
"Aaaaa!!!"
"Hiks..hiks..hiks.."
Brenda membuka matanya, lalu ia memegang tangan Senja karena ketakutan. Senja pun menghubungi Radit karena ia juga mendengar suara tangisan itu.
"Dreetttt!!!"
"Halo?? apa Senja??" tanya Radit.
Senja menjawab, "Dit, kamu kesini dong.. soalnya Brenda sama aku dengar suara orang teriak dan menangis, padahal di ruangan melati sama beberapa ruangan lain pasiennya baik baik saja."
"Iya, sebentar.. saya hubungi Rachel dulu,.." jawab Radit.
Radit menghubungi Rachel melalui pesan chat whatsapp.
Raditya Achbaar : Malam Rachel, Assalamualaikum...
Rachel Amanda : malam juga, waalaikumsallam.. ada apa Dit??
Raditya Achbaar : Boleh minta tolong??
Rachel Amanda : Boleh, apa emang???
Raditya Achbaar : Jagain Brenda Sampai tiga hari ke depan, saya bersama anak anak mau berangkat study tour sekaligus bantu bantu di acara nikahan sepupunya Ryan. bisa enggak??
Rachel Amanda : Boleh, aku berangkat sekarang. ke rumah sakit mana??
Raditya Achbaar : Cahaya Alam..
Rachel Amanda : Baik.. aku kesana sekarang..
Rachel mengendarai motornya lalu pergi ke rumah sakit untuk menggantikan Senja yang akan berangkat besok.
"Halo Senja??" ucap Radit.
Senja membalas, "Iya, bagaimana??"
"Nanti akan ada sepupu saya yang akan kesana, nanti kamu pulang naik ojek online saja atau kalau kemahalan naik ojol aja.." jawab Radit.
Senja menepuk kepalanya, "Itu kan sama saja Radit, kayaknya kamu kelelahan deh.. istirahat aja sana.."
"Iyaa.." jawab Radit.
Rachel tiba di rumah sakit, ia berjalan masuk ke dalam lalu menemui Senja di ruangan melati. "Assalamualaikum, mbak Senja ya??" tanya Rachel.
Senja menjawab, "Iya..."
Rachel tersenyum, "Yaudah kamu boleh pulang sekarang, Radit sudah memerintahkan aku untuk menjaga Brenda. sekarang istirahatlah karena besok kamu akan menemukan sesuatu yang akan mengubah hidupmu."
Senja terdiam, "Maksudnya??"
"Nanti juga kamu akan mengetahui semuanya.." balas Rachel.
Senja mengambil tas miliknya, lalu ia berpamitan dengan Brenda. "Brenda, aku pulang dulu ya!! nanti ada mbak ini yang akan jagain kamu."
Brenda terbaring dengan alat bantu pernafasan yang terpasang di mulutnya. makin hari, kondisinya semakin menurun hingga kini ia sudah mulai tak bisa berbicara.
Senja pun memesan aplikasi ojek online di ponselnya, akhirnya ia pun pulang dengan menumpangi ojek online yang ia tumpangi.
"Permisi, atas nama mbak Senja??" tanya abang ojek itu.
"Baik, ini helmnya.." ucap abang driver ojek itu.
Senja pun menaiki ojek itu, lalu ia pulang ke rumahnya. di ruangan perawatan, Rachel membaca novel buatan Radit yang berisi tentang petualangan di sebuah Desa.
Di perjalanan, abang ojek itu menceritakan pengalaman horornya selama menjadi driver ojek termasuk yang terbaru ia mengalami orderan fiktif dimana ia mengantar pesanan milik orang yang sudah meninggal.
"Habis dari mana nih neng??" tanya abang itu.
Senja menjawab, "Dari rumah sakit, sahabat saya dirawat.."
"Ohh, eneng ga takut malam malam pulang lewatin hutan??" tanya abang itu.
Senja menjawab, "Tidak, kenapa emang??"
"Ya jujur saya sih takut lewat situ, bukan hanya sama hantu.. tapi sama orang jahat juga. ya namanya juga cari nafkah buat keluarga, orderan dari eneng tetap saya ambil." jawab abang driver ojek itu.
Senja tersenyum, "Yaudah, dari rumah saya masnya ambil jalur belakang saja.. memang agak lebih jauh tapi ya disana banyak rumah dan orang orang yang beraktivitas 24 jam."
"Baik Neng, siap.." jawab abang ojek itu.
Setibanya di rumah, Senja mengeluarkan uang tiga puluh lima ribu dimana biaya aslinya adalah tiga puluh empat ribu.
"Ini mas, kembaliannya ambil saja dan ini helmnya.." ucap Senja.
Abang ojek itu menjawab, "Siap, terimakasih Neng...."
Senja berjalan menuju rumahnya untuk mengemasi barang bawaannya karena besok pagi ia akan berangkat study tour ke arah timur Bogor.
"Assalamualaikum.." ucap Senja.
Mama dan Papanya beserta beberapa tetua Desa yang sudah menunggunya merasa ketakutan setelah adanya sosok mirip Ratu berada di belakang gadis itu.
"RaditMan is coming.." ucap Senja secara tiba tiba yang membuat semua orang berlarian ketakutan.
Senja masuk ke dalam kamarnya, lalu ia mulai bersiap siap untuk acara besok.
Jam menunjukan setengah sembilan malam, Ryan sedang berada di rumah utama sambil menonton televisi. Dea pun menghampiri Ryan untuk menanyakan peralatan apa saja yang akan dibawa besok.
"Yan, besok kamu mau bawa apa saja??" tanya Dea.
Ryan menjawab, "Pakaian sudah, tripod sudah, kamera sudah, peralatan medis juga sudah. giliran kamu saja, pastikan bawa hal hal yang penting saja."
"Iya, eh Ryan.. kamu selama ini anggap aku apa?? selama ini kita dekat tapi kamu sering bilang jika ditanya bahwa kita ini tidak pacaran." tanya Dea.
Ryan menjawab, "Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, selama tinggal disini anggap saja saya sebagai adik kamu sendiri."
"Adik?? mengapa begitu??" tanya Dea.
Ryan menjawab, "Itu karena kamu sedikit jauh lebih dewasa dibanding saya, kamu ingat tidak saat saya yang sedang main bola setelah mata pelajaran olahraga?? saya mengalami cedera lutut hingga kamu sendiri yang memapah saya menuju kelas??"
"Iya juga sih, pas aku lagi bertugas sebagai panitia classmeet.. kan tiba tiba saja aku sakit, kan kamu ya yang gendong aku ke UKS dan seharian menemani aku disana." kata Dea.
Ryan mengangguk, "Makanya, yaudah kamu siap siap aja sana.."
"Iya..." jawab Dea.
***************
...Yuk Like, Vote, Komen......