
Sejak keluar dari mobil sampai masuk ke dalam rumah orang tua Edwin, Keyla hanya terdiam saja membiarkan Edwin yang tengah duduk tidak terlalu jauh dari posisinya.
Keyla memilih mengobrol dengan Lena sedangkan Edwin terlihat sedang memainkan hpnya.
"Lagi berantem sama Edwin, dari tadi ko cemberut," ucap Lena sedikit berbisik-bisik.
Keyla menggelengkan kepalanya.
"Engga bun," jawab Keyla. Keyla memang tidak sedang bertengkar tapi Keyla sebal dengan Edwin yang tiba-tiba membentaknya hanya karena bertanya.
"Bunda nggak bisa kamu bohongin loh, Key," ucap Lena.
"Aku ngga bohong Bun," kata Keyla.
Lena menghela nafasnya ia yang awalnya menatap Keyla berganti menatap Edwin.
"Win, sini bunda mau ngomong," ucap Lena memanggil anaknya. Edwin yang tengah memainkan hpnya mendongakkan kepalanya menatap Lena.
"Aku lagi banyak kerjaan bun," jawab Edwin.
"Sini," ucap Lena menatap Edwin galak. Edwin menghela nafasnya akhirnya ia mendekat ke arah Lena dan mematikan hpnya.
Sedangkan Keyla sudah bingung sendiri takut jika Lena akan mengintrogasi dirinya dan juga Edwin.
"Kalian berdua ada masalah?" Tanya Lena.
Nah kan benar apa yang di pikirkan Keyla barusan jika Lena benar-benar menginterogasinya sekarang.
Keyla menggigit bibir bawahnya ia menatap Edwin sedikit takut.
"Engga, Edwin capek aja pulang kerja langsung kesini," jawab Edwin tanpa menatap Lena melainkan menatap Keyla.
"Bilang dong kalau capek jadi bunda nggak perlu kawatir sama hubungan kalian berdua," ucap Lena bernafas lega karena anaknya tidak sedang bertengkar.
"Jangan lebay Bun, aku cuman capek jangan mikir aneh-aneh," ucap Edwin menatap Lena sedikit jengkel.
"Yaudah sana gih ke kamar, ajak Keyla sekalian," titah Lena memberi kode.
Keyla menolehkan kepalanya menatap Lena secepat kilat.
"Ngga usah Bun aku disini aja," jawab Keyla.
"Edwin ajak istri kamu," titah Lena kekeuh.
Edwin berdiri dari tempatnya ia menatap Keyla.
"Ayo," ajak Edwin singkat.
"Bun," ucap Keyla.
"Nggak baik loh Key, bantah suami," ucap Lena menasehati Keyla.
"Iya Bun maaf," ucap Keyla lirih.
"Iya, udah sana," ucap Lena seraya tersenyum tipis kepada Keyla.
Keyla berdiri ia mengikuti Edwin berjalan dari belakang. Edwin membuka pintu kamar diikuti Keyla yang juga masuk kamar.
Edwin membalikkan badannya menatap Keyla yang juga menatapnya.
"Maaf," lirih Edwin.
Keyla tertawa pelan, menertawakan dirinya sendiri.
"Gak papa, aku udah biasa kamu giniin," ucap Keyla tentu saja sangat menohok Edwin.
Edwin menatap Keyla dengan wajah merasa bersalah.
"Aku salah," akui Edwin.
"Kamu tau kalau kamu salah tapi kenapa masih dilakuin," ucap Keyla. Sedikit geram karena Edwin terus menerus seperti itu.
"Aku kebawa emosi Key," ujar Edwin.
"Hilangin kebiasaan kamu Ed atau aku nggak akan maafin kamu lagi!" Ancam Keyla seraya berjalan ke arah ranjang Edwin.
"Ini cuman masalah sepele Key nggak usah di buat besar, aku udah minta maaf," ucap Edwin.
"Terserah!" Jawab Keyla final sebelum melemparkan badannya ke kasur dan menutup badannya dengan selimut tebal milik Edwin. Masalahnya mungkin sepele tapi itu sangat menyakiti hati Keyla. Keyla sakit hati setiap kali Edwin membentaknya tanpa sebab tapi Keyla tidak bisa marah padanya dan berujung pasrah untuk memaafkan Edwin lantas ia akan menangis tanpa di ketahui suaminya.
Edwin mengepalkan kedua tangannya ia berusaha menahan emosinya agar tidak memuncak dan berakhir melakukan kesalahan yang sama kepada Keyla.
Edwin memilih pergi ke balkon untuk menenangkan dirinya sendiri dan tanpa diketahui Edwin, Keyla terisak kecil di balik selimut besar yang menutupi badannya.
Di Balkon Edwin terdiam menatap langit Jakarta yang sedikit mendung, raganya memang disini tapi pikiran Edwin berada di tempat lain. Edwin memikirkan kejadian beberapa jam yang lalu saat dirinya bertemu dengan Keysa.
