
Selamat membaca ya gaiss!!!
***
Krriiingggg!!!!
"Baik anak anak soal silakan kumpulkan dan kertas jawaban tetap diatas meja.." perintah Pak Andi.
Brenda dan Dea menjawab, "Baik pak.."
Kedua gadis itu berjalan menuju keluar kelas, tak lama Dea mengajak Brenda untuk memberikan penjelasan soal Ryan dan Radit.
"Brenda, ikut aku yuk!!" seru Dea.
Brenda menoleh, "Kemana??"
"Ke Cafe di jalan Nangka, aku mau menjelaskan sesuatu sama kamu. soal Radit, Ryan dan fakta yang mereka punya." jelas Dea.
Brenda menjawab, "Baik.."
Di sisi lain, Senja sedang berjalan bersama Indira, Mentari, dan Ratu. lalu mereka duduk sebentar di depan ruang tata usaha untuk menunggu Brenda dan Dea.
"Indira, aku mau tau deh.. si Radit itu orangnya kayak gimana??" tanya Senja pada Indira.
Indira menjawab, "Begini ya, kalau kamu meminta penjelasan soal dia.. udah enggak aneh dia disebut idolanya sekolah.. pertama, dia berhasil mengambil alih pesawat Hamisi Air yang berukuran besar saat akan ke London, kedua dia ikut mencari korban longsor dan berhasil mengevakuasi 16 korban, dan yang paling ngeri itu dia berhasil membuat papa tiri Ryan ketakutan dengan menyebut jika berani mengusir Ryan maka Ryan akan dia ajak ke rumahnya dan jika papa tirinya Ryan macam macam disana akan berurusan dengan Radit."
"Ryan udah lama ya jadi asistennya Radit??" tanya Senja.
Indira menjawab, "Iya, sejak kelas empat SD."
Radit, Ryan, Daniel, Agung dan Andra melintas tepat di depan Senja dan Indira. membuat mereka terdiam sejenak, "Gais jangan menghalangi jalan dong, kan ada tempat duduk disana.."
"Iya maaf.." jawab Anak anak itu.
Mereka pun melanjutkan perjalanan pulangnya, tak lama Brenda dan Dea pun tiba dan mengajak anak anak itu ke cafe.
"Ayo bestiee.." seru Dea.
Radit, Ryan, Daniel, Andra dan Agung pun mengendarai motor masing masing ke rumah Rachel sepupu Radit yang akan menjalani prosesi lamaran.
"Naik angkot aja yuk!!" seru Dea.
Senja menjawab, "Hayu.."
Mereka pun menaiki angkot No 12 berwarna hijau kuning untuk pergi ke cafe itu, tak lama Senja melihat Radit dan anak anak lainnya sudah ada di seberang jalan entah akan melakukan apa.
"Mereka mau ngapain??" tanya Senja.
Indira menjawab, "Biasanya ada konvoi bus lewat sih.."
"Kayaknya, di depan ada mobil polisi juga.." sahut Dea.
Benar saja, rombongan 49 bus besar berwarna putih hijau berjalan beriringan menuju arah barat.
"Wuuhhh... rame.." teriak Ryan.
Jalanan pun sempat stuck setengah jam, tak lama rombongan itu telah mengarah kearah barat dan Radit serta kawannya sudah kembali melanjutkan perjalanan.
Dea dan anak anak lainnya tiba di Cafe harapan jalan nangka, mereka turun dari angkot lalu Dea memberikan uang ongkos patungan mereka.
"Ini pak, berenam ya!!" ucap Dea.
Pak Sopir menjawab, "Oke sip, terimakasih.."
Dea pun menyusul anak anak lainnya di dalam cafe, lalu mereka duduk di tempat yang sudah dibooking oleh Dea.
"Sore, mau minum apa??" tanya Dara, pelayan cafe itu.
Dea menjawab, "Aku es kopi, kalian mau apa??"
"Kita es coklat aja, kamu apa Senja??" tanya Indira.
Senja menjawab, "Bandrek aja.."
"Disini mana ada Bandrek?? aduh kayak si Radit aja nih.." gumam Mentari.
Senja menjawab, "Yaudah aku ikut es kopi aja, yang murah.."
"Oke sebentar ya.." jawab Dara.
Dea memulai topik pembicaraannya, "Begini Brenda, Radit dan Ryan itu mereka bersahabat sejak Sekolah Dasar, nah si Radit itu agak sensitif sama perempuan.. maksudnya kalau enggak ada hal yang penting jangan ada di dekat dia, dan soal Ryan dia itu anak broken home awalnya.. mamanya ketahuan berduaan sama laki laki di hotel.. akhirnya setelah suaminya atau papa kandung Ryan meninggal.. mereka berdua akhirnya menikah.. tapi baru juga tiga bulan, papa tirinya itu seolah berhasil menghasut mamanya Ryan agar sayang sama anaknya dia.. nah karena adiknya bernama Nadhif terlantar dan dia juga sengaja dibuat agar pergi dari rumah itu. sempat suatu hari terjadi pertengkaran hebat.. si Ryan dimarahi habis habisan saat ia pulang larut malam.. ternyata dia itu habis belajar sama Radit dan kebetulan Radit diminta menginap sama Ryan.. awalnya papa tirinya pura pura baik dan ternyata mamanya lah yang memarahi Ryan.. sadar ada yang tidak beres, Radit bermaksud menolong dengan memberikan ultimatum jika ia akan mengajak tinggal Ryan di areal pondok pakdenya dan mereka tidak punya hak untuk mengambil kembali Ryan hanya untuk dimarahi lagi."
"Ini minumannya.." ucap Dara.
"Terimakasih, coba lanjut Dea.." pinta Senja yang memang suka sekali menulis.
Dea melanjutkan ceritanya sambil meminum coklat panas kesukaannya, "Entah mengapa setelah Radit mengucapkan hal itu, mamanya Ryan langsung ketakutan dan meralat pembicaraannya.. ia meminta agar Ryan tetap disana.. namun disisi lain, suaminya itu tidak setuju dan marah besar ke mamanya Ryan.. dan terjadilah penamparan mamanya Ryan tepat di depan mata, karena khawatir Ryan akan kasar dengan orang lain terutama perempuan.. Radit mengajak mamanya Ryan dan Ryan untuk tinggal di pondok.. dan sejak itulah mamanya Ryan dan Mamanya Radit saling kenal dan punya bisnis kayak minimarket gitu hingga sekarang... dan itulah alasan mengapa Ryan tidak menyerang acara ulang tahun kamu Brenda.." jelas Dea.
Brenda meneteskan air matanya, "Ini semua salahku, seharusnya aku mengundang dia hari itu.."
"Wait, meskipun aku baru masuk hari ini.. kesimpulan yang aku dapat adalah Ryan benar benar menjadi asisten Radit, apapun masalah Ryan Radit membantu begitu juga sebaliknya... juga terkait acara ulang tahun itu.. jika Ryan tetap diundang dan dia dipermalukan di acara itu, bisa saja dia marah besar dan mengacaukan acara kamu Brenda.." jelas Senja.
Indira menambahkan, "Ya satu satunya cara kamu harus minta maaf sama Ryan, untuk hari ini via whatsapp dulu.. nanti besok baru datang ke kelas dan meminta maaf secara langsung."
"Yaudah.." jawab Brenda yang meminum es coklat pesanannya.
***********
Yuk Like, Vote dan Koment...