang sedang di rasakan oleh Keyla.