Ada rasa bersalah menyelimuti dirinya saat mengabaikan Keysa dan disisi lain Edwin merasa bersalah dengan Keyla karena telah mengatakan sesuatu yang tidak harus ia ucapkan kepadanya. Rasa bersalah Edwin menjadi bertambah karena hadirnya dua Key di dalam hatinya.
"Kenapa kamu nggak pergi aja Keysa," ucap Edwin lirih.
Edwin menghela nafasnya ia menutup matanya dan memijat pelan pelipisnya.
Ia menatap Keyla yang meringkuk di atas kasur dari kaca jendela balkon, sebuah helaan nafas keluar dari mulut Edwin.
Apakah separah itu perlakuan Edwin kepada Keyla sampai Keyla berucap seperti tadi kepadanya.
Edwin memilih kembali ke dalam kamar ia mendekati ranjang yang ditiduri oleh Keyla.
"Key, sebaiknya kita pulang," ucap Edwin lembut.
"Aku nginep aja disini," jawab Keyla dibalik selimut berusaha menetralkan suaranya yang bergetar. Ia tidak ingin ada yang melihat mata sembabnya karena menangis
"Dengerin aku, kita bicarakan ini baik-baik," ucap Edwin.
Bukannya menjawab Keyla malah mengeratkan selimut yang menyelimuti tubuhnya.
"Key, kamu denger aku kan?" Tanya Edwin seraya memegang pundak Keyla yang tertutupi selimut.
"Sini nggak usah pake selimut," ucap Edwin menarik selimut yang ada pada tubuh Keyla sehingga memperlihatkan wajah Keyla yang memerah karena menangis. Matanya sedikit sembab.
"Pergi sana!" Usir Keyla menatap Edwin kesal dan jangan lupakan air matanya yang mengalir semakin deras.
"Kenapa nangis?" Tanya Edwin menatap Keyla serius.
"Masih juga ngga ngerti!! yaudah pergi sana aku capek!" Bentak Keyla disertai air matanya yang mengalir deras dipipinya dan jangan lupakan tangannya yang mendorong pelan dada Edwin.
Edwin terdiam menatap Keyla, tangannya bergerak untuk merangkul tubuh Keyla.
"Maaf," ucap Edwin lirih.
"Aku capek denger kata maaf," kata Keyla terisak.
Edwin terdiam ia mengelus rambut Keyla berusaha untuk menenangkannya.
"Mau kamu apa sayang?" Tanya Edwin lembut.
"Berubah," kata Keyla disertai isakan.
"Okee," jawab Edwin.
"Sekarang kita pulang oke," ajak Edwin.
"Nggak usah, malem ini kita nginep dirumah bunda aja aku capek naik mobil," jawab Keyla sebelum melepaskan pelukan Edwin dan kembali merebahkan badannya lalu menutupnya dengan selimut.
Edwin mengelus puncak kepala Keyla satu kecupan ia berikan kepada Keyla.
"Good night," kata Edwin.
Keyla tidak menjawab ucapan Edwin ia berusaha memejamkan matanya dan berharap besok akan terbangun dengan hari yang lebih baik dari pada hari ini.
Edwin beranjak dari ranjang dan duduk di sofa yang ada di kamarnya. Ia membuka hp dan ada banyak notifikasi disana, yang paling menarik perhatiannya adalah nomor tidak dikenal yang berada paling atas di room chatnya.
Edwin membuka chatnya.
Aku tau kamu masih peduli Ed
Edwin terdiam membaca isi chat tersebut tanpa berpikir panjang Edwin segera menghapus chat itu dari hpnya, bahkan Edwin langsung menonaktifkan hpnya.
Edwin berdiri dari sofa ia berjalan ke kamar mandi untuk mencuci mukanya, selesai mencuci mukanya Edwin menyusul Keyla ke atas ranjang. Tanpa berkata apapun Edwin langsung memejamkan matanya.
Tapi baru saja ia memejamkan matanya ia merasakan tangan seseorang memeluknya dari samping, siapa lagi kalau bukan Keyla.
Edwin mengamati wajah Keyla yang terpejam dengan tenang, lagi-lagi rasa bersalah hadir dalam dirinya.
"Maaf," ucap Edwin lirih.
Entah Keyla mendengar atau tidak Edwin malah merasakan pelukan Keyla semakin erat.
"Jangan pergi," Gumam Keyla dengan mata terpejam.
Edwin tersenyum tipis mendengar ucapan Keyla tersebut meskipun Keyla mengucapkannya dalam keadaan tidak sadar. Edwin cukup senang mendengarnya setidaknya Keyla benar-benar menginginkannya. Edwin sadar Keyla lebih mencintainya dan menghargai keberadaannya. Maka dari itu mulai saat ini Edwin akan memberikan hatinya untuk Keyla seutuhnya dan mulai untuk melupakan kekasih masa lalunya yang menghambat hubungannya dengan Keyla.
"Aku gak akan pergi"